DetikForum

Go Back DetikForum > Politik & Peristiwa > Politik
Register FAQ Members List Social Groups AwardCalendar Mark Forums Read

Notices

PolitikDiskusi seputar tokoh, partai politik, kebijakan dan seputarnya di sini...

  • Gosip
  • Beranda
  • Politik
  • Liga Inggris
  • Jual Beli
  • Gosip
  • Gosip
  • Gosip
  • Gosip
  • Gosip


Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 21st May 2008, 10:43
shiyilang's Avatar
shiyilang shiyilang is offline
Mania Member
 
Join Date: Apr 2008
Location: Some Where in Valhalla
Posts: 4,680
shiyilang is a star wannabeshiyilang is a star wannabeshiyilang is a star wannabe
Default Perbandingan Harga BBM diseluh dunia!!!

Inilah kebohongan pemerintah SBY JK mengenai harga BBM didunia yang katanya Indonesia termurah didunia kata JK.

Berikut adalah daftar harga minyak di seluruh dunia.

Di Venezuela harganya hanya Rp 460/liter, di Saudi Arabia Rp 1.104/liter, di Nigeria Rp 920/liter, di Iran Rp 828/liter, di Mesir Rp 2.300/liter, dan di Malaysia Rp 4.876/liter. Rata-rata pendapatan per kapita di negara-negara tersebut lebih tinggi dari kita. Sebagai contoh Malaysia sekitar 4 kali lipat dari negara kita.

Anehnya di negara kita premium yang saat ini harganya Rp 4.500/liter akan dinaikkan hingga Rp 6.000/liter sementara harga Pertamax sekitar Rp 8.700/liter.


Jelas bedanya antara negara yang mementingkan kepentingan rakyat dengan negara Neoliberalis/Pro Spekulan Pasar yang hanya mengikuti harga minyak Internasional.


AS dan Cina adalah importer minyak terbesar dan ketiga di dunia *1. Tapi harga minyak di AS cuma Rp 8.464/liter sementara Cina Rp 5.888/liter.. Padahal penduduk kedua negara lebih besar dari Indonesia (Cina penduduknya 1,3 milyar) .

Indonesia meski premium cuma Rp 4.500 (yang akan dinaikkan jadi Rp 6.000/liter) namun harga Pertamax mencapai Rp 8.700/liter. Lebih tinggi dari harga di AS. Padahal UMR di Indonesia cuma US$ 95/bulan sementara di AS US$ 980/bulan. Jadi Indonesia ini benar-benar mengikuti kemauan spekulan pasar/kaum Neoliberalis.


Dengan memakai patokan harga Internasional US$ 125/barrel maka rakyat AS yang UMRnya US$ 980/bulan masih bisa menabung US$ 955/bulan sementara rakyat Indonesia yang UMRnya hanya US$ 95/bulan harus ngutang sebanyak US$ 30/bulan. Memang rakyat miskin tidak punya mobil mewah, tapi mereka kan tetap harus pakai angkot atau sepeda motor. Dan itu pakai BBM!

Itulah Kebijakan Bodoh dari pemerintahan SBY yang pro Barat, hanya manut saja nrimo dan rakyat yang menderita.
__________________
Si Ganteng No.1 Siauw Shiyi Lang Sang Pendekar Berandalan
Reply With Quote
  #2  
Old 21st May 2008, 11:03
seageath's Avatar
seageath seageath is offline
Groupie Member
 
Join Date: Oct 2007
Location: It's A City, It's An Island ... No It's A Country
Posts: 15,611
seageath is a legendseageath is a legendseageath is a legendseageath is a legendseageath is a legendseageath is a legendseageath is a legendseageath is a legendseageath is a legendseageath is a legendseageath is a legend
Default

Saran saja, dibikin list donk biar keliatan bukan paparan
Jadi lebih ada komparasinya antara GNP & BBM
Dan jelas beda negara minyak sama yang bukan

[sea]
__________________
Usai pilpres buat yang stress silahkan merujuk ke rsj terdekat ... Gratisss
"Saiki lontong sayur wis ora payu", tetep waspada dengan Janji Palsu , Kumis Palsu
Reply With Quote
  #3  
Old 21st May 2008, 11:12
kendarto kendarto is offline
Mania Member
 
Join Date: Dec 2007
Location: Yogyakarta
Posts: 1,035
kendarto is a celebrity wannabe
Send a message via Yahoo to kendarto
Default

Quote:
Originally Posted by Shiyi lang View Post
Inilah kebohongan pemerintah SBY JK mengenai harga BBM didunia yang katanya Indonesia termurah didunia kata JK.

Berikut adalah daftar harga minyak di seluruh dunia.

Di Venezuela harganya hanya Rp 460/liter, di Saudi Arabia Rp 1.104/liter, di Nigeria Rp 920/liter, di Iran Rp 828/liter, di Mesir Rp 2.300/liter, dan di Malaysia Rp 4.876/liter. Rata-rata pendapatan per kapita di negara-negara tersebut lebih tinggi dari kita. Sebagai contoh Malaysia sekitar 4 kali lipat dari negara kita.

Anehnya di negara kita premium yang saat ini harganya Rp 4.500/liter akan dinaikkan hingga Rp 6.000/liter sementara harga Pertamax sekitar Rp 8.700/liter.


Jelas bedanya antara negara yang mementingkan kepentingan rakyat dengan negara Neoliberalis/Pro Spekulan Pasar yang hanya mengikuti harga minyak Internasional.


AS dan Cina adalah importer minyak terbesar dan ketiga di dunia *1. Tapi harga minyak di AS cuma Rp 8.464/liter sementara Cina Rp 5.888/liter.. Padahal penduduk kedua negara lebih besar dari Indonesia (Cina penduduknya 1,3 milyar) .

Indonesia meski premium cuma Rp 4.500 (yang akan dinaikkan jadi Rp 6.000/liter) namun harga Pertamax mencapai Rp 8.700/liter. Lebih tinggi dari harga di AS. Padahal UMR di Indonesia cuma US$ 95/bulan sementara di AS US$ 980/bulan. Jadi Indonesia ini benar-benar mengikuti kemauan spekulan pasar/kaum Neoliberalis.


Dengan memakai patokan harga Internasional US$ 125/barrel maka rakyat AS yang UMRnya US$ 980/bulan masih bisa menabung US$ 955/bulan sementara rakyat Indonesia yang UMRnya hanya US$ 95/bulan harus ngutang sebanyak US$ 30/bulan. Memang rakyat miskin tidak punya mobil mewah, tapi mereka kan tetap harus pakai angkot atau sepeda motor. Dan itu pakai BBM!

Itulah Kebijakan Bodoh dari pemerintahan SBY yang pro Barat, hanya manut saja nrimo dan rakyat yang menderita.
tenang bro...
bukankah sejak awal pemerintahan SBY dan MJK sudah sering boong?????
yang jelas.... sapa suruh pilih sby..... apalagi slogan kampanyenya gak jelas gitu.... BERSAMA KITA BISA... dan sekarang tema harkitnas INDONESIA BISA....
pertanyaannya BISA apa????????????
Reply With Quote
  #4  
Old 21st May 2008, 11:24
shiyilang's Avatar
shiyilang shiyilang is offline
Mania Member
 
Join Date: Apr 2008
Location: Some Where in Valhalla
Posts: 4,680
shiyilang is a star wannabeshiyilang is a star wannabeshiyilang is a star wannabe
Default

Quote:
Originally Posted by kendarto View Post
tenang bro...
bukankah sejak awal pemerintahan SBY dan MJK sudah sering boong?????
yang jelas.... sapa suruh pilih sby..... apalagi slogan kampanyenya gak jelas gitu.... BERSAMA KITA BISA... dan sekarang tema harkitnas INDONESIA BISA....
pertanyaannya BISA apa????????????
bisa hancur remuk redam!!!!
__________________
Si Ganteng No.1 Siauw Shiyi Lang Sang Pendekar Berandalan
Reply With Quote
  #5  
Old 21st May 2008, 11:40
boy_jakarta's Avatar
boy_jakarta boy_jakarta is offline
Mania Member
 
Join Date: Sep 2007
Posts: 2,187
boy_jakarta has become a starboy_jakarta has become a starboy_jakarta has become a starboy_jakarta has become a star
Default

tambahin ah..bisa jadi bangsa miskin di dunia, bisa mengalami krisis ekonomi....
__________________
www.travian.co.id
Reply With Quote
  #6  
Old 21st May 2008, 12:17
shiyilang's Avatar
shiyilang shiyilang is offline
Mania Member
 
Join Date: Apr 2008
Location: Some Where in Valhalla
Posts: 4,680
shiyilang is a star wannabeshiyilang is a star wannabeshiyilang is a star wannabe
Default Proses pemiskinan akibat kenaikan BBM.

Inilah proses pemiskinan massal rakyat Indonesia oleh pemerintah. Dengan menaikan harga BBM yang diikuti oleh kenaikan harga-harga barang lainnya, otomatis mayoritas rakyat bertambah miskin akibat biaya kebutuhan hidup yang bertambah, sementara penghasilan tetap. Dulu yang bisa menyekolahkan anaknya, sekarang tidak bisa. Dana kompensasi seperti beras raskin seharga Rp 1000 per liter, hanya menjangkau kurang dari 5% penduduk Indonesia. Padahal jumlah rakyat miskin Indonesia menurut Bank Dunia (dengan penghasilan kurang dari US$ 2 per hari) ada 60% atau 132 juta penduduk.



Hanya segelintir orang saja yang bertambah kaya akibat kenaikan harga BBM, yaitu pegawai Pertamina dan perusahaan minyak lainnya, serta para pejabat Negara. Sementara mayoritas rakyat menderita karena naiknya harga BBM dan barang-barang lainnya.

Selasa, (22-03-’05)

Persoalan kemiskinan kembali menjadi menu menarik yang banyak dibicarakan orang pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Karena, kenaikan harga BBM disinyalir kuat telah menyebabkan peningkatan angka kemiskinan di Tanah Air sekitar 2 persen dari angka sebelumnya.


Hal ini dapat dibenarkan dengan merujuk pada berbagai penelitian yang dilakukan banyak pihak terhadap efek dari kenaikan harga BBM yang berkisar rata-rata secara keseluruhan mencapai 29 persen. Kenaikan harga BBM yang baru diberlakukan awal bulan Maret lalu akan tetap menambah jumlah penduduk miskin di Tanah Air kendatipun dana kompensasi pencabutan subsidi BBM dikucurkan oleh pemerintah.


Berdasarkan prediksi Kepala Subdirektorat pada Direktorat Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Hamonangan Ritonga, dapat ditarik kesimpulan bahwa kenaikan harga BBM akan meningkatkan jumlah orang miskin di Indonesia. Besarnya tambahan orang miskin yang bakal terjadi adalah sebanyak 2 persen dari total penduduk atau sekitar 4 juta orang. Sebuah angka fantastis yang sangat memprihatinkan.


Dalam penjelasannya itu, dana kompensasi yang dibutuhkan oleh setiap penduduk miskin sebesar Rp 23 ribu rupiah. Dengan patokan itu, dana kompensasi dari kenaikan harga BBM senilai Rp 18,1 triliun (dikurangi biaya monitoring) yang akan dikucurkan oleh pemerintah nanti hanya akan menjangkau sekitar 30 persen penduduk miskin. Dari angka ini kemudian dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk miskin akan berkurang sebanyak 2 persen.


Namun demikian, di sisi lain terdapat sekitar 40 persen dari penduduk yang sedikit berada di atas garis kemiskinan (10,5 persen dari total penduduk) yang tidak menerima dana kompensasi tersebut. Dengan kenaikan harga BBM itu, penduduk golongan ini akan langsung merosot statusnya menjadi masyarakat miskin. Hal ini menjelaskan bahwa sebanyak 40 persen dari 10,5 persen penduduk hampir miskin di Indonesia atau setara dengan 4 penduduk kita akan jatuh miskin. (Koran Tempo, 14/03/2005).


Dari gabungan data-data di atas, maka tidak salah bila diungkapkan, kenaikan harga BBM yang dijelaskan Pemerintah Indonesia akan cukup mampu meminimalisir angka kemiskinan di negara yang sedang mengalami sengketa teritorial di Ambalat ini, hanyalah isapan jempol belaka. Kenaikan harga BBM justru ikut menyumbang peningkatan angka kemiskinan yang beberapa waktu lalu sudah bisa sedikit dieliminir dengan penurunan status 40 persen penduduk hampir miskin di Indonesia.


Karena itulah tidak mengherankan bila sebanyak lima fraksi besar DPR RI tetap menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah tanpa persetujuan pihak DPR itu. Pun dalam Rapat Konsultasi antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan DPR RI soal kebijakan kenaikan harga BBM (14/13) di Pustaka Loka Nusantara IV, Fraksi Demokrasi Indonesia Perjuangan (FDIP) melakukan walk out. Bahkan Rapat Paripurna DPR yang membahas kenaikan harga BBM sejak tanggal 15 Maret 2003 berlangsung alot, berbuntut ricuh dan berakhir buntu setelah Fraksi PDIP dan PKB juga melakukan walk out, Kamis (17/3).


Di samping itu, banyak elemen masyarakat sampai hari ini terus melakukan protes dan demontrasi menolak kenaikan harga BBM dan meminta agar harga BBM diturunkan kembali. Di tengah persoalan sengketa wilayah Ambalat antara Indonesia dan Malaysia, demontrasi menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM ini masih bisa kita jumpai di berbagai wilayah Indonesia.


Minimal ada tiga alasan fundamental kenapa aksi demontrasi itu masih marak dilakukan.


Pertama, pemerintah ketika membuat kebijakan menaikkan harga BBM sama sekali tidak memperhatikan kepentingan rakyat sebagai stakeholder utama. Motif kenaikan harga BBM adalah ekonomi dengan standar harga dunia dan pasar serta asumsi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) semata. Dalam hal ini faktor realitas sosial sama sekali tidak menjadi landasan pentimbangan dalam rencana kebijakan pemerintah tersebut. Padahal kenaikan harga BBM itu sangat membebani kehidupan sosial masyarakat Indonesia.


Kedua, kenaikan harga BBM hanya akan semakin menambah beban masyarakat yang sampai saat ini masih juga menanggung beban krisis ekonomi. Khususnya masyarakat marginal yang hidupnya serba kekurangan. Kenaikan harga BBM telah mengakibatkan efek domino di masyarakat sebab selalu diikuti dengan melonjaknya harga berbagai kebutuhan makanan pokok yang selalu dikonsumsi masyarakat akar rumput. Belum lagi ditambah dengan naiknya ongkos angkutan umum yang kian mencekik leher masyarakat miskin kita.


Ketiga, adanya kekhawatiran tidak sampainya dana kompensasi dari kenaikan harga BBM ke tangan yang berhak menerimanya. Diprediksikan oleh banyak kalangan akan terjadi lagi apa yang disebut sebagai “tradisi korupsi”. Hal ini cukup beralasan sebab mental korupsi masyarakat Indonesia masih tergolong tinggi.


Karena itulah, kebijakan menaikkan harga BBM dinilai tidak etis. Bahkan muncul tudingan bahwa pemerintah kurang kreatif dalam mencari alternatif penyelesaian terhadap defisit APBN. Padahal di luar kebijakan menaikkan harga BBM ini masih terdapat alternatif lainnya yang lebih baik, seperti melakukan pemberantasan korupsi secara serius dan kontinyu serta menerapkan pajak terhadap barang-barang mewah.


Kemiskinan Temporal dan Struktural



Pada dasarnya kemiskinan merupakan masalah klasik yang hingga hari ini belum terselesaikan secara baik. Ia adalah bagian dari masalah kemanusiaan yang selalu dihadapi umat manusia di pelbagai belahan dunia, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sebab dan sifatnya bisa bervariasi, ada yang bersifat temporal atau perorangan, seperti karena sikap mental atau fisik, dan ada pula yang bersifat stuktural karena eksploitasi dalam pola hubungan yang tidak adil dan represif dari seseorang atau suatu kelompok pada seseorang atau kelompok lainnya.


Dalam konteks ini, Ahmad Sanusi mengelaborasi lebih jauh bahwa kemiskinan temporal adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh cacat jasmani atau jiwa atau pola akibat malapetaka yang menimpa seseorang. Cacat jasmani atau mental bisa mengakibatkan seseorang tidak dapat bekerja seperti biasanya hingga menyebabkan tidak produktif dan menjadi miskin. Demikian pula bencana alam atau kemarau panjang yang menyerang petani dapat pula menyebabkan kemiskinan.


Berbeda dengan kemiskinan stuktural. Dawan Raharjo dalam Esei-esei Ekonomi Politik menganalisa faktor kemiskinan stuktural dengan bertolak dari keadaan struktur sosial yang eksploitatif dalam pola interaksi pada institusi-institusi tertentu. Karena itu, kemiskinan jenis ini tidak semata-mata sebagai akibat dari faktor-faktor yang ada pada dirinya sendiri dan dengan sendirinya, melainkan sebagai akibat dari eksploitasi yang cenderung represif dan dehumanis.


Tidak terlalu berlebihan kiranya bila kemiskinan yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM ini dimasukkan dalam kategori kemiskinan struktural yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada nasib masyarakat miskin. Masyarakat miskin hanya dijadikan kedok dari kebijakan pemerintah yang terkesan baik. Namun secara substantif, justru sangatlah buruk dan eksploitatif
__________________
Si Ganteng No.1 Siauw Shiyi Lang Sang Pendekar Berandalan
Reply With Quote
  #7  
Old 21st May 2008, 13:17
lodan's Avatar
lodan lodan is offline
Mania Member
 
Join Date: Oct 2007
Location: abis naik kereta... trus nyambung angkot... nyampe d...
Posts: 2,977
lodan is a legendlodan is a legendlodan is a legendlodan is a legendlodan is a legendlodan is a legendlodan is a legendlodan is a legendlodan is a legendlodan is a legendlodan is a legend
Send a message via Yahoo to lodan
Post

beginilah nasib bangsa Indonesia jika pemimpinnya terdiri dari pengusaha yang hanya memikirkan keuntungan sendiri...
__________________
Ya Awloh, terima kasih atas nikmat yang kau berikan pada hambamu..
Reply With Quote
  #8  
Old 21st May 2008, 13:25
shiyilang's Avatar
shiyilang shiyilang is offline
Mania Member
 
Join Date: Apr 2008
Location: Some Where in Valhalla
Posts: 4,680
shiyilang is a star wannabeshiyilang is a star wannabeshiyilang is a star wannabe
Default

Quote:
Originally Posted by lodan View Post
beginilah nasib bangsa Indonesia jika pemimpinnya terdiri dari pengusaha yang hanya memikirkan keuntungan sendiri...
jangan pilih pemimpin pembela yang bayar...
__________________
Si Ganteng No.1 Siauw Shiyi Lang Sang Pendekar Berandalan
Reply With Quote
  #9  
Old 21st May 2008, 14:08
shiyilang's Avatar
shiyilang shiyilang is offline
Mania Member
 
Join Date: Apr 2008
Location: Some Where in Valhalla
Posts: 4,680
shiyilang is a star wannabeshiyilang is a star wannabeshiyilang is a star wannabe
Default

Quote:
Originally Posted by Shiyi lang View Post
Inilah proses pemiskinan massal rakyat Indonesia oleh pemerintah. Dengan menaikan harga BBM yang diikuti oleh kenaikan harga-harga barang lainnya, otomatis mayoritas rakyat bertambah miskin akibat biaya kebutuhan hidup yang bertambah, sementara penghasilan tetap. Dulu yang bisa menyekolahkan anaknya, sekarang tidak bisa. Dana kompensasi seperti beras raskin seharga Rp 1000 per liter, hanya menjangkau kurang dari 5% penduduk Indonesia. Padahal jumlah rakyat miskin Indonesia menurut Bank Dunia (dengan penghasilan kurang dari US$ 2 per hari) ada 60% atau 132 juta penduduk.



Hanya segelintir orang saja yang bertambah kaya akibat kenaikan harga BBM, yaitu pegawai Pertamina dan perusahaan minyak lainnya, serta para pejabat Negara. Sementara mayoritas rakyat menderita karena naiknya harga BBM dan barang-barang lainnya.

Selasa, (22-03-’05)

Persoalan kemiskinan kembali menjadi menu menarik yang banyak dibicarakan orang pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Karena, kenaikan harga BBM disinyalir kuat telah menyebabkan peningkatan angka kemiskinan di Tanah Air sekitar 2 persen dari angka sebelumnya.


Hal ini dapat dibenarkan dengan merujuk pada berbagai penelitian yang dilakukan banyak pihak terhadap efek dari kenaikan harga BBM yang berkisar rata-rata secara keseluruhan mencapai 29 persen. Kenaikan harga BBM yang baru diberlakukan awal bulan Maret lalu akan tetap menambah jumlah penduduk miskin di Tanah Air kendatipun dana kompensasi pencabutan subsidi BBM dikucurkan oleh pemerintah.


Berdasarkan prediksi Kepala Subdirektorat pada Direktorat Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Hamonangan Ritonga, dapat ditarik kesimpulan bahwa kenaikan harga BBM akan meningkatkan jumlah orang miskin di Indonesia. Besarnya tambahan orang miskin yang bakal terjadi adalah sebanyak 2 persen dari total penduduk atau sekitar 4 juta orang. Sebuah angka fantastis yang sangat memprihatinkan.


Dalam penjelasannya itu, dana kompensasi yang dibutuhkan oleh setiap penduduk miskin sebesar Rp 23 ribu rupiah. Dengan patokan itu, dana kompensasi dari kenaikan harga BBM senilai Rp 18,1 triliun (dikurangi biaya monitoring) yang akan dikucurkan oleh pemerintah nanti hanya akan menjangkau sekitar 30 persen penduduk miskin. Dari angka ini kemudian dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk miskin akan berkurang sebanyak 2 persen.


Namun demikian, di sisi lain terdapat sekitar 40 persen dari penduduk yang sedikit berada di atas garis kemiskinan (10,5 persen dari total penduduk) yang tidak menerima dana kompensasi tersebut. Dengan kenaikan harga BBM itu, penduduk golongan ini akan langsung merosot statusnya menjadi masyarakat miskin. Hal ini menjelaskan bahwa sebanyak 40 persen dari 10,5 persen penduduk hampir miskin di Indonesia atau setara dengan 4 penduduk kita akan jatuh miskin. (Koran Tempo, 14/03/2005).


Dari gabungan data-data di atas, maka tidak salah bila diungkapkan, kenaikan harga BBM yang dijelaskan Pemerintah Indonesia akan cukup mampu meminimalisir angka kemiskinan di negara yang sedang mengalami sengketa teritorial di Ambalat ini, hanyalah isapan jempol belaka. Kenaikan harga BBM justru ikut menyumbang peningkatan angka kemiskinan yang beberapa waktu lalu sudah bisa sedikit dieliminir dengan penurunan status 40 persen penduduk hampir miskin di Indonesia.


Karena itulah tidak mengherankan bila sebanyak lima fraksi besar DPR RI tetap menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah tanpa persetujuan pihak DPR itu. Pun dalam Rapat Konsultasi antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan DPR RI soal kebijakan kenaikan harga BBM (14/13) di Pustaka Loka Nusantara IV, Fraksi Demokrasi Indonesia Perjuangan (FDIP) melakukan walk out. Bahkan Rapat Paripurna DPR yang membahas kenaikan harga BBM sejak tanggal 15 Maret 2003 berlangsung alot, berbuntut ricuh dan berakhir buntu setelah Fraksi PDIP dan PKB juga melakukan walk out, Kamis (17/3).


Di samping itu, banyak elemen masyarakat sampai hari ini terus melakukan protes dan demontrasi menolak kenaikan harga BBM dan meminta agar harga BBM diturunkan kembali. Di tengah persoalan sengketa wilayah Ambalat antara Indonesia dan Malaysia, demontrasi menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM ini masih bisa kita jumpai di berbagai wilayah Indonesia.


Minimal ada tiga alasan fundamental kenapa aksi demontrasi itu masih marak dilakukan.


Pertama, pemerintah ketika membuat kebijakan menaikkan harga BBM sama sekali tidak memperhatikan kepentingan rakyat sebagai stakeholder utama. Motif kenaikan harga BBM adalah ekonomi dengan standar harga dunia dan pasar serta asumsi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) semata. Dalam hal ini faktor realitas sosial sama sekali tidak menjadi landasan pentimbangan dalam rencana kebijakan pemerintah tersebut. Padahal kenaikan harga BBM itu sangat membebani kehidupan sosial masyarakat Indonesia.


Kedua, kenaikan harga BBM hanya akan semakin menambah beban masyarakat yang sampai saat ini masih juga menanggung beban krisis ekonomi. Khususnya masyarakat marginal yang hidupnya serba kekurangan. Kenaikan harga BBM telah mengakibatkan efek domino di masyarakat sebab selalu diikuti dengan melonjaknya harga berbagai kebutuhan makanan pokok yang selalu dikonsumsi masyarakat akar rumput. Belum lagi ditambah dengan naiknya ongkos angkutan umum yang kian mencekik leher masyarakat miskin kita.


Ketiga, adanya kekhawatiran tidak sampainya dana kompensasi dari kenaikan harga BBM ke tangan yang berhak menerimanya. Diprediksikan oleh banyak kalangan akan terjadi lagi apa yang disebut sebagai “tradisi korupsi”. Hal ini cukup beralasan sebab mental korupsi masyarakat Indonesia masih tergolong tinggi.


Karena itulah, kebijakan menaikkan harga BBM dinilai tidak etis. Bahkan muncul tudingan bahwa pemerintah kurang kreatif dalam mencari alternatif penyelesaian terhadap defisit APBN. Padahal di luar kebijakan menaikkan harga BBM ini masih terdapat alternatif lainnya yang lebih baik, seperti melakukan pemberantasan korupsi secara serius dan kontinyu serta menerapkan pajak terhadap barang-barang mewah.


Kemiskinan Temporal dan Struktural



Pada dasarnya kemiskinan merupakan masalah klasik yang hingga hari ini belum terselesaikan secara baik. Ia adalah bagian dari masalah kemanusiaan yang selalu dihadapi umat manusia di pelbagai belahan dunia, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sebab dan sifatnya bisa bervariasi, ada yang bersifat temporal atau perorangan, seperti karena sikap mental atau fisik, dan ada pula yang bersifat stuktural karena eksploitasi dalam pola hubungan yang tidak adil dan represif dari seseorang atau suatu kelompok pada seseorang atau kelompok lainnya.


Dalam konteks ini, Ahmad Sanusi mengelaborasi lebih jauh bahwa kemiskinan temporal adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh cacat jasmani atau jiwa atau pola akibat malapetaka yang menimpa seseorang. Cacat jasmani atau mental bisa mengakibatkan seseorang tidak dapat bekerja seperti biasanya hingga menyebabkan tidak produktif dan menjadi miskin. Demikian pula bencana alam atau kemarau panjang yang menyerang petani dapat pula menyebabkan kemiskinan.


Berbeda dengan kemiskinan stuktural. Dawan Raharjo dalam Esei-esei Ekonomi Politik menganalisa faktor kemiskinan stuktural dengan bertolak dari keadaan struktur sosial yang eksploitatif dalam pola interaksi pada institusi-institusi tertentu. Karena itu, kemiskinan jenis ini tidak semata-mata sebagai akibat dari faktor-faktor yang ada pada dirinya sendiri dan dengan sendirinya, melainkan sebagai akibat dari eksploitasi yang cenderung represif dan dehumanis.


Tidak terlalu berlebihan kiranya bila kemiskinan yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM ini dimasukkan dalam kategori kemiskinan struktural yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada nasib masyarakat miskin. Masyarakat miskin hanya dijadikan kedok dari kebijakan pemerintah yang terkesan baik. Namun secara substantif, justru sangatlah buruk dan eksploitatif
silahkan dicermati...kebijakan pemerintah SBY hanya dibuat untuk menyengsarakan rakyat.
__________________
Si Ganteng No.1 Siauw Shiyi Lang Sang Pendekar Berandalan
Reply With Quote
  #10  
Old 21st May 2008, 14:48
emblazon's Avatar
emblazon emblazon is offline
Mania Member
 
Join Date: Sep 2007
Location: Gentile Appiano
Posts: 4,561
emblazon is a legendemblazon is a legendemblazon is a legendemblazon is a legendemblazon is a legendemblazon is a legendemblazon is a legendemblazon is a legendemblazon is a legendemblazon is a legendemblazon is a legend
Default

Emang bener kalo Venezuela BBM nya murah, tetapi apakah penduduk Venezuela sebanyak Indonesia? Bung Shiyi Lang, Gw yakin anda hanyalah orang yang pengen SBY turun dengan maksud maksud tertentu. Tidak ada post yang anda buat optimis dengan keputusan pemerintah. Well, apakah anda lupa, listrik yang kita nikmati, pembangkitnya dari BBM?

Janganlah bandingin Indonesia dengan China atau AS. Kita liat aja, emang penduduk Cina & AS lebih sedikit dari Indonesia, tetapi PLN kita menggunakan MINYAK. Liat orang miskin di Indonesia yang masih banyak lagi tidak menggunakan kompor gas. Berbanding sama AS dan China, kompor buat mereka udah menggunakan LISTRIK. Jadi mereka ga pakai minyak banyak banyak kecuali kendaraan. Pembangkit listrik pun bermacam macam, dari air terjun, tenaga angin dan tenaga matahari. Kalo di Indonesia, kita masih memakai BBM. Gimana mau BBM murah? Paling 30% orang Indonesia pakai kompor gas, 70% pakai minyak tanah. Apa ga rugi? Apakah bisa di bayangin berapa juta kilo liter minyak tanah di pakai?

99% kendaraan di Indonesia menggunakan BBM. Dibandingin dengan negara AS yang banyak kendaraan memakai gas dan 70% komuter di AS menggunakan angkutan umum dan subway bukan kendaraan pribadi. Memang Indonesia punya ladang minyak, tetapi banyak daripada itu sudah habis atau tiur sejak Soeharto lengser. Ngak salah kalo jaman Soeharto, BBM ga pernah naek.

PS = harga bensin di Malaysia yang subsidi 1.99 Ringgit = 6 ribu. Non subsidi 3 ringgit = 9 ribu.
__________________
Forza Inter Nerazzuri and.... Vodafone Mclaren Mercedes

Last edited by emblazon; 21st May 2008 at 14:50..
Reply With Quote
Reply

Bookmarks


Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 01:44.