View Single Post
Old 17th February 2019, 17:33
#7  
tom.hardi
Addict Member
tom.hardi is offline

Join Date: Nov 2016
Posts: 460
tom.hardi is a new comer

Default

Bagaimana tren utang atau liabilitas masing-masing BUMN konstruksi?

Empat BUMN konstruksi yang dipantau S&P Global itu yakni PT Pembangunan Perumahan Tbk. (PTPP), PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA), PT Adhi Karya Tbk. (ADHI), dan PT Waskita Karya Tbk. (WSKT).

Pada 2017, Adhi Karya mencetak pendapatan sebesar Rp15,15 triliun. Angka itu naik 55 persen dari 2013 sebesar Rp9,79 triliun. Pendapatan Adhi Karya sempat kendor pada 2014, tapi konsisten mencetak kenaikan pada tahun-tahun berikutnya.

Dalam 5 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan tahunan Adhi Karya mencapai 13 persen. Pada pos laba bersih komprehensif, Adhi Karya meraup Rp517 miliar sepanjang 2017, naik 26 persen dari 2013 sebesar Rp410 miliar. Meski pertumbuhan laba bersih Adhi Karya bergerak fluktuatif, rata-rata kenaikan tahunan laba bersih Adhi Karya mencapai 13 persen. Dengan kata lain, pergerakan pendapatan dan laba bersih perseroan memiliki pola yang sama.

Sayangnya, tren pertumbuhan utang Adhi Karya memiliki pola yang berbeda ketimbang pendapatan dan laba bersih. Utang Adhi Karya secara konsisten naik setiap tahunnya. Pada 2017, utang perseroan tercatat Rp53,91 triliun, naik 670 persen dari 2013 sebesar Rp6,74 triliun.

Dalam 5 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan utang tahunan Adhi Karya sebesar 30 persen. Besarnya utang membuat rasio utang terhadap EBITDA membesar. Pada 2017, rasio utang terhadap EBITDA Adhi Karya mencapai 5,22 kali, padahal pada 2013 hanya 2,13 kali.

“Keuangan kami masih sangat aman, dan akan lebih baik lagi ke depannya. Utang berbunga terhadap ekuitas kami juga masih rendah di 1,1 kali. Jauh di bawah covenant 2,75 kali,” kata Ki Syahgolang Permata, Sekretaris Perusahaan Adhi Karya kepada Tirto.

Pada BUMN Wijaya Karya, utang perseroan tercatat Rp31,05 triliun pada 2017, atau naik 232 persen dari posisi utang pada 2013 senilai Rp9,36 triliun. Dalam 5 tahun terakhir itu, rata-rata utang tahunan Wijaya Karya sebesar 36 persen.

Kenaikan utang pada Wijaya Karya juga tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan dan laba bersih. Pada 2017, Wijaya Karya merealisasikan pendapatan sebesar Rp26,17 triliun, atau naik 120 persen dari 2013 sebesar Rp11,88 triliun.

Dalam 5 tahun terakhir tersebut, rata-rata pertumbuhan pendapatan tahunan Wijaya Karya sebesar 24 persen, lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan utang. Pola yang sama juga terjadi di laba bersih komprehensif.

Wijaya Karya meraup laba bersih sebesar Rp1,35 triliun sepanjang 2017. Angka ini naik 116 persen dari laba bersih 2013 senilai Rp624,37 miliar. Adapun, rata-rata pertumbuhan laba bersih tahunan Wijaya Karya sebesar 25 persen.

Pertumbuhan utang yang lebih cepat membuat tekanan terhadap neraca keuangan semakin besar. Ini juga terlihat dari debt to EBITDA ratio perseroan yang tercatat 3,26 kali pada 2017, pada 2013 masih 0,89 kali.

BUMN konstruksi lain seperti Waskita Karya, pada 2017, perseroan membukukan utang senilai Rp75,14 triliun. Angka itu naik 1.064 persen dari utang 2013 sebesar Rp6,45 triliun. Rata-rata pertumbuhan tahunan utang Waskita sebesar 87 persen.


https://tirto.id/utang-menggunung-bu...u-bencana-cJxN
Reply With Quote