View Single Post
Old 9th October 2018, 13:14
#24  
im.nayeon.747
Banned
im.nayeon.747 is offline

Join Date: May 2018
Location: TWICE
Posts: 751
im.nayeon.747 is a legendim.nayeon.747 is a legendim.nayeon.747 is a legendim.nayeon.747 is a legendim.nayeon.747 is a legendim.nayeon.747 is a legendim.nayeon.747 is a legendim.nayeon.747 is a legendim.nayeon.747 is a legendim.nayeon.747 is a legend

Default

Quote:
Originally Posted by kumalraj View Post
Benarkah? Kalau di mata Gereja Katolik?

Apakah wanita bisa ikut memilih Paus?

Kalau suatu negara tidak memperbolehkan wanita untuk ikut memilih, apakah itu bukan jadi warga kelas dua? Kalau tidak bisa jadi pastur berarti juga tidak bisa naik ke level yang lebih tinggi. Tidak akan bisa ikut milih pemimpin tertinggi Gereja. Jadi dalam organisasi Gereja, itu umat kelas dua.
Kalau menurut Gereja Katolik wanita adalah warga kelas dua dan tidak setara dengan lelaki, maka seharusnya tidak ada tulisan ini dalam Katekismus.

Quote:
http://www.ekaristi.org/kat/index.php?q=369%20-%20373

369
Pria dan wanita diciptakan, artinya, dikehendaki Allah dalam persamaan yang sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan kewanitaannya. "Kepriaan" dan "kewanitaan" adalah sesuatu yang baik dan dikehendaki Allah: keduanya, pria dan wanita, memiliki martabat yang tidak dapat hilang, yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah, Penciptanya (Kej 2:7.22). Keduanya, pria dan wanita, bermartabat sama "menurut citra Allah". Dalam kepriaan dan kewanitaannya mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Pencipta.
Dan, sekali lagi, menjadi Imam, Uskup, dan Paus itu PANGGILAN. Bukan PILIHAN. Karena sebenarnya semua manusia tidak berhak untuk itu.
Reply With Quote