View Single Post
Old 18th December 2010, 17:13
#926  
Hafilova
Mania Member
Hafilova is offline

Hafilova's Avatar

Join Date: May 2009
Posts: 1,481
Hafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/diva

Default

TRON: Legacy (2010)



Kevin Flynn: " The Grid. A digital frontier. I tried to picture clusters of information as they traveled through the computer. Ships, motorcycles. With the circuits like freeways. I kept dreaming of a world I thought I'd never see. And then, one day... i got in "

28 tahun, nyaris 3 dekade lamanya TRON akhirnya 'dibangunkan' kembali dari tidur panjangnya. Sekuel dari Cult classis sci-fi 1982 yang berkisah tentang seorang hacker yang terjebak dalam dunia digital ini jelas adalah proyek paling ambisius Walt Disney Pictures tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, dana sebesar 200 juta Dollar dikucurkan oleh studio yang kerap kali menghadirkan animasi-animasi berkualitas ini untuk kembali menghadirkan dunia digital gemerlap cahaya neon dalam TRON: Legacy lengkap dengan segala keajaiban visualnya, tentunya kini dengan kualitas spesial efek yang jelas jauh lebih maju dari pendahulunya.

20 tahun lamanya sudah Sam Flynn (Garrett Hedlund) kehilangan ayahnya Kevin Flynn (Jeff Bridges) yang menghilang bak tertelan bumi begitu saja. Pemuda berusia 27 tahun ini tumbuh menjadi pribadi yang liar dan pemberontak. Meskipun Ia sendiri adalah pewaris dari sebuah perusahaan perangkat lunak raksasa, Encom, namun tidak membuat hidupnya lebih bahagia. Hampir setiap tahun alih-alih duduk bersama para staffnya untuk melakukan rapat penting, Ia malah asik sendiri 'menjahili' mengerjai perusahaannya.

Dan pada suatu malam, Alan Bradley (Bruce Boxleitner ) konsultan Encom yang juga sahabat dekat Kevin meberitahukan kepada Sam bahwa Ia baru saja mendapatkan pesan misterius dari ayahnya untuk mendatangi Flynn’s Arcade, tempat permainan milik keluarganya yang sudah lama ditutup. Ditempat ini Sam tidak sengaja menemukan ruang kerja rahasia milik ayahnya dan tanpa sengaja juga sebuah sinar laser membawanya ke dunia lain, dunia yang selama ini ingin dimasukinya, dunia cipataan sang ayah, The Grid.

Ah, Sayang seribu sayang, tidak seperti tahun lalu dimana James Cameron dengan Avatar-nya berhasil memungkasi akhir tahun 2009 dengan tertawa paling keras karena kesuksesannya yang fenomenal, TRON: Legacy malah tampil bertolak belakang, 'melempem' hampir disemua sisi. Bahkan bisa dibilang TRON: Legacy adalah salah satu the most disappointing movie tahun ini menemani The Last Airbender milik M. Night Shyamalan. Yeah, walaupun memang tidak sampai seburuk The Last Airbender, namun tetap saja ekpektasi penonton sudah begitu tinggi terhadapa film yang juga merupakan debut penyutradaraan dari Joseph Kosinski , khususnya bagi para die-hard fans TRON '82 yang sudah menanti-nantikan bagaimana sih dahsyatnya film masa kecil mereka akan dibuat kali ini harus dibayar mahal dengan kekecewaan.

Jeda waktu sepanjang nyaris 30 tahun ternyata tidak membuat Disney belajar banyak untuk dapat mengembangkan TRON ke sebuah tahapan baru. Ya, harus diakui visual dan spesial efek TRON: Legacy jelas mengalami kemajuan sangat signifikan dibanding predesesornya, masih tetap setia dengan konsep dunia digital, The Grid yang berhiaskan garis-garis Neon-nya, lengkap dengan pertarungan piringan cakram dan 'light cycle' yang memanjakan mata. Kagum dan terpesona? tentunya, namun sayangnya tidal berlangsung lama, praktis setelah beberapa sekuens awal, 'disc battle' dan "light cycle" yang hanya berlangsung singkat itu, TRON: Legacy mulai menunjukan gelagatnya buruknya. Plot mulai menjadi M-E-M-B-O-S-A-N-K-A-N. Pesona visual yang apik itu seakan-akan menjadi barang biasa dan lenyap tak berbekas di pertengahan film yang tidak lagi mampu membuat saya (dan hampir sebagaian besar penonton) untuk tidak berhenti menguap, dan hal tersebut masih diperparah dengan terlalu percaya dirinya duo penulis Adam Horowitz dan Edward Kitsis yang menanggap bahwa penonton dunia sudah mengenal dunia TRON dengan baik, tanpa mau bersusah payah menjelaskan kembali apa itu USERS, PROGRAMS, ISO, dan segala tetek bengek isitilah-istilah tidak lazim kepada penonton awam. Sehingga tidak heran mengapa beberapa dari penonton memilih untuk walk out dari bioskop daripada harus menyaksikan film yang tidak mereka mengerti. Tidak hanya itu, selain kisahnya yang datar dan kurang greget, dan minim konflik, penonton juga disugguhkan dengan buruknya kualitas dialog-dialog yang terlewat sederhana (baca:bodoh) dari para karakter-karakternya yang juga tampil tidak kalah mengecewakannya, bahkan kehadiran veteran TRON '82 Jeff Bridges juga tidak mampu memberikan dampak apa-apa kecuali wajah mudanya dalam karakter CLU yang berhasil digarap dengan sempurna oleh bantuan CGI. Adegan-adegan aksi yang semestinya berlangsung seru malah berakhir antiklimaks tanpa emosi, semuanya seakan-akan hanya 'numpang lewat' semata tanpa meninggalkan kesan mendalam.

Berbicara soal kualitas 3D? argh!!, TRON: Legacy bisa dibilang adalah salah satu film yang ikut-ikutan meneruskan tradisi 'perampokan' berkedok 3D. Ya, penonton yang sudah membayar mahal untuk versi yang sebelumnya digadang-gadang bakal disajikan dengan menakjubkan harus kembali gigit jari dengan buruknya kualias 3D yang nyaris tidak ada menonjolkan apa-apa.

Mungkin jika ada satu-satunya yang patut dibanggakan dari TRON: Legacy adalah kualitas musik pengiringnya yang harus saya akui luar memang luar biasa. Di bawah arahan duo musisi elektronik asal Perancis, Daft Punk yang juga muncul sebagai cameo disini, alunan nada-nada menghentak penuh emosi berhasil mengisi adegan per adegan dalam TRON: Legacy dengan sangat baik. Ya, setidaknya masih ada satu sisi positif dari banyaknya kekurangan yang dimiliki oleh film yang dibuat oleh LivePlanet studio ini.

Ya, sayang sekali ambisi besar Walt Disney Pictures dalam menghadirkan TRON: Legacy ternyata sebesar penggarapannya. Visual efek yang menggelegar hanya terasa 'wah' di menit-menit awal tanpa bisa meninggalkan kesan berarti. Premis yang sebenarnya cukup menjanjikan tidak berhasil dieksekusi dengan baik, plus dialog-dialog monoton yang menjemukan dan akting yang buruk semakin menambah daftar panjang 'dosa-dosa' film ini. So, Mr. Shyamalan. I think you've got a company this year.

5,9/10

visit my blog
Reply With Quote