![]() |
| |||||||
| Register | FAQ | Members List | Social Groups | Award | Calendar | Mark Forums Read | |
| PolitikDiskusi seputar tokoh, partai politik, kebijakan dan seputarnya di sini... |
![]() |
| Thread Tools | Display Modes |
#1 | |||
| |||
| Saya ndak setuju dengan pendapat bahwa cara SBY menentukan pilihan menteri yang bukan kader-kader terbaik dari masing-masing partai atau penempatan beberapa orang di posisi yang tidak tepat sesuai kapasitasnya adalah untuk memperlihatkan diri atau agar terlihat sebagai yang paling mumpuni dan tak punya lawan yang sebanding di negeri ini. Justu hal ini memperlihatkan ketidak mampuan SBY dalam manajemen sumber daya manusia dan dapat mengakibatkan kegaduhan di negeri ini. Salah satunya pengangkatan menteri kesehatan, Endang dengan proses pengangkatan yang sedikit tidak mengikuti standar "fit & proper" yang ditetapkan oleh SBY sendiri dan tidak dipertimbangkan "kesalahan" yang pernah dilakukan Endang sebelumnya. Begitu sulitkah mencari orang tanpa "kesalahan" untuk diangkat menjadi menteri ? Dikalangan pakar intelijen pun berpendapat SBY membuat kegaduhan dengan mengangkat menkes Endang sehubungan keterkaitan dengan riwayat namru II. Kegaduhan juga terjadi pada kalangan perwira tinggi di tiga angkatan. Penempatan mantan kepala polisi RI sebagai kepala Badan Intelijen Nasional membuat kekuatan militer merasa digembosi. Beberapa perwira tinggi (pati) di tiga unsur angkatan (darat, laut, udara) menyampaikan uneg-uneg. Intinya pembicaraan adalah pengangkatan mantan Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto sebagai kepala BIN membuat konsolidasi di tubuh militer menjadi bergejolak. "Intelijen adalah institusi yang melekat pada militer. Kalau kepalanya dijabat dari kalangan nonmiliter, ini akan membuat sistem informasi intelijen dan sejumlah kebijakan di penggalangan intelijen di lapangan menjadi lemah," kata seorang pati yang tidak bersedia disebut namanya. Sepanjang sejarah nasional, intelijen adalah pengendali dan pemberi informasi utama kepada Presiden RI. Tugasnya sangat vital karena informasi itu akan menjadi landasan bagi Presiden untuk mengambil keputusan. "Nah, kalau orang nomor satu di intelijen itu nonmiliter, maka deteksi dan analisis terhadap pergolakan di tingkat lapangan menjadi kurang tajam. Selama ini yang memiliki pendidikan dan kapasitas melakukan deteksi konflik atau membaca potensi bahaya keamanan adalah militer," katanya. Karena itu, sejak intelijen dibentuk di Indonesia, orang yang memimpin selalu berasal dari kalangan militer. Pada zaman Bung Karno, kepala intelijen dipegang sipil. Hasilnya intelijen malah dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis, bukan untuk kepentingan keamanan dan pertahanan nasional. "Intelijen bertanggung jawab langsung kepada presiden. Intelijen memiliki tipikal sangat berbeda dengan institusi keamanan lain. Sistem kerja utamanya adalah silence operation. Target kerja intelijen adalah meredam kejadian sebelum menjadi bahaya bagi keamanan nasional," katanya. Selain itu, doktrin militer dan nonmiliter berbeda. "Ini akan terkait dengan setiap operasi intelijen. Kalau bukan dari kalangan militer, target dan kepentingannya akan berbeda. Sebab doktrin militer itu jelas: keamanan dan keselamatan negara di atas segalanya," kata perwira itu. Kegaduhan juga terjadi dalam kasus KPK vs Polri sesungguhnya dikarenakan lemahnya manajemen sumber daya manusia dan kepemimpinan SBY , dengan berlarut-larut kasus tsb. SBY dari awal mengatakan tidak akan mengintervensi hukum namun tidak memerintahkan penegak hukum untuk menuntaskan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya agar tidak tercipta kegaduhan pada masyarakat. Jadi tidak masuk akal bahwa masyarakatlah yang membuat kegaduhan seperti apa yang disampaikan SBY saat meresmikan proyek-proyek infrastruktur Maluku di Pelabuhan Perikanan Nusantara Tantui, Ambon , bahwa beliau mengingatkan semua pihak, apabila situasi Indonesia gaduh dan panas, maka investor tidak akan datang dan ekonomi tidak akan berkembang. Saat SBY berduet dengan JK, bisa kita simpulkan bahwa SBY hanya mampu dibidang konsep dan retorika (di belakang meja) , sedangkan seungguhnya JK yang melakukan tindakan dan juga cepat melakukan evaluasi atas tindakan. Sebenarnya JK juga piawai dalam konsep, ide dan inovasi, namun terbentur pada jabatannya hanya sebagai wakil presiden sehingga beliau hanya "mengusulkan" pada presiden. Sekarang SBY mencoba melakukan semuanya sendiri namun kegaduhan yang terjadi sehingga semakin menyadarkan saya bahwa memang "the real presiden" adalah Jusuf Kalla. Salam Zon Last edited by zon; 26th November 2009 at 17:58.. |
#2 | |||
| |||
| Sebagai orang awam perlahan2, sedikit demi sedikit, saya bisa melihat siapa JK dan siapa SBY. Kini semua semangkin terkuak dengan jelas. Sayang sekali sangat sedikit rakyat di negeri ini yang berani memilih anda, entah karena ketidak-tahuan, entah karena ketidak-pedulian, entah karena ketidak-beranian keluar dari zona kenyamanan, entah karena kedengkian, entah karena ketakutan, dan banyak entah2 lainnya sehingga anda harus tersingkir dari posisi yang seharusnya lebih pantas anda yang tempati. Saya tidak salah memillih anda tempo hari. Namamu akan tetap terukir dihati saya. I LOVE YOU FULL, I MISS YOU. |
#3 | |||
| |||
| SBY berbenturan dengan TNI secara pribadi sebelum pemilihan umum, dengan issue di zolimi saat meniup gosip ABS (asal bukan SBY), dan ditanggapi secara terbuka oleh beberapa tokon TNI saat itu, jadi penunjukan S sebagai ketua BIN memang ada alasan secara khusus bagi SBY. Untuk kontroversi MenKes tunggu waktu saja jika tidak ada prestasi istimewa dari yang bersangkutan maka boleh dicurigai dalam rangka menyenangkan hari Ndoro USA. Jika di compare dengan JK, jelas SBY bukan tandingan ddalam hal implementasi dan eksekusi, JK pebisnis yang sudah terbiasa dengan mengambil keputusan. hanya saja SBY tidak suka JK karena sering tabrak kanan tabrak kiri. |
#4 | |||
| |||
| Saya kira bukan tanpa alasan JK tabrak sana tabrak sini Karena setiap langkahnya, setiap ideanya selalu terhalang oleh kemandegan yang tidak menghasilkan solusi apapun. Setiap langkah yang diambil tentu ada konsekuensinya tapi kalau tidak berani melangkah kita tidak pernah sampai ketujuan. Terlalu banyak pertimbangan jelas tidak baik untuk seorang pemimpin dan terbuktikan keadaan saat ini semangkin tidak jelas dan membuat orang banyak semangkin tidak puas. Kesalahan2 dimasa lalu harusnya jadi tongkat untuk berjalan dengan benar dan pasti. Yang pasti sebagai pemimpin kita harus berani membuang onak duri yang menghambat perjalanan dan merugikan rakyat yang 60% (tidak termasuk saya) yang telah berani memberikannya tongkat kepemimpinan. |
#5 | ||||
| ||||
| Quote:
![]() Jadi licah belum tentu menabrak hukum. Kalau hati-hati karena takut melanggar hukum itu bukan alasan terus menjadi lemot. Learn from Mr. JK gimana carana! ![]() |
#6 | |||
| |||
| Kalo gua pribadi pas 2004 SBY-JK menang, jujur ga terlalu suka dua2nya tapi setelah mereka memerintah selama 5 tahun, menjelang pemilu 2009 kemarin, gua lebih respect ke JK daripada SBY, karena JK tipe org yang get things done, sementara SBY lebih ke arah tipe yang gemar 'berkhotbah' tapi dalam prakteknya ga terlalu OK well, paling ngga itu opini gua, dan masih berlaku sampai sekarang, dari mulai susunan kabinet, sampai masalah KPK-Polri ini keputusan2nya meragukan dan kayak yang ga optimal |
#7 | ||||
| ||||
| Kayaknya Thread ini calon diremove ke forum Tokoh , sama Modi... Ane engga ikut komen dulu ah..... ![]() __________________ "GOOD NEWS IS NOT NEWS, BAD NEWS IS GOOD TO BE NEWS" (PROVOCATEUR) |
#8 | ||||
| ||||
| Quote:
![]() |
#9 | |||
| |||
| Semakin jelas pula, sewaktu kampanye pilpres lalu, memang ada pihak yang berniat sungguh-sungguh menyebarkan opini bahwa saudagar tidak boleh menjadi presiden. Padahal, sudah ada teladan dari Nabi Muhammad, beliau seorang pemimpin juga berangkat dari seorang saudagar. |
#10 | ||||
| ||||
| menunggu perkembangan pembahasan.. ke mana arah thread... sementara nancepin bendera dulu... ![]() __________________ Seorang yang berpikir akan mendapatkan kemuliaan dengan menghinakan orang lain... Maka jarak antara dia dan kemuliaan adalah sejauh bentangan Samudera Atlantis |