DetikForum

DetikForum (http://forum.detik.com/index.php)
-   Sejarah (http://forum.detik.com/forumdisplay.php?f=191)
-   -   Sejarah Dracula (http://forum.detik.com/showthread.php?t=224853)

jawaad 17th December 2010 22:02

Sejarah Dracula
 
Perhatian:
saya hanya menyampaikan informasi sejarah dracula, bukan untuk diarahkan SARA (yg berarti menjelekkan, menghina, mencemoohkan suatu ajaran), akan tetapi lebih pada meluruskan peristiwa dan sejarah nya.

Membongkar Sebuah Kebohongan

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922)-yang dibuat ulang pada tahun 1979-dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.

Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?

Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia , keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman-sebagai wakil Islam-dan Kerajaan Honggaria-sebagai wakil Kristen-semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia . Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel- benteng Kristen-ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.

Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab-yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:

“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania , Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat-khususny a umat Islam sendiri-yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka-pahlawan dari pihak Islam-dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.

Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.

Selain yang telah dipaparkan di atas, buku “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya.

Kesimpulan

suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang lain-politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini-walaupun masih merupakan langkah awal-bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita.

Wikipedia pun mengkonfirmasikan eksistensi historis Dracula yang membantai ribuan Muslim dengan cara menusuk/mensula.

jawaad 18th December 2010 05:38

[IMG]http://3.bp.********.com/_JXszgBBeCTg/TLLqQuRCMnI/AAAAAAAAACE/_8xcBF3YQlk/s1600/dracula.jpg[/IMG]

http://by.genie.uottawa.ca/~nistor/4515brancastel.jpg

[IMG]http://1.bp.********.com/_JXszgBBeCTg/TLLrXvuHE0I/AAAAAAAAACM/pzqLX77clTc/s320/disula-oleh-dracula1.jpg[/IMG]


riwayat lain,.. agak mirip dgn yg diatas.

Sejarah Dracula ( vlad III )

Selama perang salib, wallachia menjadi rebutan antara kerajaan Hungaraia dan Turki Ottoman, pada masa Vlad II berkuasa di wallachia,Vlad II mempunya tiga orang anak, Mircea,Dracula dan Randu, Vlad II memihak kerajaan Hungaria.Namun setelah dilengserkan oleh Sigismund ( Raja dari kerajaan Hungaria ) dan kemudian digantikan oleh John Hunyandi, Vlad II memihak kepada kesultanan Turki Ottoman, sebagai jaminan kesetiaannya kepada kesultanan Turki ottoman, Vlad II mengirimkan Dracula dan Randu ke Turki.

Riwayat Dracula
Vlad Tsepes III ( 1431 - 1475 M ) atau yang lebih populer dengan nama Dracula dilahirkan di Transylvania, Rumania. Ia merupakan anak Ke 2 dari Vlad II dan Cneajna, seorang putri dari Moldavia
Masa kecil Dracula memang tidak berlangsung lama, diusianya yang ke 11 ia harus menjadi jaminan kesetian ayahnya kepada kesultanan Turki ottoman, ia dan adiknya Randu harus dikirim ke Turki.

Awal Kekuasaan Dracula
Setelah perang Verna, terjadi konflik antara Vlad II dan John Hunyadi, yang berujung pada kematian Vlad II dan Mircea, kakak Dracula. Melihat perubahan politik di Wallachia tersebut, maka sultan Turki ottoman Mehmed II mengirimkan Dracula pulang ke wallachia untuk merebut tahta.
Dracula kembali ke Wallacia dengan di kawal 8000 prajurit Turki ottoman. sesampainya di Tirgoviste ( ibu kota wallachia ) terjadi pertempuran antara pasukan Vlasdisav dengan pasukan Dracula, yang akhirnya di menangkan oleh pasukan Dracula dan menempatkan Dracula sebagai penguasa Wallachia.

Awal Kekejaman Dracula
Setelah berhasil menduduki tahta, Dracula membantai prajurit Turki ottoman yang tersisa dengan cara di sula, hal tersebut menjadi salah satu penyebab permusuhan antara Dracula dan Sultan Mehmed II.
Sebagai panglima salib di Wallachia, Dracula telah membantai kurang lebih 23.000 umat islam baik tentara maupun rakyat, dengan peperangan maupun dengan metode sula ( impaler ), setelah tindakan tersebut Dracula mengirimkan surat kepada raja Hungaria saat itu ( Matthias Corvinus ) untuk meminta dukungan dari kerajaan Hungaria untuk melawan Turki Ottoman.

Serangan Tengah Malam ( The Night Attack )
Tindakan Dracula yang membantai 23.000 tentara Turki Ottoman, membuat sultan Mehmed II menyatakan perang kepada Dracula. Pada tanggal 17 Mei 1462 M Sultan Mehmed II ( sang penakluk konstatinopel ) mengirimkan 60.000 tentara ditambah 30.000 tentara non reguler. Sedangkan tentara Dracula mencapai 30.000 prajurit, melihat jumlah pasukan yang tidak berimbang, dracula melakukan strategi perang grilya ( Hit and Run )
Pada serangan tengah malam pasukan dracula yang berkekuatan 10.000 orang berhasil mendesak pasukan Turki ottoman, tetapi dapat dipukul mundur pada saat fajar tiba, atas kekalahan tersebut pasukan dracula mundur ke benteng Poenari, dracula melarikan diri dari kepungan pasukan Turki ottoman yang di pimpin oleh Randu ( adik kandung dracula )ke Hungaria, dengan melarikandirinya Dracula, Randu dengan mudah merebut benteng Poenari dan merebut tahta Wallachia.

Kematian Dracula
Pada Desember 1476 Terjadi pertempuran antara pasukan salib dengan dengan pasukan muslim ( Turki ottoman )dimana pertempuran tersebut terjadi di daerah Snagov, dalam pertempuran tersebut pasukan Dracula dapat dikalahkan, dan Dracula ( Vlad III ) tewas dalam pertempuran tersebut, kepalanya di penggal dan di bawa ke Turki sebagai bukti kematiannya.

jawaad 18th December 2010 05:43

[IMG]http://3.bp.********.com/_8P2Y-QnsL0w/SwzRmqwi8tI/AAAAAAAAABI/CLUwvD7OjoM/s320/sultan-mehmed-ii-sang-pembantai-dracula.jpg[/IMG]

“Setiap kelas yang berkuasa menciptakan budayanya sendiri, dan sebagai konsekuensi dari itu, menciptakan seninya sendiri. Sejarah telah mengenal budaya kepemilikan budak dari dunia Timur dan zaman klasik, budaya feudal Eropa abad pertengahan dan budaya borjuis yang kini menguasai dunia.”
(Leon Trotsky)

Mehmed II: Tokoh Yang Digerus Oleh Mitos Dracula

[IMG]http://4.bp.********.com/_8P2Y-QnsL0w/SwzRmfXshRI/AAAAAAAAABA/OcDd3UVBwJE/s320/Mehmedii.jpg[/IMG]

BILA dalam sebuah ruang kelas seorang guru sejarah bertanya siapa yang tahu Mehmed II atau Sultan Muhammad al Fatih? Bisa dipastikan tidak ada yang mengangkat tangan. Tetapi bila sang guru bertanya siapa yang tahu Dracula? Bisa dipastikan sebagian besar murid pasti akan mengacungkan tangan untuk berebut menjawab. Itulah ironi yang terjadi, bahwa generasi muda lebih mengenal superhero rekaan Barat dibandingkan pahlawan yang sebenarnya.
Dunia memang sedang timbang, seperti aliran sungai, mengalir dari Barat menuju Timur. Semua yang berasal dari Barat mengalir deras, membanjiri dinia Timur --mulai cara berpikirnya sampai cara jalannya. Tak terasa kalau sebetulnya penjajahan itu masih terus berlanjur hingga kini.
Bentuk penjajahan dari zaman ke zaman memang berbeda, tapi caranya sama: lewat utang atau perang. Ini yang terjadi sejak zaman perbudakan sampai zaman sekarang. Tengoklah sekarang, utang digelontorkan oleh negara-negara Barat beserta kroni-kroninya, baik lewat IMF, Bang Dunia maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan utang tersebut mereka menjerat negara penerima utang yang ada di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Sudah banyak negara yang menjadi korban penjajahan gaya baru ini. Sedangkan negara-negara yang tidak bisa ditundukkan dengan utang maka akan ditundukkan dengan perang. Sebagai alasan pemimpin mereka dituduh sebagai pelindung teroris, anti demokrasi, radikal atau komunis. Bentuk ini yang terjadi di Irak, Afganistan dan negara-negara di Amerika Latin.

Lantas apa hubungan semua ini dengan Mehmed II dan Dracula?
Saat ini bentuk penjajahan tidak melalui ekonomi dan politik, tapi juga yang lainnya, salah satunya sejarah. Seharusnya sejarah merupakan air paling bening untuk melihat masa lalu. Akan tetapi, kini sejarah juga tidak lepas dari jerat penjajahan Barat. Mereka, bangsa-bangsa Barat, yang mempunyai akses dari uang sampai senjata, informasi sampai teknologi, terus-menerus berdaya upaya melakukan penjajahan sejarah. Mereka berusaha menyingkirkan sejarah versi lain untuk kemudian memaksakan sejarah versi mereka. Tengoklah bagaimana mereka membuat sejarah tentang Iran, Irak dan Afganistan, Venezuela dan Cuba, Korea Utara dan Indonesia. Lihat pula bagaimana mereka membuat sejarah tentang Soekarno dan Castro, Chaves dan Ahmadinejad --mereka menuliskannya sebagai nasionalis radikal, komunis atau fundamentalis. Simak pula bagaimana mereka membuat sejarah tentang Perang Salib, Perang Pearl Habour dan Perang Vietnam.

Bagi yang peka maka penjajahan sejarah itu begitu nyata di depan mata. Namun bagi yang tidak peka semua itu tidak terasa.
Kembali lagi ke Mehmed II dan Dracula. Kedua-duanya merupakan tokoh sejarah, Mehmed II penguasa Kesultanan Turki Ottoman dan Dracula penguasa Wallachia. Keduanya juga hidup pada era yang sama, yaitu pada periode akhir Perang Salib. Dan, keduanya pernah terlibat dalam pertempuran yang telah merenggut banyak korban jiwa. Akan tetapi, dalam sejarah yang kemudian berkembang masing-masing mempunyai nasib yang berbeda.

Mehmed II tetap tercatat sebagai tokoh sejarah. Tentu saja dia dikenal sebagai penakluk Konstatinopel. Sedangkan Dracula berbeda nasibnya. Ia lebih dikenal sebagai vampire daripada sebagai manusia sejarah. Namun walaupun begitu ia bernasib lebih mujur karena namanya justru dikenal diseantero dunia. Dan, harus diakui dia telah berhasil menenggelamkan nama musuh bebuyutannya, Mehmed II. Saat ini --bahkan umat Islam sendiri --akan lebih mengenal Dracula daripada Mehmed II. Nama Dracula tetap menjadi buah bibir bahkan setelah kematiannya pada tahun 1476. awalnya ia menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat di pedesaan di Transylvania, dan kemudian berkembang diseantero Eropa. Namun yang kemudian yang dikenal bukan kekejamannya sebagai pembantai 500.000 manusia --sebagian besar mati karena disula --tetapi sebagai hantu jadi-jadian yang kemudian dikenal sebagai vampir, manusia penghisap darah. Kisah inilah yang terus -menerus didaur ulang sehingga menutupi fakta yang sebenarnya.

Usaha Barat untuk mengangkat pahlawan mereka --Dracula --dan menenggelamkan musuh mereka --Mehmed II --bisa dinilai sangat berhasil. Penenggelaman tersebut dengan menggunakan simbol salib dan bawang putih. Lewat simbol salib Barat sebagaimana diuraikan Hyphatia Cneajna ingin menunjukkan superioritas mereka. Bahwa merekalah yang mampu membunuh Dracula dengan salib; bahwa merekalah yang bisa mengusir setan yang haus darah dengan salib. Mereka ingin mengatakan kepada dunia, merekalah ksatria dengan tanda salib di dada yang telah menyelamatkan dunia dari teror Dracula. Dengan cara inilah secara perlahan namun pasti Barat bisa memasukkan ke dalam kesadaran generasi sekarang tentang sosok Dracula. Sehingga nama ini terus-menerus dikenang sepanjang masa, dari anak kecil sampai orang tua. Dan, tak disadari terutama oleh umat Islam sendiri, pahlawan mereka sendiri pelan-pelan telah ditenggelamkan dari pentas sejarah. Tak mengherankan memang kalau kemudian mereka tak mengenal siapa itu Mehmed II/Muhammad II/al Fatih.

bersambung...

jawaad 18th December 2010 05:44

Tabiat Barat tersebut tidak berubah hingga kini. Saat ini mereka datang laksana ksatria pasukan Salib ke negara-negara yang kata mereka menjadi sarang teroris. Mereka datang dengan membawa slogan kosong bahwa dunia saat ini sedang terancam oleh Dracula baru yang disebut teroris. Padahal, semua itu cuma kedok mereka untuk melakukan penjajahan gaya baru.
Memang beralasan kalau Barat berusaha menenggelamkan nama Mehmed II. Selain menyangkut dendam lama dalam Perang Salib --dimana Mehmed II merupakan tokoh yang mampu merebut benteng terbesar Pasukan Salib, Konstatinopel --usaha untuk menenggelamkan nama Mehmed II juga bertujuan agar umat Islam --terutama generasi mudanya --tidak mempunya tokoh pujaan yang ideal. Tentu akan bisa diramalkan kalau generasi Islam mempunyai idola seperti Saladin dan Mehmed II, yang kedua-duanya begitu gigih membebaskan Islam dari dominasi bangsa Barat. Kalau ini terjadi tentu saja negara seperti Amerika Serikat akan terusir dari Afganistan, Irak, Indonesia, karena generasi muda Islam akan bersatu untuk menendangnya keluar. Begitu juga dengan Israel --yang menurut John Parkins Israel merupakan Infanteri Amerika Serikat di Timur Tengah --akan terusir dari Palestina, dan rakyat Palestina pun akan merdeka.

Tokoh seperti Mehmed II memang teladan yang ideal sebagai simbol perlawanan terhadap Barat. Ia selain dikenal ulung dalam strategi perang juga seorang yang mencintai ilmu pengetahuan. Semasa hidupnya ia mengundang ilmuan dari berbagai macam negara dan agama untuk menerjemahkan segala macam buku ke dalam bahasa Turki. Tak mengherankan kalau perpustakaan di Turki pada masanya menjadi salah satu perpustakaan paling lengkap di dunia. Karya-karya Yunani, Mesir dan Arab terkumpul menjadi satu sehingga siapun yang ingin belajar akan menemukan luasnya samudera ilmu pengetahuan.

Yang perlu juga dicatat dari Mehmed II adalah toleransinya. Sebagaimana Saladin, ketika memasuki Konstatinopel ia tidak merusak satu pun tempat ibadah agama Kristen maupun Yahudi. Semua tempat ibadah milik non muslim tetap ia biarkan berdiri dan umatnya ia lindungi. Ini tidak hanya dilakukan Mehmed II ketika menaklukkan Konstatinopel. Sewaktu menaklukkan Bosnia hal serupa ia lakukan. Ketika menaklukkan kota tersebut ia menulis surat yang berbunyi:
”Saya Sultan Khan Sang Pemenang mengatakan pada seluruh dunia.
Berdasarkan perintah sultan, Ordo Fransiscan di Bosnia di bawah perlindunganku. Dan aku memerintahkan agar tidak seorangpun orang yang disakiti dan gereja yang diganggu! Meraka seharusnya hidup dalam damai di kerajaanku. Orang-orang ini akan menjadi imigran yang berhak atas keamanan dan kebebasan. Mereka dapat kembali ke tempat tinggal mereka yang berlokasi di perbatasan kerajaanku.
Tidak ada satupun pejabat di kerajaanku, apakah itu wasir, bendahara atau pelayan yang akan merusak kehormatan mereka dengan menyakiti orang-orang yang kulindungi!
Tidak ada seorangpun dari mereka yang dapat dihina, dibahayakan atau diserang kehidupannya, harta bendanya dan gerejanya!
Begitu pula apa dan siapa yang mereka bawa dari Negara mereka mempunyai hak yang sama.
Dengan mendeklarasikan perintah ini, aku bersumpah dengan pedangku atas nama suci Allah yang telah menciptakan bumi dan langit, dan rasul-Nya, Muhammad, dan 124.000 pengikut beliau, bahwa tak seorangpun dari rakyatku yang akan bertindak atau berlaku dari kebalikan dari perintah ini. ”

Tiga sifat Mehmed II --anti Barat, pecinta ilmu pengetahuan dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama --tentu sifat yang ideal. Jika umat Islam meniru keteladanannya maka tentu saja minyak yang ada di Timur Tengah tidak akan dikuras oleh Amerika Serikat, dan negara tempat mereka berada akan menjadi negara yang benar-benar merdeka.
Sayangnya pemimpin di negara-negara Islam tidak mempunyai sifat dan watak seperti Mehmed II. Mereka justru menjual negara mereka kepada barat. Pun, memberikan sumber daya alam yang cukup berharga, minyak, kepada tuan-tuan asing. Sungguh tragis memang. Sementara itu, generasi mudanya lebih memuja pahlawan-pahlawan ciptaan Barat seperti Rambo, Superman, Spiderman. Pahlawan-pahlawan ”impor” dari Barat itu selain melenakan --membuat manusia menjadi individualis karena merasa mampu menyelamatkan dunia seorang diri --juga tidak mengajarkan semangat perlawanan terhadap dominasi Barat.
Tidak mudah memang melepaskan diri dari dominasi Barat. Jerat-jerat itu begitu kuat mengikat kesadaran manusia. Walaupun begitu bukan berarti harus menyerah. Tentu pasti ada jalan keluarnya. Salah satu jalan keluarnya adalah selalu kritis terhadap sejarah. Mengapa jalan ini bisa menjadi jalan keluar? Karena kekritisan terhadap sejarah akan membuat seseorang tidak mudah diperdaya karena mengetahui peristiwa yang sebenarnya. Bila setiap individu kritis terhadap sejarah maka Barat pun tidak akan leluasa melakukan penjajahan sejarah. Inilah pentingnya membuat sejarah yang mandiri.

Sumber: Orhan Basarab, Sultan Mehmed II Sang Pembantai Dracula, Darul Ikhsan, 2007, Cetakan I

maximus023 18th December 2010 22:32

Bro jawaad, uraian sejarah di atas menarik. Tetapi anda membumbuinya dengan pandangan anda yg anti barat.
Saya setuju Count dracula termasuk orang yg kejam. Tetapi pihak Turki pun melakukan pembantaian thd bangsa Armenia (th 1915) pd PD 1, di mana 600 rb-1.5 jt org tewas. (dulu blm ada istilah penjahat perang &HAM)
O ya saya juga tambahkan bahwa Sultan Mehmed II yg mengubah gereja Aya sophia menjadi mesjid.

deswithat 18th December 2010 22:54

Aku sih pernah baca (atau nonton film yah :bingung: ) emang Dracula ini salah satu mitos dalam perang salib. :nicethread:

jawaad 19th December 2010 00:38

Quote:

Originally Posted by maximus023 (Post 11871958)
Bro jawaad, uraian sejarah di atas menarik. Tetapi anda membumbuinya dengan pandangan anda yg anti barat.
Saya setuju Count dracula termasuk orang yg kejam. Tetapi pihak Turki pun melakukan pembantaian thd bangsa Armenia (th 1915) pd PD 1, di mana 600 rb-1.5 jt org tewas. (dulu blm ada istilah penjahat perang &HAM)
O ya saya juga tambahkan bahwa Sultan Mehmed II yg mengubah gereja Aya sophia menjadi mesjid.

peenggunakan kata anti barat adalah penekanan atas perlawanan dari penjajahan sejarah dari mereka (barat).

Peperangan tersebut untuk memerdekaan warga/rakyatnya dari pemerintah korup atau rezim tirani dikala itu, makanya setelah menang, tdk ada paksaan, dan rakyat/warga dibebaskan untuk memeluk ajaran agama yg dianutnya, dan kehidupan, cara bersosial, perekonomian tdk dibedakan sama sekali. sangat menuntut pada sikap toleransi dan menjunjung tinggi nilai kemerdekaan, dan menghilangkan budaya perbudakan.

Untuk Vlad Dracul, setelah ditaklukkan oleh Muhammad II, umat kristian menjadi minoritas dan gereja tersebut tdk dipergunakan secara optimal.
Perlu diingat bahwa Sultan Muhammad II ini menjamin semua warga ajaran apapun, baik krsitian, yahudi maupun etnis2 lain.

lalu.... di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk di tahun 1937, penjajah Turki ini berhasil mengganti fungsi masjid menjadi museum... dan sampai skrng masih menjadi museum, tidak menjadi fungsi masjid lagi :noidea:

maximus023 20th December 2010 11:01

Quote:

Originally Posted by jawaad (Post 11873105)
peenggunakan kata anti barat adalah penekanan atas perlawanan dari penjajahan sejarah dari mereka (barat).

Peperangan tersebut untuk memerdekaan warga/rakyatnya dari pemerintah korup atau rezim tirani dikala itu, makanya setelah menang, tdk ada paksaan, dan rakyat/warga dibebaskan untuk memeluk ajaran agama yg dianutnya, dan kehidupan, cara bersosial, perekonomian tdk dibedakan sama sekali. sangat menuntut pada sikap toleransi dan menjunjung tinggi nilai kemerdekaan, dan menghilangkan budaya perbudakan.

Untuk Vlad Dracul, setelah ditaklukkan oleh Muhammad II, umat kristian menjadi minoritas dan gereja tersebut tdk dipergunakan secara optimal.
Perlu diingat bahwa Sultan Muhammad II ini menjamin semua warga ajaran apapun, baik krsitian, yahudi maupun etnis2 lain.

lalu.... di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk di tahun 1937, penjajah Turki ini berhasil mengganti fungsi masjid menjadi museum... dan sampai skrng masih menjadi museum, tidak menjadi fungsi masjid lagi :noidea:

Bro Jawaad, saya kok bingung lihat komentar anda di atas.:lol:
Turki pada zaman itu sedang mencapai zaman kejayaannya, di mana mereka dapat menaklukan Konstatinopel kemudian melaju hingga Balkan dan akhirnya ekspansi mereka terhenti di Vienna. Tidak ada warga Serbia, Albania, Bosnia, Bulgaria, Rumania, Hongaria yg merasa dimerdekakan. Mereka adalah daerah jajahan (taklukan) Turki. Jadi yg menjadi inti di sini adalah Turki melaksanakan politik imperialisnya. Hal ini dalam sejarah adalah hal yang wajar, jika suatu bangsa mencapai puncak kejayaannya, mereka akan cenderung melakukan praktek imperialisme (ekspansi). Jadi persepsi anda yg saya baca adalah jika yg melakukan praktek imperialis itu sesuai dgn ajaran yg anda anut, maka anda akan katakan itu untuk memerdekakan atau kebaikan, begitu khan. :lol::piss:

Dosa-muka 21st December 2010 03:26

Quote:

Originally Posted by jawaad (Post 11873105)
peenggunakan kata anti barat adalah penekanan atas perlawanan dari penjajahan sejarah dari mereka (barat).

Peperangan tersebut untuk memerdekaan warga/rakyatnya dari pemerintah korup atau rezim tirani dikala itu, makanya setelah menang, tdk ada paksaan, dan rakyat/warga dibebaskan untuk memeluk ajaran agama yg dianutnya, dan kehidupan, cara bersosial, perekonomian tdk dibedakan sama sekali. sangat menuntut pada sikap toleransi dan menjunjung tinggi nilai kemerdekaan, dan menghilangkan budaya perbudakan.

Untuk Vlad Dracul, setelah ditaklukkan oleh Muhammad II, umat kristian menjadi minoritas dan gereja tersebut tdk dipergunakan secara optimal.
Perlu diingat bahwa Sultan Muhammad II ini menjamin semua warga ajaran apapun, baik krsitian, yahudi maupun etnis2 lain.

lalu.... di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk di tahun 1937, penjajah Turki ini berhasil mengganti fungsi masjid menjadi museum... dan sampai skrng masih menjadi museum, tidak menjadi fungsi masjid lagi :noidea:

:roses:

Ma kasih bang, untuk pencerahannya,

Aneh memang, Riwayat Dracula
Vlad Tsepes III ( 1431 - 1475 M ) baru terbuka belakangan ini, dan selama ini hanya menjadi dongeng dan cerita horor, apalagi masa2 sebelumnya???

Masih beruntung ya bang, masih tersimpan catatan2 sejarahnya, yang mungkin karena situasi sos-bud dan politiknyawaktu itu membumi hanguskan segala bukti2 sejarah, sehingga manusia sekarang menjadi buta dan bodoh,

Dengan era keterbukaan informasi, mulai mempertanyakan kembali, mulai merekontruksi kembali alur2 sejarah yang sebenarnya yang sekarang ini bagaikan benang kusut,

Bagaimana dengan Adam?, sudah menjadi dongeng yang diperdebatkan, padahal pernah menjadi kenyataan hidup yaitu menjadi bapak peradaban manusia, dan padahal juga bukankah hampir 500 tahun rekontruksinya di up-date yaitu diwartai kembali, tetap saja ujungnya menjadi dongeng yang bikin pusing kepala :bigcry: :bigcry:

OffLimit 21st December 2010 11:28

Quote:

Originally Posted by Dosa-muka (Post 11891016)
:roses:

Ma kasih bang, untuk pencerahannya,

Aneh memang, Riwayat Dracula
Vlad Tsepes III ( 1431 - 1475 M ) baru terbuka belakangan ini, dan selama ini hanya menjadi dongeng dan cerita horor, apalagi masa2 sebelumnya???

Masih beruntung ya bang, masih tersimpan catatan2 sejarahnya, yang mungkin karena situasi sos-bud dan politiknyawaktu itu membumi hanguskan segala bukti2 sejarah, sehingga manusia sekarang menjadi buta dan bodoh,

Dengan era keterbukaan informasi, mulai mempertanyakan kembali, mulai merekontruksi kembali alur2 sejarah yang sebenarnya yang sekarang ini bagaikan benang kusut,

Bagaimana dengan Adam?, sudah menjadi dongeng yang diperdebatkan, padahal pernah menjadi kenyataan hidup yaitu menjadi bapak peradaban manusia, dan padahal juga bukankah hampir 500 tahun rekontruksinya di up-date yaitu diwartai kembali, tetap saja ujungnya menjadi dongeng yang bikin pusing kepala :bigcry: :bigcry:

Bagaimana dengan Adam ?
Anda cari catatan dan bukti sejarahnya juga donk, supaya manusia gak menjadi buta dan bodoh.
Supaya gak hanya berlandaskan dogma dan kepercayaan saja ...


All times are GMT +8. The time now is 08:35.


Powered by vBulletin
Copyright © 2000 - 2006, Jelsoft Enterprises Ltd.