View Single Post
Old 29th November 2015, 06:02
#5  
vanpersie1290
Mania Member
vanpersie1290 is offline

Join Date: Aug 2014
Posts: 1,565
vanpersie1290 is a legendvanpersie1290 is a legendvanpersie1290 is a legendvanpersie1290 is a legendvanpersie1290 is a legendvanpersie1290 is a legendvanpersie1290 is a legendvanpersie1290 is a legendvanpersie1290 is a legendvanpersie1290 is a legendvanpersie1290 is a legend

Default

Bab 3

Kalau dompet Edo tidak tebal, mungkin dia tidak akan mengikuti seminar di UI. Cuma duduk doang, mesti bayar sejuta.

Tong kosong nyaring bunyinya. Bagi Edo, golongan berpendidikan dianggapnya seperti itu.

Tapi dia tidak mempermasalahkan. Yang penting dia bisa bertemu dengan Vanya lagi hari ini.

Edo tersanjung saat Vanya melempar senyum kepadanya. Sirkuit Sentul rasanya sedang berada di hadapannya. Sambil mengendarai Moto GP, Edo ngebut menghampiri Vanya.

"Saya tidak menyangka anda menyukai Sastra, Mas Edo."

"Tidak begitu, Dik Vanya. Saya merasa Sastra penuh dengan hikmah."

Data statistik menunjukkan, jantung Edo sedang berdetak 3 kali lebih cepat dari biasanya. Lapangan bola serasa sedang dilahapnya. Uang perak dibanting Edo.

Kalau saja di pasar sedang banting harga, Edo akan tetap merasakan panas di sekitarnya. Sektor belakang masih lemah soalnya.

Usaha Edo tidak sia-sia. Saat Vanya membacakan puisi, Edo pun membacakan puisi pula untuk Vanya.

Cahaya Cinta

Engkau meyapaku dengan egomu

Engkau bertaruh dan menghilang

Sementara aku menyerahi segala jiwaku

Ada bekas lada di bibirmu

Menerawang bersama mesin fotokopi

Aku tersenyum licik

Jiwaku lelah

Hatiku keropos

Aku butuh suasana pantai

Menerjang diriku.

Bebatuan yang bergula

menyatu bersama nyawa

Menghipnotis suporter bola

Bola basket dan bola sepak

Berkonstruksi bersama angin

Yang beraneka ragam

Kecuali, doaku untukmu

Yang tercetak di lembar putih

Cahaya cinta

Anak-anak saja tidak mengerti arti puisi Edo, apalagi orang dewasa. Dengan tegap, Edo memasang kuda-kuda. Dia ingin terlihat excellent dalam membacakan puisi mbeling-nya

Kalau dilabelkan, mungkin kau sama seperti WS. Rendra, kata Vanya saat Edo menanyakan pendapatnya.

Benih-benih cinta mulai bersemi di hati Edo. Jerih payahnya semalam tidak sia-sia. Dia tidak tidur semalaman, hanya untuk membuat puisi mbeling itu.

Lanjutan cerita/Bab 4

Last edited by vanpersie1290; 30th November 2015 at 06:08..
Reply With Quote