 | |  26th November 2009, 23:53 | | Addict Member | | Join Date: Aug 2008 Posts: 399 |
| Mencermati Media Provokator Kita rakyat Indonesia harus mampu menelaah informasi yang disajikan oleh media, tidak serta menerima, karena saat ini, ada sejumlah media yang subjektif, penuh dengan kepentingan, memberikan informasi dengan sangat tidak berimbang, yang ditujukan untuk penggalangan opini. Seperti Kompas.
Sekarang kita lihat ke depan, apa bila tirani media dilanjutkan, bagaimana kalau seseorang yang membunuh dibebaskan karena media mengatakan terdakwa tidak bersalah, bahkan tidak perlu melalui proses hukum.
Bagaimana apabila suatu hari ada seorang penjabat yang bekerjasama dengan kompas semisalnya, tertangkap korupsi, kemudian karena kompas mengarang berita ketidak adilan, kemudian menutupi fakta yang ada, lalu penjabat koruptor itu bisa bebas tanpa harus melalui proses hukum
Atau dalam hal kecil, yang sering kita dengar, wartawan sering minta uang ke narasumber, atau lebih tepat nya memeras atau akan diberitakan secara negatif di media tersebut.
Saya hanya bisa memberikan saran, kita sebagai rakyat Indonesia, terutama yang terpelajar, harus bisa menelaah informasi dari media, jangan terbawa begitu saja oleh penggalangan opini atau informasi subjektif dari media.
Bila di Indonesia terjadi ketidak stabilan, maka yang rugi bukan hanya pemerintah, tapi seluruh elemen masyarakat. Perekonomian dan sendi sendi kehidupan lainnya akan berantakan.
Yang menjadi korban hanyalah rakyat kecil seperti kita, nyawa kita dipermainkan oleh para aktor intelektual seperti media (misalnya Kompas), sementara yang untung ya aktor intelektual tersebut, yang berhasil menghasut massa, dan meminta massa untuk menyumbangkan nyawanya secara gratis. |  27th November 2009, 00:25 |  | Mania Member | | Join Date: Jan 2008 Posts: 2,600 |
| Quote: Originally Posted by basuki Kita rakyat Indonesia harus mampu menelaah informasi yang disajikan oleh media, tidak serta menerima, karena saat ini, ada sejumlah media yang subjektif, penuh dengan kepentingan, memberikan informasi dengan sangat tidak berimbang, yang ditujukan untuk penggalangan opini. Seperti Kompas.
Sekarang kita lihat ke depan, apa bila tirani media dilanjutkan, bagaimana kalau seseorang yang membunuh dibebaskan karena media mengatakan terdakwa tidak bersalah, bahkan tidak perlu melalui proses hukum.
Bagaimana apabila suatu hari ada seorang penjabat yang bekerjasama dengan kompas semisalnya, tertangkap korupsi, kemudian karena kompas mengarang berita ketidak adilan, kemudian menutupi fakta yang ada, lalu penjabat koruptor itu bisa bebas tanpa harus melalui proses hukum
Atau dalam hal kecil, yang sering kita dengar, wartawan sering minta uang ke narasumber, atau lebih tepat nya memeras atau akan diberitakan secara negatif di media tersebut.
Saya hanya bisa memberikan saran, kita sebagai rakyat Indonesia, terutama yang terpelajar, harus bisa menelaah informasi dari media, jangan terbawa begitu saja oleh penggalangan opini atau informasi subjektif dari media.
Bila di Indonesia terjadi ketidak stabilan, maka yang rugi bukan hanya pemerintah, tapi seluruh elemen masyarakat. Perekonomian dan sendi sendi kehidupan lainnya akan berantakan.
Yang menjadi korban hanyalah rakyat kecil seperti kita, nyawa kita dipermainkan oleh para aktor intelektual seperti media (misalnya Kompas), sementara yang untung ya aktor intelektual tersebut, yang berhasil menghasut massa, dan meminta massa untuk menyumbangkan nyawanya secara gratis. |
Mr.Bas...mohon pencerahannya ya.. playing our imagination
Anda Bilang : Kompas media provokator
Kompas bilang : Anda provokator karena bilang kompas provokator
anda bilang lagi : Kompas provokator karena bilang anda provokator karena bilang kompas provokator..
kompas bilang lagi : anda provokator karena bilang kompas provokator karena bilang anda provokator karena bilang kompas provokator karena bilang anda provokator.....
Anda bilang lagi : bla..bla..bla.. seterusnya...
Jadi siapa yang bisa saya percaya? siapa yang provokator? mana tahu mana tempe? mana emas mana kuningan?  __________________ Seorang yang berpikir akan mendapatkan kemuliaan dengan menghinakan orang lain...
Maka jarak antara dia dan kemuliaan adalah sejauh bentangan Samudera Atlantis |  27th November 2009, 01:10 |  | Addict Member | | Join Date: Feb 2008 Posts: 146 |
| lieur kalo udah ngomongin beginian....hihihihihi |  27th November 2009, 02:00 |  | Mania Member | | Join Date: Jun 2008 Posts: 4,459 |
| Quote: Originally Posted by basuki Kita rakyat Indonesia harus mampu menelaah informasi yang disajikan oleh media, tidak serta menerima, karena saat ini, ada sejumlah media yang subjektif, penuh dengan kepentingan, memberikan informasi dengan sangat tidak berimbang, yang ditujukan untuk penggalangan opini. Seperti Kompas.
Sekarang kita lihat ke depan, apa bila tirani media dilanjutkan, bagaimana kalau seseorang yang membunuh dibebaskan karena media mengatakan terdakwa tidak bersalah, bahkan tidak perlu melalui proses hukum.
Bagaimana apabila suatu hari ada seorang penjabat yang bekerjasama dengan kompas semisalnya, tertangkap korupsi, kemudian karena kompas mengarang berita ketidak adilan, kemudian menutupi fakta yang ada, lalu penjabat koruptor itu bisa bebas tanpa harus melalui proses hukum
Atau dalam hal kecil, yang sering kita dengar, wartawan sering minta uang ke narasumber, atau lebih tepat nya memeras atau akan diberitakan secara negatif di media tersebut.
Saya hanya bisa memberikan saran, kita sebagai rakyat Indonesia, terutama yang terpelajar, harus bisa menelaah informasi dari media, jangan terbawa begitu saja oleh penggalangan opini atau informasi subjektif dari media.
Bila di Indonesia terjadi ketidak stabilan, maka yang rugi bukan hanya pemerintah, tapi seluruh elemen masyarakat. Perekonomian dan sendi sendi kehidupan lainnya akan berantakan.
Yang menjadi korban hanyalah rakyat kecil seperti kita, nyawa kita dipermainkan oleh para aktor intelektual seperti media (misalnya Kompas), sementara yang untung ya aktor intelektual tersebut, yang berhasil menghasut massa, dan meminta massa untuk menyumbangkan nyawanya secara gratis. |
Kalau ana funya fandangan bahwa ofini/thread di atas ditulis oleh Provokator. |  27th November 2009, 02:04 |  | Registered Member | | Join Date: Jun 2009 Posts: 90 |
| mas basuki,
saya setuju bahwa media harus obyektif dan seimbang.
saya baca kompas juga beberapa media lain, seperti koran tempo.
kalau boleh tahu dalam berita mengenai apa, mas mempunyai kesimpulan bahwa kompas subyektif, tidak berimbang dan menggalang opini?
Apakah mengenai cicak melawan buaya?
kalau ini, saya rasa koran tempo lebih memprovokasi.
tapi yang jadi pertanyaan adalah "apakah berita mengenai cicak dan buaya, adalah provokasi?"
coba bandingkan dengan hasil keputusan MK, Tim8 yang selaras dengan berita diharian2 tersebut, apakah ini masih disebut memprovokasi?
kecurigaan mas, bila ada konspirasi kompas dengan koruptor saya pikir terlalu naif.
apakah mungkin bila satu media saja (kompas) akan bisa mempengaruhi opini publik? banyak sumber informasi lain, koran sejenis, majalah, tv, radio ataupun internet.
siapakah menurut mas, yang mempunyai kemampuan dan kekuasaan untuk membeli semua media informasi tersebut?
pencerahan nih
matur nuwun...
Quote: Originally Posted by basuki Kita rakyat Indonesia harus mampu menelaah informasi yang disajikan oleh media, tidak serta menerima, karena saat ini, ada sejumlah media yang subjektif, penuh dengan kepentingan, memberikan informasi dengan sangat tidak berimbang, yang ditujukan untuk penggalangan opini. Seperti Kompas.
Sekarang kita lihat ke depan, apa bila tirani media dilanjutkan, bagaimana kalau seseorang yang membunuh dibebaskan karena media mengatakan terdakwa tidak bersalah, bahkan tidak perlu melalui proses hukum.
Bagaimana apabila suatu hari ada seorang penjabat yang bekerjasama dengan kompas semisalnya, tertangkap korupsi, kemudian karena kompas mengarang berita ketidak adilan, kemudian menutupi fakta yang ada, lalu penjabat koruptor itu bisa bebas tanpa harus melalui proses hukum
Atau dalam hal kecil, yang sering kita dengar, wartawan sering minta uang ke narasumber, atau lebih tepat nya memeras atau akan diberitakan secara negatif di media tersebut.
Saya hanya bisa memberikan saran, kita sebagai rakyat Indonesia, terutama yang terpelajar, harus bisa menelaah informasi dari media, jangan terbawa begitu saja oleh penggalangan opini atau informasi subjektif dari media.
Bila di Indonesia terjadi ketidak stabilan, maka yang rugi bukan hanya pemerintah, tapi seluruh elemen masyarakat. Perekonomian dan sendi sendi kehidupan lainnya akan berantakan.
Yang menjadi korban hanyalah rakyat kecil seperti kita, nyawa kita dipermainkan oleh para aktor intelektual seperti media (misalnya Kompas), sementara yang untung ya aktor intelektual tersebut, yang berhasil menghasut massa, dan meminta massa untuk menyumbangkan nyawanya secara gratis. |
|  27th November 2009, 02:23 | | Addict Member | | Join Date: Aug 2009 Posts: 829 |
| Quote: Originally Posted by basuki Kita rakyat Indonesia harus mampu menelaah ........ |
Antum emang oon.......
antum fiqir di refublik ini....semua pejabat ama aparatnya baek2 semuah....?
fulisi, jaxa, ama fengadalan....disanalah temfat fara bromocorah mencari fulus....jangan belaga bego dah....
afakah antum kagak memferhatiin...bahuwa...kita kayak lagi nonton ketofrak humor? femerintahan ini....sebagian besar pemaennyah masi belom menjalankan amanah yang sebener-benernyah....semuanya masi berorientasi nyari fulus....
kek antum gitu dah....makhluk ekonomi golongan lemot....okey? __________________ Ini adalah pertarungan antara al-nafs al-mutmainnah melawan al-nafs al-lawwamah
To be louder doesn’t make you “holier” |  27th November 2009, 02:28 |  | Mania Member | | Join Date: Mar 2008 Location: di tengah sawah Posts: 2,118 |
| Quote: Originally Posted by basuki Kita rakyat Indonesia harus mampu menelaah informasi yang disajikan oleh media, tidak serta menerima, karena saat ini, ada sejumlah media yang subjektif, penuh dengan kepentingan, memberikan informasi dengan sangat tidak berimbang, yang ditujukan untuk penggalangan opini. Seperti Kompas.
Sekarang kita lihat ke depan, apa bila tirani media dilanjutkan, bagaimana kalau seseorang yang membunuh dibebaskan karena media mengatakan terdakwa tidak bersalah, bahkan tidak perlu melalui proses hukum.
Bagaimana apabila suatu hari ada seorang penjabat yang bekerjasama dengan kompas semisalnya, tertangkap korupsi, kemudian karena kompas mengarang berita ketidak adilan, kemudian menutupi fakta yang ada, lalu penjabat koruptor itu bisa bebas tanpa harus melalui proses hukum
Atau dalam hal kecil, yang sering kita dengar, wartawan sering minta uang ke narasumber, atau lebih tepat nya memeras atau akan diberitakan secara negatif di media tersebut.
Saya hanya bisa memberikan saran, kita sebagai rakyat Indonesia, terutama yang terpelajar, harus bisa menelaah informasi dari media, jangan terbawa begitu saja oleh penggalangan opini atau informasi subjektif dari media.
Bila di Indonesia terjadi ketidak stabilan, maka yang rugi bukan hanya pemerintah, tapi seluruh elemen masyarakat. Perekonomian dan sendi sendi kehidupan lainnya akan berantakan.
Yang menjadi korban hanyalah rakyat kecil seperti kita, nyawa kita dipermainkan oleh para aktor intelektual seperti media (misalnya Kompas), sementara yang untung ya aktor intelektual tersebut, yang berhasil menghasut massa, dan meminta massa untuk menyumbangkan nyawanya secara gratis. |
makanya dibutuhkan opini kedua, ketiga, keempat dan seterusnya, kalo cuma pertamax doang, ya ga cukup, detik forum ini termasuk tempat mencari opini lain loh mas
ga mungkin dong, mas pingin tiap2 media netral ga condong sedikitpun, dan netralnyapun kudu pake standar mas. kecuali mas satu2nya pelanggan kompas di dunia ini, mungkin bisa, tp pandangan org kan beda beda, termasuk melihat apakah suatu media itu provokator atau tidak, condong disitu mungkin netral disini, begitu pula sebaliknya.
setidaknya kompas bukan pravda  __________________ Dicari komik master keaton 1-18. PM Me |  27th November 2009, 02:33 |  | Mania Member | | Join Date: Jun 2008 Posts: 4,459 |
| salah satu ciri provokator: habis melemfar isu/tread maka akan ditinggalkan alias tidak bertanggung jawab. |  27th November 2009, 05:59 | | Addict Member | | Join Date: Aug 2008 Posts: 133 |
| Quote: Originally Posted by Oma_Irama salah satu ciri provokator: habis melemfar isu/tread maka akan ditinggalkan alias tidak bertanggung jawab. |
tau aja nie bang oma terlalu sungguh terlalu hihihihi. |  27th November 2009, 07:42 |  | Addict Member | | Join Date: Oct 2009 Posts: 582 |
| Quote: | Saya hanya bisa memberikan saran, kita sebagai rakyat Indonesia, terutama yang terpelajar, harus bisa menelaah informasi dari media, jangan terbawa begitu saja oleh penggalangan opini atau informasi subjektif dari media. |
Keknya musti ente terapin ke diri ente dulu deh...   __________________ Nuestra Arma es Nuestra Palabra
| | Thread Tools | | | Display Modes | Linear Mode | Posting Rules | You may not post new threads You may not post replies You may not post attachments You may not edit your posts HTML code is Off
| | | All times are GMT +7. The time now is 00:29. |