![]() |
| |||||||
| Register | FAQ | Members List | Social Groups | Award | Calendar | Mark Forums Read | |
| PolitikDiskusi seputar tokoh, partai politik, kebijakan dan seputarnya di sini... |
![]() |
| Thread Tools | Display Modes |
#1 | |||
| |||
| Apa yang kita saksikan hanyalah puncak dari sebuah gunung es.Penggantian pucuk pimpinan institusi-institusi hanya akan sedikit mengubah pemandangan puncak gunung tsb,tapi tubuhnya sendiri tetap saja keropos digerogoti kanker akhlak/moral yang sudah kronis.Ini terjadi dalam semua bidang kehidupan di negri tercinta ini,bukan hanya yang berkaitan dengan penegakan hukum seperti KPK,Polri dan Kejagung saja,tapi juga semua departemen dan institusi lainnya termasuk para pelaku bisnis bahkan semua elemen masyarakat. Akhlak/moral yang sakit ini menyebabkan manusia menjadi buta hati,tidak lagi mampu membedakan mana yang halal mana yang haram,mana yang benar mana yang salah. Hukum justru dipelintir sebagai pembenaran atas tindak kejahatan yang ironisnya didukung oleh para petinggi hukum yang sakit moral,bukan sakit jiwa atau sakit lainnya.Hukum formal tanpa melibatkan moral tidak ada bedanya dengan kertas pembungkus pisang goreng di pasar malam sana. Jalan menuju kejayaan Indonesia harus dibentuk melalui perjuangan pembentukan akhlak/moral yang baik,ini syarat mutlak! Prosesnya akan sangat panjang,mungkin akan memakan waktu lebih dari 2 generasi,dan berpola top-down.Para pemimpin yang akan menjadi contoh dan penggerak bagi bawahannya. Seharusnya pembentukan moral ini menjadi prioritas utama dari pucuk pimpinan RI dan dijadikan program gerakan nasional yang menyentuh semua aspek,semua umur dan tingkatan. Misalnya.buat slogan-slogan anti korupsi dengan bahasa sederhana yang ditempelkan di sekolah-sekolah,mulai dari level taman kanak-kanak,dan selanjutnya. Prosesnya akan panjang,tapi kita tidak akan mampu mencapai puncak tanpa didahului langkah pertama. Jayalah Indonesia! |
#2 | |||
| |||
| Pertamax: Setuju ........ Lebih penting mencari tahu kenapa orang bisa melakukan kesalahan daripada mencari siapa yang pantas disalahkan. menemukan orang yang bersalah saja belum tentu dapat mencegah kesalahan yang sama terulang dan terulang lagi di masa mendatang. |
#3 | |||
| |||
| Quote:
Kalau moral para pemimpinnya sakit,apalagi yang bisa diharapkan rakyat? Mereka tidak akan mampu merealisasikan satu saja dari 5 butir Pancasila...satu saja,sebut yang mana saja. ![]() Nasib bangsa kita ini sedang dalam keadaan kritis.Semua aspek dan fungsi pemerintahan digerogoti korupsi! Hukum dipelintir dan diperdagangkan! Sedikit sekali (kalau tidak boleh dikatakan tidak ada) pemimpin yang mengedepankan nurani dan moral! Kalau saya yang jadi Presiden,antara lain ini yang akan saya lakukan : 1.Memberlakukan keadaan darurat sipil. 2.Copot dan usut semua nama yang ada di rekaman tsb termasuk pemimpinnya.Yang terlibat harus dihukum. 3.Prioritaskan pembenahan internal masing2 institusi tsb,kalau perlu juga semua lembaga dan departemen.Salah satu caranya : berlakukan pensiun dini dan promosikan angkatan muda yang belum banyak terkontaminasi penyakit moral.Kalau SDM internal belum siap,pakai saja orang dari luar institusi tsb,cari yang bermoral! 4.Bekukan restruktur anggota2 DPR.Cari warga negara yang memiliki nasionalisme dan pro rakyat,bukan yang pro partai dan mementingkan kelompok dan klan nya sendiri. 5.Cari solusi permanen dalam pembentukan akhlak/moral generasi mendatang,libatkan tokoh2 agama yang benar (bukan yang orientasinya duit)! Libatkan siapapun yang memang memiliki niatan agar Indonesia berjaya! Memang terkesan diktator,otoriter bahkan bertentangan dengan arus demokrasi......tapi why not? Demokrasi bisa menunggu kan? Kenapa harus mengadopsi dan selalu meng-iya-kan sistem dan cara ber-demokrasi yang terlalu matang untuk diterapkan disini dan bisa kontra produktif terhadap prioritas bangsa ini. |
#4 | |||
| |||
| Kalau anda yang jadi Presiden,apa yang akan anda lakukan? |
#5 | |||
| |||
| Kalu saya adalah presiden: mengintegrasikan semua elemen kekuatan yang mendukung untuk mengarahkan kebijakan pemerintah ke arah pembangunan yang sesungguhnya. Sehingga posisi pemerintah secara otomatis kuat karena kebijakanya, bukan karena dukungan dari pihak-pihak munafik yang hanya akan menyarankan intrik tak berkesudahan. |