View Single Post
Old 19th January 2011, 00:14
#1705  
Hafilova
Mania Member
Hafilova is offline

Hafilova's Avatar

Join Date: May 2009
Posts: 1,481
Hafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/diva

Default

The Fighter (2010)



Mickey Ward: "I’m the one who’s fighting. Not you, not you, and not you"


30 tahun lalu, bersama Robert DeNiro, Martin Scorsese rupanya sudah membuat batasan begitu tinggi bagi genre sport movie, khususnya cabang tinju dalam Raging Bull. Biopik yg bercerita tentang kehidupan petinju legendaris, Jack La Motta ini tidak hanya menawarkan bagaimana kehebatan dan aksi-aksi seorang petinju disaat menghepaskan setiap lawan-lawannya di atas ring, namun juga sukses mengkombinasikannya dengan sugguhan drama kehidupan pribadi dengan balutan naskah yang menarik serta dukungan akting luar biasa yang hingga kini mungkin hanya segelintir film sejenis yang bisa mengikutinya, sebut saja Million Dollar Baby (2004), Cinderlla Man (2005) dan tahun lalu ada The Fighter yang tidak kalah mengesankannya yang akan kita bahas saat ini.

The Fighter sendiri selain sebuah boxing movie juga adalah biopik kisah nyata yang berpusat kepada kehidupan “Irish” Micky Ward (Mark Wahlberg) dan saudara tirinya, Dicky Eklund (Christian Bale) pada awal tahun 80′an. Micky adalah pentinju potensial yang harus hidup dalam bayang-bayang sang kakak, Dicky, mantan petinju yang namanya terkenal karena pernah mengkanvaskan seorang Sugar Ray Leonard. Micky, seperti kebanyakan penduduk kota kecil, Lowell, Massachusett, menganggap Micky adalah sosok pahlawan, sosok yang dihormati dan disegani karena kesuksesan di masa lalunya, meskipun kini pada kenyataannya kehidupan pria 41 tahun itu tidak lebih dari seorang pecundang yang terjebak dalam lingkaran narkoba.

Bersama sang ibu, Alice (Melissa Leo), Dicky menjadi pasangan menejer-pelatih bagi Micky yang sayangnya hingga usianya yang menginjak 30 tahun tidak membuat perubahan berarti bagi karier bertinjunya. Setelah beberapa kali mengalami kekalahan dan berawal dari pertemuannya dengan seorang gadis penjaga bar Charlene (Amy Adams), mata Dicky mulai sedikit demi sedikit terbuka. Jika ingin kariernya sukses Ia harus berani melepaskan dirinya dari pengaruh keluarganya, khususnya Dicky dan Alice. Yup, Jelas bukan pilihan yang mudah, namun setiap keberhasilan terkadang dibutuhkan sebuah pengorbanan.

Secara garis besar apa yang disajikan The Fighter sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film-film sejenisnya. Premis ‘from zero to hero’, perjuangan seorang atlit menjadi yang terbaik dengan bumbu konflik keluarga masih mendominasi di film yang juga merupakan kolaborasi ketiga antara Mark Walhberg dan sutradara David O. Russell ini. Bahkan tidak banyak adegan pertarungan yang disajikan disini. Namun menjadi menarik karena Russell terbilang beruntung bisa memiliki deretan pemainnya yang hampir semuanya bermain luar biasa disini. Ya, inilah kelebihan yang dimiliki oleh The Fighter, selain menghadirkan konflik dari sebuah keluarga disfungsional yang digarap dengan cukup realistis, film yang naskahnya ditulis oleh Scott Silver, Paul Tamasy dan Eric Johnson ini diisi oleh ensemble cast terbaik tahun lalu. Mark Whalberg, Christian Bale, Marissa Leo dan Amy Adams, keempatnya sukses berkolaborasi, melebur membawakan peran mereka masing-masing dengan sangat apik. Tidak ada peran penggembira disini, semua karakter memiliki posisi sama pentingnya dalam berkembangnya cerita, bahkan peran-peran kecil seperti salah satunya Mickey O’Keefe yang memerankan dirinya sendiri pun sukses menarik simpati penontonnya sebagai seorang anggota polisi, pelatih dan juga teman Micky. Namun tetap bagaimanapun The Fighter menjadi catatan tersendiri bagi seorang Christian Bale dan Mellisa Leo. Disaat tulisan ini dibuat, keduanya berhasil ‘mengawinkan’ piala Golden Globe 2011 sebagai aktor dan artis pendukung terbaik. Saya sendiri tidak terkejut, karena memang mereka pantas mendapatkannya tanpa memandang sebelah mata Mark Walhberg yang meskipun tampil baik, tapi seperti karkater Micky itu sendiri, Ia seakan-akan berada di bawah bayang-bayang kehebatan akting Bale. Atau Amy Adams, ya, artis berwajah manis ini sukses melepaskan imagenya sebagai gadis ‘baik-baik’ dengan membawakan peran Charlene Fleming, seorang gadis bar tangguh, love interst Micky yang tidak segan-segan menghadapi siapa saja, termasuk keluarga disfungsional Micky, yang ‘dikomandani’ oleh Alice , seorang ibu dari 9 anak, termasuk Dicky dan Micky yang tidak kalah keras kepalanya yang dibawakan dengan performa terbaik dari Mellisa Leo.

Ya, meskipun hanya sabagai peran pendukung, namun bagi Saya, Bale adalah nyawa terbesar dari The Fighter. Ia adalah kunci utama. Bukan hanya karena dedikasinya yang luar biasa, sampai-sampai aktor asal Inggris ini rela mengurangi secara drastis berat badannya, seperti yang pernah dilakukannya dalam The Machinist 2004 lalu, tapi juga bagaimana Ia sukses meleburkan diri dalam peran Dicky Eklund, seorang mantan petinju yang tidak bertanggung jawab, bermulut besar dan sok jago yang selalu membangakan masa lalunya dengan sempurna, ya, sekali lagi dengan SEMPURNA. Saya sendiri tidak pernah mengenal atau melihat bagaimana sosok Dicky Eklund yang sebenarnya, tapi jika melihat closing credit film ini yang menampilkan footage perbincangan antara Micky dan Dicky yang asli, kita tahu bahwa Bale jelas telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Ya, beruntung seorang David O. Russel memiliki jajarang pemain-pemain hebat yang mampu menghidupkan setiap momen-momen emosional dalam The Fighter. Kombinasi kisah nyata, peyutradaraan dan akting yang luar biasa menjadikan The Fighter selah satu yang terbaik di genrenya.

7,9/10

visit my blog
Reply With Quote