View Single Post
Old 11th January 2015, 13:31
#2325  
MrRyanbandung
Mania Member
MrRyanbandung is offline

Join Date: Mar 2012
Posts: 4,379
MrRyanbandung is a new comer

Default Keluhan praktisi sinetron

JAMUR sinetron sedemikian suburnya. Tapi kalau Anda terlibat dalam produksi sinema elektronika itu, terasa sekali sulitnya. Kesulitan yang paling santer – dikeluhkan para praktisi sinetron, adalah bagaimana menciptakan karya sinetron yang bisa disukai penonton. “Selera penonton itu cepat berubah dan sulit diterka,” ujar Andi Ralie Siregar, presiden direktur RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia).

Pendapat Ralie Siregar hanyalah satu dari suara-suara yang memang sama-sama mengakui kesulitan tersebut. Tuntutan dan selera masyarakat semakin tinggi, maka upaya mencari hal yang dianggap bisa menjadi nilai jual pada penonton pun, semakin menggila. Di tahap awal, cerita yang asal cerita mungkin masih bisa ditonton. Belakangan, produk semacam itu jangan harap diterima. Barangkali inilah dampak dari intensitas persaingan yang semakin tinggi.

Salah satu upaya adalah pengamatan ‘star-system’, yaitu sistem produksi sinetron yang mengandalkan nama-nama bintang top sebagai nilai jual yang hendak ditawarkan. Bintang yang hendak dijual adalah nama terkenal, wajah aduhai tak peduli akting belum maksimal. Selain itu, diupayakan pada tim penggarap yang juga berbau bintang, sutradara terkenal, atau penulis skenario top.

Berhasilkah sinetron yang menganut ‘star-system’? kenyataannya, tak selalu. Walaupun sistem ini masih dianggap terbaik ketimbang memunculkan wajah-wajah baru yang belum punya nama. “Bagaimanapun, penonton banyak yang masih suka dengan penampilan bintang,” kata kalangan pertelevisian meyakinkan diri. Tapi, walaupun begitu teori tersebut menjadi lemah tatkala ada sinetrno yang berhasil justru tanpa kehadiran bintang-bintang.

Ketika TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) menaayngkan Kedasih atau Mahkota Mayangkara, hanya salah satu contoh bahwa sinetron tanpa bintang bisa juga berhasil dan bahkan sempat menciptakan bintang. Munculnya Vinny Alvionita, si pemeran Kedasih (TPI), dan Eddy Chaniago (yang saat itu laris di bidang film layar lebar) sebagai pemeran Rakuti dalam sinetron Mahkota Mayangkara (TPI), termasuk munculnya Sandy Nayoan karena perannya di Sengsara Membawa Nikmat (TVRI).

Kesimpulan, ‘star-system’ tak selamanya menjamin keberhasilan sebuah sinetron. Faktor keberhasilan sinetron banyak dipengaruhi seabrek variabel. Bahan yang bagus, penggarapan yang serius, biaya mendukung, penggarap bisa dipercaya, pemain berkualitas prima, publikasi gencar, ‘timing’ penayangan yang tepat, dan faktor-faktor lain seperti tayangan itu merupakan seri yang panjang.

Jadi, “kekeliruan” (kalau memang dianggap sebagai kekeliruan) yang kerap terjadi, paar produsen seringkali mengabaikan variabel-variabel penentu seperti dikatakan di atas, tak jarang hanya melihat dari satu sisi, misalnya hanya mengandalkan bintang top saja.

Keberhasilan sebuah sinetron merupakan proyek tim dan kerja yang akumulatif dari banyak faktor tetap harus diakui. Dalam konteks ini, upaya menyuguhkan ‘star system’ adalha bagian dari seabrek bagian yang harus diperhatikan.

Sulitkan PH

‘Star-system’ ternyata menyulitkan sementara PH (‘production-house’). Setidaknya ini dikatakan Ekky Soekarno, pemilik PT Endrass Perdana. PH yang membuat beberapa sinetron dan paket busana serta akan membuat kuis. Kesulitannya menurut Ekky, “Artis kita ini terbatas jumlahnya. Kalau kita mau pakai terus bintang-bintang top akhirnya yang muncul artis itu-itu juga.”

Seringkali, ia mengalami betapa sulitnya artis top dimintai untuk terlihat dalam sebuah produksi sinetron. “Jadwal mereka sulit dipastikan. Di samping itu ada artis yang justru menolak dipasang dengan artis-artis baru,” katanya di kantornya, di bilangan Kebayoran Baru.

Memang ada sebuah PH yang menurut Ekky mengikat beberapa artis. Tapi ya itu tadi, artis yang muncul akan itu ke itu juga. “Beda dengan di Hollywood yang artisnya memang banyak, sistem kontrak seperti itu bisa,” katanya membanding.

Tentang kemungkinan dipakainya artis-artis pendatang baru, Ekky mengemukakan persoalan, bahwa PH saat itu sangat tergantung pada pihak televisi harus membuat sinetron seperti apa. Dan televisi (swasta) pun tergantung selera pemasang iklan. Sementara pemasang iklan melihat data dari nilai jual sinetron bersangkutan. Dan salah satunya adalah bintang yang ikut terlibat di dalamnya.

Kalau film layar lebar tidak tergantung kepada pemasang iklan, tapi bagaimana selera penonton. “Tapi, kalau sinetron atau acara televisi lain, kira-kira laku nggak, bagi pemasang iklan?”, bebernya.

Dan kalau ditelusuri lagi dari pendapat Ekky yang juga suami dari Soraya ***** itu, maka sesungguhnya ketergantungan itu akan sampai ke tahap penonton. Penontonlah yang sesungguhnya paling menentukan, terbukti pemasang iklan pun sangat percaya pada hasil survei SRI (Survey Research Indonesia), untuk mengetahui rating penonton pada suatu acara tertentu.

Celakanya, tuntutan penonton semakin tinggi karena mereka semakin banyak melihat pembanding, yaitu film-film barat, baik di televisi maupun di bioskop, di samping itu, tuntutan semacam itu juga dipengaruhi melubernya produk-produk sinetron sehingga hanya sinetron yang benar-benar memiliki banyak nilai jual yang bisa ‘leading’.

Kita dipaksa matang secara karbitan. Tuntutan semakin tinggi, sementara “bahan” untuk bisa memenuhi tuntutan itu sangat terbatas sekali. Baik soal sumber daya manusia maupun penguasaan teknologi persinemaan hingga iklim dari filosofi perfilman yang belum permisif.

Satu contoh, Niki Kosasih, penulis cerita radio menuturkan, bahwa dirinya pernah mengamati perfilman Hongkong, Indonesia, dan Amerika selama 20 tahun. “Kedua negara saing itu terlihat pesat perkembangannya. Tapi, Indonesia dinamikanya terlihat lambat. Itu saya lihat dari film-film ketiga negara dalam 20 tahun,” katanya menyimpulkan. Terobosan, eksperimen, mencoba hal lain yang belum biasa di insan sinetron kita, termasuk film.

Dok. Pikiran Rakyat, 24 Juli 1994, dengan sedikit perubahan
Reply With Quote