View Single Post
Old 11th January 2015, 13:32
#2327  
MrRyanbandung
Mania Member
MrRyanbandung is offline

Join Date: Mar 2012
Posts: 4,379
MrRyanbandung is a new comer

Default Saputangan dari bandung selatan (rcti)

MESKIPUN yang membuat sinetron makin melonjak jumlahnya, namun selalu berkisar dalam tema komedi dan rumah tangga. Sedikit sekali produser yang mencoba mencari alternatif lain. Ada kecenderungan mereka membuat sinetron dengan lokasi yang mudah, dari rumah ke rumah ken rumah, agar biaya lebih irit.

Jika mengamati sinetron yang ditayangkan televisi swasta, hampir tak ada sinetron dengan tema perjuangan pada masa revolusi. Padahal, TVRI Pusat pernah menggarap sinetron Tuanku Tambusai yang disutradarai (alm) Irwinsyah. Sinetron tersebut termasuk sinetront erbaik, konon menghabiskan biaya sekitar Rp 200 juta.

Bagi sebuah PH (‘production-house’), menggarap sebuah sinetron dengan biaya sebesar itu barangkali dianggap mustahil. Masalahnya sinetron yang dibuat oleh PH yang ditayangkan melalui televisi swasta, erat kaitannya dengan bisnis. Artinya, sinetron yang menghabiskan biaya besar sulit mendapatkan keuntungan dari iklan. Umumnya sinetron yang dianggap mahal, setiap episodenya menghabiskan biaya Rp 40 juta. Misalnya, sinetron yang digemari pemirsa, Si Doel Anak Sekolahan (RCTI) atau Pelangi di Hatiku (RCTI-SCTV).

Mahalnya biaya sebuah sinetron sangat tergantung pada nama-nama pemainnya. Sinetron yang hanya mengambil lokasi di sebuah rumah, Buku Harian (SCTV) menjadi mahal. Sebab didukung oleh bintang terkenal, seperti Didi Petet, Desy Ratnasari, Nia Daniaty, Adjie Massaid (alm), dan Ully Artha (almh).

Di tengah miskinnya tema sinetron yang membanjir saat itu, muncul sebuah sinetron yang bisa mengambil cerita pada masa revolusi yang mengambil judul dari lagu ciptaan (alm) Ismail Marzuki, Saputangan dari Bandung Selatan. Sinetron tersebut diproduksi PT Kharisma Jabar Film yang bekerjasama dengan Kodam III Siliwangi.

“Ide untuk membuat sinetron tersebut sudah lama. Bahkan tadinya ditargetkan untuk film. Judul dan sinopsisnya juga sudah dibuat, hanya saja baru terwujud sekarang (1994) ini,” tutur produser PT Kharisma Jabar Film, Ir. Chand Parwez Servia. Bagi Parwez, untuk menciptakan sebuah tontonan yang menarik, tetap saja mesti didukung oleh artis terkenal.

Itulah sebabnya, sinetron Saputangan dari Bandung Selatan dibintangi oleh bintang terkenal (almh) Nike Ardilla dan Yati Octavia, serta bintang sinetron yang cukup laris, Lucy Dahlia. Skenarionya ditulis oleh Adang S, seorang pengarang yang juga seorang militer.

Penggarap sinetron ini hampir semuanya dari kalangan film. Misalnya, sutradara Achid Nasrun, sutradara film Lupus, yang pernah jadi asisten sutradara Frank Ronimpandey dalam film Wolter Monginsidi. “Sesuai dengan judulnya, saya akan menggarap film ini dengan tekanan pada unsure romantiknya,” tutur Achiel.

Sedangkan penata musiknya adalah (alm) Harry Roesli, yang mengambil lagu Saputangan dari Bandung Selatan, sebagai lagu tema. Menurut Ir. Samsul Hardin, produser pelaksana sinetron tersebut (saat itu) akan diputar bulan Agustus 1994 ini, di RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia).

Dok. Pikiran Rakyat, 31 Juli 1994, dengan sedikit perubahan
Reply With Quote