View Single Post
Old 17th June 2011, 22:41
#4550  
Hafilova
Mania Member
Hafilova is offline

Hafilova's Avatar

Join Date: May 2009
Posts: 1,481
Hafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/diva

Default

Sucker Punch (2011)


Sweet Pea: " and how to laugh at lies? Who decides why we live and what we'll die to defend? Who chains us... and who holds the key that can set us free? It's you. You have all the weapons you need. Now fight! "


Sejak kemuculan traillernya tahun lalu Zack Snyder bersama Sucker Punch-nya sudah berhasil membuat saya dan mungkin jutaan pasang mata moviegoers lain tercengang melihat bagaimana spektakulernya adegan-adegan aksi dalam cuplikan bakal film action fantasy yang disebutnya sebagai 'Alice in Wonderland dengan senjata mesin itu'. Tentu saja harusnya saya tahu bahwa trailler itu adalah 'racun' yang berefek samping melambungnya ekpektasi saya secara berlebihan, membayangkan bagaimana akan dahsyatnya versi penuhnya nanti jika traillernya saja sudah seperti itu. Lihat saja, lima gadis muda cantik, tangguh nan seksi dengan persenjataan lengkap memporak porandakan ratusan tetara zombie Nazi, menghindari semburan api dari naga raskasa, melakukan penyergapan di sebuah kereta api penuh dengan robot-robot cybernetic masa depan, menghindari muntahan peluru dari gatling gun para samurai iblis, dan semua itu seperti biasa dipoles dengan balutan spesial efek mengkilat ala Synder, wow! Sutradara macam apa yang bisa menggabungkan segala imanjinasi liar tersebut dalam satu film? Tentu saja itu semua bayangan saya sebelum menonton versi utuhnya, sayang pada kenyataannya apa yang kemudian tersaji membuat saya kemudian terbanting keras kembali ke bumi serta mendapati sebuah fakta bahwa Snyder hanyalah manusia biasa dan Sucker Punch adalah 'dosa' pertamanya.

Berbicara soal menghadirkan film-film aksi keren berkualitas tidak bisa dipungkiri Snyder memang jagonya, lihat saja track record mulusnya itu dari debutnya Dawn of The Dead, 300 sampai karya terkahirnya, Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole 2010 lalu, semuanya tergolong memuaskan termasuk dari segi pendapatan box-office nya. Nah, masalahnya Sucker Punch ini menjadi kasus yang spesial karena untuk pertama kalinya Snyder menulis sendiri ceritanya tanpa campur tangan George Romero, Frank Miller, Alan Moore dan Kathryn Lasky, hanya dibantu seorang Steve Shibuya , sayangnya usahanya kali ini malah membuktikan bahwa Synder untuk sementara masih belum berbakat dalam urusan storytelling.

Kisahnya sendiri sebenarnya cukup menarik, walaupun tidak menawarkan sesuatu yang orisinil. Seperti melihat versi 'kelas dua' dari naskah Inception milik Nolan yang rumit itu, termasuk didalamnya meyuguhkan beberapa lapis dunia imajinasi. Semuanya bermula ketika Snyder memperkenalkan kita pada Babydoll (Emily Browning), seorang gadis muda malang yang baru saja kehilangan ibu dan adik kandungnya. Tidak hanya itu Ia kemudian dikurung ayah tirinya di sebuah institusi mental, Lennox House. Di tempat itu ia bertemu dan mengajak pasien lain seperti Amber (Jamie Chung), Blondie (Vanessa Hudgens), serta kakak beradik Rocket (Jena Malone) dan Sweet Pea (Abbie Cornish) untuk kabur dari rumah sakit jiwa yang dikuasai oleh Dr. Vera Gorski (Carla Gugino) dan salah satu perawatnya, Blue Jones (Oscar Isaac) sebelum semuanya terlambat.

Ok, kisah Sucker Punch memang terlihat seperti sebuah dongeng Alice di negeri ajaib dengan sentuhan klasik-modern, sayang seperti yang sudah saya singgung diatas Snyder sepertinya mementingkan bagaiaman filmnya ini terlihat cantik ketimbang memikirkan substansinya. Ia tidak mau terlalu ambil pusing dengan segala tetek bengek proses perkembangan cerita, termasuk bagaimana dan mengapa semua terjadi, atau mengekslporasi lebih dalam masing-masing karakternya yang semestinya berpotensi menjadi bagian yang menarik. Ya, terlalu banyak lubang sana-sini disepanjang kurang lebih 2 jam, semuanya seperti disajikan mentah-mentah kepada penontonnya, lalu dengan 'seenaknya' dan seabsurdnya Synder berulang-ulang mengajak kita melompat lompat antara dunia nyata dan dunia fantasi jelmaan imajinasi Babydoll dengan cara yang tidak elegan (mengganti tarian dengan imanjinasi berisi petualangan liar), termasuk dengan menurunkan rating film ini dari 'R' menjadi 'PG-13' yang secara tidak langsung sudah menjadikan kisah Sucker Punch bak sebuah dongeng anak-anak yang manis.

Mari kita tinggalkan dulu naskahnya yang buruk itu, masuk ke bagian paling menyenangkan di film ini yaitu tidak lain dan tidak bukan rangkaian adegan aksinya yang ironisnya semuanya tidak nyata melainkan hanyalah bagian dari khayalan tak terbatas Babydoll dalam usahanya untuk menemukan kepercayaan dirinya dan gambaran absurd dari usaha kelima gadis itu merencakan pelarian mereka. Tentu saja anda harus mau menutup sebelah mata untuk dapat menikmati bagian satu ini yang banyak diisi oleh adegan aksi tanpa otak. Tidak tanggung-tanggung. seperti biasa Synder menyajikannya dengan megah, indah, overdramatis dengan limpahan spesial efeknya yang tidak hanya spektakuler dilihat namun juga dahsyat terdengar, termasuk pengeksploitasian habis-habisan pengunaan bluescreen effect untuk menciptakan latar belakang rangkaian dunia fantasi liar tanpa batas. Saya juga menyukai bagaimana setiap soundtracknya mampu melebur dengan manis dalam setiap adegannya. menjadikan Sucker Punch terlihat bak sebuah video klip musik panjang, lihat saja bagaiamana iring-iringan "Sweet Dreams (Are Made of This)" yang dibawakan oleh Browning mengalawi prolog film ini, atau "Army of Me" dari Bjork dengan irama techno menghentak itu bekerja begitu baik menemani adegan pertarurangan antara Babydoll dengan para samurai iblis setinggi 12 kaki itu, atau bagaimana Synder menggambarkan masing-masing karakter utamanya dengan penampilan ala jagoan-jagoan perempuan di video game Jepang yang keren dan tidak biasa itu. Sayang karena benturan ratingnya yang 'bersahabat', kita tidak bisa menyaksikan semburan darah segar yang bisanya kerap kali menghiasi film-film Synder sebelumnya.

Sucker Punch adalah proses bagaimana seorang Zack Synder mencoba melangkah lebih jauh dengan menghadirkan sendiri dongeng buatannya. Ya, memang ceritanya tidak sebagus momen aksinya yang spektakuler, namun bagaimanapun harus saya akui Synder sudah berani menghadirkan sugguhan aksi fantasi tidak biasa, yang sekarang dibutuhkannya hanyalah belajar menulis naskah yang lebih baik, kalau perlu bergurulah pada Christopher Nolan.

6,7/10

visit my blog
Reply With Quote