DetikForum

DetikForum (http://forum.detik.com/index.php)
-   Medan (http://forum.detik.com/forumdisplay.php?f=122)
-   -   Hati-hati Dengan Dokter Medan Terutama Rs.gleni Internasional !!! (http://forum.detik.com/showthread.php?t=104205)

azka 1st June 2009 20:33

Hati-hati Dengan Dokter Medan Terutama Rs.gleni Internasional !!!
 
Dapat dari milis motherandbabyclub

HATI-HATI DENGAN DOKTER MEDAN TERUTAMA RS.GLENI INTERNASIONAL !!!
>
>
>
> Hati2 dengan dokter dimedan & pelayanan dirs.gleni internasional
>
> Kejadian ini menimpa anak perempuan saya yg berumur 2 tahun 3 bulan.
>
> Tanggal 12-04-2009 anak saya muntah2 dan lemas, kami bawa ke RS. Gleni.
> Kami minta dr.johannus wibisono.spa untuk periksa. Katanya anak saya
> kurang cairan & mungkin ada infeksi pencernaan, jadi harus diinfus.
> Disamping itu kami selaku orang tua diminta untuk segera selesaikan
> administrasinya dulu baru bisa berobat. Benar-benar bingung dan kesal…
> Tapi apa boleh buat segera kami selesaikan administrasi-nya agar anak
> kami segera dapat dirawat.
>
> Sebelum diinfus anak saya masih bisa sadar dan juga masih bisa meminta
> tolong ama kami. “Papa, tolong…” karena kebetulan saat itu yang berada
> paling dekat adalah papanya. Dan saat itu juga dia bilang gak mau
> dokter (mungkin juga dia mempunyai firasat). Setelah anak saya diinfus
> gak berselang berapa menit, anak saya kejang & terus berangsur tak
> sadarkan diri. Kami pun bertanya kepada perawat disana kok dia kejang
> dan nampaknya tertidur? Kata perawat biar dia istirahat saja dan kejang
> itu gejala biasa… (kebetulan dokter telah meninggalkan ruangan dengan
> meminta perawat untuk mengambil sample darah). Tapi tak lama dia kejang
> lagi sampai matanya belalakan dan mulut-nya mulai menggigit, buru-buru
> tangan saya dimasukkan agar tidak tergigit lidah-nya, kesusahan
> bernafas. Tetapi suster2 diruangan diam saja, sampai mertua saya
> berteriak baru dilakukan tindakan memompa secara manual. Karena tidak
> bisa maka akan dipasang alat, tetapi suster disana tidak bisa membuka
> alatnya, sampai suami saya yang membantu membuka.
>
> Bagaimana kinerja kerja & profesionalisme petugas medis dirs.gleni yang
> terkenal & termahal dikota medan ??? Mengapa anak saya menjadi koma
> setelah diinfus??? Karena anak saya koma, maka dimasukkan ke ruang ICU.
>
>
>
> Sebelum dibawa ke ruang ICU, anak saya dianjurkan untuk diambil sample
> darah dan dict scan kepala-nya, tapi untuk ct scan pun kita menunggu
> lama sekali (waktu ditanya ke perawat katanya masih ada pasien yang
> lagi ct-scan, padahal sebenarnya menunggu petugas-nya yang gak
> ditempat), padahal anak saya keadaan sudah kritis.
>
> Karena anak saya masuk keruang icu, dr.johannus meminta dr.chairul yoel
> untuk mengecek anak saya. Tgl 13/04/2009 dilakukan rontgen paru2 anak
> saya. Oleh dr.chairul yoel dikatakan hasilnya bagus, tetapi ada
> kesalahan pemasangan selang katanya akan dilakukan perbaikan. Ternyata
> selama 8 hari anak saya dirawat dirs.gleni sama sekali tidak dilakukan
> perbaikan pemasangan selang, yang menyebabkan 1 paru2 anak saya tidak
> berfungsi, dimana paru2 tersebut penuh dengan sekret, susu basi yang
> tidak dibersihkan.(yang akhirnya dilakukan perbaikan oleh dokter
> disingapura) Dimana tanggung jawab seorang dokter spesialis anak yang
> terkenal dikota medan???
>
>
>
> Kami pun meminta dokter syaraf untuk mengecek anak saya dan karena
> dimedan yang terkenal adalah dr.tonam sps maka kami pun meminta ia
> datang. Tapi apa kata dr.johannus, dengan gaya arogan ia marah dengan
> kami ia tidak mau campur tangan lagi dengan urusan ini & meminta kami
> melihat prosedur. Seharusnya seorang dokter memilih menyelamatkan nyawa
> bukan melalui prosedur yang bertele2 dan mengikuti gengsinya.
> Seharusnya seorang dokter bisa bekerja sama dengan dokter yang lebih
> berkepentingan untuk menyelamatkan nyawa pasien.
>
>
>
> Dari hasil ct scan diketahui anak saya mempunyai tumor disebelah otak
> kanan yg cukup besar. Kami pun berkonsultasi dengan dr.tonam sps &
> dr.govar spbs. Dan kata semua dokter2 tersebut anak saya tidak bisa
> ditolong lagi.
>
>
>
> Tgl 14/4 2009 kami berencana untuk membawa anak saya kesingapura dan
> semua telah disiapkan termasuk pesawat yang khusus untuk membawa
> pasien koma. Dari pihak dokter singapura sudah ok. Tgl 15/4 2009
> paginya singapura dibilang tidak jadi karena anak saya belum stabil.
> Dan yang memberi resume ke dokter singapura adalah dr.tonam sps. Apa
> yang ditulis dalam resume itu???? Karena dari keterangan suster (kami
> bertanya kesuster) anak saya keadaan stabil, layak terbang dan yang
> kami carter adalah pesawat khusus. Detak jantung anak saya pada tgl
> 14/4 102 dan pada tgl 15/4 82, memang menurun diangka 82 tapi ternyata
> angka 82 itu adalah normal (itu baru kami ketahui pada tgl 19/4,dari
> seorang teman yg pernah mengalami koma & dibawa kesingapura). Jadi,
> mengapa anak kami ditahan?????? Apakah karena gengsi tidak bisa
> menyembuhkan anak saya atau karena uang? Karena ternyata dari kabar
> yang saya dengar kalo seorang pasien diopname dirs.gleni dan apabila
> akan dibawa keluar pasti dibilang tidak stabil, ditahan dengan
> bermacam-macam alasan. Apakah seorang pasien itu dianggap pohon
> uang,jadi ditahan. Dimana kode etik seorang dokter yang telah diminta
> sumpahnya????
>
>
>
> Tgl 15/4 anak saya dilakukan MRI untuk melihat secara jelas tumor
> otaknya,dan pelaksanaan MRI memakan waktu hampir 2 jam lebih????
>
>
>
> Tgl 18/4 kami meminta dr.iskandar japardy spbs untuk melihat anak kami
> (rekomendasi dari dokter singapura), katanya dilihat dari perkembangan
> anak saya tumor otaknya jinak dan dapat dilakukan operasi dimedan,gak
> perlu sampe keluar negeri,operasi cuma makan waktu 2 jam katanya. Dan
> yang melakukan operasi dr.govar dan kalau diminta ia pun mau membantu.
> Jadi kami diminta diskusi apakah mau dilakukan operasi. Tetapi apa yang
> dikatakan dr.iskandar japardy spbs kepada dokter singapura? Katanya
> anak saya kena kanker,gak bisa ditolong lagi. jadi,apa maksud
> perkataannya kepada kami ia bisa operasi,tapi yang dikatakannya ke
> dokter singapura dibilang tidak bisa lagi?????
>
> Sorenya anak kami dilakukan tes EEG, padahal menurut teman kami yg
> sebelumnya pernah koma, seharusnya dari awal tes tersebut telah
> dilakukan. Jadi bisa tau langsung apakah otak anak saya masih berfungsi
> atau tidak. Dan pada saat anak kami dilakukan tes EEG petugasnya
> mungkin tidak bisa, hal ini diketahui dari teman saya yg masuk keruang
> icu untuk melihat ibunya yang kebetulan disebelah kamar anak saya.
> Katanya petugas angkat hp dan keluar bicara, padahal saat peralatan
> belum dijalankan kami yang sebelumnya diruang icu memakai hp diusir
> katanya radiasi, tapi kenapa petugas memakai hp dan menurut si teman
> saat melakukan tes EEG disingapura petugas sama sekali tidak boleh
> keluar. Dan kami menunggu pelaksanaan tes ini selama lebih kurang 1
> jam, sedang disingapura cuma ½ jam saja.
>
>
>
> Tgl 19/4 karena kami sudah tidak tahan lagi, maka kami memaksa untuk
> membawa anak kami kesingapura. Kami mencari dokter lain dari singapura,
> dan katanya pesawat yang membawa anak saya menjamin tidak akan terjadi
> masalah karena pesawat sudah seperti ruang icu.(kata dokter medan tidak
> bisa dibawa terbang???)
>
>

liucongyu 2nd June 2009 00:26

kayaknya dokter sekarang memang beda dengan jaman dulu, gua juga ada pengalaman buruk dengan dokter yang berkaitan dengan almarhum mama saya

azka 2nd June 2009 11:17

Sambungan

Dan ternyata benar, anak saya sampai dengan selamat disingapura
> (padahal saat terbang detak jantung anak saya 76), dan begitu sampai
> dirs.mount Elizabeth , anak saya lagsung ditangani (tidak bicara
> prosedur,langsung melakukan penyelamatan dulu). Dari sana kami baru
> tahu begitu parahnya pelayanan dirs.gleni yang katanya terbaik dikota
> medan . Paru2 anak saya 1 dibuat rusak oleh dokter medan , tapi dokter
> singapura bisa menanganinya. Dan memang benar tgl 20/4 pagi2 sekali
> dokter anak singapura sudah memberitahu kepada kami bahwa paru2 anak
> saya sudah baik,tinggal masalah tumor diotaknya. Kemudian suster yang
> membersihkan anak saya sangat terkejut melihat hidung anak saya kotor,
> tidak pernah dibersihkan, penuh dengan susu basi (waktu dirs.gleni anak
> saya minum susu melalui selang dihidung). Paru2 anak saya penuh dengan
> sekret yang jarang disedot oleh suster dimedan (dan memang benar selama
> dipesawat anak saya sering disedot sekretnya oleh dokter singapura yang
> memang datang dengan pesawat khusus).
>
>
>
> Tgl 21/4 dilakukan ct scan ulang disingapura yang hanya memakan waktu
> lebih kurang 15 menit. Dan diketahui anak saya terlambat ditolong
> (bukan tidak bisa ditolong lagi). Seandainya pada tanggal 15/4 kami
> bisa sampai disingapura mungkin anak saya masih bisa tertolong. Tanggal
> 24/4 anak saya berpulang kepada Tuhan.
>
> Berarti, anak saya selama dirs.gleni kondisi stabil, karena anak saya
> mampu bertahan selama 5 hari disingapura. Mengapa dikatakan tidak
> stabil, tidak bisa diterbangkan???
>
>
>
> Pelayanan suster dimedan sangat parah. Pernah 1 kali kami memaksa masuk
> keruang icu untuk melihat anak saya, ternyata anak saya mukanya sudah
> pucat kurang oksigen, karena selang oksigen lepas.. Dan suster2 disana
> tidak tahu, rupanya mereka ada pergantian shift dan pergantian shift
> dilakukan sambil bercanda, sampai2 anak saya selang oksigen lepas pun
> tidak tahu.
>
> Kalau seandainya dokter dimedan tidak bisa menangani anak saya,
> seharusnya dari awal diberitahu (ada pasien yang menjalani bedah otak
> dipenang yang memberitahu bahwa dimedan tidak ada dokter yang bisa
> menangani bedah otak jadi kalau bisa dibawa keluar aja).
>
>
>
> Kami tidak pernah menyesali yang telah terjadi, tapi ini merupakan
> suatu pengalaman & pembelajaran bahwa dokter di Indonesia (waktu
> disingapura ada pasien dari Jakarta & Kendari berbagi cerita, katanya
> dokter mereka sudah angkat tangan tapi tetap tidak memberi izin keluar,
> akhirnya mereka memaksa untuk terbang) khususnya dimedan mungkin tidak
> melihat nyawa seseorang, yang dilihat hanya gengsi dan uang saja.
> Bayangkan saja dokter2 yang kami pakai adalah dokter yang terkenal
> dimedan, tapi tidak memegang kode etik seorang dokter yang tugas
> utamanya menyelamatkan pasien, tapi malah menahan2 seorang pasien yang
> akan berobat keluar negeri.

Sugianto 4th June 2009 23:45

dr. Johannus Wibisono, spa.
 
Sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa Ibu.

Saya ingin juga menginfokan pengalaman kami dengan dr. Johannus.
Pada tahun 2006, bayi laki2 kami waktu itu menangis terus dan di popoknya ada terlihat warna kemerahan.
Sesudah didiagnosa, disarankan oleh dokter utk sunat karena psimosis (ujung kulit kulup sempit, sehingga kemungkinan air seni tersisa dan mengakibatkan infeksi). Sesudah disunat, beberapa hari kemudian, terlihat lagi darah di popoknya. Sesuai dengan hasil diagnosa (reflux kidney) dokter Johannus, kami pergi ke penang utk test lab, karena di medan belum bisa melakukan test reflux kidney (ketika kencing, air dari kantung kencing kembali masuk ke ginjal).
Hasilnya positif, dan akhirnya anak kami harus mengkonsumsi antibiotik dosis rendah setiap hari utk mencegah infeksi pada ginjal. 7 bulan kemudian, kami kembali ke penang, dari tes lab, reflux telah sembuh total. Kami bersyukur pada Tuhan utk kesembuhan ini.
Saya tidak tahu apa yang bakal terjadi kalau waktu itu dr. Johannus tidak mendiagnosa kidney reflux. Mungkin anak saya harus mengalami kerusakan ginjal! Kami sekeluarga sangat berterima kasih atas kejelian diagnosa dokter Johannus.

Juga, saya pernah membawa teman saya dari Padang, yang anaknya (2.5 thn) mengalami masalah dengan *****. Sesudah diperiksa, ternyata ada lubang kecil di pangkal ***** dan lubang di ujung malah tertutup, sehingga air seni keluar dari lubang tsb bukan dari ujung *****. Anak tersebut sudah diperiksa oleh berbagai dokter di kota Padang, dan bahkan ibunya pun tidak tahu. Saya sangat salut dengan ketelitian dokter Johannus.

Kejadian terakhir adalah minggu kemarin, anak sulung saya suspect kawasaki disease. Sesudah diagnosa, kami berdiskusi. Dokter menyarankan kami utk melakukan tes darah. Sesudah hasil tes darah diperiksa, dokter menyarankan eco pada jantung anak pada Ahli Jantung Anak, dr. Moh. Ali. Kondisi jantung normal. Meski demikan kami diberikan resep aspirin. Pada hari infeksi ke 7, dokter Johannus Wibisono, dengan rendah hati mengakui bahwa beliau tidak bisa memastikan penyakit anak saya dan beliau juga mengatakan hatinya tidak tenang karena belum bisa memastikan sakit anak saya, meski simptonnya mengarah ke kawasaki disease dan menyarankan kami ke Kuala Lumpur atau Penang utk mendapatkan second opinion dan treatment yang diperlukan dari dokter lain. Kami pun berangkat ke Penang, dan dari hasil eco di sana, dinyatakan tidak ada kerusakan pada jantungnya. Sekarang, anak sulung kami telah sehat seperti sedia kalanya. Saya percaya penanganan dokter telah dipakai Tuhan utk menyelamatkan anak sulung kami.

Menurut pengalaman kami, dr. Johannus Wibisono adalah seorang dokter yang baik. Beliau bekerja dengan sistematis dan berdasarkan fakta logis. Beliau juga selalu menyempatkan diri utk membaca, dari berbagai literatur, sehingga selalu update. Memang komunikasi sepertinya bukan keahlian utamanya, tapi integritas dan ketelitiannya, tidak perlu disangsikan.

Mengenai kasus ibu, saya ikut prihatin. Tapi, diagnosa dokter kan berdasarkan hasil lab dari rumah sakit? Itu harus dijadikan referensi pertama utk membaca keadaan anak Ibu. Kalau seperti yang Ibu tulis, maka Rs. Glenilah menurut saya, yang memegang tampuk tanggung jawab atas kejadian yang menimpa anak Ibu.
Tapi, ketika anak muntah2 dan lemas, di rumah sakit mana pun, pasti akan diberikan infus dahulu. Mengenai anak jatuh koma, harus diselidiki dulu penyebabnya. Harap dilihat secara objektif.
Dan juga, saya tidak melihat adanya kebohongan yang dilakukan dr. Johannus. Tapi, saya rasa Ibu perlu mendatangi dr. Iskandar dan dr. tonam sps. Mereka yang menurut cerita Ibu yang melakukan kebohongan sehingga menyebabkan hilangnya kesempatan mempertahankan nyawa anak Ibu. Juga mengenai prosedur, saya rasa itu karena keterikatan kerja profesional dr. Johannus dengan pihak rumah sakit, sehingga dokter memastikan prosedur telah ditempuh. Dan juga, bila benar tenaga ahli di MRI/CT SCAN juga perawat di gleni seperti yang Ibu katakan, gawat sekali?
Sebagai informasi, sering sekali ketika kami berobat, dr. Johannus tidak mau mengutip biaya berobat sama sekali. Jadi agak sulit saya terima, kalau Ibu mengatakan seakan-akan dokter Johannus bersekongkol utk mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari Ibu. Menurut saya, hal demikian tidak pernah terlintas dalam benak beliau.

Mudah-mudahan, cerita saya tidak menyakiti hati Ibu yang telah kehilangan anak Ibu. Tidak ada yang dapat menggantikan duka hati Ibu. Tapi, saya percaya, dokter Johannus juga bersedih hati. Saya juga menyatakan duka cita yang sedalam-dalamnya.

Dan juga, mudah-mudahan cerita saya, tidak disalah tafsirkan. Sama seperti cerita pertama, saya juga hanya menceritakan pengalaman saya dan keluarga dengan dr. Johannus Wibisono, spa.

jstsu 5th June 2009 10:35

hati2 curhat atau forward sekalipun di dunia maya!!

ntar masuk penjara :smoking:

the-ranjero 5th June 2009 16:01

klo ini blum bisa dituntut...soalnya scorenya masih 1:1 alias 1 sama......blum ada pemenangnya.... :D

Pucca_Lee 7th June 2009 08:45

Saya turut bersedih atas kejadian yang menimpa ibu...yang sabar ya bu mungkin ini udh kehendak dan cobaan dari Tuhan.Tapi saya yakin Tuhan tidak akan menguji umatnya di luar dari kemampuan umatnya.Semoga stelah kejadian ini ibu sekeluarga akan mendapat berkah yang berlimpah ruah.Amin....

is5 7th June 2009 21:16

Quote:

Originally Posted by the-ranjero (Post 8088912)
klo ini blum bisa dituntut...soalnya scorenya masih 1:1 alias 1 sama......blum ada pemenangnya.... :D

yup, mmg skornya ms 1-1. tp kl d musim kampanye skrg cocoknya mmg hal beginian di-blow up aja.. pasti smua rmh skt kt g berani mcm2..
g tau yah tar kl uda lwt pemilu gmn..

turut prihatin jg ama ibu yg anaknya tdk tertolong stlh sampe d singapura..
makanya gmn pemerintah mau menyarankan warganya tidak berobat k luar negeri kl begini ceritanya..

vivian_tanujaya 13th June 2009 09:44

Ibu, kami ikut berduka cita atas berpulangnya putri ibu. Kami memahami perasaan kehilangan orang yang kita sayangi.

sekedar ingin berbagi.. sebelumnya, kakak saya juga kehilangan anaknya di rs gleni. Prosesnya sangat cepat dan tidak kami sadari.

Dua hari sebelumnya kandungan kakak saya dinyatakan baik – baik saja. Ternyata dua hari kemudian kakak saya mengalami pendarahan dan anak dalam kandungannya yang sudah delapan bulan akhirnya keguguran dan lahir tidak lebih dari 20 menit kemudian sang bayi meninggal dunia.

Awal kami sekeluarga sangat sakit hati dan menuduh dokter nya tidak siaga dan kurang ahli dalam penanganannya. kami sempat berfikir untuk menggugat dokter nya. namun ada saudara dan kawan menyarankan kami untuk ketemu dulu dengan dokter dan rs.

pihak rs dan dokter ternyata sangat terbuka menerima keluhan kami. setelah kami pelajari ternyata kami harus menerima kenyataan bahwa dari awal kandungan kakak saya yang tidak pernah menceritakan dan mengungkapkan keluhan atau kendala di saat mengandung. Kakak kami ternyata mengalami pre-eklampsia.

Sungguh kami sekeluarga sangat menyesali sikap dan kelakuan kami. rs gleni telah berusaha semaksimal mereka untuk menolong kakak dan demikian juga sang bayi.

kami tau pada saat kakak kami kehilangan banyak darah dan PMI tidak ada stok karyawan rs gleni pun mendonorkan darah mereka. syukurlah, kakak kami tertolong. Demikian juga bayinya saat baru lahir, dokter anak telah berusaha seoptimal nya sama2 perawat menolong calon ponakan kami. Namun, telah apadaya akhirnya bayi akhirnya meninggal juga.

Kami sekeluarga sekarang berhubungan baik dengan dokter-dokter tersebut. Karena pada akhirnya kami menyadari karena kurangnya pengetahuan kami sebagai orang umum, informasi dari dokter tidak semuanya dapat kami mengerti dan kurangnya komunikasi akhirnya banyak langkah – langkah pencegahan tidak kami lakukan.

bagaimanapun kita juga harus banyak belajar dan cari tahu masalah kesehatan. kalau merasa tidak dilayani dengan baik sebaiknya rekan-rekan sampaikan komplain, karena saya yakin tidak ada dokter atau rumah sakit yg berniat mencelakai pasiennya. Sebaiknya kita lebih komunikatif dan waspada dalam penjagaan kesehatan diri kita dan keluarga kita. Dokter dan Rumah Sakit hanya dapat membantu untuk mencegah dan menyembuhkan, tapi tidak dapat mengembalikan waktu yang telah berlalu.

salam..

BeDe 15th June 2009 18:24

DOKTER JUGA MANUSIA......(SEURIUS MODE ON):singer::singer::singer:


All times are GMT +8. The time now is 03:46.


Powered by vBulletin
Copyright © 2000 - 2006, Jelsoft Enterprises Ltd.