View Single Post
Old 9th April 2019, 20:22
#59  
ripertiwi1609
Registered Member
ripertiwi1609 is offline

Join Date: Apr 2019
Posts: 1
ripertiwi1609 is a new comer

Default Essay Manajemen Resiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja Lingkungan Proyek

Proyek konstruksi merupakan suatu bidang yang dinamis dan mengandung risiko ditinjau dari sisi waktu. Setiap kegiatan usaha jasa konstruksi akan selalu muncul risiko menderita kerugian. Risiko yang terjadi pada proyek dapat berpengaruh buruk pada sasaran proyek yaitu jadwal, biaya/anggaran dan mutu, serta sekaligus merupakan kendala dalam pelaksanaan proyek. Kesuksesan proyek konstruksi sangat tergantung dari kemampuan manajer proyek dalam mengelola risiko yang terjadi. Manajemen risiko meliputi langkah-langkah yang terkait usaha pelaksanaan perencanaan manajemen risiko, identifikasi, tanggapan, dan monitoring serta pengawasan pada suatu proyek. Semua proses/langkah-langkah tersebut harus selalu diperbaharui (update) selama siklus proyek. Melalui manajemen risiko kemungkinan terjadi risiko pada proyek konstruksi dapat diperkecil bahkan dihindari.
Risiko sendiri adalah peritiwa yang tidak diharapkan namun terjadi secara alami dan merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh pengusaha jasa konstruksi sebagai bisnis yang beresiko tinggi. Risiko dapat dikatakan merupakan akibat yang mungkin terjadi secara tak terduga. Walaupun suatu kegiatan telah direncanakan sebaik mungkin, namun tetap mengandung ketidakpastian. Risiko pada proyek konstruksi bagaimanapun tidak dapat dihilangkan tetapi dapat dikurangi atau ditransfer dari satu pihak kepihak lainnya (Kangari, 1995). Bila risiko terjadi akan berdampak pada pada terganggunya kinerja proyek secara keseluruhan sehingga dapat menimbulkan kerugian terhadap biaya, waktu dan kualitas pekerjaan. Risiko dapat menyebabkan pertambahan biaya dan keterlambatan jadwal penyelesaian proyek.
Menurut McIntyre, Gentges & Cranley (2013) kesuksesan proyek konstruksi sangat tergantung dari kemampuan manajer proyek dalam menge-lola risiko yang terjadi. Tidak sedikit usaha jasa konstruksi yang mengalami kegagalan maupun kerugian. Kegagalan atau kerugian dalam jasa konstruksi sebagian besar di-sebabkan oleh ketidak tepatan dalam me-ngambil keputusan dalam menangani risiko. Idealnya keputusan diambil berdasarkan data dan informasi yang lengkap, sehingga dapat diharapkan tingkat keberhasilan yang tinggi. Namun kenyataannya dalam dunia usaha jasa konstruksi sebagian besar keputusan harus diambil dengan cepat dan tanpa data serta informasi yang lengkap. Hal ini menimbulkan ketidakpastian yang identik dengan risiko atas keputusannya.
Manajemen risiko merupakan Pendekatan yang dilakukan terhadap risiko yaitu dengan memahami, mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko suatu proyek. Manajemen risiko adalah semua rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan risiko yaitu perencanaan (planning), penilaian (assessment), penanganan (handling) dan pemantauan (monitoring) risiko (Kerzner, 2001). Tujuan dari manajemen risiko adalah untuk mengenali risiko dalam sebuah proyek dan mengembangkan strategi untuk mengurangi atau bahkan menghindarinya, dilain sisi juga harus dicari cara untuk memaksimalkan peluang yang ada (Wideman, 1992).
Guna menghindari risiko-risiko yang dapat terjadi seorang proyek manager harus mampu melakukan pengelolaan risiko-risiko sehingga tidak berakibat fatal pada pencapaian sasaran proyek (Serpella, Ferrada, Howard, and Rubio, 2014). Hal ini berarti semakin baik pengelolaan risiko, maka semakin kecil risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan jasa konstruksi. Risiko yang terjadi pada proyek dapat berpengaruh buruk pada sasaran proyek yaitu jadwal, biaya/anggar-an dan mutu, serta sekaligus merupakan kendala dalam pelaksanaan proyek. Risiko proyek yang terkait dengan anggaran sering mengakibatkan terjadinya pembengkakan anggaran, sehingga mengakibatkan kerugian bagi kontraktor. Sedangkan risiko proyek yang terkait dengan jadwal, mengakibatkan keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi, tentu ini berakibat kerugian bagi kontraktor maupun pemilik proyek. Pada sisi lain risiko proyek yang terkait dengan mutu sering mengkibatkan kegagalan konstruksi, yang berakibat pada kerugian bagi kontraktor.
Risiko-risiko pada proyek konstruksi dapat menimpa semua pihak yang terkait (Flanagan, 2012). Pemilik proyek (owner) bisa tertimpa risiko terkait investasi/keuangan, kontraktor bisa tertimpa risiko-risiko pelaksanaan konstruksi, pemasok bisa tertimpa risiko material/komponen yang dipasok, dan bank penyandang dana bisa tertimpa risiko kredit macet. Guna meminimalisasi konsekuensi buruk yang mungkin muncul, risiko harus didefinisikan dalam bentuk suatu rencana atau prosedur yang reaktif. Melakukan tindakan penanganan yang dilakukan terhadap risiko yang mungkin terjadi (respon risiko) dengan cara; menahan risiko (risk retention), mengurangi risiko (risk reduction), mengalihkan risiko (risk transfer), menghindari risiko (risk avoidance).
Cara pertama yang dapat dilakukan yaitu menahan risiko (Risk retention) yang merupakan bentuk penanganan risiko yang mana akan ditahan atau diambil sendiri oleh suatu pihak. Apabila cara pertama dirasa kurang efektif, cara selanjutnya dapat dilakukan yaitu pengurangan risiko (Risk reduction) berupa tindakan seperti memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para tenaga kerja, perlindungan terhadap kemungkinan kehilangan maupun berupa perlindungan terhadap manusia dan properti. Cara lain yang juga dapat dilakukan adalah mengalihkan risiko (Risk transfer) pengalihan ini dilakukan untuk memindahkan risiko kepada pihak lain. Selain cara-cara yang telah disebutkan diatas, adapun cara lain yang dapat dilakukan adalah menghindari risiko (Risk avoidance) menghindari risiko sama dengan menolak untuk menerima risiko.
Perencanaan risiko merupakan langkah awal terpemting dari aktivitas manajemen risiko. Pe-rencanaan yang hati-hati dan dilakukan secara eksplisit akan mampu meningkatkan keberhasilan terhadap proses lainnya dalam manajemen risiko (Anderson, 2009). Perencanan risiko sangat penting untuk memastikan bahwa tingkat, jenis dan visibilitas manajemen risiko adalah sama pen-tingnya dengan organisasi proyek. Hal ini dilakukan guna menyediakan sumber daya dan waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan manajemen risiko, dan menetapkan dasar persetujuan untuk mengevaluasi risiko. Perencanaan risiko harus sudah dibuat lengkap pada awal tahap perencanaan proyek konstruksi. Tahap perencanaan risiko akan menghasilkan output berupa dokumen rencana risiko yang menjelaskan tentang bagaimana manajemen risiko disusun dan dilaksanakan dalam proyek konstruksi.
Reply With Quote