View Single Post
Old 3rd July 2011, 12:09
#4701  
Hafilova
Mania Member
Hafilova is offline

Hafilova's Avatar

Join Date: May 2009
Posts: 1,481
Hafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/divaHafilova is a divo/diva

Default




Boy: ” Nama gue Boy, ini catatan gue…”

epertinya ada satu lagi film Indonesia yang sanggup menarik perhatian saya selain ‘ ? ‘ (Tanda Tanya) Hanung yang kontroversial itu. Ya, pertama-tama ketertarikan saya menonton film produksi Tuta Media dan Masima ini berangkat dari banyaknya ulasan-ulasan positif yang hadir di time line saya di salah satu jejaring sosial dunia maya. Tentu saja dengan respon dan hype sebesar itu kemudian mengelitik rasa penasaran saya untuk melihat dengan mata kepala sendiri apakah debut karya Putrama Tuta itu benar-benar sedahsyat yang di bicarakan, atau hanya sekedar euforia sesaat tanpa dasar. Dan akhirnya semua itu terjawab juga, dan walaupun CHSB jelas bukanlah film Indonesia terbaik yang pernah saya tonton tapi harus saya akui bahwa seorang Putrama Tuta sudah dengan cerdas membangkitakan kembali franchise populer yang sudah berusia 2 dekade itu.

Jika anda termasuk manusia yang terlahir pada era 80an anda seharusnya malu jika tidak kenal dengan sosok rekaan Nasri Cheppy ini. Yap, Raden Ario Purbo Joyodiningrat atau ia biasa dipanggil teman-temannya dengan nama beken Boy bisa jadi adalah salah satu ikon perfilman indonesia yang namanya selegendaris Naga Bonar atau Dono, Kasino, Indro dan juga jangan lupakan Emon. 5 seri sudah lahir berkat pesona pria tampan, cerdas, kaya, punya teman segudang, baik budi, tidak sombong dan rajin solat ini, sebuah cerminan anak muda sempurna, sesempurna Onky Alexander yang memerankannya. Dengan kepopuleran sebesar itu, belum lagi lamanya franchise satu ini tertidur tentu saja dibutuhkan usaha luar bisa pula untuk dapat menghadirkannya lagi pada era millenium ini, yang lebih penting tidak hanya untuk dapat mengaet minat para veteran Catatan Si Boy semata namun juga minat anda, para penonton muda untuk berkenalan dengan Boy.

Putrama Tuta boleh saja berkoar-koar bahwa CHSB ini adalah regenerasi, bukan sebuah sekuel apalagi remake. Memang tidak bisa disangkal ini adalah sebuah pembaharuan, mengusung semangat lama oleh generasi baru, tapi tetap saja buat saya CHSB secara tidak langsung sudah menjadi ‘Catatan Si Boy 6′ dan tetap menjadi sebuah ‘remake halus’ kenapa? Pertama-tama karena suka tidak suka dengan memasukan benang merah seperti buku catatan milik Boim- seperti itu Boy di panggil oleh adik perempuannya- dan menghadirkan kembali muka-muka lama seperti Didi Petet, Btari Karlinda (yang masih tetap cantik) dan tentu saja sang legenda, Onky Alexander. Dan saya menyebutnya sebagai versi daur ulang halus karena coba saja lihat peran-peran yang dibawakan para aktor dan aktris utamanya, jika anda jeli mereka sebenarnya mewakili karakter lawas dengan wajah dan nama baru, seperti yang paling jelas tentu terlihat pada karakter utama kita, Satrio yang didapuk untuk menggantikan Boy. Satrio jelas tampan, lihat saja bagaimana kaum hawa dengan mudah terpesona olehnya, Ia cerdas, lihat saja bagaimana ia meladeni Nico (Paul Foster) dengan bahasa inggris yang lugas, Satrio juga (sebenarnya) kaya, rajin sholat, baik hati dan tidak lupa jagoan. Mau bukti lain? Disini juga ada karakter pria kemayu (baca: banci), Herry (Albert Halim) sebagai subsitusi karakter Emon, ada Andi (Abimana), sahabat Satrio yang mengingatkan saya pada karakter yang dibawakan Dede Yusuf dulu, dan tidak ketinggalan kehadiran perempuan cantik blasteran dalam sosok Natasha (Carissa Puteri) seperti yang pernah dibawakan Meriam Bellina, termasuk menghadirkan cinta segitiga antara Satrio, Natasha dan Nina (Poppy Sovia) yang membawa saya kembali disaat Boy dijadikan rebutan oleh karakter Vera dan Ocha. Ah, sudahlah, terserah anda mau meyebut CHSB ini sebuah regenerasi, sekuel ke 5 atau remake itu tidak menjadi masalah besar karena pada akhirnya bagaimana kolaborasi Putrama Tuta sebagai sutradara dan Ilya Sigma dan Priesnanda Dwisatria sebagai penulis naskah lah yang menjadi perhatian saya.

Jujur saja tidak ada yang spesial pada plotnya, standar dan mudah ditebak bagaimana ia akan berakhir, coba buang saja nama besar ‘Boy’ pada judulnya, ia hanya menjadi sebuah kisah tentang seorang pemuda bernama Satrio dan teman-temannya yang berusaha membantu seorang wanita cantik untuk mempertemukan ibunya dengan bekas kekasih hatinya, plus kehadiran tema cinta segi tiga yang basi. Tapi tentu saja itu bukan skenario yang digunakan Tuta disini, ia memanfaatkan kesakralan nama Boy yang jelas membuat CHSB menjadi sebuah tontonan istimewa, terutama buat mereka para veteran Catatan Si Boy untuk kembali bernostalgia dengan film favorit mereka itu, dan menariknya disini CHSB tetap juga bisa menjadi sajian menarik buat penonton mudanya yang mungkin tidak sempat mencicipi kejayaan Catatan Si Boy dulu dengan kemasan yang lebih modern dan lebih fresh. Nah, meskipun ceritanya sendiri klise, namun berkat kelihaian Ilya Sigma dan Priesnanda Dwisatria mengodong dialog-dialog asik didalamnya termasuk pemilihan guyonan-guyonan yang menghibur sudah secara tidak langsung menambah poin plus dari CHSB. Saya juga menyukai bagaimana Tuta mengeksekusi dan mengalirkan dengan lancar setiap momen didalamnya, dari start sampai finish semua berjalan cukup mulus, apalagi untuk seorang sutradara debutan, Tuta jelas sama sekali tidak mengecewakan.

CHSB juga menghadirkan sebuah ensemble cast hebat, lihat saja bagaimana chemistry pershabatan dan kebersamaan yang kuat dihadirkan oleh Satrio, Andi, Herry dan Nina. Nyaris semua aktor dan aktrisnya bermain baik, Ario Bayu tampil ‘aman’ sebagai Satrio. Poppy Sovia seperti biasa tampil luar biasa, apalagi disni gadis ayu ini dipermak seseksi dan sefunky mungkin sebagai bos Satrio bahkan ia sanggup menandingi pesona seorang Carissa Puteri yang sayangnya malah tampil biasa-biasa saja. Albert Halim yang didapuk sebagai ‘The New Emon’ juga tidak mengecewakan walaupun dibeberapa adegan ia sedikit terlihat overacting. Mungkin Abimana lah yang sukses menajadi scene stealer di sini, bagaimana tidak, karakter Andy, dengan imej ”playboy cap kadal’ plus celetukan-celetukan ‘maut’ nya sudah sukses menjadi bagian paling menghibur.

So, Catatan Harian Si Boy buat saya mungkin sedikit overhype, tapi jelas ini bukan film yang jelek, sama sekali bukan dan bisa jadi salah satu yang terbaik di 2011 sejauh ini terlepas dari beberapa kekurangan minor didalamnya. Di bawah komando Putrama Tuta, CHSB sudah sukses menjadi sebuah hiburan lintas generasi yang menyenangkan plus kehadiran jajaran pemainnya yang bermain baik. Sebuah ‘start’ yang hebat dari sutradara muda berbakat, sebuah pondasi yang kuat dan siap untuk kapapun jika Catatan Harian Si Boy dibuat sekuelnya kelak.

7,5/10

visit my blog
Reply With Quote