View Single Post
Old 3rd December 2010, 08:32
#348  
Hafilova
Mania Member
Hafilova is offline

Hafilova's Avatar

Join Date: May 2009
Posts: 1,481
Hafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/diva

Default

Pencarian terakhir (2008)

[IMG]http://3.bp.********.com/_DDT-VTqW3wI/SyTVxb2HGcI/AAAAAAAAAWU/zzZLCpnYTPQ/s400/n573830922_1911828_8945.jpg[/IMG]


Story: Sudah 5 hari ini Sita (Richa Novisha) belum mendegar kabar dari sang adik, Gancar (Tesadesrada Ryza) yang sedang 'naik' ke pegununggan Sarangan bersama teman-temannya. Khawatir Gancar tersesat di pegunungan yang terkenal angker itu, Sita bersama sahabat-sahabatnya, Oji (Alex Abbad), Bagus (Yama Carlos) termasuk Tito (Lukman Sadri), mantan kekasih Sita yang 5 tahun lalu juga pernah menjadi korban 'keganasan' gunung yang terletak di daerah Sukabumi itu.

Seperti sudah bisa ditebak, pencarian yang dilakukan Sita dan kawan-kawannya yang juga dibantu oleh sekelompok tim SAR ini ternyata tidak berjalan dengan mudah. Selain dikarenakan sulitnya medan yang mereka jelajahi, kehadiran kekuatan supranatural negatif yang membahayakan menyelebungi pengunungan ribun tersebut. Pertanyaan terbesar tentunya adalah apakah mereka kemudian berhasil menemukan Gancar dkk dalam kondisi selamat?


Review: Dua tahun lalu Affandi Abdul Rachman, sutradara yang sukses menghadirkan Heart-Break.com dan sekuelnya, Aku atau Dia memulai debut penyutradaraan layar lebarnya dengan cukup meyakinkan melalui Pencarian terakhir, sebuah horror psikologis yang berani mengusung konsep berbeda dan menyegarkan dari kebayakan horror-horor pasaran (baca:murahan) yang menyerbu perfilman Indoenesia belakangan ini.

Terinspirasi dari kisah nyata yang pernah terjadi pada seniornya yang hilang di gunung di saat ia masih sekolah menengah atas dulu, Affandi Abdul Rachman bisa dibilang sukses meramu sebuah sajian horror menantang dan menegangkan yang tidak melulu terjebak dalam pengeksploitasian kepada penampakan-penampakan mahluk halus semata untuk membangun atmosfer kengeriannya, namun bagaimana sisi psikologis karakter-karakternya serta dukungan set yang menyakinkanlah yang bisa dibilang menjadi 'senjata utama' film ini meneror rasa takut penontonnya sepanjang 110 menit.

Pemilihan lokasi shooting yang terletak di Hutan Cisaat, Sukabumi yang masih "perawan" dan juga merupakan kawasan hutan lindung ini benar-benar mampu menciptakan sebuah atmosfer ruang mistis kental luar biasa. Apalagi mengingat urban legend tentang mitos keangkeran hutan yang mendasari film produksi Vandea Productions ini terasa begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia yang hingga hari ini terbilang masih banyak yang mempercayai hal-hal diluar akal sehat. Beberapa adegan lumayan mengejutkan seperti adegan kompas yang berputar kencang tanpa sebab dan kemunculan seorang pemuda misterius dalam dua kali adegan yang nyaris serupa, sebuah pengambaran adegan yang sederhana namun jelas efektif membuat penontonnya langsung menjerit dan kemudian ternganga! Mungkin satu-satunya kekurang film ini adalah bagaimana klimaks yang terkesan terlalu terburu-buru dan terlalu mudah diselesaikan, padahal sejak awal film ini sudah dengan susah payah dibangun dengan intens dan perjuangan yang terkesan sulit, namun sayang harus berakhir begitu saja, untung saja tidak terlalu fatal dan tidak terlalau berpengaruh secara keseluruhan.

Perlu diingatkan jangan tanya alasan kenapa begini kenapa begitu dengan penggambaran mitos, misteri dan keseraman di film ini. Saya menyadari dengan beban tagline “ inspired by true events” pada posternya, mau tidak mau sang Sutradara, bisa jadi sesuai hasil riset–nya, menampilkan ‘sisi keindonesiaan’ dalam film ini. Jadi ketika menonton film ini, lupakan survival ala “Vertical Limits”, atau “Cliffhanger” maupun “Alive’ . Tanamkan kuat kuat dalam benak bahwa film ini adalah tentang Indonesia dengan segala aneka keanekaragaman mitos dan legenda yang melatarbelakanginya.

Tidak hanya menghadirkan kengerian dalam setiap adegannya, Affandi Abdul Rachman pun tidak lupa menyelipkan pesan moral tentang bagaimana manusia harus bisa menghargai keberadaan sesama dan alam sekitarnya. Pesan khususnya, bagi para pecinta alam, kesiapan fisik dan mental-moral haruslah selalu dijaga dalam segala situasi ketika berinteraksi dengan gunung dengan segala elemennya. Kesalahan dalam bertindak nyaris tidak dapat ditoleransi dan runyam akibatnya.

Untuk ukuran sebuah film debutan, Pencarian terkahir berhasil tampil jauh lebih baik dari yang saya perkirakan sebelumnya. Affandi Abdul Rachman jelas sudah mengerjakan 'pekerjaan rumahnya' dengan sangat baik, dan tampaknya iapun mengerti betul bagaimana menghadirkan kengerian dan ketegangan tanpa membuat film ini terkesan murahan, bahkan membuat film-film horor lain yang berembel-embel pocong, Kutlianak, dan kawan-kawannya seperti menjadi tontonan buat anak kecil.


Last edited by Hafilova; 3rd December 2010 at 09:46..
Reply With Quote