DetikForum

DetikForum (http://forum.detik.com/index.php)
-   Cerita Kita (http://forum.detik.com/forumdisplay.php?f=259)
-   -   GANTENG-GANTENG MACHO karya Muhammad Ali Ridho (http://forum.detik.com/showthread.php?t=1299050)

vanpersie1290 27th November 2015 09:30

GANTENG-GANTENG MACHO karya Muhammad Ali Ridho
 
GANTENG-GANTENG MACHO karya Muhammad Ali Ridho

Pesan penulis:

Jangan mengcopy-paste tanpa menyertakan sumbernya ya. Hargailah kerja keras saya. Trims.

Sinopsis

Seorang lelaki berusia 35 yang bernama Edo, sanggup melihat masa depan dengan mimpinya. Dengan itu, dia berhasil mendapatkan banyak kekayaan. Sayangnya, itu tidak berlaku untuk kehidupan cintanya.

Daftar Isi:

Bab 1
Bab 2
Bab 3
Bab 4
Bab 5
Bab 6
Bab 7
Bab 8
Bab 9
Bab 10
Bab 11



Bab 1

Suhu di bus sangat panas sekali. Walaupun sudah ada AC, tapi suasana kota Jakarta yang macet dan bikin sumpek, malah membuatnya semakin terasa panas.

Edo berjalan mendekati mangsanya. Sambil mengelap keringat, ia menelan ludah. Ia merasakan bau ikan dalam mulutnya. Maklum, tadi pagi dia sarapan ikan tuna.

Edo mendekati seorang Bapak berkacamata yang sedang asyik bermain game dengan handphone-nya.

Tangannya perlahan-lahan mengambil dompet orang itu. Segera Edo berjalan menuju pintu bis. Segera turun karena situasi masih macet.

Apa yang dia lakukan tadi persis sama seperti apa yang tadi malam dia mimpikan.

Edo menghela napas, membetulkan hatinya yang sedikit rapuh.

Andai istrinya saat ini masih bersamanya, mungkin dia galau melakukan kejahatan ini. Edo mencium foto istrinya.

"Aku terpaksa, Ni. Kau kan tahu aku ini seorang pemalas?"

Sang istri melempar sandalnya ke arah Edo.

"Kampret lu! Sontoloyo!"

"Yang penting kenyang."

"Yang penting apa? Yang penting menjaga iman, Mas."

"Sialan, bahasa lu jaga ye."

"Saya juga emosi!! Saya capek!!!"

Flash bakck ends.

Edo memasuki apartemennya. Dia membuka pintu apartemen dan melihat tangannya. Masih terasa ada rasa hangat saat dulu tangan itu digunakan untuk memukul istrinya.

"Dasar buaya." Edo menghela napas. Kota Cibubur yang hangat membuatnya ingin berbaring sejenak. Tak terasa tetangganya bermain ke tempat Edo, seorang anak kecil.

Segenap upaya yang Edo lakukan untuk tidur gagal. Ia memutuskan untuk bangun dan bermain dengan Sasha.

"Kok nggak sekolah, Sa?"

"Ini kan hari Minggu."

"Ini hari Sabtu."

Edo mengambil boneka gajah yang dipegang Sasha. Menggandeng tangannya dan mengajaknya ke balkon.

"Om Edo tadi pergi ke mana?" tanya Sasha.

"Kerja."

"Kerjanya kok sebentar terus sih."

"Memangnya nggak boleh."

"Sekarang main rumah-rumahan."

"Baik, tuan putri."

"Tidur!" perintah Sasha.

Dengan berbakti tinggi, Edo tidur berbaring di lantai. Sasha mengelus-elus kepala Edo. "Jadi anak jangan bandel."

"Saya nggak bandel."

"Bangun!" perintah Sasha.

Sasha seolah-olah menghidupkan mesin mobil. Sekarang lagi berimajinasi naik mobil bareng anaknya (si Edo). Habis itu, main kuda-kudaan. Capek deh.

Edo cuma pasrah sampai Enrique menyadari kalau Sasha ada di apartemen Edo.

Seandainya dulu Edo tidak menikah dengan Wardani, istrinya. Mungkin dia tidak akan mengenal Enrique, keponakan dari istrinya. Yang kebetulan juga tetangganya.

Sambil sedikit basa-basi dengan Edo, Enrique membawa pulang Sasha.

Dulu Enrique pernah meminjam uang Edo untuk membeli apartemen di tempat yang sama. Dengan harga yang tidak murah, sampai saat ini utang tersebut belum lunas. Tapi, Edo tidak pernah menagihnya.

Dia bukan mencoba untuk tegar. Tapi, uangnya sendiri masih lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhannya, uang hasil mencuri atau kejahatan lainnya.

Kata-kata Enrique yang manis, juga membuat Edo tidak terlalu memikirkan masalah hutang itu.

Banyak yang bilang, Edo adalah seorang penolong. Tapi apa dia bisa menolong orang sakit. Dalam mimpinya Edo menolong seorang gadis muda yang pingsan.

Edo bangun dari tidurnya.

Lanjutan cerita/Bab 2

zainulhamzan 27th November 2015 10:28

elaaahhh,, gak ada gambarnya :nyengir:

vanpersie1290 27th November 2015 18:27

Quote:

Originally Posted by zainulhamzan (Post 32580937)
elaaahhh,, gak ada gambarnya :nyengir:

TS-nya ngantuk gan dimaklumi aja

vanpersie1290 28th November 2015 08:44

Bab 2

Edo langsung bergerak cepat. Edo nampak tidak seperti biasanya. Ia sepertinya tak kuasa menahan gejolak.

Embun sedikit menetes di pagi ini. Suasana kampus UI belum begitu ramai. Karena tempatnya yang luas, kegaduhan di pinggir jalan raya tak terdengar hingga ke tengah kampus.

Edo menelan permen gulanya, ketika melihat gadis dalam mimpinya.

Normalnya, orang akan berolahraga ketika kondisi badannya bugar. Tapi, gadis itu.... Edo berlari di samping gadis yang menangis itu.

Secepat kilat, dia menyelamatkan gadis yang tiba-tiba pingsan itu. Edo mengelap air mata gadis itu.

Ada jeda sejenak ketika gadis itu siuman.

Tatapan Edo seperti tatapan seorang raja menatap permaisurinya.

Edo tersadar. Ia membantu gadis itu berdiri. Karena sudah biasa berlatih angkat beban, Edo tidak merasa kesulitan ketika mengangkatnya.

Bahkan, ia mampu membuat gadis itu hanya mengeluarkan energi 5% saja, saat bangkit berdiri.

Ditemani cahaya matahari yang pelan-pelan mulai menembus pepohonan di kampus itu, Edo mengantar gadis itu ke tempat parkir.

"Jika punya penyakit darah rendah, sebaiknya tidak berolahraga sendirian," kata Edo.

Gadis itu masih merasa pusing.

Dengan pesonanya, Edo bersedia untuk mengantarnya pulang.

Edo segera menyeruduk kunci mobil yang diserahkan kepadanya.

Tapi, pikirannya kemudian bingung. Dalam mimpinya, ia melarikan mobil itu dan meninggalkan gadis itu sendirian.

Edo menyalakan mobil, hampir saja ia merampok mobil itu. Tapi, ia mengurungkannya. Ia membuka pintu mobil. Dan, membantu gadis yang mirip dengan mantan istrinya itu.

Lanjutan cerita/Bab 3

vanpersie1290 29th November 2015 06:02

Bab 3

Kalau dompet Edo tidak tebal, mungkin dia tidak akan mengikuti seminar di UI. Cuma duduk doang, mesti bayar sejuta.

Tong kosong nyaring bunyinya. Bagi Edo, golongan berpendidikan dianggapnya seperti itu.

Tapi dia tidak mempermasalahkan. Yang penting dia bisa bertemu dengan Vanya lagi hari ini.

Edo tersanjung saat Vanya melempar senyum kepadanya. Sirkuit Sentul rasanya sedang berada di hadapannya. Sambil mengendarai Moto GP, Edo ngebut menghampiri Vanya.

"Saya tidak menyangka anda menyukai Sastra, Mas Edo."

"Tidak begitu, Dik Vanya. Saya merasa Sastra penuh dengan hikmah."

Data statistik menunjukkan, jantung Edo sedang berdetak 3 kali lebih cepat dari biasanya. Lapangan bola serasa sedang dilahapnya. Uang perak dibanting Edo.

Kalau saja di pasar sedang banting harga, Edo akan tetap merasakan panas di sekitarnya. Sektor belakang masih lemah soalnya.

Usaha Edo tidak sia-sia. Saat Vanya membacakan puisi, Edo pun membacakan puisi pula untuk Vanya.

Cahaya Cinta

Engkau meyapaku dengan egomu

Engkau bertaruh dan menghilang

Sementara aku menyerahi segala jiwaku

Ada bekas lada di bibirmu

Menerawang bersama mesin fotokopi

Aku tersenyum licik

Jiwaku lelah

Hatiku keropos

Aku butuh suasana pantai

Menerjang diriku.

Bebatuan yang bergula

menyatu bersama nyawa

Menghipnotis suporter bola

Bola basket dan bola sepak

Berkonstruksi bersama angin

Yang beraneka ragam

Kecuali, doaku untukmu

Yang tercetak di lembar putih

Cahaya cinta

Anak-anak saja tidak mengerti arti puisi Edo, apalagi orang dewasa. Dengan tegap, Edo memasang kuda-kuda. Dia ingin terlihat excellent dalam membacakan puisi mbeling-nya

Kalau dilabelkan, mungkin kau sama seperti WS. Rendra, kata Vanya saat Edo menanyakan pendapatnya.

Benih-benih cinta mulai bersemi di hati Edo. Jerih payahnya semalam tidak sia-sia. Dia tidak tidur semalaman, hanya untuk membuat puisi mbeling itu.

Lanjutan cerita/Bab 4

prikitiwbrekele 29th November 2015 08:33

Quote:

Originally Posted by vanpersie1290 (Post 32593697)
Bab 3

Kalau dompet Edo tidak tebal, mungkin dia tidak akan mengikuti seminar di UI. Cuma duduk doang, mesti bayar sejuta.

Tong kosong nyaring bunyinya. Bagi Edo, golongan berpendidikan dianggapnya seperti itu.

Tapi dia tidak mempermasalahkan. Yang penting dia bisa bertemu dengan Vanya lagi hari ini.

Edo tersanjung saat Vanya melempar senyum kepadanya. Sirkuit Sentul rasanya sedang berada di hadapannya. Sambil mengendarai Moto GP, Edo ngebut menghampiri Vanya.

"Saya tidak menyangka anda menyukai Sastra, Mas Edo."

"Tidak begitu, Dik Vanya. Saya merasa Sastra penuh dengan hikmah."

Data statistik menunjukkan, jantung Edo sedang berdetak 3 kali lebih cepat dari biasanya. Lapangan bola serasa sedang dilahapnya. Uang perak dibanting Edo.


Kalau saja di pasar sedang banting harga, Edo akan tetap merasakan panas di sekitarnya. Sektor belakang masih lemah soalnya.

Usaha Edo tidak sia-sia. Saat Vanya membacakan puisi, Edo pun membacakan puisi pula untuk Vanya.

Cahaya Cinta

Engkau meyapaku dengan egomu

Engkau bertaruh dan menghilang

Sementara aku menyerahi segala jiwaku

Ada bekas lada di bibirmu

Menerawang bersama mesin fotokopi

Aku tersenyum licik

Jiwaku lelah

Hatiku keropos

Aku butuh suasana pantai

Menerjang diriku.

Bebatuan yang bergula

menyatu bersama nyawa

Menghipnotis suporter bola

Bola basket dan bola sepak

Berkonstruksi bersama angin

Yang beraneka ragam

Kecuali, doaku untukmu

Yang tercetak di lembar putih

Cahaya cinta

Anak-anak saja tidak mengerti arti puisi Edo, apalagi orang dewasa. Dengan tegap, Edo memasang kuda-kuda. Dia ingin terlihat excellent dalam membacakan puisi mbeling-nya

Kalau dilabelkan, mungkin kau sama seperti WS. Rendra, kata Vanya saat Edo menanyakan pendapatnya.

Benih-benih cinta mulai bersemi di hati Edo. Jerih payahnya semalam tidak sia-sia. Dia tidak tidur semalaman, hanya untuk membuat puisi mbeling itu.


(Bersambung)

Hahaha lucu bagian yang di-bold... :cekakakan:
Ide ceritanya menarik.. Rapi yah di-index.. :thumbsup1:

vanpersie1290 29th November 2015 12:31

Quote:

Originally Posted by prikitiwbrekele (Post 32594071)
Hahaha lucu bagian yang di-bold... :cekakakan:
Ide ceritanya menarik.. Rapi yah di-index.. :thumbsup1:

Ah, biasa aja

Masih lebih lucu penulisnya lho, :cekakakan:

prikitiwbrekele 29th November 2015 13:52

Quote:

Originally Posted by vanpersie1290 (Post 32588325)
Bab 2

Edo langsung bergerak cepat. Edo nampak tidak seperti biasanya. Ia sepertinya tak kuasa menahan gejolak.

Embun sedikit menetes di pagi ini. Suasana kampus UI belum begitu ramai. Karena tempatnya yang luas, kegaduhan di pinggir jalan raya tak terdengar hingga ke tengah kampus.

Edo menelan permen gulanya, ketika melihat gadis dalam mimpinya.

Normalnya, orang akan berolahraga ketika kondisi badannya bugar. Tapi, gadis itu.... Edo berlari di samping gadis yang menangis itu.

Secepat kilat, dia menyelamatkan gadis yang tiba-tiba pingsan itu. Edo mengelap air mata gadis itu.

Ada jeda sejenak ketika gadis itu siuman.

Tatapan Edo seperti tatapan seorang raja menatap permaisurinya.

Edo tersadar. Ia membantu gadis itu berdiri. Karena sudah biasa berlatih angkat beban, Edo tidak merasa kesulitan ketika mengangkatnya.

Bahkan, ia mampu membuat gadis itu hanya mengeluarkan energi 5% saja, saat bangkit berdiri.

Ditemani cahaya matahari yang pelan-pelan mulai menembus pepohonan di kampus itu, Edo mengantar gadis itu ke tempat parkir.

"Jika punya penyakit darah rendah, sebaiknya tidak berolahraga sendirian," kata Edo.

Gadis itu masih merasa pusing.

Dengan pesonanya, Edo bersedia untuk mengantarnya pulang.

Edo segera menyeruduk kunci mobil yang diserahkan kepadanya.

Tapi, pikirannya kemudian bingung. Dalam mimpinya, ia melarikan mobil itu dan meninggalkan gadis itu sendirian.

Edo menyalakan mobil, hampir saja ia merampok mobil itu. Tapi, ia mengurungkannya. Ia membuka pintu mobil. Dan, membantu gadis yang mirip dengan mantan istrinya itu.

Lanjutan cerita/Bab 3

Hahahahahha

Quote:

Originally Posted by vanpersie1290 (Post 32593697)
Bab 3

Kalau dompet Edo tidak tebal, mungkin dia tidak akan mengikuti seminar di UI. Cuma duduk doang, mesti bayar sejuta.

Hahahahhahaha

Quote:

Originally Posted by vanpersie1290 (Post 32594888)
Ah, biasa aja

Masih lebih lucu penulisnya lho, :cekakakan:

Lucuuu...

Sebenernya agak gak nangkep sih di bab 1 hubungan enrique dan sasha dgn cerita ini.. Tp bner, cukup lucu ceritanya, dan idenya ttg org yg punya kemampuan bs liat masa dpn itu ide yg menarik...

Masak sih penulisnya lbh lucu... percaya deh :thumbsup1:

vanpersie1290 29th November 2015 15:16

Quote:

Originally Posted by prikitiwbrekele (Post 32595255)
Hahahahahha


Hahahahhahaha



Lucuuu...

Sebenernya agak gak nangkep sih di bab 1 hubungan enrique dan sasha dgn cerita ini.. Tp bner, cukup lucu ceritanya, dan idenya ttg org yg punya kemampuan bs liat masa dpn itu ide yg menarik...

Masak sih penulisnya lbh lucu... percaya deh :thumbsup1:

Bercanda, penulisnya sebenarnya orang yang introvert, pendiam dan pemalu, he he buka kartu deh

Pas bab tengah nanti dihubungin dengan Enrique, kalau Sasha perannya sebagai pemanis saja, kalau nggak ada Sasha saya agak bingung menyatukan Edo dan Enrique

Pujiannya luar biasa, mudah-mudahan menghibur ya

prikitiwbrekele 29th November 2015 19:20

Quote:

Originally Posted by vanpersie1290 (Post 32595627)
Bercanda, penulisnya sebenarnya orang yang introvert, pendiam dan pemalu, he he buka kartu deh

Pas bab tengah nanti dihubungin dengan Enrique, kalau Sasha perannya sebagai pemanis saja, kalau nggak ada Sasha saya agak bingung menyatukan Edo dan Enrique

Pujiannya luar biasa, mudah-mudahan menghibur ya

Salken ya van... Kalo penilaian sekilas dr sy (pdhal gak da yg nanya wkwkwk), kyknya sih orgnya sopan dan formal >> dr pemilihan kata "saya", rapi dan terorganisir >> dari caranya ngindex dan jarak antar kalimat percakapan dikasih satu baris kosong.. dan punya sense of humor >> dari caranya bercerita..

Silakan dlanjut ceritanya..., menghibur kok :superhappy:


All times are GMT +8. The time now is 23:41.


Powered by vBulletin
Copyright © 2000 - 2006, Jelsoft Enterprises Ltd.