DetikForum

DetikForum (http://forum.detik.com/index.php)
-   Sejarah (http://forum.detik.com/forumdisplay.php?f=191)
-   -   Ilmuwan2 Islam yang terlupakan atau sengaja disembunyikan (http://forum.detik.com/showthread.php?t=81141)

Manofjustice 14th January 2009 19:10

Ilmuwan2 Islam yang terlupakan atau sengaja disembunyikan
 
IBNU RUSHD (AVERROES)

Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja.

Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.Pemikiran Ibnu Rusyd

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.Karya ·

Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih) ·Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran) · Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at (filsafat dalam Islam dan menolak segala paham yang bertentangan dengan filsafat)


Ibnu Sina

Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Beliau juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Karya Ibnu Sina, fisikawan terbesar Persia abad pertengahan , memainkan peranan penting pada Pembangunan kembali Eropa.

Ibnu Sina adalah seorang Persia, fisikawan, filosofis, dan ilmuwan yang lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai “bapak kedokteran modern.” George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.” pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).

Kehidupannyan dikenal lewat sumber - sumber berkuasa. Suatu autobiografi membahas tiga puluh tahun pertama kehidupannya, dan sisanya didokumentasikan oleh muridnya al-Juzajani, yang juga sekretarisnya dan temannya.

Ibnu Sina lahir pada tahun 370 (H) / 980 (M) di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah Afghanistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di Bukhara.

Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikiran Ibnu Sina independen dengan memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa, yang mengizinkannya menyusul para gurunya pada usia 14 tahun.

Ibn Sina dididik dibawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya segera membuatnya menjadi kekaguman diantara para tetangganya; dia menampilkan suatu pengecualian sikap intellectual dan seorang anak yang luar biasa kepandaiannya / Child prodigy yang telah menghafal Al-Quran pada usia 5 tahun dan juga seorang ahli puisi Persia. Dari seorang pedagan sayur dia mempelajari aritmatika, dan dia memulai untuk belajar yang lain dari seorang sarjana yang memperoleh suatu mata pencaharian dari merawat orang sakit dan mengajar anak muda.

Meskipun bermasalah besar pada masalah - masalah metafisika dan pada beberapa tulisan Aristoteles. Sehingga, untuk satu setengah tahun berikutnya, dia juga mempelajari filosofi, dimana dia menghadapi banyak rintangan. pada beberapa penyelidikan yang membingungkan, dia akan meninggalkan buku - bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid, dan terus sholat sampai hidayah menyelesaikan kesulitan - kesulitannya. Pada larut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya dengan kadangkala segelas susu kambing, dan meskipun dalam mimpinya masalah akan mengikutinya dan memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai kata - katanya tertulis dalam ingatannya; tetapi artinya tak dikenal, sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat oleh Farabi, yang dibelinya di suatu bookstall seharga tiga dirham. Yang sangat mengagumkan adalah kesenangannya pada penemuan, yang dibuat dengan bantuan yang dia harapkan hanya misteri, yang mempercepat untuk berterima kasih kepada Allah SWT, dan memberikan sedekah atas orang miskin.

Dia mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode - metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa “Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat - obat yang sesuai.” Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.

Al-Biruni

merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan.Abu Raihan Al-Biruni dilahirkan di Khawarazm di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur.Abu Raihan Al-Biruni merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina/Ibnu Sina, sejarawan, filsuf, dan pakar etik Ibnu Miskawaih, di universitas dan pusat sains yang didirikan oleh putera Abu Al Abbas Ma'mun Khawarazmshah. Abu Raihan Al-Biruni juga mengembara ke India dengan Mahmud dari Ghazni dan menemani beliau dalam ketenteraannya di sana, mempelajari bahasa, falsafah dan agama mereka dan menulis buku mengenainya. Dia juga mengetahui bahasa Yunani, bahasa Suriah, dan bahasa Berber. Dia menulis bukunya dalam bahasa Persia (bahasa ibunya) dan bahasa Arab.Sebahagian karyanya ialah:· Ketika berusia 17 tahun, dia meneliti garis lintang bagi Kath, Khwarazm, dengan menggunakan altitude maksima matahari. · Ketika berusia 22, dia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian proyeksi peta, "Kartografi", yang termasuk metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi pada bidang datar. ·

Ketika berusia 27, dia telah menulis buku berjudul "Kronologi" yang merujuk kepada hasil kerja lain yang dihasilkan oleh beliau (sekarang tiada lagi) termasuk sebuah buku tentang astrolab, sebuah buku tentang sistem desimal, 4 buku tentang pengkajian bintang, dan 2 buku tentang sejarah. ·

Beliau membuat penelitian radius Bumi kepada 6.339,6 kilometer (hasil ini diulang di Barat pada abad ke 16)

Hasil karya Al-Biruni melebihi 120 buah buku.

Sumbangannya kepada matematika termasuk:

*aritmatika teoritis and praktis
*penjumlahan seri
*analisis kombinatorial
*kaidah angka 3
*bilangan irasional
*teori perbandingan
*definisi aljabar
*metode pemecahan penjumlahan aljabar
*geometri
*teorema Archimedes
*sudut segitiga


Bersambung..............

bakaSHINJI 15th January 2009 11:33

Masa sih terlupakan? Karya2 mereka kan dibaca dan dikembangkan lagi oleh para ilmuwan eropa.

Disembunyikan itu maksudnya gara2 namanya gak dikenal dunia gitu? Kita lihat aja dampak yg ditimbulkan oleh penemuan2 para ilmuwan. Para ilmuwan eropa bisa memicu revolusi industri, yg kemajuannya terus berlanjut sampai saat ini. Sedangkan para ilmuwan islam tsb, kejayaannya hilang mengikuti meredupnya kekhalifahan islam.

seta 15th January 2009 18:03

dari tret sebelah

Quote:

Originally Posted by talam (Post 6121395)
http://i415.photobucket.com/albums/p...m_203large.jpg

Isaac Newton, seperti diyakini banyak orang, adalah fisikawan terhebat sepanjang massa.

Setidaknya, dia dilihat sebagai bapak fisika cahaya modern, atau setidaknya itulah yang dikatakan buku-buku pelajaran di sekolah yang membahas berbagai percobaannya dengan lensa dan prisma yang terkenal, studi tentang cahaya alami dan refleksi, serta refraksi cahaya dan pemisahan cahaya dalam pelangi.

Tetapi kenyataan ternyata adalah hal yang abu-abu. Saya merasa perlu menegaskan, khususnya dalam fisika optik, bahwa Newton sendiri mengikuti jejak ilmuwan hebat lain yang hidup 700 tahun sebelumnya.

Jelas, fisikawan akbar lain, yang patut disetarakan dengan Newton, adalah ilmuwan yang lahir pada tahun 965 Masehi di daerah yang sekarang adalah Irak dan dia dikenal dengan nama al-Hassan Ibnu al-Haitsam.

Kebanyakan orang di Barat mungkin belum pernah mendengar namanya.
Sebagai seorang fisikawan, saya menyadari betapa besar kontribusi pria ini dalam bidang yang saya geluti, tetapi saya beruntung dapat menggali informasi tentang hidupnya dan menuangkannya ke dalam seri televisi BBC tentang ilmuwan Muslim di abad pertengahan.

Dalam buku-buku populer tentang sejarah ilmu alam, biasanya disebut bahwa tidak ada kemajuan penting yang dicapai antara peradaban Yunani kuno dan masa Renaissance di Eropa.

http://i415.photobucket.com/albums/p...sm_bbc_203.jpg

Tetapi hanya karena Eropa Barat terjerumus ke dalam Masa Kegelapan, bukan berarti kemajuan tidak terjadi di belahan dunia lainnya. Kenyataannya, antara abad ke-9 dan abad ke-13 menandai Masa Keemasan dalam ilmu pengetahuan Arab.

Berbagai terobosan di bidang matematika, astronomi, kedokteran, fisika, kimia dan filosofi terjadi. Dibandingkan banyak pemikir jenius yang hidup pada masa itu, prestasi Ibnu al-Haitsam adalah yang paling hebat.

Dia dilihat sebagai bapak metode ilmiah modern.

Seperti yang biasa dijelaskan, ini adalah pendekatan dalam menyelidiki sebuah fenomena ilmu alam, untuk memahami ilmu pengetahuan baru, atau untuk memperbaiki dan menggabungkan ilmu lama, berdasarkan pengumpulan data melalui pemantauan dan pengukuran, yang diikuti oleh tahap formulasi dan pengujian hipotesa guna menjelaskan data yang didapat.

Inilah cara ilmu alam ditangani sekarang dan karena itulah saya mempercayai kemajuan yang dicapai dalam ilmu pengetahuan modern.

Namun metode ilmiah modern ini sering kali dikatakan baru ditemukan pada awal abad ke-17 oleh Francis Bacon dan Rene Descartes.

Tetapi saya yakin, Ibnu al-Haitsam sudah jauh mendului mereka.

Penekanannya pada data eksperimental dan kemampuan untuk memproduksi kembali hasilnya, membuat Ibnu al-Haitsam sering disebut sebagai "ilmuwan sesungguhnya yang pertama di dunia".

Dia adalah ilmuwan pertama yang memberi penuturan yang tepat tentang bagaimana kita melihat sebuah obyek.

http://i415.photobucket.com/albums/p...i_203large.jpg

Dia membuktikan dengan melakukan percobaan, misalnya, bahwa teori emisi (yang menyatakan cahaya dari mata kita menyinari obyek yang kita lihat), yang diyakini oleh para pemikir terkenal seperti Plato, Euclid dan Ptolemy, adalah teori yang keliru.

Ibnu al-Haitsam menetapkan bahwa kita bisa melihat karena cahaya masuk ke mata kita, satu gagasan yang dipercaya sampai saat ini.

Dia juga merupakan ilmuwan pertama yang menggunakan matematika untuk menggambarkan dan membuktikan proses ini.

Jadi dia bisa juga dianggap sebagai fisikawan teori pertama.

Ibnu al-Haitsam mungkin paling dikenal dengan penemuannya, kamera lubang jarum yang dioperasikan tanpa lensa dan seharusnya diakui sebagai penemu hukum refraksi.

Dia juga orang pertama yang melakukan percobaan tentang pembagian cahaya menjadi beberapa warna dan meneliti bayangan, pelangi dan gerhana.

Dengan memantau sinar matahari masuk ke Bumi dari atmosfir, dia dapat memperkirakan tinggi atmosfir yang menurutnya sekitar 100 km.

Sama halnya dengan banyak ilmuwan modern, Ibu al-Haitsam sangat bergantung pada waktu dan membutuhkan kesunyian untuk menulis banyak teorinya, termasuk penelitian penting tentang lensa.

Dia sempat dipenjara di Mesir antara tahun 1011 dan 1021, setelah gagal menyelesaikan tugas yang diberikanj oleh seorang kalifah di Kairo yang memintanya menyelesaikan masalah tentang pengaturan banjir sungai Nil.

Sewaktu masih di Basra, Ibnu al-Haitsam mengklaim bahwa banjir tahunan di sungai Nil bisa diatur dengan jaringan kanal, sehingga air dapat tersimpan sampai masa kemarau.

Namun begitu tiba di Kairo, dia menyadari bahwa rencana itu tidak praktis dari segi teknis.

Sebagai jalan keluar, dia memilih untuk berpura-pura gila agar tidak dikenakan hukuman berat oleh kalifah itu. Dia akhirnya dikenakan tahanan rumah dan selama 10 tahun dikucilkan sehingga bisa melakukan penelitiannya.

Dia baru dibebaskan setelah kalifah Kairo itu meninggal dunia. Dia kemudian kembali ke Irak di mana dia menyusun 100 penelitian lainnya dalam berbagai topik di bidang fisika dan matematika.

Sewaktu bepergian di Timur Tengah dalam pembuatan seri ini, saya mewawancarai seorang pakar di Iskandariyah yang memperlihatkan kepada saya penelitian Ibnu al-Haitsam di bidang astronomi.

Tampaknya dia mengembangkan apa yang disebut sebagai mekanisme benda angkasa, yang menjelaskan orbit planet, yang kemudian mengilhami penelitian astronomi Eropa seperti Copernicus, Galileo, Kepler dan Newton.

Adalah hal yang menakjubkan bahwa kita baru sekarang menyadari betapa besar hutang para fisikawan modern kepada seorang ilmuwan Arab yang hidup 1.000 tahun lalu.

Sumber : BBC Indonesia


Inzagol 15th January 2009 19:16

ini tugas bangsa arab untuk mempublikasikan ilmuwan yang berasal dari bangsanya sehingga terkenal dan diakui oleh seluruh dunia.

yang menjadi pertanyaan adalah kenapa selama ini bangsa arab ini tidak mencoba untuk memberitahukannya kepada dunia? atau sudah tapi caranya publikasinya kurang berhasil?



siMbah 15th January 2009 20:21

menurutku tidak terlupakan, tidak juga sengaja disembunyikan, justru dengan mengatakan itu seolah-olah memperlihatkan perasaan "minor"... dunia mengakuinya kok..

OmniScience 15th January 2009 20:58

Quote:

Originally Posted by siMbah (Post 6151391)
menurutku tidak terlupakan, tidak juga sengaja disembunyikan, justru dengan mengatakan itu seolah-olah memperlihatkan perasaan "minor"... dunia mengakuinya kok..

Yup saya juga setuju, siapa yang sengaja menyembunyikan ? Selama ini barangkali karena kurang advertising kali ya ? Pelajaran sekolah saya memang tidak pernah nyinggung mereka ya ... Atau karena saya sering bolos y ...

Manofjustice 15th January 2009 21:04

Quote:

Originally Posted by OmniScience (Post 6151881)
Yup saya juga setuju, siapa yang sengaja menyembunyikan ? Selama ini barangkali karena kurang advertising kali ya ? Pelajaran sekolah saya memang tidak pernah nyinggung mereka ya ... Atau karena saya sering bolos y ...

ini hanyalah hukum alam/Sunnatullah pergantian peradaban yang memakan waktu ratusan tahun.......ilmiahnya begitu....kecuali kalo memang hanya bisa koar2 saja..

ada peradaban yang runtuh ...ada pula yang bangkit...sebagaimana siklus air..sebagaimana siklus kelahiran dan kematian mahkluk hidup.

OmniScience 15th January 2009 21:39

Quote:

Originally Posted by Manofjustice (Post 6151942)
ini hanyalah hukum alam/Sunnatullah pergantian peradaban yang memakan waktu ratusan tahun.......ilmiahnya begitu....kecuali kalo memang hanya bisa koar2 saja..

ada peradaban yang runtuh ...ada pula yang bangkit...sebagaimana siklus air..sebagaimana siklus kelahiran dan kematian mahkluk hidup.

Bos kurangi penggunaan kata2 "bisa koar2 saja .." kita di sini diskusi bukan mau cari musuh, untuk apa sih penggunaan kata2 itu ? Ini nasihat. Apakah ada kata2 saya yang menyerang anda secara pribadi ? Lagipula kita semua disini memang cuman bisa koar2 kan, namanya juga diskusi di forum, bisa apa lagi ?

Dalam hal peradaban yang runtuh, selama ini saya heran dengan argumentasi anda, menurut anda Khalifah runtuh karena hukum alam, tapi di lain pihak anda pernah berargumentasi bahwa kapitalisme dewasa ini runtuh karena memang jelek ? Kenapa bukan sebaliknya ? koq berbeda penyebab runtuhnya ?

hand15 15th January 2009 22:06

Satu hal mengapa ilmuwan barat lebih terkenal dari ilmuwan-ilmuwan dari peradaban lainnya adalah karena memang kebudayaan Barat merupakan satu-satunya peradaban yang memandang penting peranan Ilmuwan. Selain itu, mereka juga merupakan peradaban pertama yang secara sistematis mendukung perkembangan ilmu pengetahuan.

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kebanyakan hasil karya Ilmuwan-ilmuwan Arab, India, dan Cina semuanya itu baru "diketemukan" kembali setelah ditemukannya catatan-catatan kuno dari masa lalu. Karya mereka terlupakan dikarenakan peradaban mereka yang tidak mendukung keberlanjutan perkembangan ilmu tersebut.

Salah satu penghambat perkembangan ilmu tersebut adalah adanya kebiasaan menjaga eksklusivitas ilmu, yakni bahwa ilmu tersebut tidak dibagi-bagikan ke ilmuwan lainnya secara bebas, melainkan hanya dibagi-bagikan ke kelompok sendiri. Hal ini justru pada akhirnya akan mematikan perkembangan ilmu tersebut. Hal ini tampak dengan jelas pada peradaban Cina dan India.

Selain itu, khusus pada peradaban Islam, terdapat beberapa faktor lain penghambat ilmu pengetahuan tersebut:
1. Invasi bangsa Mongol
2. Konflik berkepanjangan (Sunni-Shiah)
3. Berkembangnya konservatisme agama

Inzagol 15th January 2009 22:10

Quote:

Originally Posted by hand15 (Post 6152781)
Satu hal mengapa ilmuwan barat lebih terkenal dari ilmuwan-ilmuwan dari peradaban lainnya adalah karena memang kebudayaan Barat merupakan satu-satunya peradaban yang memandang penting peranan Ilmuwan. Selain itu, mereka juga merupakan peradaban pertama yang secara sistematis mendukung perkembangan ilmu pengetahuan.

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kebanyakan hasil karya Ilmuwan-ilmuwan Arab, India, dan Cina semuanya itu baru "diketemukan" kembali setelah ditemukannya catatan-catatan kuno dari masa lalu. Karya mereka terlupakan dikarenakan peradaban mereka yang tidak mendukung keberlanjutan perkembangan ilmu tersebut.

Salah satu penghambat perkembangan ilmu tersebut adalah adanya kebiasaan menjaga eksklusivitas ilmu, yakni bahwa ilmu tersebut tidak dibagi-bagikan ke ilmuwan lainnya secara bebas, melainkan hanya dibagi-bagikan ke kelompok sendiri. Hal ini justru pada akhirnya akan mematikan perkembangan ilmu tersebut.

teori seperti ini saya baru denger sich, apa benar seperti itu?

berarti ini menjadi suatu pekerjaan rumah buat bangsa arab / islam untuk lebih mempublikasikan ilmuwan2-nya dimata dunia


All times are GMT +8. The time now is 19:33.


Powered by vBulletin
Copyright © 2000 - 2006, Jelsoft Enterprises Ltd.