View Single Post
Old 10th March 2011, 11:04
#3131  
Hafilova
Mania Member
Hafilova is offline

Hafilova's Avatar

Join Date: May 2009
Posts: 1,481
Hafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/diva

Default

Drive Angry 3D (2011)




The Accountant: ” Wouldn’t wanna be you when Satan finds out! “

Seberapa besar cinta seorang ayah terhadap putrinya? Mungkin dalam Drive Angry, seorang John Milton (Nicolas Cage) bisa memberikan jawabannya untuk anda. Kematian sang putri akibat dibunuh Jonah King (Billy Burke), seorang pempimpin sekte pemuja setan sampai-sampai membuat Milton nekat kabur dari penjara, eits, tunggu dulu, penjara yang saya maksud bukan penjara biasa, melainkan Neraka, tempat para manusia-manusia berdosa menghabiskan kehidupan abadinya dalam api penyucian. Nah, entah bagaimana ceritanya Milton kemudian berhasil kabur dari sana, kembali ke dunia fana dan berusaha mengejar King yang selain membunuh putrinya ternyata juga menculik cucu perempuannya untuk dijadikan korban persembahan. Dalam perjalannya tidak sendiri, ia dibantu oleh Piper (Amber Heard), pramusaji yang baru saja diselamatkannya sembari menghindari kejaran ‘sipir penjara’, ‘The Accountant’ (William Fichtner) yang berusaha mengembalikannya ke neraka.

Sepintas premis yang ditawarkan oleh Drive Angry mungkin sedikit terlihat mirip dengan Ghost Rider, film adaptasi komik yang kebetulan juga dibintangi oleh Nicholas Cage dan di produseri oleh Michael De Luca yang lagi-lagi kebetulan juga sahabat Nic, namun bedanya kali ini Nic tidak lagi kabur dari neraka sambil menungangi motor dengan kepala terbakar, namun dengan mobil dengan model rambut yang buruk, he..he… Selain itu Drive Angry di bawah asuhan sutradara Patrick Lussier (My Bloody Valentine 3D) dengan mudah memposisikan dirinya sebagai sebuah brainless action movie yang tujuannya hanya satu, menghibur penontonnya dengan sugguhan aksi gila-gilaan tanpa harus memikirkan kedangkalan plotnya. Tapi masalahnya apakah film diedarkan oleh Summit Entertainment ini cukup ‘gila’ untuk membuat penontonnya betah duduk manis dan tidak menguap sepanjang kurang lebih 100 menit di kursi mereka? Jawabannya, Tidak buat saya.

Ya, Drive Angry bisa saya bilang adalah sebuah film aksi gagal yang serba ‘nanggung’ di semua sisi. Tidak hanya pada bagian plot ataupun akting yang notabene memang sudah tertebak tidak menawarkan sesuatu yang istimewa, namun juga pada bagian terpenting, bagian aksi, bagian yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk membuat penontonnya melupakan segala kekurangan di sisi lainnya ternyata juga digarap terlalu biasa, tidak ada yang spektakuler dan bisa dibilang cukup membosankan untuk sebuah action movie seambisius ini. Lihat saja adegan-adegan kejar-kejaran mobil, ah, basi, sudah sering kita saksikan di film-film serupa, bahkan dalam Gone in Sixty Seconds adegan pengenjot adrenalin tersebut masih digarap jauh lebih baik ketimbang disini yang kebetulan juga sama-sama menghadirkan beberapa contoh muscle car klasik seperti Buick Riviera 1964, Dodge Charger 1969 dan Chavelle 1971. Mungkin salah satu yang masih sedikit menghibur adalah rating “R” yang dikenakan film berbudget 50 juta Dollar ini. Meskipun harus menderita sensor parah dari LSF kita, khususnya pada bagian berbau nudity dan seks vulgar, tetap saja kata-kata kasar, joke-joke garing dan adegan-adegan kekerasan mampu menjadi ‘daya pikat’ teresendiri.

Untuk kesekian kalinya penggunaan format 3D kembali tidak terlalu berefek banyak selain tentunya semakin ‘menggemukan’ kantung uang para poduser. Ya, ya, De Luca selaku produser boleh saja sesumbar mengatakan bahwa setiap adegan dalam Drive Angry benar-benar diambil oleh kamera 3D khusus, bukan hasil konversi seperti yang kebanyakan digunakan film-film lain, tapi toh pada kenyataannya hanya tulisan besar “Drive Angry” di awal-awal film yang bisa dibilang benar-benar mengeluarkan efek 3D-nya, sedangkan sisanya tidak akan terasa bedanya dengan atau tanpa kaca mata khusus.
Berbicara Drive Angry tentu saja tidak lepas dari nama besar Nicholas Cage. Yah, tentu saja aktor yang juga keponakan sutradara legendaris Francis Ford Coppola ini yang menjadi alasan utama saya, dan kebanyakan penonton lain sampai mau berbondong-bondong ke bioskop meskipun faktanya dibeberapa film terakhinya Cage bisa dibilang tampil cukup mengecewakan, serta kurang bisa mendongkrak film-film tersebut di tangga box-office. Tidak berbeda jauh, disini Cage pun berusaha keras membawakan peran sebagai seorang ayah sekaligus ‘buronan’, sayang lagi-lagi hanya sebuah penampilan pas-pasanya yang akan dengan mudah dilupakan penontonnya. Tidak lengkap rasanya jika jagoan kita tidak ditemani seorang perempuan cantik, dan Amber Heart yang kemudian dipercaya untuk berdampingan, menjadi side-kick Cage dengan segala kecantikan dan keseksiannya plus mulut kotornya. Sayang artis yang baru-baru ini mengaku sebagai seorang lesbian ini juga tidak lebih dari sekedar pemanis belaka. Nah, jika ada nama yang cukup menarik perhatian penontonnya mungkin William Fichtner orangnya. Berperan sebagai “The Accountant”, aktor spesialis peran pembantu ini memang sedikit banyak memberikan penampilan paling menarik danmenghibur di sepanjang film. Di balik penampilan parlente dengan rambut yang terisisir rapi jelas membuat penontonnya tidak pernah menyangka bahwa ia adalah setan penjaga neraka di awal-awal film.

Drive Angry seperti berusaha keras untuk menjadi sebuah film aksi tanpa otak gila-gilaan yang sayangnya tidak berjalan dengan baik. Patrick Lussier seakan-akan tidak rela jika filmnya terlihat terlalu ‘murahan’ namun disisi lain ia juga tidak ingin menjadikannya terlalu serius, nah kegalauan inilah yang malah membuat Drive Angry menjadi sebuah film aksi ‘banci’ yang terkesan masih ‘malu-malu’ menunjukan kegilaannya

5,8/10

visit my blog
Reply With Quote