View Single Post
Old 11th January 2015, 13:34
#2330  
MrRyanbandung
Mania Member
MrRyanbandung is offline

Join Date: Mar 2012
Posts: 4,379
MrRyanbandung is a new comer

Default Peran lokal tvri daerah

INTI persoalan yang dihadapi 12 TVRI daerah 1994 ini, adalah ketidakseimbangan antara harus menjalankan lokal dengan “kenyataan” menghadapi tantangan global, TVRI daerah menghadapi seringkali persoalan klasik, yang sifatnya internal, yaitu keterbatasan dana, sumber daya manusia, teknik, programatis, dan mungkin “kewenangan otonomis” yang juga terbatas. Sementara secara eksternal harus menghadapi persaingan dengan siaran empat televisi swasta nasional (RCTI, SCTV, TPI, serta ANteve) dan siaran puluhan televisi asing yang ditangkap lewat antena parabola yang saat itu mulai menyebar ke pedesaan.

Meskipun demikian, gendering perang sudah ditabuh. Dengan segala kekuatan yang ada, ia TVRI daerah, harus mampu bersaing agar tidak ditinggalkan penontonnya. Kalau bisa malah justru mengikat batin “masyarakat daerahnya” agar tidak pindah ke stasiun televisi lain. Tapi, di manakah posisi TVRI daerah dalam arena persaingan mutakhir saat itu?

TVRI daerah sudah berjalan sejak 29 tahun sebelumnya. Hingga usia 32 tahun TVRI pada 24 Agustus 1994 ini (lahir tahun 1962), baru ada 12 stasiun penyiaran TVRI daerah. Dan masih ada 15 provinsi lain, yang belum memiliki TVRI daerah, walau di antaranya ada stasiun produksi keliling (SPK), yang tak lain cikal bakal TVRI daerah di waktu mendatang.

Ke-12 TVRI stasiun daerah itu adalah TVRI Yogyakarta yang diresmikan 17 Agustus 1965, TVRI Medan (25 Desember 1970), TVRI Ujungpandang (7 Desember 1972), TVRI Balikpapan (22 Januari 1973), TVRI Palembang (31 Januari 1974), TVRI Surabaya (3 Maret 1978), TVRI Denpasar (16 Juli 1978), TVRI Manado (22 Desember 1978), TVRI Bandung (11 Maret 1987), serta TVRI Banda Aceh, TVRI Ambon, dan TVRI Samarinda yang diresmikan serentak 4 Juni 1992.

Peran lokal

TVRI daerah orientasinya lokal, lewat misi pendidikan, penerangan, dan hiburan, TVRI daerah dituntut untuk mengangkat berbagai aspek pembangunan daerah. Dengan level kedaerahan TVRI daerah, diharapkan masyarakat daerah agar sebisa mungkin mengangkat wajah daerahnya dalam bidang seni budaya, aneka peristiwa, informasi, dan pendidikan atau kesehatan, dan lainnya.

Masyarakat Sunda misalnya, tak bisa berharap wajah kedaerahan bisa diangkat maksimal dalam porsi memadai oleh TVRI Stasiun Pusat Jakarta atau televisi swasta nasional. Sebab, dengan sifat siaran TVRI Pusat maupun televisi swasta yang sentralistik, keduanya harus “membagi” perhatian untuk kawasan nasional di 27 provinsi dengan kandungan heterogenitas bahasa, suku, agama, budaya, status sosial, dan ekonomi hingga masalah selera.

Maka bagi masyarakat latar Sunda, harapan terletak pada TVRI Stasiun Bandung. Dalam konteks ini, TVRI daerah memegang peran yang memang sulit dilakukan pusat, yaitu sebagai aspirator daerah. Jangan aneh, kalau selalu dipertanyakan, sejauh mana kiprah TVRI daerah bagi “masyarakat daerahnya”?

Peran lokal ini sesungguhnya tak enteng. Bagaimana bisa mengikat batin masyarakat daerah agar misi lewat siaran bisa tercapai dan sampai? Bagaimana agar siaran selalu ditonton? Sayangnya, “kemauan” mengikat penonton tak hanya dimiliki TVRI daerah saja, melainkan semua stasiun televisi sama-sama memburu simpati lewat program acara yang ditawarkannya. Ini picu persaingan yang belakangan kian seru.

Tantangan TVRI daerah menjadi ‘overload’, melewati yang diembannya. Mengikat batin penotnon dalam arena persaingan, tentu bukan hal yang gampang lagi. Perlu ditawarkan program acara yang benar-benar baik, menarik, bermanfaat, dan menghibur. Dan untuk mewujudkan ini, lantas mengait pada keterbatasan-keterbasan yang ada. Inilah problematikanya. Masalah keterbatasan internal yang harus dihadapkan dengan masalah eksternal, yaitu arena persaingan yang begitu ketat dengan jumlah “peserta” persaingan yang kian banyak.

Tantangan global

Jika ketika pertama berdiri tujuh tahun sebelumnya, TVRI Bandung hanya berhadapan dengan penonton yang tak banyak tuntutan. Karena saat itu, tahun 1987, TVRI masih ‘single-fighter’. Melenggang sendiri tanpa saingan, belum ada televisi swasta dan belum masuk antena parabola. Sehingga masyarakat tak banyak “tahu” paket-paket yang bagus itu seperti apa dan harus bagaimana. Belum ada pembanding. Kondisi “enak” yang dialami sembilan stasiun penyiaran TVRI daerah saat itu.

Belakangan, peran boleh hanya lokal-lokalan, daerah-daerahan, tapi untuk sampai bisa menjalankan tugas dengan baik, TVRI daerah mau tak mau berhadapan dengan kekuatan global, empat stasiun televisi swasta, dan puluhan siaran televisi asng yang bisa ditangkap masyarakat luas. Semuanya sama-sama berusaha maksimal menawarkan aneka program acaranya yang rata-rata dikemas dengan biaya besar. Dalam situasi seperti ini, “keterlenaan” akan berarti sebagai langkah bunuh diri. Dalam langkah maksimal sekalipun tetap belum terjamin 100% sebuah acara digemari, karena memang harus berhasil “menyingkirkan” pesaing-pesaing. Lebih-lebih lagi kalau hanya langkah asal-asalan.

Ini kenyataan yang dihadapi TVRI daerah dalam kondisi klasiknya yang serba terbatas. Mungkin saja, beberapa TVRI daerah seperti Bandung misalnya masih merasa kuat dan dominan di kantong-kantong pedesaan yang saat itu belum begitu tersentuh siaran televisi. Tapi, beberapa tahun kemudian, akan menghadapi kenyataan lain.

Saat itu saja, dari 500.000 pemilik antena parabola, sebagian besar berada di pedesaan. Bahkan dalam soal program pun, kita masih menghadapi “PR” yang besar dalam jumlah maupun mutu. Dari 360.000 jam siaran TVRI dan televisi swasta dalam setahun, konon baru 20% saja yang bisa ditangani PH (‘production-house’) kita, selebihnya masih impor.

Namun, satu potensi TVRI daerah adalah memanfaatkan emosi kedaerahan dalam tayangan televisi. Materi acara boleh tradisional, tapi pengemasan harus sanggup bersaing dengan level internasional. Sekadar urun pendapat, manfaatkan potensi daerah, dari seniman, artis, perusahaan lokal, PH lokal, lembaga atau perkumpulan seni. Kalau dimanfaatkan, akan menjadi kelebihan TVRI daerah.

Dok. Pikiran Rakyat, 31 Juli 1994, dengan sedikit perubahan
Reply With Quote