View Single Post
Old 9th February 2009, 11:13
#17  
nando_gnd
Addict Member
nando_gnd is offline

nando_gnd's Avatar

Join Date: Jun 2008
Posts: 589
nando_gnd is a loser in training

Default

Dua siklus dari perantauannya ditandai dengan titik puncak sewaktu dia kembali pulang. Titik puncak pertama ialah pada waktu ia diangkat sebagai datuk sewaktu ia pulang ke kampungnya sehabis menamatkan sekolah di Bukittinggi. Titik puncak dari perantauan kedua ialah ketika ia berhasil memainkan peranan yang amat penting dalam pergerakan nasional Indonesia, sebagai tokoh dan ketua PKI, tak lama sesudah ia kembali dari Negeri Belanda.

Dengan begitu, arti rantau bagi dirinya memang penting. Rantau telah menjadikannya manusia yang semakin berarti dan berguna bagi perjuangan bangsanya.

Siklus ketiga perantauannya berjalan lama sekali, 20 tahun sebagai buangan politik. Pengalamannya dalam perantauan ketiga ini jauh lebih banyak, penderitaan jauh lebih mendalam, kecemasan jauh lebih sering datang. Itu semua semakin mematangkan dan mendewasakan dirinya, baik sebagai intelektual-pemikir, politisi-idealis, mau pun pejuang revolusioner yang kesepian. dan Ia pun sudah semakin berumur. Dapatlah dimengerti kalau dia melihak kepulangannya kali ini sebagai sesuatu yang amat berarti. Ia melihat bahwa siklus-siklus hidupnya
sejajar dengan siklus-siklus perjuangan bangsanya, dan itu diidentikannya pula dengan perkembangan organis tubuhnya yang telah sampai pada siklus terakhir.

Dia memperkirakan dan mengantisipasi kepulangannya dari perantauannya yang ketiga dan terkahir kalinya ini akan berkaitan dengan terjadinya revolusi Indonesia, dan ia ingin hadir dan ikut aktif sebagai peserta di dalamnya. Bagi dia, inilah kesempatan terakhir untuk merealisir revolusi totalnya, dan oleh karena itu tak ingin melepaskan kesempatan itu berlalu dengan sia-sia. Seluruh kehidupannya selama ini, tercurah ke sana, dan dia ingin memberikan sesuatu yang amat berarti bagi bangsanya pada saat yang amat bersejarah itu.

Tetapi menarik pula untuk diketahui bahwa sewaktu pulang dari perantauan ketiga ini, Tan Malaka tidak segera menggabungkan diri dalam barisan perjuangan atau mengambil peranan aktif dalam percaturan politik. Salah satu faktor mungkin karena merasa dia membutuhkan waktu buat mempelajari suasana masyarakat yang sudah lama ditinggalkannya. Ia ingin
masuk sekolah sosial dulu. Alasan lain yang diberikan Tan Malaka ialah karena ingin menulis sesuatu yang berarti yang bisa dipakai sebagai pegangan oleh bangsanya nanti dalam hidup bernegara sebagai bangsa merdeka yang sosialistis.

Dia memang menulis apa yang dianggapnya sebagai karya terbaiknya yang ingin ditinggalkannya sebagai "pusaka" bertuah". Itulah MADILOG, yang ditulisnya dalam suasana kemiskinan yang luar biasa di sebuah gubuk bambu di pinggir Jakarta. Pada waktu ia dia masih belum keluar dengan memamai nama aslinya. Faktor lain yang menyebabkannya merasa masih
perlu menyembunyikan identitasnya barangkali pengaruh pengalaman pahitnya sebagai buronan politik di luar negeri yang tentu selalu menghantuinya, walau pun suasana romantis dan misteri yang lahir bersamaan dengan itu tampak pula disenanginya. Dia mungkin masih perlu menyembunyikan diri di bawah kekuasaan Jepang yang tak kalah kejamnya itu.

Kekejaman fasis Jepang tambah memuakan hatinya ketika ia menyaksikan sendiri di pertambangan Bayah, Banten. Di sini sebagai krani yang cukup baik kedudukannya, dengan memakai nama samaran Ilyas Husein dia kembali menyaksikan, sebagaimana pernah dialaminya di perkebunan Senembah dulu, pengeksploitasian bangsanya oleh kekuasaan imperialis
baru. Ia melihat sendiri kondisi yang amat menyengsarakan --antara hidup dan mati-- kaum romusha yang dipekerjakan Jepang secara paksa. Hal ini tentunya tambah memperkuat keyakinannya tentang keperluan adanya aksi massa buat melahirkan revolusi. Suasana politik Indonesia selama pendudukan Jepang secara garis besarnya diwarnai oleh Soekarno, Hatta dan sejumlah pemimpin lain yang memilih bekerjasama atau berkolaborasi dengan Jepang. tidak tahu apakah mereka senang ataukah tidak ikut serta dalam sistem kekuasaan sesuatu hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Sebagai pejuang nasionalis mereka tentu mempunyai alasan-alasan sendiri buat memilih jalan itu.

Di pihak lain, sejumlah tokoh yang relatif muda seperti Sutan Sjahrir memilh bergerak di bawah tanah melawan rezim fasis Jepang. Antara kedua kelompok ini yang dipermukaan dan yang di bawah tanah, barangkali terdapat kontak atau kerjasama pula. Kecenderungan ke arah asumsi ini dikuatkan oleh relatif mudahnya kedua kelompok ini bekerjasama dalam revolusi kemerdekaan yang disimbolkan .

Tan Malaka juga melihat adanya dua kekuatan, tetapi dengan pemahaman yang agak lain. Sukarno dan Hatta dianggapnya sebagai simbol dari golongan tua yang berkalaborasi dengan kekuasan Jepang, dan oleh karena itu ia mengganggap mereka, terutama Soekarno sebagai oportunis. Sikap sinis Tan Malaka terhadap Sukarno antara berkaitan dengan pandangan negatifnya terhadap kebudayaan Hindu-Jawa. Strategi Sukarno (dan Hatta) untuk mencapai kemerdekaan melalui kerjasama dengan kaum penjajah baginya menunjukan masih adanya sisa-sisa mentalitas budak yang berasal dari kebudayaan Hindu-Jawa itu. Ini jelas sangat kontras dengan ide revolusi Tan Malaka sendiri yang antara lain ingin menghancurkan sisa-sisa
kebudayaan lama yang bernilai buruk, terutama ciri-ciri feodalismenya.

I believe religion is individual property, like GENITALS.. FOR ME SECULARISM is the answers to keep the holiness and sacredness of a religion

Last edited by nando_gnd; 9th February 2009 at 11:25..
Reply With Quote