View Single Post
Old 17th February 2011, 18:35
#2413  
Hafilova
Mania Member
Hafilova is offline

Hafilova's Avatar

Join Date: May 2009
Posts: 1,481
Hafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/diva

Default


" Are You Connected? "


Story: Sore itu, tanggal 26 Mei, stasiun Shinjuku tampak ramai seperti hari-hari biasanya, tidak ada tanda-tanda bakal terjadi sebuah peristiwa besar di salah satu stasiun kereta api terpadat di Tokyo itu, sampai serombongan siswi SMU, sebanyak 54 orang berbaris dan bergandengan tangan di pinggiran platform perhentian kereta api. Tidak ada seorangpun yang pernah menyangka apa yang dilakukan kelompok gadis remaja tersebut berikutnya , sungguh mengerikan. Serempak, ke 54 siswi SMU tersebut melompat, melemparkan diri mereka kedepan kereta api yang sedang melaju kecang. BAMM!! Segera saja Shinjuku menjadi merah pekat, potongan-potongan tubuh yang tergilas berserakan dimana-mana, teriakan-teriakan histeris para penumpang lain pun menghiasi sore penuh kengerian itu. Rupanya peristiwa bunuh diri massal di stasiun tersebut menjadi awal pembuka dari rangkaian peristiwa bunuh diri lain yang dengan cepat melanda penduduk kota Tokyo.


Review: Horror Jepang, atau yang biasa dikenal dengan sebutan J-Horror ini memang punya daya pikat tersendiri bagi kalangan penggemar film-film seram. Tidak hanya terkenal mampu menghadirkan nuansa horror sejati yang mampu ‘menyerang’ psikologis penontonnya melalui rangakaian terror audio dan visual minimalsinya, namun kebanyakan dari film-film tersebut juga diisi oleh cerita yang kompleks, membingungkan bahkan tidak sedikit yang absurd, seperti salah satunya bikinan Sion Sono ini

Suicide Club atau yang dikenal juga dengan judul lain, Suicide Circle memang sebuh horror unik dan juga provokatif. Kisah dibuka dengan opening scene yang mungkin paling mengerikan dan paling disturbing dalam sejarah per-horror-an dunia. Momen bunuh diri massal yang mecengangkan dan burtal sepanjang kurang lebihh 4 menit itu dipastikan membuat pikiran penontonnya diisi dengan rasa penasaran luar biasa, masalahnya keadaan tidak bertambah baik kedepannya. Alih-alih memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikiran penontonnya, Sono malah semakin banyak menambah porsi misteri tanpa ujung didalamnya dengan balutan aroma horror atmsoferik yang meskipun terlihat minimalis namun berefek besar untuk memberikan sensasi mengerikan kepada penontonnya, termasuk didalamnya adegan-adegan bunuh diri yang digambarkan dengan tingkat kesadisan yang cukup membuat mual penontonnya yang lemah hati.

Seperti mengurai benang kusut, atau mencari jarum dalam tumpukan jerami, seperti itulah jika anda mencari jawaban dari dalam Suicide Club. Sono jelas tidak begitu saja secara gamblang menyampaikan pesannya. Film ini berpotensi di cap sebagai sebuah karya jenius sekaligus tolol sama besarnya, semuanya tergantung dari usaha anda mencari dan menerjemahkan metafora dan simbolisasi tersembunyi tentang kritik sosial, pengaruh pop culture dan pencarian identitas diri yang tersebar sepanjang film, entah dengan berpikir keras, menonton ulang, berdiskusi dengan orang yang sudah menontonnya, atau yang paling mudah dengan mengetikan “Suicide Club” di search engine anda.

Sepertinya Sono meninggalkan penontonnya begitu saja dengan tidak memberikan jawaban apapun? ah, tidak juga, karena 4 tahun setelah film ini dibuat hadir prekuelnya, Noriko’s Dinner Table, yang sedikit banyak akan memberikan jawaban dan penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan dan plot hole dalam Suicide Club.

Overall, Suicide Club bisa dibilang adalah sugguhan J-horror unik, aneh dan juga absurd, namun disisi lain juga sebagai sebuah studi moral tentang gejolak sosial yang berkembang di masyarakat yang disajikan Sion Sono melalui rangkaian simbolisme dan metafora mengerikan didalamnya.

7,8/10

visit my blog
Reply With Quote