View Single Post
Old 14th November 2017, 14:45
#1  
cumilari
Addict Member
cumilari is offline

Join Date: Aug 2015
Posts: 194
cumilari is a celebrity wannabe

Default KH. Agus Salim, Pahlawan bertubuh Kecil Yang Punya Karakter Nyentrik!



Kalo kalian punya daya ingat yang bagus tentang mata pelajaan Sejarah, kalian pasti kenal dong sama tokoh pahlawan ini? Beliau adalah seorang pria berdarah Minang yang dijuluki Orang Tua Besar (The Grand Old Man). Yap, betul! Beliau adalah KH. Agus Salim, tokoh yang punya peran dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Beliau turut menjadi anggota dari BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang bertugas mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia dan menyusun segala macam rancangan yang dibutuhkan.
Ternyata di balik semua perannya dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia, beliau punya beberapa karakter yang bisa dibilang nyentrik dan bisa dicontoh oleh para pemuda dan pemudi generasi masa kini. Mau tau apa aja karakter KH. Agus Salim yang nyentrik? Berikut ulasannya:

1. Ulama Panutan Para Santri

Buat yang belum tau nih gue kasih tau. KH. Agus Salim ini selain seorang yang aktif dalam urusan kenegaraan, beliau juga seorang pendakwah. Cara berdakwah beliau bisa dibilang sedikit berbeda dengan pendakwah lain, karena beliau selalu berdakwah dengan pola pikir yang rasional. Misalnya, KH. Agus Salim pernah berpendapat bahwa wine boleh diminum asal gak bikin mabuk.

Tapi, walaupun sikapnya cenderung nyeleneh dan bertentangan dengan banyak ulama, pemikirannya tersebut gak bikin dia dicap beraliran liberal. Malah, beberapa tokoh islam seperti Nurcholis Madjid dan Ahmad Syafii Ma’arif memberikan pujian terhadap pemikiran KH. Agus Salim tersebut.

2. Ikhlas, walaupun jadi pemimpin tapi mau hidup miskin

Kalo mau diitung-itung nih, rasanya pemimpin yang mau hidup susah itu cuma sedikit. Nah, KH. Agus Salim ini adalah salah satu dari pemimpin yang hidupnya miskin. Sebenernya beliau bisa aja hidup kaya kalo beliau mau nerusin profesinya sebagai seorang konsulat Belanda di Arab Saudi. Saat awal abad ke-20 gaji beliau sudah terbilang cukup besar untuk ukuran orang Melayu, yaitu 200 gulden per bulan. Dimana biaya hidup layak dengan satu istri dan dua tiga anak cuma butuh biaya 15 gulden per bulan. Udah lebih dari cukup kan gaji 200 gulden? Tapi, pada kenyataannya KH. Agus Salim malah memilih berhenti dari pekerjaannya dan menjadi aktivis Sarekat Islam (SI).

Saat menjadi aktivis SI, beliau menjabat sebagai pemimpin redaksi “Hindia Baroe”, perusahaan media cetak yang dimiliki oleh beberapa pengusaha Belanda. Di media ini beliau sering mengkritik pemerintah kolonial yang gak pro-rakyat. Sempat ditegur oleh pemilik perusahaan supaya gak terlalu keras mengkritik pemerintah, tapi beliau malah menjawabnya dengan pengunduran diri. Saking pengen hidup bebas dan idealis, beliau sampe gak punya penghasilan tetap. Akibatnya beliau sering berpindah-pindah rumah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

3. Mendidik Anak Tanpa Pendidikan Formal

Karakter yang satu ini kayaknya susah deh ditemuin. Kalo tokoh-tokoh lain sibuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang paling tinggi, bahkan sampe mancanegara. Pada awal abad ke-20, hampir semua tokoh-tokoh bangsa menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang yang paling tinggi. Malah banyak pula yang menyekolahkan anaknya hingga ke mancanegara. Tapi, KH. Agus Salim memilih mengajarkan anak-anaknya dengan pendidikan non formal, yaitu dengan memberikan pendidikan langsung di rumah bersama istrinya, Zainatun Nahar.

Biasanya pelajaran berlangsung sambil bermain atau saat sedang makan malam. Keduanya sering menyanyikan lagu-lagu yang liriknya diambil dari karya sastrawan dunia. Selain itu, KH. Agus Salim juga punya selera humor yang baik. Jadi, pelajaran yang disampaikan gak kerasa ngebosenin. Dari kecil, anak-anak beliau udah dibiasakan berbicara dengan menggunakan Bahasa Belanda. Hal ini dimaksudkan untuk melatih kemampuan berbahasa mereka.

4. Menguasai Banyak Bahasa Asing

Bukan cuma Bahasa Melayu dan Bahasa Minang yang beliau kuasai, tapi ada Sembilan Bahasa asing lainnya, yaitu Bahasa Belanda, Arab, Inggris, Jepang, Prancis, Jerman, Mandarin, Latin, jepang dan Turki. Beliau juga menguasai beberapa Bahasa daerah, seperti Bahasa Jawad an Sunda.

Karena itulah KH. Agus Salim sering diberi tugas ke luar negeri dalam berbagai perundingan untuk mewakili Indonesia. Salah satunya adalah saat memimpin delegasi Indonesia ke Timur Tengah untuk memperoleh pengakuan kedaulatan dari Mesir. Hasilnya, Mesir jadi negara pertama yang mendukung Kemerdekaan negara Indonesia.

5. Guru yang tidak menggurui

Banyak aktivis muslim pra-kemerdekaan yang berpendapat bahwa KH. Agus Salim merupakan seorang mentor atau guru yang sangat menyenangkan. Bukan cuma ramah dan welcome, beliau juga merupakan tipikal guru yang membimbing. Saat berdiskusi, beliau selalu menyerahkan kesimpulannya kepada masing-masing lawan bicara.

KH. Agus Salim kurang setuju dengan sikap guru yang menggurui. Beliau bahkan sampai pernah meminta Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari untuk mendidik santri supaya gak sampe mendewakan guru.

Itu dia 5 karakter nyentrik dari KH. Agus Salim yang bisa kita contoh gan untuk jadi pribadi yang baik. Kira-kira ada yang mau nambahin lagi gak nih? Kalo ada langsung komen aja deh.

Reply With Quote