Frozen (2010)
" No One Know's You're Up There "
Story: Apa yang kamu lakukan jika terjebak di ketinggian tanpa ada seorangpun yang mengetahui keberadaanmu? kondisi mengerikan seperti itulah yang dialami Parker (Emma Bell), Dan (Kevin Zegers), dan Lynch (Shawn Ashmore). Mimpi buruk itu bermula ketika mereka memutuskan untuk menghabiskan liburan musim dingin dengan bermain ski di sebuah resot yang terletak di pegunungan Holliston.
Awalnya semua berjalan baik-baik saja, tidak ada masalah yang terlalu berarti selain masalah kecil dimana
chairlift yang membawa mereka untuk ke puncak mati sejenak karena kesalahan teknis. Tak terasa setelah seharian bersenang-senang malam pun tiba. Sementara para pengunjung lain sudah pulang, Parker, Dan, dan Lynch yang masih belum puas meminta kepada operator
chairlift untuk diberikan kesempatan satu kali agar dapat kembali ke puncak dan melakukan seluncur untuk yang terkahir kali. Rupanya apa yang terjadi kemudian adalah sebuah kesalahpahaman yang kemudian berujung malapetaka bagi mereka bertiga.
Ketiganya tanpa sengaja terjebak dalam
chairlift yang mereka tumpangi di ketinggian yang cukup membuat seseorang mederita patah kaki parah jika berani melompat. Panik semakin menguasai mereka ketika lampu-lampu pun mulai padam, tanda resort tersebut sudah tutup selama seminggu tanpa meninggalkan seorangpun selain mereka dan dinginnya udara pegunungan Holliston yang menusuk tulang.
Review: Jika ada
thriller yang menawarkan ketegangan tanpa harus terlalu mengobral banyak kisah misteri dan rentetan adegan sadis penuh darah didalamnya bisa dibilang
Frozen adalah jawabannya. Ya,
Frozen memang berbeda dari kebanyakan
thriller yang mesti bersusah payah membangun kisahnya dengan cara konvensional seperti yang saya sebutkan diatas. Film besutan Adam Green yang sebelumnya sukses menelurkan
Hachet ini memang hanya sebuah drama
thriller indie ber
budget murah namun jelas bukan murahan. Dengan setting minimalis serta premis sederhana, hasilnya, sebuah
thriller efektif yang mampu memaksa penontonnya untuk ikut merasakan ketegangan, kengerian, kesendirian dan keputusasaan yang dialami karakternya yang mengigil
ngilu merasakan dinginnya terpaan udara salju pegunungan Holliston yang menusuk sampai ke tulang-tulang.
Green sukses menyajikan momen-momen menegangkan tersebut dengan tidak berlebih-lebihan, semuanya disajikan secara realistis termasuk didalamnya menggunakan efek-efek sederhana non CGI yang dikombinasikan dengan pendalaman setiap karakternya melalaui dialog-dialog panjang yang memang harus diakui sekaligus menjadi bagian terlemah film yang di distribusikan oleh
Anchor Bay Entertainment. Dialog-dialog panjang yang dikombinasikan dengan
plot lambat memang terasa membosankan bagi sebagian penontonnya, apalagi mengetahui faktanya bahwa ini adalah sebuah
thriller yang tidak semestinya terlalu banyak mengumbar dialog-dialog panjang nan membosankan, untungnya saja kebosanan tersebut tidak berlangsung lama, karena Green mampu membayar lunas sisa film dengan memasukan elemen-elemen
survivor yang membuat penontonnya ikut merasa miris melihat bagaimana karakter-karakternya berjuang bertahan hidup.
Secara keseluruhan apa yang coba ditawarkan oleh
Frozen sebenarnya cukup menarik, sebagai sutradara dan penulis cerita Green setidaknya sudah mampu keluar sedikit dari pakem
thriller konvensional dengan menyajikan drama,
thriller dan
susnpense dalam porsi yang seimbang, namun sayang penggarapan cerita yang kurang dalam serta terlalu banyak membuang-buang waktu menampilkan dialog-dialog dangkal membuat film ini terasa sedikit membosankan.
7,2/10