DetikForum

DetikForum (http://forum.detik.com/index.php)
-   Politik (http://forum.detik.com/forumdisplay.php?f=49)
-   -   50 Tahun Dikuasai Asing...Mulai Januari, Blok Mahakam 100 Persen Dikuasai Pertamina (http://forum.detik.com/showthread.php?t=1743565)

gitaputri564 11th July 2018 08:34

Quote:

Originally Posted by bandungutara210 (Post 38482077)
Kenapa kampreters dan genjikers tidak ada yang bertanya, pertamax,pertalite kok harganya malah naik

kenapa ya harga pertamax, pertalite naik terus? sementara premium semakin langka ?



btw itu dikuasai pertamina lagi karena habis kontrak atau karena lobi lobi pemerintah Pak Dhe ?

:lipssealed:

buFFalo 11th July 2018 08:51

Quote:

Originally Posted by gitaputri564 (Post 38482156)
kenapa ya harga pertamax, pertalite naik terus? sementara premium semakin langka ?



btw itu dikuasai pertamina lagi karena habis kontrak atau karena lobi lobi pemerintah Pak Dhe ?

:lipssealed:

Kalau Freeport sih keduluan MoU nya SBY untuk bisa diperpanjang.

gitaputri564 11th July 2018 09:36

Quote:

Originally Posted by buFFalo (Post 38482186)
Kalau Freeport sih keduluan MoU nya SBY untuk bisa diperpanjang.

gak nanya freeport,

nanya yang blok mahakam sesuai TS

adama 11th July 2018 10:18

Quote:

Originally Posted by gitaputri564 (Post 38482156)
kenapa ya harga pertamax, pertalite naik terus? sementara premium semakin langka ?



btw itu dikuasai pertamina lagi karena habis kontrak atau karena lobi lobi pemerintah Pak Dhe ?

:lipssealed:

Jangan nanya pertanyaan sulit, orang yang masih dukung Jokowi pikirannya masih pada sederhana dan gampang dikibuli.

:nyengir:

doellpaten 11th July 2018 10:44

CERI Kritisi Kebijakan Pertamina Ambil Alih Blok Mahakam

http://img.beritasatu.com/cache/beri...1477684693.jpg
Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman. (Sumber: energyworld.co.id)

Imam Suhartadi / IS Kamis, 4 Januari 2018 | 23:00 WIB


Jakarta - Tepat 1 Januari tahun 2018 di kota Balikpapan Direksi Pertamina menerima serah terima pengelolaan blok Mahakam setelah dikelola 50 tahun oleh perusahaan Total Indonesia dari Perancis.

Proses terminasi kontrak blok migas bukanlah hal baru , ini merupakan implementasi dari Peraturan Pemerintah nomor 35 tahun 2004 dan Permen ESDM nomor 15 tahun 2015 adalah tentang ketentuan perpanjangan atas berakhirnya kontrak PSC blok migas akan diperpanjang sesuai kebijakan Pemerintah Cq Menteri ESDM , contonya seperti blok Coastal Plain Pekanbaru ( CPP ) tahun 2002 dan blok Siak 2013 dari Chevron Riau serta Blok NSO dan Blok B dari Exxon Mobil Aceh tahun 2015.

"Tetapi mereka mungkin lupa bahwa melihat sikap Pertamina zaman old yang awalnya akan menguasai 100 % saham di blok Mahakam dan akhirnya hanyalah merupakan angin sorga saja bagi rakyat Indonesia , padahal Kementerian ESDM telah memberikan hak 100 % sahamnya kepada Pertamina pada tahun 2015 , kemudian saat ini dengan mekanisme b to b merubah kebijakan share down saham Pertamina dari 30 % akhirnya menjadi 39 % itulah Pertamina zaman now," kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (4/1).

Adapun nilai saham 39 % yang harus disetorkan oleh Total E & P kepada Pertamina sekitar Rp 49 triliun berdasarkan valuasi aset yang dibuat oleh SKKMigas.

Tentu kebijakan Pertamina zaman now ini , lanjut dia, pantaslah dicurigai oleh publik.

Menurut dia model pengelolaan energi seperti ini dalam perspektif ketahanan energi nasional tidak akan ditemukan di berbagai negara lain , hanya dilakukan Pertamina zaman now.

Penilaian ini tentu didasari bahwa saat ini sudah terjadi krisis energi , karena volume impor minyak jauh lebih besar dari volume minyak yang dihasilkan oleh Pertamina ditambah minyak dan gas bagian negara di KKKS .

Seperti diketahui, Pertamina untuk memenuhi kebutuhan kilangnya sendiri lebih mudah dan murah membeli minyak mentah dari negara di timur tengah dan Afrika Barat nun jauh disana daripada membeli minyak milik bagian perusahaan asing KKKS dari hasil diperut bumi Indonesia. Karena itu, wajar saja ada pihak pihak yang tetap ingin mengambil keuntungan di sisa migas yang mudah-mudahan ada manfaatnya bagi ketahanan energi nasional.

Sehingga sangat keliru kalau ada yg mengatakan perusahaan Prancis menangis. "Sesungguhnya kalau kita mau jujur dengan akal sehat dan hati nurani , malah pendiri bangsa kita yang menangis melihat kebijakan yang dibuat oleh direksi Pertamina masih memberikan peluang besar kepada perusahaan asing disaat cadangan migas kita boleh dikatakan sudah kritis , bahkan bisa dikatakan inilah kutukan untuk bangsa kita yang salah mengelola sumber daya alamnya," katanya.

Menurut dia, banyak alasan yang bisa dikatakan oleh Pertamina untuk membungkus seolah-olah kebijakan itu sudah benar dan masuk akal . Contohnya bahwa kebijakan tersebut adalah lebih ingin membagi resiko potensi kegagalan dan butuh banyak dana segar bisa jadi karena Pemerintah sering menahan dana subsidi BBM yang sudah mencapai Rp 50 triliun dengan alasan perlu verifikasi dulu seperti dikemukakan oleh Menteri keuangan Sri Mulyani.

Begitu juga alasan yang selalu dikemukakan oleh Pemerintah bahwa Pertamina harus bisa menjamin produksinya tidak turun dan biaya per unitnya bisa lebih efisien serta kemampuan keuangan Pertamina dalam mengambil alih 8 blok migas yang akan diterminasi . Hal ini tentu berbeda dengan sikap Total Indonesia inginnya tetap menguasainya sebagai operator maupun oleh operator lain di 8 blok migas lainnya yang akan terminasi pada 2018 dan 2019 .

Sudah tentu akibat beda kepentingan ini menjadi peluang bagi pemburu rente , sehingga Pertamina saat ini lebih tak berani daripada Pertamina Zaman old yang lebih berani ambil alih Blok West Madura Offshore dari Kodeco tahun 2011 dari produksi 13.700 B0PD meningkat jadi 20.000 BOPD.

Sedangkan Blok Offshore North West Jawa dari British Petroleum tahun 2009 dari produksi awal 24.100 BOPD meningkat 40.000 BOPD dalam kurun 4 tahun setelah diambil oleh Pertamina zaman old.

Faktanya kedua blok migas tersebut berhasil ditingkatkan produksinya jauh lebih besar dari operator sebelumnya , hebat profesional Pertamina dulu.

Pertamina sudah menyatakan tidak ekonomis mengelola blok East Kalimantan dan blok Attaka yang terletak berdampingan dengan blok Mahakam akibat adanya kewajiban ASR ( Abadonment Site Restoration ) atau biaya pemulihan lapangan paska berhentinya produksi , padahal biaya ini sudah termasuk dalam tanggung jawab operator lama dengan skema cost recovery .

Disisi lain, Pertamina saat ini malah tertarik akan mengelola blok Sonatrach di Aljazair produksinya hanya 20.000 sd 30.000 BOPD , produksinya tidak jauh beda blok East Kalimantan dan blok Attaka di Kalimantan.

"Ibarat kata kambing kurus dinegeri orang dikejar kejar , sapi gemuk dihalaman sendiri disajikan kepada tamu untuk disembelih," ujarnya.


Sebaliknya perusahaan Petrochina dan Petronas sekarang memburu blok East Kalimantan dan blok Attaka dengan skema gross split .

Resiko Kegagalan

Perlu diketahui blok Mahakam adalah blok produksi dengan ribuan lubang sumur , sehingga data data sumur yang lengkap itu digabungkan dengan data data seismik telah memberikan gambaran lebih detail bentuk geometri 3 dimensi karakteristik reservoir beserta besaran volume kandungan hidrokarbonnya lebih akurat berupa minyak , gas dan kondensat.

Dengan begitu resiko kegagalannya sangat minimal sepanjang tidak ada gangguan struktur akibat teknonik yang bisa menyebabkan kandungan hidrokarbon itu migrasi , dan kawasan Kalimantan sangat relatif aman dari pengaruh teknonik.

Mengingat pengalaman Pertamina mengelola diberbagai blok migas cukup berhasil , kemudian 97 % sumber daya manusia yang selama ini aktif mengembangkan blok Mahakam bersama Total Indonesia sudah berkomitmen bergabung dibawah Pertamina Hulu Mahakam , maka alasan ancaman turunnya produksi setelah dikelola oleh Pertamina adalah alasan yang terlalu prematur alias gagal paham.

"Saya sebagai salah satu orang dari banyak orang bersama Marwan Batubara yang menandatangani petisi blok Mahakam pada tahun 2014 harus 100% dikelola Pertamina hanya bisa terkesima menyaksikan Pertamina zaman now .Jangan- jangan semua perusahaan migas diseluruh dunia lagi menertawakan kita saat ini," kata Yusri Usman.

Ini kata ahlinya, bukan hanya klaim2 doang para pemburu rente... :nyengir:

Praetorian 11th July 2018 10:52

Quote:

Originally Posted by doellpaten (Post 38482550)
CERI Kritisi Kebijakan Pertamina Ambil Alih Blok Mahakam

http://img.beritasatu.com/cache/beri...1477684693.jpg
Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman. (Sumber: energyworld.co.id)

Imam Suhartadi / IS Kamis, 4 Januari 2018 | 23:00 WIB


Jakarta - Tepat 1 Januari tahun 2018 di kota Balikpapan Direksi Pertamina menerima serah terima pengelolaan blok Mahakam setelah dikelola 50 tahun oleh perusahaan Total Indonesia dari Perancis.

Proses terminasi kontrak blok migas bukanlah hal baru , ini merupakan implementasi dari Peraturan Pemerintah nomor 35 tahun 2004 dan Permen ESDM nomor 15 tahun 2015 adalah tentang ketentuan perpanjangan atas berakhirnya kontrak PSC blok migas akan diperpanjang sesuai kebijakan Pemerintah Cq Menteri ESDM , contonya seperti blok Coastal Plain Pekanbaru ( CPP ) tahun 2002 dan blok Siak 2013 dari Chevron Riau serta Blok NSO dan Blok B dari Exxon Mobil Aceh tahun 2015.

"Tetapi mereka mungkin lupa bahwa melihat sikap Pertamina zaman old yang awalnya akan menguasai 100 % saham di blok Mahakam dan akhirnya hanyalah merupakan angin sorga saja bagi rakyat Indonesia , padahal Kementerian ESDM telah memberikan hak 100 % sahamnya kepada Pertamina pada tahun 2015 , kemudian saat ini dengan mekanisme b to b merubah kebijakan share down saham Pertamina dari 30 % akhirnya menjadi 39 % itulah Pertamina zaman now," kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (4/1).

Adapun nilai saham 39 % yang harus disetorkan oleh Total E & P kepada Pertamina sekitar Rp 49 triliun berdasarkan valuasi aset yang dibuat oleh SKKMigas.

Tentu kebijakan Pertamina zaman now ini , lanjut dia, pantaslah dicurigai oleh publik.

Menurut dia model pengelolaan energi seperti ini dalam perspektif ketahanan energi nasional tidak akan ditemukan di berbagai negara lain , hanya dilakukan Pertamina zaman now.

Penilaian ini tentu didasari bahwa saat ini sudah terjadi krisis energi , karena volume impor minyak jauh lebih besar dari volume minyak yang dihasilkan oleh Pertamina ditambah minyak dan gas bagian negara di KKKS .

Seperti diketahui, Pertamina untuk memenuhi kebutuhan kilangnya sendiri lebih mudah dan murah membeli minyak mentah dari negara di timur tengah dan Afrika Barat nun jauh disana daripada membeli minyak milik bagian perusahaan asing KKKS dari hasil diperut bumi Indonesia. Karena itu, wajar saja ada pihak pihak yang tetap ingin mengambil keuntungan di sisa migas yang mudah-mudahan ada manfaatnya bagi ketahanan energi nasional.

Sehingga sangat keliru kalau ada yg mengatakan perusahaan Prancis menangis. "Sesungguhnya kalau kita mau jujur dengan akal sehat dan hati nurani , malah pendiri bangsa kita yang menangis melihat kebijakan yang dibuat oleh direksi Pertamina masih memberikan peluang besar kepada perusahaan asing disaat cadangan migas kita boleh dikatakan sudah kritis , bahkan bisa dikatakan inilah kutukan untuk bangsa kita yang salah mengelola sumber daya alamnya," katanya.

Menurut dia, banyak alasan yang bisa dikatakan oleh Pertamina untuk membungkus seolah-olah kebijakan itu sudah benar dan masuk akal . Contohnya bahwa kebijakan tersebut adalah lebih ingin membagi resiko potensi kegagalan dan butuh banyak dana segar bisa jadi karena Pemerintah sering menahan dana subsidi BBM yang sudah mencapai Rp 50 triliun dengan alasan perlu verifikasi dulu seperti dikemukakan oleh Menteri keuangan Sri Mulyani.

Begitu juga alasan yang selalu dikemukakan oleh Pemerintah bahwa Pertamina harus bisa menjamin produksinya tidak turun dan biaya per unitnya bisa lebih efisien serta kemampuan keuangan Pertamina dalam mengambil alih 8 blok migas yang akan diterminasi . Hal ini tentu berbeda dengan sikap Total Indonesia inginnya tetap menguasainya sebagai operator maupun oleh operator lain di 8 blok migas lainnya yang akan terminasi pada 2018 dan 2019 .

Sudah tentu akibat beda kepentingan ini menjadi peluang bagi pemburu rente , sehingga Pertamina saat ini lebih tak berani daripada Pertamina Zaman old yang lebih berani ambil alih Blok West Madura Offshore dari Kodeco tahun 2011 dari produksi 13.700 B0PD meningkat jadi 20.000 BOPD.

Sedangkan Blok Offshore North West Jawa dari British Petroleum tahun 2009 dari produksi awal 24.100 BOPD meningkat 40.000 BOPD dalam kurun 4 tahun setelah diambil oleh Pertamina zaman old.

Faktanya kedua blok migas tersebut berhasil ditingkatkan produksinya jauh lebih besar dari operator sebelumnya , hebat profesional Pertamina dulu.

Pertamina sudah menyatakan tidak ekonomis mengelola blok East Kalimantan dan blok Attaka yang terletak berdampingan dengan blok Mahakam akibat adanya kewajiban ASR ( Abadonment Site Restoration ) atau biaya pemulihan lapangan paska berhentinya produksi , padahal biaya ini sudah termasuk dalam tanggung jawab operator lama dengan skema cost recovery .

Disisi lain, Pertamina saat ini malah tertarik akan mengelola blok Sonatrach di Aljazair produksinya hanya 20.000 sd 30.000 BOPD , produksinya tidak jauh beda blok East Kalimantan dan blok Attaka di Kalimantan.

"Ibarat kata kambing kurus dinegeri orang dikejar kejar , sapi gemuk dihalaman sendiri disajikan kepada tamu untuk disembelih," ujarnya.


Sebaliknya perusahaan Petrochina dan Petronas sekarang memburu blok East Kalimantan dan blok Attaka dengan skema gross split .

Resiko Kegagalan

Perlu diketahui blok Mahakam adalah blok produksi dengan ribuan lubang sumur , sehingga data data sumur yang lengkap itu digabungkan dengan data data seismik telah memberikan gambaran lebih detail bentuk geometri 3 dimensi karakteristik reservoir beserta besaran volume kandungan hidrokarbonnya lebih akurat berupa minyak , gas dan kondensat.

Dengan begitu resiko kegagalannya sangat minimal sepanjang tidak ada gangguan struktur akibat teknonik yang bisa menyebabkan kandungan hidrokarbon itu migrasi , dan kawasan Kalimantan sangat relatif aman dari pengaruh teknonik.

Mengingat pengalaman Pertamina mengelola diberbagai blok migas cukup berhasil , kemudian 97 % sumber daya manusia yang selama ini aktif mengembangkan blok Mahakam bersama Total Indonesia sudah berkomitmen bergabung dibawah Pertamina Hulu Mahakam , maka alasan ancaman turunnya produksi setelah dikelola oleh Pertamina adalah alasan yang terlalu prematur alias gagal paham.

"Saya sebagai salah satu orang dari banyak orang bersama Marwan Batubara yang menandatangani petisi blok Mahakam pada tahun 2014 harus 100% dikelola Pertamina hanya bisa terkesima menyaksikan Pertamina zaman now .Jangan- jangan semua perusahaan migas diseluruh dunia lagi menertawakan kita saat ini," kata Yusri Usman.

Ini kata ahlinya, bukan hanya klaim2 doang para pemburu rente... :nyengir:

Coba gua tanya nih berita yg lo bawa.

Isinya pertamina salah ambil blok mahakam?
Atau pertamina sudah benar ambil blok mahakam?
Itu berita pertamina jadi ambil alih atau tidak?

kudatuli_27juli 11th July 2018 11:00

Quote:

Originally Posted by adama (Post 38482453)
Jangan nanya pertanyaan sulit, orang yang masih dukung Jokowi pikirannya masih pada sederhana dan gampang dikibuli.

:nyengir:

Quote:

Originally Posted by doellpaten (Post 38482550)
[indent][SIZE="5"]

Ini kata ahlinya, bukan hanya klaim2 doang para pemburu rente... :nyengir:

:LOL:

Sarkas pisan....

kaldun 11th July 2018 11:16

indonesia bangkit antek asing kejet2

doellpaten 11th July 2018 11:17

Quote:

Originally Posted by Praetorian (Post 38482576)
Coba gua tanya nih berita yg lo bawa.

Isinya pertamina salah ambil blok mahakam?
Atau pertamina sudah benar ambil blok mahakam?
Itu berita pertamina jadi ambil alih atau tidak?

Segitu oonnya kah engkau hingga gak ngerti bahwa penulis artikel itu gak mengatakan bahwa pertamina itu gak menguasai blok mahakam, tapi menguasainya bukan 100% seperti klaim, karena 39% sahamnya dijual lagi ke Total...

Berarti Pertamina masih memberikan peluang besar kepada perusahaan asing disaat cadangan migas kita boleh dikatakan sudah kritis, padahal pertamina jaman old maunya 100%...

Kenapa pertamina malah memburu ladang migas di Afrika yg diibaratkan penulis adalah kambing kurus, dan malah menyembelih sapi gemuk utk disajikan kpd asing???

Paham on???
Kalo ketinggian kalimatku, aku akan menyesuaikan utk menjelaskannya, hehehe.... :P; :lol::lol:

Praetorian 11th July 2018 11:29

Quote:

Originally Posted by doellpaten (Post 38482674)
Segitu oonnya kah engkau hingga gak ngerti bahwa penulis artikel itu gak mengatakan bahwa pertamina itu gak menguasai blok mahakam, tapi menguasainya bukan 100% seperti klaim, karena 39% sahamnya dijual lagi ke Total...

Berarti Pertamina masih memberikan peluang besar kepada perusahaan asing disaat cadangan migas kita boleh dikatakan sudah kritis, padahal pertamina jaman old maunya 100%...

Kenapa pertamina malah memburu ladang migas di Afrika yg diibaratkan penulis adalah kambing kurus, dan malah menyembelih sapi gemuk utk disajikan kpd asing???

Paham on???
Kalo ketinggian kalimatku, aku akan menyesuaikan utk menjelaskannya, hehehe.... :P; :lol::lol:

Hahahahhahahah.
Gmn sih lo kang..

Jadi 39% sahamnya kepunyaan total+ inpex?
Atau total+inpex boleh kelola 39%nya dr block mahakam..
Gua mau mastiin dulu nih..

Hahahahah


All times are GMT +8. The time now is 05:39.


Powered by vBulletin
Copyright © 2000 - 2006, Jelsoft Enterprises Ltd.