| ||||||
| Hobi LainnyaYang punya hobi yang unik, bisa ngobrol di sini... |
![]() |
| Thread Tools | Display Modes |
| #11 | |
| Registered Member Join Date: Dec 2007 Posts: 61 ![]() | radio gue harganya 500rb, itu nemunya di pasar triwindu solo. Mungkin tiap kota ada pasar antiknya, bisa dicari2. Di jl. surabaya jakarta yang kayak toaster roti itu tapi bukan kayu hidup 1,2j. Di solo ada yang hidup cuma 200an. Di Kemang timur juga g pernah liat tapi gak hidup kayaknya 300-400 deh. ![]() |
| #12 | |
| Registered Member Join Date: Jan 2008 Posts: 13 ![]() | -- --- -.--. --- --- |
| Last edited by radiotabung; 2nd November 2010 at 09:25.. |
| #13 | |
| Registered Member Join Date: Jan 2008 Posts: 13 ![]() | -- - --- - --- --- --- - ---- - -- |
| Last edited by radiotabung; 2nd November 2010 at 09:30.. |
| #14 | |
| Registered Member Join Date: Jan 2008 Posts: 13 ![]() | Maaf tes lagi, kenapa susah sekali reply thread sih, mental mulu... ![]() |
| #15 | |
| Registered Member Join Date: Jan 2008 Posts: 13 ![]() | -- - - --- -- -- - -- -- - |
| Last edited by radiotabung; 2nd November 2010 at 09:31.. |
| #16 | |
| Registered Member Join Date: Jan 2008 Posts: 13 ![]() | Punya radio tabung cap Philips di rumah tapi gak tau umurnya atau bikinan tahun berapa? Sebenarnya tiap2 merek memiliki cara tersendiri untuk menandai tahun produksinya. Nah berikut adalah untuk radio tabung Philips. Artikel ini sebenarnya terjemahan bebas--sekali--dari situsnya Oom Gerard Corner di http://www.cs.uu.nl/~gerard/RadioCorner/Articles.htm. dan pernah saya kirim utk artikel di majalah IDXC Vol 12 No 3-4 Mei-Agustus 2002 http://dirgantara.idxc.org/dirga12/1203f.shtml. Jika ada maslh hak cipta mohon moddy dapat menghapusnya. Biasanya, Philips menggunakan 6 hingga 7 digit kode sebagai identifikasi produknya. Penomoran tersebut dimanfaatkan selama 20 tahun, sejak 1946 hingga 1966 : -- Dekade 1946-1956, urutan nomor diawali oleh 2 huruf (misal BX, BD, BF) -- Dekade 1956-1966 dengan huruf dan angka (misal B4, B6, L4). Selepas tahun 1966, Philips pun mengubah sistem penomoran produknya, yakni dengan kode AL, RL. Semisal 90 RL 490, 16 AL 360 / 00R, dan lain-lain. Metode Penomoran pada Periode : 1946-1956 - Kode pertama berupa Huruf merupakan kode untuk Jenis/Tipe - Kode kedua berupa Huruf merupakan kode untuk Lokasi Perakitan - Kode ketiga berupa Angka merupakan kode untuk Kelas Harga - Kode keempat berupa Angka merupakan kode untuk Tahun - Kode kelima berupa Angka merupakan akhiran - Kode keenam Catu Daya Metode Penomoran pada Periode : 1956-1966 - Kode pertama berupa Huruf merupakan kode untuk Jenis/Tipe - Kode kedua berupa Angka merupakan kode untuk Kelas Harga - Kode ketiga berupa Huruf merupakan kode untuk Lokasi Perakitan - Kode keempat berupa Angka-Angka merupakan kode untuk Tahun - Kode kelima berupa Angka merupakan kode untuk Catu Daya - Akhiran Berikut maksud dari masing-masing kode tersebut. 1. Urutan pertama : jenis produk A :Tuner F : Console B : Tabletop N : Radio Mobil H : Radio dengan Pickup L : Portabel P : Portabel / Radio Mobil T : Televisi 2. Urutan kedua : Kelas harga Menunjukkan kelas dan harga. Semakin kecil angka nomornya, berarti makin murah dan rendah kelasnya, sebaliknya semakin besar berarti semakin mahal. Kelas juga menunjukkan fasilitas yang menyertainya, misalnya untuk angka 0 (nol) adalah paling murah dan sederhana, tanpa disertai fasilitas apapun. Angka 6 dapat dipergunakan sebagai amplifier. Angka 9 termahal sekaligus memiliki beberapa fasilitas seperti tape recorder dan signal scope. 3. Urutan ketiga : Lokasi perakitan X : Belanda / Belgia A: Austria D: Jerman S: Swedia DK: Denmark E: Spanyol F : Perancis SF: Finlandia G: Inggris Raya I: Italia N: Norwegia W: Amerika Serikat Pada masa jayanya, Philips memiliki banyak pabrik perakitan elektronik di berbagai negara, hingga dimunculkanlah kode-kode tertentu untuk membedakan asal pabrik perakitan. Yang paling umum adalah kode X, yang merupakan produksi Belanda (juga Belgia). Pasangan huruf dan nomor juga bisa berarti lokasi perakitan, misalnya E-nomor berasal dari Eindhoven, PL-nomor dari Philips Leuven. Radio dengan kode IN adalah rakitan pabrik Philips di Indonesia. 4. Urutan keempat : tahun pembuatan dan serial Urutan keempat dan kelima merupakan pasangan nomor dari 00 hingga 99. Angka pertama memperlihatkan tahun pembuatan, sementara angka belakangnya sebagai pembeda dua radio yang memiliki karakteristik sama atau mungkin dibuat pada th yang sama. 5. Urutan kelima : sumber daya A : Tenaga listrik AC U : Universal (AC / DC) B : Baterai V : Aki T : Radio transistor dengan baterai voltase rendah X : Catu daya utama AC atau dengan vibrator DC Z : Gabungan aki / soket Radio dgn kode A berarti dapt langsung dicolokkan ke listrik rumah. Perhatikan, untuk kode U radio tersebut dapat menggunakan AC maupun DC (90 Volt DC). Huruf V umumnya adalah radio mobil. Kode huruf X berarti radio tersebut memiliki catu daya utama AC, tetapi dapat dinyalakan dengan catu daya DC melalui vibrator (semacam tenaga cadangan, fungsinya mirip baterai). 6. Urutan Terakhir : akhiran penutup Akhiran (bisa berupa garis miring atau nomor) adalah kode tambahan, dan bisa juga berarti apa saja. Misalnya sebagai kode perbaikan teknis, tingkat pengembangan, besar frekuensi daya listrik, kode modifikasi, maupun produk untuk pasar tertentu. Mari kita praktekkan, radio Philips dengan nomor seri B6X61A/01, dapat diartikan : B = Jenis radio 6 = Kelasnya X = Negara Perakit 61 = Tahun (depan) - Serial (belakang) A = Catu Daya 01 = Akhiran Jadi ia adalah Philips model table top, klas VI (biasanya memiliki fungsi untuk input piringan hitam/phono) dirakit di Belanda pada tahun 1956, menggunakan catu daya listrik AC. Misalnya lagi nomor seri L4X24T, maka produk itu adalah radio jinjing (portabel) dengan komponen transistor, bertenaga baterai, yang dirakit di Belanda pada tahun 1962. Nah untuk radio Roti, misal BIN318U dapat diterjemahkan sebagai berikut: B = jenis radionya (Table top alias ditaroh di atas meja) IN = Rakitan Indonesia 3 = radio ini berada di kelas III kualitasnya 1 = dibuat sekitaran 1951 8 = akhiran yg berfungsi utk membdakn dg tipe radio roti lainnya yg diproduksi pada thn yg sama U = Catu daya, u berarti UNIVERSAL, berarti bisa AC (127V) bisa DC (90V) Dimana lokasi informasi di atas? Lihat bagian belakang radio (rear cover), ada tutup karton keras. Biasanya karton tersebut memiliki semacam lubang jendela kecil yang langsung memperlihatkan secarik kertas yang menempel di rangka mesin. Angka yang tersedia adalah (untuk radio Philips) -- tegangan kerja dalam volt -- frekuensi kerja dalam hertz -- nr seri produksi -- nr tipe radio (nah seperti diuraikan di atas) -- daya konsumsi dalam watt Jadi, gak ketipu lagi ama penjualnya deh sekarang... ![]() |
| Last edited by radiotabung; 22nd January 2008 at 21:47.. |
| #17 | |
| Registered Member Join Date: Dec 2007 Posts: 61 ![]() | Waduh, thanks berat ya... Infonya luar biasa. Sudah saya save di doc, biar gampang nyarinya. Kalo gramophone tau gak mas??? Saya punya yang engkol... |
| #18 | |
| Registered Member Join Date: Jan 2008 Posts: 13 ![]() | k--.. --- ,lop |
| Last edited by radiotabung; 2nd November 2010 at 09:53.. |
| #19 | |
| Registered Member Join Date: Jan 2008 Posts: 13 ![]() | Punya radio tabung? Kumplit, utuh, nyala! Pasti hati senang, taruh di atas bufet, pajang buat tamu yang datang...nyalakan untuk undang decakan. Nahh berikut tips biar radio warisan embah itu sehat dan aman: 1. Kontrol panas dan lingkungan sekitar Saat radio tabung dibikin--IMHO--tidak didisain untuk mendengarkan siaran 24 jam. Jaman dahulu stasiun radio mungkin siaran 10 jam per hari malah mungkin kurang. Agaknya panas belum menjadi isu kala itu. Setelah skian tahun dinyalakan tiap hari ternyata panas berdampak juga terutama ke komponen2 pendukung seperti R, C, L dan trafo2nya. Ditambah lagi tingkat kelembaban yang tinggi. Untuk meminimalisir perhatikan peletakan radio tabung, jangan sampai tutup belakang yg berlubang-lubang ventilasi itu terhalang/tertutupi benda lain semisal ditaruh mepet ke tembok. Sediakan cukup ruang untuk bernafas. Hindari kelembaban dengan tidak menaruh di luar ruangan yg berpotensi kena sinar matahari langsung dan lembab hujan/cuaca luar. Hindari radio berdebu atau menjadi sarang laba2 bagian dalamnya, debu akan cepat merusak koil dan komponen lainnya. 2. Rutin diajak nyanyi Pastikan radio DINYALAKAN SECARA TERATUR, bukan didiamkan begitu saja bertahun-tahun layaknya benda mati. Tapi jangan pula berlebihan semisal dipaksa nonstop 24 jam, cukup 2-3jam/hari atau terserah, yang penting radio diaktifkan secara teratur. Banyak kasus radio dibeli nyala lalu lama didiamkan bertahun tahun akhirnya mati tanpa sebab yg jelas. 3. Jangn perlakukan kasar Jangan perlakukan radio seperti perangkat modern yang bisa kita nyala matikan-nyala matikan tanpa kawtir merusak. Radio tabung setidaknya membutuhkan 10-20 detik agar listrik terkumpul dan menyalakan filamen tabung. Jika radio belum lagi penuh bersuara LALU DIMATIKAN DAN LANGSUNG DINYALAKAN LAGI maka arus listrik akan balik menghantam filamen perata di bagian belakang. Jika hal ini terus menerus dilakukan maka perata tewas dng sukses. Ini merupakan penyakit yang umum pda RADIO ROTI yg tidak memiliki trafo itu. Ini juga berlaku pada knob gelombang (dial tuning) dan saklar2 yg ada termasuk pengatur volume. Bayangkan jika main kasar pijit sana sini, putar2 kasar gelombang, cetak cetek saklar.....wah mau dimana nyari komponen penggantinya jika rusak?? Kesulitan terbsar saat reparasi adalah mencari pengganti komponen depan semisal Potensio bersaklar dan knob2 per. Pemecahannya cuma satu:kanibal. Dan itu mahal. 4. Awas, bahaya kesetrum! Ini khusus RADIO ROTI. Kita tahu colokan listrik Indonesia ada dua, kanan-kiri, tergantung memasangnya maka selalu ada dua bagian yakni (+) dan ground. Pada radio roti yang menjadi ground adalah RANGKA MESIN, sehingga jika kita terbalik memasang colokannya maka RANGKA MESIN menjadi (+), alias bagian yang MEMATIKAN jika dipegang. Seluruh besi yg terhubung dng rangka mesin mulai dari skrup sampai batang potensio akan berpotensi menyalurkan arus kejut. Cara menghindari sederhana saja. Mula-mula nyalakan saklar ke on. Jangan sentuh komponen besi yang ada di radio, bagian manapun. Pegang tespen lalu colokkan jack radio ke listik PLN. Lalu sentuh bagian besi radio dg tespen, semisal rangka mesin via tutup belakang. Jika tespen menyala berarti colokan TERBALIK PASANGNYA. Copot jack dan beri tulisan semisal ATAS atau BAWAH. Sekrang kita tahu bagian mana yang harus disebelah atas dan bawah dari jack radio saat dicolokkan ke tembok. Selain radio roti yg berbahaya adalah radio philips tipe bx376a alias radio KOMPAS dan Telefunken BRISTOL, keduanya menggunakan rangka mesin sebagai ground. Selalu pastikan untuk menandai jack radio bagian mana yang bawah dan mana yang atas. Selamat bernostalgia! ![]() |
| #20 | |
| Registered Member Join Date: Jan 2008 Posts: 13 ![]() | Yang ini contoh Radio Roti. . .. .- - ---.. --- |
| Last edited by radiotabung; 2nd November 2010 at 09:44.. |