View Single Post
Old 20th December 2010, 14:53
#952  
PiRlomAniAc
Groupie Member
PiRlomAniAc is offline

PiRlomAniAc's Avatar

Join Date: Dec 2007
Location: there.......
Posts: 19,593
PiRlomAniAc Super LegendPiRlomAniAc Super LegendPiRlomAniAc Super LegendPiRlomAniAc Super LegendPiRlomAniAc Super LegendPiRlomAniAc Super LegendPiRlomAniAc Super LegendPiRlomAniAc Super LegendPiRlomAniAc Super LegendPiRlomAniAc Super LegendPiRlomAniAc Super Legend

Default

The Elephant Man (1980)




Frederick Treves, seorang dokter bedah di London, bertemu dg seorang penderita penyakit kelainan bentuk tubuh yang parah atau sekarang lazimnya disebut Elephant Man yang bernama John Merrick. Lewat perjanjian dg "pemilik" John Merrick, Treves mengungkapkan kepada konsili kedokteran Inggris ttg penyakit yang diidap Merick. Jdlah Merick mendapat perawatan dari rumah sakit tempat Treves bekerja. Dalam perawatan tersebut Treves tidak hanya mengobservasi penyakit yang diderita oleh Merick tp juga belajar bagaimana menjalani hidup dengan baik, betapa pun sulitnya kehidupan ini berjalan.

The Elephant Man adalah novel yang ditulis oleh Frederick Treves. Seorang dokter bedah Inggris pd zaman Victorian yang mengisahkan kehidupan pasiennya yang bernama John Merrick (nama John adalah kesalahan penulisan Treves dalam novelnya tsb, Joseph adalah nama sesungguhnya) yang menderita penyakit aneh saat itu di mana struktur tubuhnya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Penyakit yang diderita John/Joseph Merrick tsb adalah Elephant Man.

Kekuatan dr film ini sesungguhnya ada 2, pertama adalah kelihaian Lynch sebagai sutradara yang sanggup mengaduk2 emosi penonton saat menyaksikan film ini. Kita bs dibuat merasa nelangsa melihat keadaan fisik Merrick tp kemudian dibawa lagi kpd situasi menggembirakan ketika melihat Merrick tidak idiot seperti yang diungkapkan oleh "pemiliknya". Ya, sepanjang film kita akan dibawa kepada suasana yang naik turun... senang... kembali sedih..kembali senang... kembali sedih...Hal yang kedua adalah sinematografi yang dikelola dg baik. Pemilihan gambar hitam putih pun mendukung suasana zaman victorian di Inggris. Walaupun begitu kualitas gambarnya tetap terjaga dengan baik.

Walaupun begitu, film ini sejujurnya penuh dengan beberapa kesalahan. Gw ga tau apakah ini diketahui oleh sutradara atau memang bnar2 murni utk menyesuaikan arah yang mau dituju oleh film ini. Dalam film, Merrick dengan lancar mengutip Mazmur 23 dengan lancar dan tanpa harus membaca langsung. Ia juga mengucapkan dialog Romeo n Juliet. Aslinya, Merrick harus dioperasi terlebih dahulu agar ia bs berbicara walaupun tidak maksimal. dalam film Merrick digambarkan sebagai seorang yang tegar dan memandang positif hidupnya. Aslinya memang Merrick seperti itu, tegar dalam menghadapi penyakitnya, tetapi jg menyimpan sedikit suasana psikologis yang muram. Dan ada beberapa kesalahan2 lainnya.

Film ini seakan-akan hendak menunjukkan kepada penontonnya bhw Merrick adalah manusia yang terhormat dan elegan di balik fisik tubuhnya yang mengerikan. Ia adalah seperti makhluk ciptaan Frakenstein yang nyata, mengerikan tetapi hatinya baik dan agung. Ending film ini menegaskan premis ini di mana Merrick yang setelah mendapatkan standing applaus setelah menonton opera merasa puas bhw ia tahu bahwa dirinya dicintai oleh masyarakat tanpa menghiraukan keadaan fisik tubuhnya dan kemudian ingin mewujudkan harapannya agar dapat tidur dengan membaringkan tubuhnya selayaknya manusia normal lainnya. Suatu hal yang pd kenyataannya tidak seperti itu. Merrick meninggal pd usia muda, 27 tahun, akibat lehernya terkilir berat. Kematian inilah yang menghembuskan isu bhw Merrick sesungguhnya bunuh diri karena tidak tahan dg penderitaan fisiknya.

7/10

SIG HEIL
Reply With Quote