View Single Post
Old 5th November 2010, 11:40
#536  
grachie
Mania Member
grachie is offline

grachie's Avatar

Join Date: Mar 2010
Location: between momom achiet and popop greg_graffin :D
Posts: 3,008
grachie is a legendgrachie is a legendgrachie is a legendgrachie is a legendgrachie is a legendgrachie is a legendgrachie is a legendgrachie is a legendgrachie is a legendgrachie is a legendgrachie is a legend

Default

ikOOT nulis dunk


dear eyang beye cayang....


eyang.. kok kantong mata eyang makin turun sih semenjak jadi presiden.. eyang napa gak make eye cream? kek ci laudya cintya bella


maap eyang ngalor ngidul dulu cebelumnya.. mayan bikin>>>> kan

oke eyang grachie mu celius (moga2 bisa )

grachie mu quote dulu sesuatu ah


Quote:
kisah kades yang rela tidur di pengungsian


Sleman - Mencari keteladanan sang pemimpin, mungkin tidak akan kita jumpai di kota besar yang pemimpinnya dilengkapi dengan segala rupa fasilitas yang melenakan. Atau mungkin di gedung terhormat yang dihuni para wakil rakyat yang tidak mau naik tahta. Karena naik tahta sama saja menjadi rakyat.

Keteladanan pemimpin malah sering tersiar dari desa di pelosok, di mana konsep manunggaling kawulo gusti (konsep bersatunya pemimpin dan rakyat) berasal dan diterapkan.

Adalah Heri Suprapto, seorang kepala desa di desa rawan bencana Merapi. Demi mengamankan warganya yang mengungsi di barak pengungsian desa Kepuharjo, Heri rela ikut tidur di barak bersama ribuan warganya, padahal rumahnya termasuk daerah yang aman.

"Sejak status Merapi 'awas' dan warga yang di dusun teratas harus ngungsi ke barak, saya terus tidur di situ. nek nggak githu sopo sing mantau warga," ujar Heri dalam perbincangan demngan detikcom di dinginnya udara malam di balaidesa Umbulmartani, kecamatan Ngemplak, Sleman, Yogyakarta tempat ribuan warganya mengungsi, Kamis (4/11/2010).

Sebagai kepala desa, beban yang diamanatkan bapak 4 putra ini terasa berat. Tidak sekedar urusan keselamatan warga saat , urusan administrasi warga pun ia utamakan. Demi mempermudah urusan administrasi, stempel lurah yang diamanatkan kepadanya selalu ia bawa kemana.

"Ngarit, nyari pasir kemana-mana stempel saya bawa. Jadi kalau ada warga yangnyari saya buat minta stempel tidak usah bolak-balik, langsung saya thok (cap) di tempat," ujar suami Tri Sayuti ini.

Desa Kepuharjo yang ia pimpin selama tiga tahun merupakan salah satu desa terdekat dengan puncak Merapi. Desa yang memiliki 8 dusun ini masuk masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) 3, atau daerah
ring satu paling berbahaya dari Merapi.

Dusun yang paling dekat dengan Merapi adalah dusun Kaliadem (4 KM dari puncak Merapi) yang juga tinggal Mbah Ponimin sang pawang hujan yang sempat ngetop di media karena cerita berbau kleniknya saat menyelamatkan diri dari awan pamnas atau wedus gembel. Sedangkan dusun terjauh dengan merapi adalah dusun Manggong (sekitar 13 KM dari puncak Merapi), tempat Heri dan keluarganya tinggal selama ini.

Kini warga Kepuharjo telah mengungsi semua ke tempat yang lebih aman. Namun hal tersebut tidak lantas membuat Heri senang sesaat. Warganya yang panik karena datangnya awan panas, Rabu (3/11) malam ternyata mengungsi ke berbagai desa dan tercerai berai. Heri dan perangkatnya harus sibuk mendatangi desa-desa lain di lereng Merapi yang diduga ada warganya yang ikut mengungsi.

"Mereka panik dan asal pergi kemana-mana yang dikira aman. Akibatnya ada yang disini ada yang di Galagaharjo, ada yang Wukirsari, Purwobinangun dan Hargobinagun. Tapi kondisi seperti itu memang wajar, kalau warga panik karena munculnya wedus gembel tiba-tiba," terangnya.

Heri dan beberapa perangkat desanya yang lain terpaksa harus mendata satu-persatu warganya di tempat pengungsian lain sekadar memastikan yang bersangkuitan layak hidup dalam pengungsian bersama warga desa lain.

"Kan kasihan to mas kalau mereka terlantar di pengungsian yang bukan diatur oleh pamongnya sendiri," ujar pria 48 tahun ini.

Warga desa Kepuharjo yang berjumlah 945 KK (Kepala Keluarga) atau 2996 jiwa saat ini sudah mengunsi semua meskipun tercerai berai di beberapa pengungsian. Sebagai Kades yang memimpin rakyat sekian, dirinya mengaku memiliki kelemahan karena tidak ada sarana dan prasarana yang menunjang. Karena meskipun termasuk desa teratas, ternyata desa Kepuharjo tidak memiliki HT (Handy Talky), padahal alat kominikasi tersebut sangat penting untuk memantau aktifitas Merapi yang tiap saat mengancam desanya.

"Idealnya desa punya 19 HT, itu untuk saya, perangkat seperti kaur dan 8 kepala dusun. Tapi sampai sekarang kita ndak punya, kalau toh ada malah warga yang punya. Dan kita ndak bisa apa-apa, itu kan punya warga pribadi," keluhnya.

Heri pun berharap, ada bantuan HT untuk bisa mengamankan desa dari amukan Merapi yang bisa sewayah-wayah menerjang pemukiman warga Kepuharjo, yang juga tempat kelahirannya. "Itu penting mas buat desa, biar aman semua," terangnya.

Namun di malam ke sebelas ini, sejak Merapi dinyatakan awas ini, Heri tidak bisa menemani kawulo (warga) nya tidur di pengungsian Desa Umbulmartani. Bukan lantaran bosan tinggal di pengungsian, atau mementingkan keluarganya yang juga ngungsi di rumah saudaranya di desa Glagaharjo, tetapi karena sesuatu hal yang
menurutnya sangat penting.

"Pagi ini saya mencret-mencret mas,nek saya tidur di sini terus sering kebelakang malah ganggu warga. Mending saya nginep di rumah temen saya yang dekat dari sini. Besok kalau sudah sembuh saya paling tidur di barak lagi," ujarnya tanpa risih.

Saat detikcom berusaha meminta gambar Kades yang sederhana ini, iapun menolak hal tersebut. "Rasah mas, ndak malah ngetop, ntar malah lali ngurusi warga,"ujar sambil menuju ke barak.
bandingkan sama yg ini
V

V

Quote:

ditengah bencana anggota DPR masih pergi k Makkah
Jakarta - Ketua Komisi VIII DPR Abdul Kadir Karding membenarkan rencana 64 anggota DPR berkunjung ke Makkah. Sebanyak 25 Anggota Komisi VIII DPR akan mengawasi penyelenggaraan ibadah haji, sedangkan sisanya murni melaksanakan ibadah haji. Komisi VIII adalah yang menangani bencana.

"Jumlahnya 64 itu bukan semuanya memakai uang negara. Tim pengawas haji hanya 12 orang rombongan pertama dan 23 orang rombongan kedua, sisanya menggunakan yang sendiri," ujar Karding kepada detikcom, Jumat (5/11/2010).

Karding menuturkan, jumlah anggota DPR yang berangkat dalam pengawasan haji terhitung sedikit. Apalagi jika dibandingkan dengan pejabat Kemenag yang ikut dalam rombongan haji tahunan.

"Dari tahun ke-tahun jumlahnya segitu. Itu masih jauh lebih kecil dari Kemenag," terang Karding.

Kalaupun ada anggota keluarga yang diajak, Karding menuturkan, juga tidak dibiayai negara. Menurut Karding, anggota keluarga yang namanya masuk list hanya ikut mengurus visa bersama-sama saja.

"Itu kita cuma ngurus visa saja," ujar Karding.

Untuk menghindari kesalahpahaman, Karding akan mengajak rombongan tim pengawas haji untuk menginap berjauhan dari anggota DPR yang berangkat untuk kepentingan pribadi. Karding tidak mau kerja tim pengawas haji terus diperotes rakyat.

"Nanti sampai sana harus misah," tandasnya.

Merapi terus memuntahkan abu dan awan panas. Tercatat sekitar 100 ribu pengungsi yang tersebar di beberapa titik. Mereka saat ini membutuhkan pertolongan dan bantuan.



mending kata grachie tuh wakil rakyat kita naikan aja jabatannya

dari wakil rakyat jd rakyat aja pada mau gak yah

heran grachie deh eyang.. kek ketua RT/RW ampe kades malah lebih patut diteladanin ama grachie yang piyik imut ini drpd wakil rakyat yg katanya dipilih oleh rakyat Indonesia.. blm lagi Gubernur Sumbar yg malah k Jerman padahal macih ada 50 org hilang di mentawai dan status tanggap bencana masih belum dicabut


grachie gak mau nambahin kerutan di muka eyang beye.. gak mau nambahin turun kantong mata eyang tapi eyang harus buka mata.. betapa jauh bedanya mental pejabat tinggi sama pejabat kecil (kades)...


dah dulu yah surat dari grachie buat eyang beye cayang ntar cambung lagi...



hugehug with lotsa lipglossed kissed



grachie




[sigpic][/sigpic]