View Single Post
Old 11th January 2015, 13:29
#2323  
MrRyanbandung
Mania Member
MrRyanbandung is offline

Join Date: Mar 2012
Posts: 4,379
MrRyanbandung is a new comer

Default Menyambut ulang tahun tvri (ke-32), rcti (ke-5), & sctv (ke-4): "televisiku sayang, t

AGUSTUS 1962, Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Asian Games IV, pesta olahraga antar bangsa Asia. Untuk lebih memeriahkan pesta, Presiden Soekarno mengusulkan agar seluruh kegiatan Asian Games diliput oleh siaran televisi. Bertepatan dengan pembukaan Asian Games tanggal 24 Agustus, maka siaran televisi pertama Indonesia (TVRI) mengudara. Tanggal 24 Agustus 1989, 27 tahun kemudian, lahirlah televisi swasta pertama Indonesia, RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) yang diikuti setahun kemudian oleh SCTV (Surya Citra Televisi).

Pada awal kelahirannya, televisi di Indonesia menghadapi tantangan yang amat berat. Kesulitan pertama muncul seusai Asian Games. Televisi yang awalnya merupakan subsidi penyelenggara Asian Games, harus melayani hasrat 10.000 pemilik televisi di Jakarta. Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 215/1963, dibentuklah Yayasan Televisi Republik Indonesia sebagai penyelenggara siaran pada tahun 1966, terbentuk Direktorat Jenderal Radio, Televisi, dan Film (Dirjen RTF), yang antara lain membawahi Direktorat Televisi sebagai pengelola televisi.

Dari awalnya, hanya terbatas di Jakarta. Saat itu (1994), televisi telah berkembang ke seluruh tanah air. Pembangunan stasiun ‘microwave’ dan peluncuran satelit Palapa telah mendorong perkembangan televisi di Indonesia. Pada saat itu, terdapat delapan stasiun pemancar TVRI dan empat stasiun swasta (RCTI, SCTV, ANteve, dan TPI) yang dapat menjangkau 791.543 km2 dan 129.762.713 penduduk.

Perkembangan teknologi tidak lepas dari kemajuan teknologi komunikasi dan perubahan sosial masyarakat. Paisley mengatakan, “Perubahan teknologi telah menempatkan komunikasi di garis depan revolusi sosial.” Hal ini dipertegas oleh Rogers, “Teknologi komunikasi telah memperpanjang indera terutama pendengaran dan pandangan, hingga dapat menjangkau ruang dan waktu yang tak terbatas.”

Perkembangan komunikasi berkaitan erat dengan teknologi dan kemajuan masyarakat, karena itu merupakan bagian dari pembangunan suatu bangsa. Schramm menyatakan, “Pembangunan bau di bidang komunikasi akan membawa dampak pada masyarakat dan pembangunan baru di masyarakat, akan mempengaruhi komunikasi. Setiap pembangunan komunikasi sejalan dengan tingkat pembangunan masyarakat.”

Berrigan menunjukkan peran komunikasi dalam pembangunan suatu bangsa. “Komunikasi mempunyai peranan penting untuk mempengaruhi masyarakat agar berpartisipasi, menyebarkan informasi dan gagasan baru, serta mengubah sikap dan perilaku masyarakat dalam pembangunan.”

Feliciano menyimpulkan, “Komunikasi berkorelasi dengan pembangunan. Pembangunan tumbuh lebih cepat yang diikuti pemanfaatan media komunikasi yang lebih besar oleh pemerintah.” Peran media massa dalam pembangunan nasional menurut Schramm, adalah “Memberi informasi tentang praktek pembangunan.”

Kehadiran televisi sebagai media komunikasi modern telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Bagi Indonesia yang melaksanakan pembangunan nasional menuju masyarakat addil makmur. Masalahnya, adalah bagaimana menjadikan televisi sebagai media penerangan dan pendidikan, serta wadah partisipasi masyarakat. Fungsi siaran televisi di Indonesia, dinyatakan oleh SK Menteri Penerangan No. 111/1990, yang bersumber pada GBHN (garis besar haluan negara). “Penyiaran televisi berfungsi sosial sebagai sarana perjuangan pembangunan bangsa, untuk membudayakan Pancasila dan UUD 1945, dalam semua segi kehidupan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan siaran”:

Penerangan dan informasi, serta pendidikan dan hiburan sehat.
Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional.
Menyaring pengaruh buruk dari dalam maupun luar negeri, terhadap tata nilai perilaku kehidupan bangsa yang bersifat kebhinekaan.
Memotivasi dan menyalurkan pendapat umum yang konstruktif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, demi kelestarian persatuan dan kesatuan bangsa.
Menunjang peranan bangsa dalam kehidupan pergaulan internasional sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.

Ketentuan di atas menunjukkan peran yang diharapkan dari televisi, bagi pembangunan nasional. Berdasarkan peran tersebut maka bahan siaran televisi di Indonesia, harus mengutamakan acara produksi sendiri atau produksi perusahaan dalam negeri, yang dituntut berdasarkan sumber-sumber acara dalam negeri. Sedangkan bahan siaran luar negeri, selain harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku, juga hanya berfungsi sebagai pelengkap.

Sejak diberlakukannya era siaran televisi swasta, maka televisi di Indonesia berkembang pesat. Bertambahnya stasiun televisi diiringi dengan penambahan waktu siar. Saat itu, di kota-kota masyarakat dapat menonton televisi selama minimal 18 jam sehari melalui lima stasiun yang berbeda, dengan acara yang bervariasi pula.

Dalam penelitian terhadap remaja di Bandung (1992), ternyata televisi merupakan media massa favorit (62,30%), sedangkan stasiun favorit: RCTI (78,07%), TVRI (13,37%), dan TPI (8,56%) – saat itu SCTV dan ANteve (Andalas Televisi) belum tertangkap di Bandung. Menurut angket pembaca tabloid Citra (1994, di seluruh Indonesia) perbandingannya adalah: RCTI (81,9%), SCTV (40,1%), TVRI Pusat (15,2%), ANteve (13,7%), dan TPI (9,5%). Fungsi utama menurut remaja Bandung (era itu) adalah hiburan (48,40%), informasi (21,47%), pendidikan (22,46%), dan promosi (26,7%). Perbandingan waktu siar pada tiap stasiun terlihat:

Siaran
TVRI (%)
RCTI (%)
TPI (%)
Hiburan
48,25
63,95
35,91
Informasi
38,20
25,00
22,24
Pendidikan
13,55
1,90
36,00
Iklan
-
9,15
5,85
Total
100
100
100

Dengan demikian, RCTI paling dominan dalam hiburan, TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) dalam pendidikan, sedangkan TVRI meskipun hiburan menduduki tempat tertinggi, tetapi informasi menduduki posisi teratas di antara tiga stasiun. Dalam hiburan, maka film/sinetron menduduki posisi teratas, yaitu TVRI (27,10%), RCTI (51,91%), dan TPI (24,82%). Di antara negara asal film, maka film asing, khususnya Amerika paling dominan, seperti terlihat dalam tabel II:

Negara/benua asal
TVRI (%)
RCTI (%)
TPI (%)
Nasional
20
9,68
33,33
Asia
10
6,45
25
Eropa/Australia
9,68
8.33
Amerika Serikat
60
67,74
33,33
Amerika Latin
10
6,45
Total
100
100
100

Data di atas, menunjukkan bahwa animo masyarakat, khususnya remaja (waktu itu), terhadap televisi adalah hiburan. Dalam konteks ini, maka RCTI menjadi dominan, karena lebih dominan pula dalam menyajikan hiburan, khususnya film/sinetron luar negeri, terutama Amerika Serikat.

Berdasarkan fakta di atas, maka nampak kesenjangan antara idealisme yang terpencar dalam GBHN dan SK Menpen 111/1990, dengan realita di masyarakat. Televisi yang diharapkan menjadi media pembangunan nasional, pemersatu bangsa, dan pelestari budaya, telah berkembang menjadi ajang hiburan yang didominasi oleh siaran asing.

Nilai-nilai positif siaran luar negeri, tentu saja ada dalam mengembangkan bangsa ini menjadi bangsa modern dan maju, yang tidak seperti katak dalam tempurung. Namun seyogyanya, hal ini tidak mengabaikan perannya dalam membangun dan mendidik bangsa. Dalam hal ini, ada empat kendala yang perlu diperhatikan:

Secara historis, kelahiran televisi di negara berkembang seringkali bukan karena motif pembangunan, tapi kebangsaan nasional atau kepentingan elit urban, seperti promosi Asian Games.
Globalisasi ekonomi negara maju yang eksploitatif, yang ditandai ekspansi promosi iklan dan penayangan siaran asing, yang harganya lebih murah daripada biaya memproduksi sendiri.
Produksi siaran dalam negeri yang secara mutu lebih rendah, baik dari segi gagasan maupun sinematografi.
Iklim politik yang seringkali menciptakan situasi pemberitaan televisi tidak aktual dan menarik.

Dalam kondisi di atas, televisi menjadi media massa favorit yang sekaligus dicerca sebagai sumber dekadensi moral dan budaya. Ibarat salah satu unggulan sinetron RCTI, televisi Indonesia patut dijuluki, “Televisiku sayang televisiku malang”. Dilema dunia, televisi Indonesia, pertama adalah bagaimana ia menjadi hiburan sekaligus mendidik dan membawa pesan pembangunan nasional. Dilema kedua, adalah menjadi media massa sarana partisipasi demokrasi tanpa terjebak dalam arus liberalisme yang melanda.

Mengkaji hal di atas, maka ada tiga kebijakan yang perlu dipertimbangkan:

Fungsi televisi tak dipilah-pilah antara hiburan, informasi, pendidikan, dan promosi. Tetapi dalam satu nafas, yaitu hiburan yang informatif dan mendidik. Dalam hal ini, mutu siaran memegang peran penting untuk menyamapikan pesan pendidikan dan pembangunan yang terintegrasi dalam hiburan kultural edukatif.
Ssitem pers Pancasila yang bebas dan bertanggung jawab dapat diwujudkan tanpa mengurangi peran televisi sebagai sarana partisipasi rakyat secara demokratis. Keterbukaan dalam dunia televisi adalah juga bermakna peluang televisi untuk menyiarkan informasi yang dipandang penting oleh masyarakat.
Pembinaan siaran televisi berjalan kontinu dan komprehensif. Untuk itu, peran ganda Direktorat Televisi sebagai penyelenggaraan siaran dan aparat pembinaan pemerintah, harus dipisahkan. Pembinaan dunia televisi menjadi porsi Direktorat Televisi, sedangkan tugas penyiaran dapat dilakukan oleh sebuah BUMN.

24 Agustus, kiranya dapat bermakna Hari Televisi yang patut dirayakan. Kehadiran televisi bagaimanapun, telah berperan dalam mengantarkan bangsa ini menuju modernisasi, namun kiranya kendala dan rintangan masih banyak untuk menciptakan “Televisiku sayang, televisiku berkembang.” (Pikiran Rakyat saat itu mengucapkan) “Dirgahayu TVRI, RCTI, SCTV. Semoga tetap jaya dan dicintai masyarakat.”

Dok. Pikiran Rakyat, 24 Agustus 1994, dengan sedikit perubahan
Reply With Quote