View Single Post
Old 9th February 2009, 10:27
#14  
nando_gnd
Addict Member
nando_gnd is offline

nando_gnd's Avatar

Join Date: Jun 2008
Posts: 589
nando_gnd is a loser in training

Default

Analisa Tan Malaka terbukti benar. Dilhat dari kacamatanya, tokoh-tokoh PKI yang mencetuskan pemberontakan itu tampak berfikir atau mengikuti ideologi secara dogmatis dan oleh karena itu nekad. Sikap bebas yang diperlihatkan Tan Malaka, baik dalam tingkah laku politik mau pun pemikirannya merupakan sumber penting dalam perselisihannya dengan kaum komunis di belakang hari, apalagi kalau mereka dianggapnya terlalu dogmatis terhadap ideologi.

Sebagaimana diketahui kemudian, Tan Malaka berpisah dengan orang-orang komunis, karenanya kaum komunis memperlihatkan sikap tak senangnya terhadap Tan Malaka dengan berbagai macam cara antara lain dengan jalan menuduh Tan Malaka sebagai beraliran atau menjadi pengikut Trotsky,seorang tokoh yang dibenci dalam dunia komunis, karena dianggap
menyeleweng. Bahkan Tan Malaka kemudian dituduh penghianat yang menyebabkan gagalnya pemberontakan 1926/1927.

Orang yang amat menghargai kebebasan berfikir seperti Tan Malaka tak mungkin mampu menyesuaikan diri dengan organisasi yang dikendalikan oleh sikap dogmatis terhadap idelogi secara ketat. Orang seperti Tan Malaka akan mampu melihat dan mengemukakan apa yang dianggapnya baik (atau buruk) di mana pun letaknya. Dalam hal ini pendangan Tan Malaka
tentang Barat merupakan contoh terbaik dari hasil kebebasan berfikirnya. Sungguh pun dia secara politik dan ekonomis menantang kapitalis dan imperialisme Barat. Namun, ia masih bisa melihat segi-segi positif dari sana dan menganjurkan agar itu diambil tanpa malu-malu.

"Akuilah dengan putih bersih," tulisnya. "Bahwa kamu (orang Indonesia) sanggup dan mesti belajar dari Barat. Tapi kamu jangan jadi peniru Barat,melainkan seorang murid dari timur yang cerdas.....Juga jangan dilupakan bahwa kamu belum seorang murid, bahkan belum ( menjadi ) seorang manusia bila kamu tak ingin merdeka dan belajar bekerja sendiri.....Seseorang yang ingin menjadi murid Barat atau manusia, hendaknya punya keinginan untuk merdeka dengan memakai senjata Barat yang orisinil..."

Pada waktu yang sama hasil pemikirannya juga mengemukakan secara berani dari segi-segi kelemahan masyarakat Indonesia yang ingin dikikisnya, terutama sikap yang sangat menghargai kebudayaan kuno yang dianggap Tan Malaka penuh berisi kesesatan, ke pasifan dan tahyul yang menyebabkan mereka bersemangat budak.

Dalam MADILOG, kebudayaan kuno yang dianggapnya menghalangi orang berpikir bebas, kritis dan dinamis ialah kebudayaan Hindu-Jawa.
Kebudayaan Hindu yang datang dari India ke Indonesia, dan terutama berpengaruh di Pulau Jawa, menurut Tan Malaka telah melahirkan mentalitas budak sebagaimana terlihat dari sisa-sisa feodalisme.

Kalau seandainya Tan Malaka membaca pemikiran-pemikiran Soekarno, seperti yang terbit antara tahun 1926 dan 1933, dia akan menemui bagaimana seorang yang sedikit banyaknya terpengaruh oleh sisa-sisa kebudayaan Hindu-Jawa berhasil melahirkan ide-ide yang berbobot dan berani. Dalam suasananya sendiri, yaitu secara pribadi membaca literatur-literatur Barat, Soekarno sebenarnya secara mental melakukan perantauan. Dia melakukan cara berfikir aktif dan dinamis, darimana lahir pula konsep-konsepnya yang orisinil dan tajam
seperti "Marhanenisme". Secara garis besarnya, cara berfikir Soekarno tidak jauh berbeda, kalaulah tidak identik, dengan Tan Malaka, di mana ciri-ciri dimanis atau dialektisme jelas terlihat sebagaimana Tan Malaka, Soekarno secara kritis mempelajari pemikiran-pemikiran Barat, terutama yang berasal dari kaum sosialis, yang sering dipakainya sebagai alat buat memperjelas hasil-hasil pemikirannya sendiri.

setiap masyarakat dalam pertemuan dengan dunia dan kebudayaan luar, seperti Barat, akan terpaksa membuka dirinya buat menerima kemungkinan lahirnya orang-orang yang berani berfikir dinamis dan kritis sebagai akibat langsung dari pertemuan dua kebudayaan itu.Orang-orang inilah yang melahirkan syinthesis berupa pemikiran-pemikiran baru yang dianggapnya relevan dan oleh karena itu bisa dipakai buat suasana baru yang sedang atau akan muncul.

Kalau di Minangkabau salah seorang dari mereka itu adalah Tan Makaka, maka di Jawa salah seorang dari mereka adalah Soekarno.

I believe religion is individual property, like GENITALS.. FOR ME SECULARISM is the answers to keep the holiness and sacredness of a religion

Last edited by nando_gnd; 9th February 2009 at 10:39..
Reply With Quote