DetikForum

DetikForum (http://forum.detik.com/index.php)
-   Sosial Budaya (http://forum.detik.com/forumdisplay.php?f=52)
-   -   Pertaruhan dalam Memilih Agama (dan/atau denominasi/golongan) (http://forum.detik.com/showthread.php?t=1643168)

repent 4th January 2018 15:50

Pertaruhan dalam Memilih Agama (dan/atau denominasi/golongan)
 
"Belief is a wise wager. Granted that faith cannot be proved, what harm will come to you if you gamble on its truth and it proves false? If you gain, you gain all; if you lose, you lose nothing. Wager, then, without hesitation, that He exists." (Blaise Pascal)

Blaise Pascal pernah mengatakan, bahwa pada hakikatnya kita sedang bertaruh dalam hidup kita, yaitu apakah Tuhan itu ada (orang beriman), atau Tuhan itu tidak ada (atheist). Kita tidak dapat membuktikan apakah Tuhan itu ada atau tidak, namun kita tetap harus bertaruh.

Taruhan yang bijaksana adalah jika kita bertaruh bahwa Tuhan itu ada. Karena kalau ternyata kita salah, bahwa Tuhan itu tidak ada, maka kita hanya rugi sedikit di dunia (tidak bisa hidup bermewah-mewah, tidak boleh egois, harus melakukan berbagai ritual agama, dlsb). Namun, jika kita benar, maka kita akan mendapatkan pahala yang tak terhingga.

Sebaliknya, jika seorang atheist bertaruh bahwa Tuhan itu tidak ada dan ternyata Tuhan itu ada, maka si atheist akan mengalami hukuman tak terbatas di akhirat nanti. Bahkan, jika atheist benar bahwa Tuhan itu tidak ada, si atheist pun juga tidak mendapatkan keuntungan apa-apa setelah dia mati.

"Regardless of whether God exists, then, theists have it better than atheists; hence belief in God is the most rational belief to have."
Apakah Tuhan ada atau tidak, theist (orang beragama) lebih baik daripada atheis, oleh karena itu beriman kepada Tuhan adalah pilihan yang paling rasional.

Demikian kira-kira pemikiran dari Blaise Pascal


Namun, menurut saya, pertaruhan bukan hanya sebatas apakah Tuhan itu ada atau tidak, melainkan pertaruhan dalam hal memilih agama (dan/atau denominasi/ golongan agama) yang benar? Apakah Islam, Kristen, Judaisme, Mandaeans, Hindu, Buddha, atau yang lain.

Bahkan terkadang ketika kita sudah memilih agama yang benar, kita masih harus memilih lagi denominasi agama tersebut, misalnya kalau di dalam Islam ada Ahli Sunnah wal Jama'ah (sunni), syiah, muktazilah, salafi, dll. Atau kalau di dalam agama Kristen ada Katolik, protestan, karismatik, advent, unitarian dll.

repent 4th January 2018 15:51

Dalam thread ini, mari kita saling sharing, agama (dan/atau denominasi) apakah yang anda anut/percaya, dan kenapa anda memilih agama (dan/atau denominasi). Kalau berkenan, sekalian diterangkan, apakah agama yang sekarang anda pilih tsb adalah agama anda sebelumnya (agama sejak lahir)

Saya mulai dari diri saya sendiri.

Saya dilahirkan sebagai seorang Islam, namun saya baru mulai belajar tentang Islam waktu saya SMA. Sebagaimana umat Islam pada umumnya di Indonesia, maka Islam yang saya pelajari pada awalnya adalah Islam versi Ahli Sunnah wal jama'ah (sunni) yang dasarnya antara lain bahwa Rukun Iman itu ada enam (termasuk beriman kepada Qadha dan Qadar). Nah, dari situlah mulai muncul masalah yang mengganggu pikiran saya selama bertahun-tahun.

Saya selalu gagal paham mengenai konsep qadha dan qadar ini. Bagi saya, takdir adalah suatu hal yang sulit dikompromikan dengan keadilan Tuhan. Bagi saya, penjelasan mengenai konsep takdir (sebagaimana dijelaskan oleh aliran asy'ari) tidak berbeda jauh dengan konsep takdir versi aliran Jabariyah, yaitu yang menjelaskan bahwa manusia tidak memiliki daya upaya untuk menolak takdir (tidak ada free will dalam konsep Jabariyah).

Oleh karena itu, kemudian saya mulai mencari referensi mengenai takdir dari sumber lain, antara lain dari qadariyah, muktazilah, syiah, bahkan sampai kepada Injil Barnabas. Dari situlah akhirnya saya baru menyadari bahwa ternyata aliran lain seperti muktazilah dan syiah tidak memasukkan iman kepada qadha dan qadar sebagai bagian dari rukun iman. Bagaimanapun juga, beriman kepada qadha dan qadar memang tidak disebutkan di dalam Al Quran (atau bahkan tidak disebutkan di dalam Sahih Bukhari?)

Syiah, misalnya, mengganti konsep takdir dengan apa yang namanya Bada'. Intinya, dalam konsep Bada' ini, yang namanya "ketetapan" atau "takdir" masih bisa berubah. Terus terang, konsep bada' ini lebih masuk akal bagi saya ketimbang konsep takdir versi Jabariah (dan juga aliran asy'ariyah)

Nah, berawal dari ketidakpuasan saya terhadap aliran sunni, saya mulai mempelajari aliran lain seperti muktazilah, syiah, islam liberal, bahkan ingkar sunnah sekalipun. Saya mengambil ajaran-ajaran yang menurut saya masuk akal dari berbagai aliran tersebut. Namun, dalam hal referensi hadits, saya lebih percaya kepada hadits-hadits sunni seperti kutubus sittah ataupun kutubut tis'ah.

Sekarang saya memandang diri saya sebagai seorang muslim saja tanpa embel-embel sunni, syiah dst, karena saya memang tidak mengikuti aliran atau denominasi tertentu. Atau mungkin saya termasuk Islam gado-gado, karena ketika saya mengambil suatu pendapat, biasanya saya memilihnya dari berbagai aliran yang ada, dan tidak fanatik kepada aliran/denominasi tertentu.

"yaitu orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya" (QS 39:18)

Bagaimana dengan pilihan anda?

kumalraj 4th January 2018 15:56

Kita juga bertaruh Tuhannya yang seperti apa.

Kalau Tuhan itu pecemburu seperti Tuhannya agama Samawi, maka salah milih agama atau salah pilih denominasi bisa akibatnya membuat marah Tuhan pada kita. Mungkin lebih baik tidak memilih daripada pilih yang salah.

Tapi kalau Tuhan itu bukan pecemburu. Maka memilih yang salah mungkin tidak jadi masalah besar.

Karena tidak bisa semua versi Tuhan itu benar maka paling tepat itu memilih untuk tidak pasang taruhan.

Itu karena kalau Tuhan tidak pemarah, maka pilih atau tidak pilih tidak ada efeknya. Salah pilih juga tidak ada efeknya.

Tapi kalau Tuhannya pemarah. Maka lebih baik tidak memilih karena lebih besar kemungkinan salah pilih daripada memilih yang benar. Kalau ada 100 agama atau denominasi maka kemungkinan kamu berhasil pilih yang benar hanya 1 : 100. Jadi kamu ada resiko besar membuat Tuhan marah kalau memilih.

repent 4th January 2018 16:05

Quote:

Originally Posted by kumalraj (Post 37269389)
Kita juga bertaruh Tuhannya yang seperti apa.

Kalau Tuhan itu pecemburu seperti Tuhannya agama Samawi, maka salah milih agama atau salah pilih denominasi bisa akibatnya membuat marah Tuhan pada kita. Mungkin lebih baik tidak memilih daripada pilih yang salah.

Tapi kalau Tuhan itu bukan pecemburu. Maka memilih yang salah mungkin tidak jadi masalah besar.

Dalam kasus ini, menurut saya lebih aman jika kita menempatkan taruhan kita kepada Tuhan yang Pencemburu sebagaimana Tuhannya agama samawi, karena seperti yang anda katakan, jika ternyata Tuhan itu bukan pencemburu, maka pilihan kita yang salah tersebut pun bukan masalah besar :D

OmniScience 4th January 2018 16:20

Jadi Pascal Wager berargument, gak ada ruginya milih jadi Theist dibanding atheist, karena salahpun gak rugi, benar untung seuntung2nya ...

Nah argument dari saya, kalau salah sebenarnya ada ruginya, karena hampir setiap agama, punya ritual2, yang membutuhkan modal fisik, waktu dan biaya.

Lalu mungkin datang lagi bantahan dari argument saya, tapi kan ruginya/modal yang dikeluarkan gak sebanding (sangat kecil = mendekati 0) dibanding jika benar maka untungnya adalah keabadian (tak terhingga).

Nah kembali kita coba berhitung ...
Jika agama dan denominasinya sangat banyak, mendekati tidak terhingga maka kemungkinan benar adalah 1 : mendekati tak terhingga = mendekati 0.
Nah walaupun perbandingan untung ruginya mendekati 0, ternyata kemungkinan benarnya jg mendekati 0.

Jadi argument Pascal Wager bahwa pasti lebih baik jadi Theist dibanding jadi atheist menurut saya, tidak juga benar-benar benar ! :D

marple 4th January 2018 16:54

Hehehe.. sama kaya TS. Meluk Islam tp msh jauh dibilang dari Islam taat. Masih gado2 tapi sampai saat ini masih percaya Tuhan itu ada sih.

repent 4th January 2018 16:58

Quote:

Originally Posted by OmniScience (Post 37269646)

Nah kembali kita coba berhitung ...
Jika agama dan denominasinya sangat banyak, mendekati tidak terhingga maka kemungkinan benar adalah 1 : mendekati tak terhingga = mendekati 0.
Nah walaupun perbandingan untung ruginya mendekati 0, ternyata kemungkinan benarnya jg mendekati 0.

Jadi argument Pascal Wager bahwa pasti lebih baik jadi Theist dibanding jadi atheist menurut saya, tidak juga benar-benar benar ! :D

Nah, oleh karena itu di sini kita mencoba menggali wan, agama atau denominasi apa yang kira-kira paling masuk akal?

Kalau saya sih, berhubung saya membaca Al Quran dan Alkitab, maka saya mengatakan bahwa yang paling masuk akal itu adalah Abrahamic religions, termasuk Judaisme, Kristen, dan Islam. Tapi dari ketiga agama Abraham tersebut, Islam-lah yang paling lengkap, karena Islam mengakui nabi-nabi agama sebelumnya dan juga kitab suci agama sebelumnya.

kumalraj 4th January 2018 17:08

Quote:

Originally Posted by repent (Post 37269876)
Nah, oleh karena itu di sini kita mencoba menggali wan, agama atau denominasi apa yang kira-kira paling masuk akal?

Kalau saya sih, berhubung saya membaca Al Quran dan Alkitab, maka saya mengatakan bahwa yang paling masuk akal itu adalah Abrahamic religions, termasuk Judaisme, Kristen, dan Islam. Tapi dari ketiga agama Abraham tersebut, Islam-lah yang paling lengkap, karena Islam mengakui nabi-nabi agama sebelumnya dan juga kitab suci agama sebelumnya.

Apa pandangan kamu terhadap Ahmadiyah yang mengakui nabi-nabi agama sebelumnya dan juga kitab suci agama sebelumnya?

OmniScience 4th January 2018 17:09

Quote:

Originally Posted by repent (Post 37269876)
Nah, oleh karena itu di sini kita mencoba menggali wan, agama atau denominasi apa yang kira-kira paling masuk akal?

Kalau saya sih, berhubung saya membaca Al Quran dan Alkitab, maka saya mengatakan bahwa yang paling masuk akal itu adalah Abrahamic religions, termasuk Judaisme, Kristen, dan Islam. Tapi dari ketiga agama Abraham tersebut, Islam-lah yang paling lengkap, karena Islam mengakui nabi-nabi agama sebelumnya dan juga kitab suci agama sebelumnya.

Wah itu gak mungkin bisa ditentukan wan ...
Karena akan bersifat subjectif sekali.

Anda besar bersama agama Samawi, pasti menganggap agama Samawi yang paling masuk akal, hal yang berbeda jika anda besar bersama agama Buddha atau Hindu misalnya.

Sebenarnya kalau mau netral menilai agama yang paling masuk akal, harusnya minta pendapat atheist, yang berada di luar agama2 yang ada.
Tapi itupun si atheist sedikit banyaknya terpengaruh dengan nilai2 agama tempat dia tumbuh berkembang. :music:

marple 4th January 2018 17:12

Quote:

Originally Posted by OmniScience (Post 37269902)
Wah itu gak mungkin bisa ditentukan wan ...
Karena akan bersifat subjectif sekali.

Anda besar bersama agama Samawi, pasti menganggap agama Samawi yang paling masuk akal, hal yang berbeda jika anda besar bersama agama Buddha atau Hindu misalnya.

Sebenarnya kalau mau netral menilai agama yang paling masuk akal, harusnya minta pendapat atheist, yang berada di luar agama2 yang ada.
Tapi itupun si atheist sedikit banyaknya terpengaruh dengan nilai2 agama tempat dia tumbuh berkembang. :music:

kalau menurut bang Omni yg masuk akal yg mana?


All times are GMT +8. The time now is 21:59.


Powered by vBulletin
Copyright © 2000 - 2006, Jelsoft Enterprises Ltd.