View Single Post
Old 9th March 2011, 12:30
#3112  
Hafilova
Mania Member
Hafilova is offline

Hafilova's Avatar

Join Date: May 2009
Posts: 1,481
Hafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/diva

Default

Minggu Pagi di Victoria Park (2010)




Mayang: " Mentang-mentang sebutannya pahlawan devisa, terus kamu berharap dihargai sama negara? "

Victoria Park, taman umum yang berdiri di tengah-tengah hamparan gedung-gedung tinggi kota Hong Kong ini seakan-akan menjadi saksi bisu yang selama ini setia mendegar keluh kesah dan cerita-cerita menarik dari para pengunjungnya, termasuk kisah mereka, para tenaga kerja wanita asal Indonesia yang saban hari minggu berkumpul di taman kota ini. Dan dari kisah-kisah itu ada satu cerita tentang seorang wanita bernama Mayang (Lola Amaria), TKW asal Jawa Tengah yang dipaksa ayahnya untuk bekerja sekaligus mencari keberadaan sang adik, Sekar (Titi Sjuman) yang sudah setahun ini hilang tanpa kabar sejak kepergiannya untuk bekerja sebagai buruh migran di negara eks jajahan Inggris itu. Penuh dengan ketidaktahuan dan rasa takut Mayang kemudian mulai belajar dan bekerja sekaligus bertahan hidup di keluarga yang bersikap baik terhadapnya. Di waktu-waktu lowong dan libur ia selalu mencari kabar tentang adiknya. Dari teman-teman dan dari Gandi (Donny Damara), pegawai Kedutaan RI yang bertugas mengurusi buruh migran, juga dari Vincent (Donny Alamsyah), yang rupanya jatuh hati padanya. sedikit demi sedikit mulai terkuak keberadaan Sekar.

Ya, itulah sedikit gambaran plot utama dari Minggu Pagi di Victoria Park (MPdVP). Plot yang garis besarnya bercerita tentang hubungan kakak-adik ini tampaknya hanya berfungsi sebagai ‘kedok’ bagi Lola Amaria, yang juga menjadi sutradara disini untuk kemudian secara tidak langsung memberikan sebuah potret nyata tentang kisah hidup para TKW atau negara menjuluki mereka, Pahlawan Devisa ini di kota metropolitan Hong Kong, lengkap dengan segala suka dan dukanya dalam usaha mereka mencari nafkah bagi diri sendiri atau untuk keluarga di kampung.

Di bawah penyutradaraan apik Lola Amaria plus dukungan naskah kuat dari Titin Watimena, MPdVP sukses menjelma menjadi sebuah sugguhan menarik dan menyegarkan. Meskipun tema yang disugguhkan mungkin terlihat “berat” namun berkat olahan naskah yang cerdas membuat jalinan kisah MPdVP menjadi mudah dikunyah oleh para penontonnya. Tidak hanya sebagai sebuah tontonan yang menghibur, namun film yang hampir keseluruhannya melakukan proses pengambilan gambar di Hong Kong ini juga membuka mata dan wawasan saya, dan kebanyakan penonton lain yang mungkin selama ini kurang banyak mengetahui tentang kehidupan para buruh migran kta.

Daripada memberikan gambaran-gambaran tentang pekerja wanita yang sering mendapat siksaan fisik dan perlakuan kasar dari para majikan mereka, seperti yang sering kita dengar sering menimpa TKW kita di Arab maupun Malaysia. Lola lebih memilih jalur lain, jalur yang lebih terlihat berkelas dengan menghadirkan beragam masalah pribadi masing-masing yang kerap kali terjadi disana, seperti ditipu pacar yang rupanya hanya memanfaatkan keluguan para TKW, jeratan iming-iming kredit dengan bunga sangat tinggi, lesbianisme dan lain-lain. Namun disisi lain penonton juga diajak melihat bagaimana jalinan persahabatan dan toleransi antar sesama mereka yang senasib begitu kuat, entah memang kenyataanya seperti itu atau hanya sekedar didramatisir semata?. Ada kalanya MPdVP berusaha tampil terlalu bersemangat menyindir pemerintahan kita, khususnya disaat awal-awal bergulirnya cerita yang membuat saya sedikit antipati, ah, tapi untung saja hal tersebut tidak berlanjut panjang.

Selain tema yang kuat, MPdVP juga menyuguhkan akting mempesona dari jajaran pemainnya. Mulai dari Titi Sjuman yang tampil paling apik disini sebagai Sekar yang depresif, cantik diluar namun begitu rapuh didalam akibat terbelit banyaknya hutang semuanya dimainkannya dengan sangat hidup dan natural, Lola Amaria yang bekerja ganda membawakan karakter Mayang yang tertutup pun tidak ketinggalan menunjukan kualitas akting prima, walaupun terlihat sekali jika ia sedikit kesulitan melafalkan dialek Jawanya yang masih terlihat kaku, hingga para peran pembantu yang diluar dugaan mampu tampil lepas tanpa beban, seperti salah satunya adalah Ella Hamid yang sukses menjadi scene stealer dengan akting paling alami di sepanjang film. Sayangnya kecemerlangan akting para pemeran wanitanya tidak diimbangi dengan para pemeran prianya. Duo Donny, Donny Alamsyah dan Donny Damara malah terlihat hanya sebagai tim penggembira semata. Ya, memang peran mereka cukup fital disini, tapi ironisnya tidak dibarengi dengan akting yang mumpuni, khususnya Donny Damara dengan gaya akting yang terlalu sinetronisme, kurang memberikan emosi dan wibawa pada karkaternya.
Membuat film tentang tenaga kerja wanita di Hong Kong jelas akan sia-sia belaka jika tidak sekalian mengekspos habis-habisan lanskap kota Hong Kong yang menjadi setting utama film ini. Dan Yadi Sugandi selaku sinematografer telah membayar lunas kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan melakukan pekerjaanya dengan baik, sangat baik malahan. Yup, Yadi sepertinya tahu betul bagaimana menangkap gambar-gambar cantik kota pelabuhan itu dengan pengambilan sudut gambar yang cerdas, tidak peduli itu siang ataupun malam, Yadi tetap menyajikannya dengan warna-warna indah yang mampu memanjakan mata penontonnya. Maka semakin lengkaplah sisi teknis ini dengan dukungan iring-iringan scoring menawan yang istimewanya lagi digarap sendiri oleh Titi Sjuman dan sang suami tercinta Aksan Sjuman, keren!.

Sekarang coba hitung ada berapa film Indonesia yang mengusung tema percintaan? hmmm…sudah banyak, tema komedi? juga banyak, tema horror? arghh!, ini apalagi, tidak terhitung jumlahnya. Dan bisa jadi Minggu Pagi di Victoria Park menjadi film pertama sekaligus pelopor yang berani mengangakat tema para pekerja wanita Indonesia sebagai bahan jualannya. Tema provokatif-menarik ini sekaligus juga menjadi oase sejuk di tengah gersangnya kualitas perfilman Indonesia yang hingga saat ini tidak henti-hentinya digempur dengan film-film bergenre horror mesum penurun IQ dengan kualitas yang sangat menyedihkan. Namun Ironisnya film seperti ini tampaknya kurang mendapatkan sambutan baik di kalangan penonton awam Indonesia, terbukti dengan banyaknya bangku-bangku kosong yang menghiasi bioskop-bioskop disaat pemutarannya tahun lalu. Ya, sudahlah.

7,7/10

visit my blog
Reply With Quote