View Single Post
Old 3rd March 2011, 10:04
#2847  
Hafilova
Mania Member
Hafilova is offline

Hafilova's Avatar

Join Date: May 2009
Posts: 1,481
Hafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/diva

Default

Fair Game (2010)


Joe Wilson: ” Democracy is not a free ride…”


2003 silam, Amerika Serikat di bawah kendali George W. Bush melakukan invasi besar-besaran terhadap Irak hingga menjatuhkan pemeritahan Saddam Hussein yang berkuasa saat itu. Alasannya, karena Irak diduga kuat masih memproduksi dan menyembunyikan program sejata nuklir pemusnah masal yang kenyataannya sama-sama kita ketahui tidak pernah terbukti dan ditemukan hingga kini. Menariknya, beberapa bulan sebelum negara adidaya itu menghancurkan Irak, seorang agen rahasia CIA, Valerie Plamer (Naomi Watts) menemukan fakta bahwa Irak tidak lagi memiliki program senjata seperti yang dituduhkan George W. Bush semenjak Amerika Serikat menghancurkannya dalam perang teluk 1991 lalu.

Kemudian untuk memverfikasi temuannya itu, atasan Plame meyakinkan dirinya untuk membujuk suaminya, Joe Wilson, seorang duta besar yang juga kompeten mengenai permasalahan ini untuk pergi ke Nigeria, menyelidiki transaksi Uranium dalam jumlah besar ke Irak. Dan apa yang kemudian didapati Wilson di lapangan ternyata semakin memperkuat temuan Palmer bahwa memang tidak ada program senjata pemusnah masal di negara timur tengah itu.

Masalah besar kemudian muncul ketika kemudian Wilson menuliskan temuannya itu pada sebuah kolom surat kabar terkemuka Amerika Serikat, New York Times yang isinya menyudutkan kebijakan Bush terhadap rencana Invasinya ke Irak. Berita tersebut dengan cepat menyebar dan membuat para petinggi gedung putih pun gerah dengan kritik-kritik yang ditulis Wilson tersebut, ujung-ujungnya Wilson pun harus menerima ‘ganjaran’ dari ‘kelancangannya’ tersebut. Pihak gedung putih kemudian dengan sengaja membocorkan identitas istrinya sebagai anggota CIA yang selama ini masuk dalam kategori top secret untuk mendeskreditkan sang duta besar

Ada dua hal yang menarik dari political thriller yang didistrbusikan oleh Summit Entertainment ini. Pertama, kisah Fair Game diangkat dari peristiwa nyata yang terangkum dalam memoir Valerie Palme, Fair Game: My Life as a Spy, My Betrayal by the White House, peristiwa pembocoran identitas salah satu agen rahasia CIA , yang juga dikenal dengan sebutan Plamegate ini menjadi salah satu skandal terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, sampai-sampai menyeret petinggi-petinggi pemerintah hingga presiden George W. Bush sendiri. Hal kedua tentu saja kehadiran kembali sosok Doug Liman. Sutradara yang pernah menjadi orang dibalik kesuksesan Bourne Identity dan Mr. & Mrs. Smith ini mencoba kembali peruntungannya dalam Fair Game, setelah Jumper pada tahun 2008 silam membuat namanya meredup seriing dengan banyaknya kritik negatif yang menghampiri film ke-6nya tersebut.
Meskipun Fair Game juga meyinggung tema spionase didalamnya, tema yang menjadi spesialisasi Liman, namun jangan terlalu berharap banyak jika film ini akan menawarkan adegan-adegan aksi cepat, taktis dan penuh dengan momen-momen spektakuler, karena dalam Fair Game, sutradara 45 tahun ini lebih mengedepankan intrik-intrik politik njelimet dengan subtansi cerita berat yang jelas berpotensi mengecewakan dan membosankan bagi mereka penyuka film-film aksi Liman sebelumnya. Ya, 45 menit pertama akan terasa cukup membosankan, entah memang karena kisahnya sendiri memang kurang greget atau karena ketidakmampuan Liman untuk dapat mengembangkannya menjadi sebuah sajian menarik? Banyaknya istilah-istilah tentang dunia spionase dan politik yang terdengar asing juga secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada mood penontonnya. Untung saja, secara perlahan Liman mampu memperbaikinya di sisa film. Setelah memasuki klimaks utama, tensi sedikit naik dan menjadi lebih enjoyable, hingga akhirnya ditutup dengan sebuah momen menarik.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu memperdulikan jika Doug Liman yang akan menyutradarai film ini karena ada nama Naomi Watts dan Sean Penn disini yang juga menjadi alasan saya untuk menyaksikan Fair Game. Ya, ini ketiga kalinya Watts dan Penn berkolaborasi setelah sebelumnya, 21 Grams and The Assassination of Richard Nixon. Seperti biasa keduanya mampu membawakan perannya dengan baik, meskipun bukan penampilan terbaik mereka, namun sudah lebih dari cukup untuk membuat film berdurasi 108 menit ini menjadi lebih hidup dan menarik.

Fair Game jelas bukan bagi anda, penonton yang mengharapkan banyak momen-momen spektakuler seperti yang pernah dihadirkan Liman dalam Bourne Identity ataupun Mr. & Mrs. Smith. Kali ini Liman menyajikan tema spionasenya jauh lebih serius, kompleks dan humanis yang mungkin akan berefek membosankan bagi yang tidak terbiasa mengunyah drama-drama berat.

7,5/10

visit my blog
Reply With Quote