View Single Post
Old 9th February 2009, 10:53
#16  
nando_gnd
Addict Member
nando_gnd is offline

nando_gnd's Avatar

Join Date: Jun 2008
Posts: 589
nando_gnd is a loser in training

Default

Sungguhpun begitu, Tan Malaka tidak pula mungkin dapat melepaskan sama sekali dari kaitan pengaruh Marxis yang telah mengilhami revolusi Rusia. Sukses revolusi Rusia, sangat berkesan bagi Tan Malaka dan oleh sebab itu, tak mungkin terhapus begitu saja. Secara idealis dan teoritis Tan Malaka mungkin masih mengganggap dirinya seorang bolshevik yang lebih
mengerti dan mengutamakan realita bangsanya. "Marxisme", katanya, bukan kaji hafalan (dogma) melainkan suatu petunjuk untuk revolusi. Oleh karena itu, perlu bersikap kritis terhadap petunjuk itu. Sikap kritis itu antara lain sangat ditekankan pada kemampuan untuk melihat perbedaan dalam kondisi atau faktor sosial dari suatu masyarakat dibanding masyarakat-masyarakat lain. Dari situ akan diperoleh kesimpulan oleh ahli revolusi di Indonesia atau pun di negara lain (yang) tentunya berlainan sekali dengan yang diperoleh di
Rusia. Yang sama cuma cara berpikir dialektika materalistis.

Setelah sebulan PARI berdiri dia pergi ke Manila (melalui Hongkong) dan tertangkap. Sewaktu diperiksa dia ditanya apakah dia mengerti apa yang dimaksudkan dengan bolshevikisme. Ia
jawab: "Ya, Itu adalah doktrin melalui apa kelas buruh di dunia dapat mencapai emansipasi sosial dan politik dengan jalan mempersatukan diri mereka buat mengubah sistim yang berlaku sekarang dengan jalan apapun".

ditanya apakah dia mengikuti doktrin itu? .
dijawab :"Secara teoritis, ya. Terapi tujuannya tergantung pada batasan -batasan (kondisi) yang terdapat di masing-masing negeri."

Sewaktu Tan Malaka ditanya apakah ia percaya pada pemakaian kekerasan senjata untuk mencapai kemerdekaan.
Dijawab: "Saya percaya pada aksi massa untuk mencapai kemerdekaan kami dengan cara apapun, apakah fisik atau cara yang lain, politik, ekonomi
dan kalau perlu dengan kekerasan fisik dan senjata."

Pada bagian lain, Tan Malaka mencoba memisahkan dirinya dengan PKI (dengan mengaku sebagai bekas ketua Sarekat Rakyat, bukan ketua PKI) dan komintern (dengan menyangkal bahwa ia bukan agitator merah atau agen bolshevik). "Saya bukan seorang bolshevik," katanya menyangkal tuduhan.
"Kalau seseorang mencintai tanah airnya memperlihatkan memperlihatkan bolshevikisme maka panggilah saya bolshevik."

Penguasa kolonial di Philipina (Amerika Sertikat) karena bekerja sama erat sekali dengan penguasa kolonial Belanda tentu mempunyai data lengkap tentang kegiatan-kegiatan Tan Malaka di masa lalu yang isinya kurang lebih sebagian berlainan dengan keterangan Tan Malaka di atas.

Sikap anti komunis yang keras dari penguasa-penguasa kolonial, dan terjadinya pemberontakan PKI 1926/1927 yang berakibat buruk bagi aktivis-aktivis PKI, merupakan penyebab kuat mengapa perlu baginya untuk menutupi tentang kegiatan politik masa lalunya.

Sungguhpun begitu, pengakuannya bahwa ia menerima bolshevik secara teoritis dan tidak menolak kemungkinan untuk memakai kekuatan fisik buat mencapai kemerdekaan mungkin dapat dianggap sebagai suatu sikap konsisten dan konsekwen, paling kurang dalam kaitan pandangannya terhadap Marxisme sebagai petunjuk untuk berevolusi, bukan dogma atau
kaji hafalan. Kalau boleh disimpulkan, Tan Malaka dalam arti kata yang sesungguhnya tetap konsisten dan konsekwen sebagai seorang revolusioner.Seorang revolusioner yang antara lain menerima Marxisme sebagai petunjuk, tetapi jauh di lubuk hatinya lebih meresapkan nasionalisme.

PARI, yang dimaksudkannya sebagai kendaraan untuk menuju revolusi Indonesia yang diinginkannya, tidak sempat berakar untuk menjalar luas di Indonesia. Dua orang pendiri lainnya, Subakat dan Djamaluddin Tamim,tertangkap. Subakat memilih bunuh diri dalam penjara di Jakarta. Sisa-sisa terakhir dari PARI di Jakarta dan Surabaya digulung habis
oleh Belanda dalam tahun 1935. Sementara itu, Tan Malaka yang praktis terputus hubungannya dengan teman-temannya boleh dikatakan bergerak sendiri.

Dalam tahun 1928 dia diangkat kembali oleh Komintern sebagai salah seorang agennya untuk Asia Tenggara. Rupanya pada waktu itu, Moskow belum mengetahui tentang kegiatan Tan Malaka dengan PARI-nya. Sewaktu ia memasuki Hongkong dari Shanghai (1932), dalam perjalannnya menuju pos barunya di Birma sebagai agen Komintern, Tan Malaka ditangkap Inggris
dan ditahan selama beberapa minggu. Sesudah dilepas, ia kembali ke Cina (Amoy), di mana ia menghidupi dirinya dengan mendirikan sekolah bahasa asing yang cukup berhasil sampai tahun 1937, ketika dia terpaksa lari lagi sewaktu Jepang menyerang kota itu. Ia menyingkir ke Singapura, menyamar sebagai guru Cina di sekolah-sekolah di sana sampai 1942.
Sewaktu ia sampai di Indonesia kembali, Jepang sudah mendarat dan berkuasa.

Jadi, semenjak meninggalkan Bangkok (1927), kecuali hubungan surat-menyurat yang terbatas dan kemudian juga terputus, Tan Malaka lebih banyak bergerak sendiri. Dalam arti kata yang mendekati sesungguhnya dia menjadi seorang pejuang revolusioner yang kesepian, tetapi juga setia pada cita-cita revolusinya.

Sementara itu, Komintern dan orang-orang komunis Indonesia mengetahui tentang PARI dan idengan sendirinya terungkaplah kepada mereka siapa Tan Malaka yang sebenarnya. Dia dikecam habis-habisan, antara lain oleh tokoh PKI Muso, yang berhasil masuk Indonesia dari Moskow tanpa diketahui Belanda, yang menulis pamflet menentang tokoh ini dengan
PARI-nya. Tan Malaka yang dulunya pernah menjadi ketua PKI dan agen Komintern, kini menjadi musuh utama mereka (PKI).

Dari uraian di atas dapat dilihat bagaimana kontroversialnya tokoh ini. Sikap, tingkah laku politik serta ide atau pemikirannya menempatkannya dalam suasana konflik dengan berbagai kekuatan. Sebagai pejuang nasionalis atau buronan politik dia berkonflik dengan penguasa-penguasa kolonial di Asia waktu itu. Sebagai politisi-intelektual yang berpikir
dinamis dan menerima Marxisme secara kritis dia berani mengritik tokoh-tokoh separtainya (PKI) dan kemudian mendirikan partai baru tanpa kata komunis di dalamnya, dan itu semua menempatkan dia berkonflik dengan tokoh-tokoh komunis Indonesia dan Komintern.

I believe religion is individual property, like GENITALS.. FOR ME SECULARISM is the answers to keep the holiness and sacredness of a religion

Last edited by nando_gnd; 9th February 2009 at 11:09..
Reply With Quote