View Single Post
Old 11th January 2015, 13:33
#2328  
MrRyanbandung
Mania Member
MrRyanbandung is offline

Join Date: Mar 2012
Posts: 4,379
MrRyanbandung is a new comer

Default Sinema asia di televisi kita dan apresiasi film nasional

DI luar dugaan, telah terjadi perkembangan baru (saat itu), di mana dua stasiun televisi swasta: RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) dan SCTV (Surya Citra Televisi), telah menjadwalkan penayangan film dari negara-negara berkembang. Menggembirakan, katakanlah ini semacam realisasi dari niat Dewan Film Nasional 1980, yang mengimbau perlunya memasukkan film-film dari negara Asia/ASEAN yang masa itu dikenal dengan “Sinema Dunia Ketiga”, karena film-film yang selama itu kita tonton, alasan lainnya film-film tersebut banyak kesamaannya dengan yang lagi dihadapi Indonesia.

Hal yang menggembirakan itu telah dimulai dengan RCTI sejak memasuki Juni 1994, dengan menayangkan film Malaysia klasik, diawali film-filmnya P Ramlee yang namanya demikian melegenda di tanah semenanjung pada tahun 1950an, termasuk di sini sebagai aktor film berbakat, sutradara, penyanyi, komedian, dan pengarang lagu.

Film-film yang dibintangi Ramlee, tayangan RCTI itu, adalah sekuel Bujang Lapok dan itu tidak tanggung-tanggung, jadwal khusus itu diberi nama Pesona Asia. Embel-embel pesona itu, konotasinya bagi kita, para pemirsa, tentunya film yang baik ‘khan? Mudah-mudahan demikian, dan nyatanya memang beberapa filmnya Ramlee tayangan RCTI, tiap Rabu pukul 09.00 pagi itu, termasuk ke dalam film yang memiliki greget, bahkan film Pendekar Bujang Lapok yang ditayangkan 15 Juni 1994, adalah pemenang kategori film komedi terbaik dalam Festival Film Asia 1959 di Jepang.

Maka sebelumnya, yaitu pada tahun 1957, Ramlee yang bernama asli Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh Layahny (berasal dari Aceh), ini pernah terpilih sebagai pemain pria terbaik dalam film Anaku Sazali, juga pada kesempatan Festival Film Asia di Jepang. Kabarnya, RCTI (saat itu) juga akan menayangkan film-film baik lainnya, produk negeri ASEAN dan Asia, malah SCTV ikut pula menayangkan film ASEAN, dimulai dengan film produksi Filipina, Si Aida Si Corna, O Si Fe, pada Senin, 20 Juni 1994 pukul 12.30. Mudah-mudahan, SCTV juga bisa menayangkan film Bayani arahan sutradara muda berbakat Raymond Red, yang dipujikan pada Festival Film Asia 1992 di Jepang.

Bagaimana dengan TVRI? Stasiun televisi satu-satunya milik pemerintah ini, sebenarnya sudah lebih dulu menayangkan film-film tersebut kendati bukan dari jenis film pemenang festival. Begitu pun TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) telah lebih dulu menayangkan film Asia dibanding dengan ketiga televisi swasta lainnya, hanya saja TPI masih terpatok pada film-film jenis komersial dengan perhitungan menggaruk iklan. Sedangkan ANteve (Andalas Televisi) baru sebatas film-film produksi Hongkong, itu pun sama dari jenis komersial, di mana mengharap slot iklannya bisa terisi.

Film Indonesia klasik, kapan?

Timbul pertanyaan, bila RCTI telah sanggup menjadwalkan Pesona Asia, apa bisa juga gelar “pesona” itu diterapkan pada film nasional, misalnya menjadwalkan tayangan film-film Indonesia klasik, tentunya dari jenis yang berbobot. Ingat, film kita juga pernah berjaya di Asia, dengan film panjang arahan Usmar Ismail. Rasanya karya mendiang Usmar Ismail tak kalah greget dengan karya mendiang P Ramlee.

Selain Pejuang yang banyak dipuji sineas dan masyarakat penonton di Asia, juga masih banyak film yang dipujikan seperti Asrama Dara, Lewat Jam Malam, Krisis, Lagi-Lagi Krisis, Tiga Buronan, dan masih banyak lagi film klasik kita yang berbobot, baik tema epos perjuangan, komedi, maupun komedi musikal. Setidaknya, inilah film nasional yang memiliki sukma Indonesia, dibanding dengan film-film kita yang dibuat asal jadi, dan tidak berpijak di bumi kita sendiri.

Inisiatif RCTI dengan Pesona Asia-nya, memang patut kita hargai. Hanya saja, ironinya mengapa, justru film tetangga kita yang seolah-olah hendak diangkat ke permukaan dan mengajak pemirsa kita mengapresiasinya, padahal film Indonesia lagi digelayuti kemuraman malah jadinya, seakan-akan film kita sendiri tak terlindungi. Karena coba saja lihat film nasional yang banyak ditayangkan, baik oleh televisi swasta maupun TVRI, terdiri dari film-film yang tidak bermutu. Apa tidak ironi? Sementara film dari negeri Jiran dan tetangga lainnya, diberi gelar “pesona”, malah film kita sendiri tidak mempesona, yang hanya berputar sekitar komedi slapstik, silat dari negeri antah-berantah, drama rumah tangga tanggung yang tak memiliki visi, dan tema cengeng lainnya, yang sama sekali tak mengajak pemirsa berpikir kritis.

Padahal, saat itu hanya tinggallah televisi, satu-satunya media yang bisa diharapkan membina apresiasi film nasional setelah film kita kolaps di gedung-gedung bioskop. Di sinilah, kelebihan media TV dibanding gedung-gedung bioskop, di mana film-film nasional berbobot bisa ‘nyelonong’ begitu saja ke rumah-rumah. Di mana keluarga penghuni rumah itu tidak suka film nasional, karena sudah apriori sebelumnya, saking banyaknya film jelek yang beredar di gedung bioskop saat ‘boom’ film nasional. Lewat taktik inilah, kita harap pamor film nasional bisa terangkat kembali, orang yang apriori menjadi kenal, bahwa sesungguhnya film kita tidak kalah dengan buatan negeri Asia lainnya.

Betapa besar pengaruhnya film nasional itu baik sebagai karya seni maupun sebagai sarana komunikasi massa, karena itu televisi kita perlu melindungi, membina, dan mengembangkan film nasional Indonesia seperti halnya juga pers, bahasa Indonesia, radio, dan dunia televisi itu sendiri. Hanya kepada televisilah sebagai sarana komunikasi massa yang memiliki daya pengaruh psikologis yang luas, mampu melindungi generasi muda dari pengaruh buruk sejumlah film.

Sekali lagi, hanya pada TV setelah film kita lesu, sanggup menayangkan film nasional yang bermutu baik, yang klasik maupun yang baru, termasuk sinetron yang mencerminkan sukma Indonesia, yang diharapkan mampu merangsang pemirsanya untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang dirinya dan realitas sekitarnya, menimbulkan pencerahan atau ungkapan diri sendiri yang akan membawa kepada sikap yang lebih positif terhadap hidup dan kehidupannya.

Dok. Pikiran Rakyat, 3 Juli 1994, dengan sedikit perubahan
Reply With Quote