View Single Post
Old 8th November 2008, 12:20
#10  
Charlott3
Mania Member
MaleCharlott3 is offline

Charlott3's Avatar

Join Date: Jan 2008
Location: Cybertron
Posts: 6,400
Charlott3 Super LegendCharlott3 Super LegendCharlott3 Super LegendCharlott3 Super LegendCharlott3 Super LegendCharlott3 Super LegendCharlott3 Super LegendCharlott3 Super LegendCharlott3 Super LegendCharlott3 Super LegendCharlott3 Super Legend

Send a message via Skype™ to Charlott3
Default

Mau nambahin dikit mpiss...
Mudah˛ jadi bahan referensi yg berguna khususnya buat para orangtua...

Quote:
Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk
penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa
masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk
jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk
ke jurusan Bahasa.

Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta
terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber IQ paling
tinggi justru ke jurusan Bahasa.

Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangun Wijaya (Alm) tentang kurikulum
sekolah, Beliau mengatakan bahwa pen didikan di Indonesia masih mewarisi
"budaya" kolonial Belanda.

Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi
seharusnya diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang
akan lahir ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta
besar, politisi dsb yang hebat2. Tetapi rupanya hal itu tidak
dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang
cerdas tidak memikirkan masalah2 sosial politik. Mereka cukup diarahkan
untuk menjadi tenaga ahli/scientist, arsitektur, ahli computer, ahli
matematika, dokter, dsb yang asyik dengan science di laboratorium
(pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa). Saya nggak tahu
persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah Belanda. Hanya saja
waktu itu saya yang kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi patah semangat
karena kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir tidak ada hubungannya
dengan kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari sekolah.

Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin
parlemen,kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P & K atau
tenaga marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb. Sampai
saat ini,masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa
anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol.
Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep
anak tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya
bekerja mengadakan seminar anak-anak.

Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.
- Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin
pesawat dan bisa menjadi presiden.
- Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa menjadi juara bulu
tangkis kelas dunia.
- Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV
- Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid. kecantikan dan punya
byk salon kecantikan di bbrp kota.
- Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan sering tampil memandu
acara memasak di TV.

Sewaktu Kak Seto bertanya "Rudy yang mana yang paling sukses menurut
kalian?" Hampir semua anak menjawab "Rudy Habibie" Sewaktu ditanyakan
"Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?"

Anak-anakpun menjawab "Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi
presiden, dsb" Sewaktu Kak Seto menanyakan "Rudy yang mana yang paling
tidak sukses?" Hampir seluruh anak menjawab "Rudy Choirudin" Ketika
ditanyakan "Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang
yang sukses?"

Anak-anakpun menjawab "Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak"

Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat
Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang dari
karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum
bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal
sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan "enjoy".

Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya.
Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat menentukan.
Dalam seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir
anak-anak (dan juga orang tua/keluarga) . Anak-anak dan orang tua harus
menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan.

Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai
kesuksesan di "bidangnya".
Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar
matematika, anak2 tidak perlu minder dan orang tua tidak perlu malu atau
menekan anak. Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar
daripada pelajaran2 lain, bukanlah anak-anak yang bodoh karena justru
anak2 yang punya imajinasi tinggilah yang pintar menggambar/ melukis.
Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi
politisi atau negotiator yang baik. Anak-anak yang banyak bicara, kalau
diarahkan untuk menuliskan apa yang ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat.
Reply With Quote