View Single Post
Old 17th February 2011, 18:28
#2411  
Hafilova
Mania Member
Hafilova is offline

Hafilova's Avatar

Join Date: May 2009
Posts: 1,481
Hafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/diva

Default





” I heard it too. The sound of something important to you disappearing. But it wasn’t a pop… It was more like…KABOOM! “ ~ Yuuko


Story: Hari itu memang terlihat berebeda dari hari-hari biasanya, bukan saja karena menjadi hari terakhir bagi para murid-murid SMP kelas 1B bersekolah sebelum liburan panjang kenaikan kelas, namun juga menjadi hari terakhir bagi Yuuko Moriguchi (Takako Matsu) bertugas sebagai guru mereka. Yang menarik adalah bagaimana Yuuko kemudian memberikan pelajaran terakhirnya, pelajaran penting tentang kehidupan, sembari secara perlahan membuat sebuah pengakuan mengejutkan yang sampai-sampai membuat seisi kelas terdiam dan memusatkan perhatiannya pada sang guru. Apa isi pengakuannya itu? Ah, saya tidak ingin merusak kenikmatan menonton anda, dengan memberitahu apa isinya, karena ‘pengakuan’ itu bisa dibilang adalah bagian terpenting dari keseluruhan cerita, jadi saya akan membiarkan anda mencari jawaban sendiri dengan menontonnya. Singkat kata pengakuan itu ternyata berdampak luar biasa bagi murid-muridnya, terutama bagi dua orang yang tampaknya harus membayar mahal apa yang sudah pernah mereka perbuat sebelumnya.


Review: Tetsuya Nakashima is back!! Memory of Matsuko telah mengenalkan saya pada sutradara Jepang berusia 52 tahun ini. Yup, Film drama produksi 2006 itu memang karya luar biasa yang sukses mengombang-ambingkan emosi penontonnya dalam sebuah kisah super depresif yang terbungkus rapi dalam keindahan visual menawan penuh warna-warni cerah. Dan 2010 lalu, melalui Confessions yang juga merupakan official submission Jepang untuk Oscar tahun ini, sekali lagi Nakashima mampu memaksa saya duduk manis selama 106 menit dengan pikiran dipenuhi kekaguman.

Berbeda dengan Memory Of Matsuko yang lebih ke drama, Confessions yang judul Jepangnya adalah Kokuhaku ini, Nakashima yang juga bertindak sebagai penulis naskah kali ini mencoba mengambil jalur thriller psikologis dengan balas dendam sebagai menu utamanya. Menariknya adalah bagaimana Nakashima menyajikan tema vegeance ini seperti Ia membuat Memory Of Matsuko, Indah dan mempesona, meksipun harus diakui mungkin terlihat sedikit berlebihan bagi sebagaian penontonnya. Bedanya, alih-alih dihiasi dengan warna-warni cerah, Confessions terlihat jauh lebih kelam. Nakashima seakan-akan ingin menegaskan suram dan depresifnya film ini lewat pemilihan warna gelap dengan dukungan teknik sinematografi dan pencahayaan sempurna plus pengunaan efek slowmotion menawan, editing yang apik telah benar-benar memanjakan indera pengelihatan para penontonnya. Belum lagi iring-iringan musiknya, dari klasik hingga Radiohead, semuanya dapat menyatu dengan baik untuk mendramatisir habis-habisan setiap adegannya. Menjadikan pengalaman menonton Cofenssions seperti sedang menyaksikan sebuah video klip musik versi panjang.

Naksihma tidak hanya piawai mengemas Confessions dengan balutan teknis menawan, namun dalam hal mengksekusi kisahnya Ia juga tidak kalah hebatanya. Bisa jadi 30 menit pertama menjadi bagian paling menarik dari Confessions. Bagian yang tampaknya hanya berisi curhatan dari seorang guru kepada muridnya ini ternyata mengambil peranan penting untuk berkembangnya kisah yang juga merupakan adapatasi adaptasi novel 6 bab karya Minato Kanae ini secara dinamis kedepannya. Kemudian dengan cerdas Naksihama membawa penontonnya untuk melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang melalui narasi karakter-karakter utamanya, tidak jarang emosi penontonnya kemudian dipermainkan dalam sebuah ambiguitas moral tentang benar atau tidaknya tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh para pelakunya. Dan Seiring berjalannya cerita, penonton akan banyak menemui banyak fakta-fakta mengejutkan dan mengerikan yang muncul melalui serangkaian flashback dimana pada akhirnya akan menjawab semua rasa pensaran dan pertayaan-pertanyaan kita.

Ah, menarik sekali mengetahui bahwa Tetsuya Nakashima ternyata masih belum kehilangan sentuhan magisnya. Lewat Confessions a.k.a Kokuhaku ini, Naksihma kembali sukses memadu padankan sebuah pengalaman sinematik yang tidak terlupakan, sebuah thriller psikologis provokatif, meyesakan dan juga emosional dengan balutan teknis visual tingkat tinggi.

8,2/10

visit my blog

Last edited by Hafilova; 17th February 2011 at 18:39..
Reply With Quote