|
||||||
![]() |
|
|
Thread Tools |
|
|
#1
|
|
Banned
|
Indonesia tidak akan eksis jika budaya tidak mau menghormati agama lain terus dipelihara. Di sisi lain kepolisian masih tunduk pada organisasi masyarakat (ormas) yang sering menggunakan kekerasan untuk menekan kelompok lain.
"Kapolri Timur Pradopo harus bisa menciptakan polisi yang tidak tunduk pada ormas-ormas yang memaksakan kehendak. Jika ada ormas yang melanggar UUD dan Pancasila, harus dibubarkan," tegas pengamat budaya, Ratna Sarumpaet kepada itoday (22/6). Penolakan Front Pembela Islam (FPI) terhadap konser Trio Macan di Bandung, menurut Ratna merupakan bentuk kelancangan FPI mengatur semua hal. "FPI itu bukan lembaga agama dan bukan lembaga sensor. Dikhawatirkan, umat Islam di Indonesia mengira cara yang dilakukan FPI itu cara yang benar. Cara FPI itu tidak benar. Itu bukan Islam, FPI mengklaim," tegas Ratna. Menurut Ratna, arogansi FPI menguat karena kepolisian tidak bisa membedakan atau tidak paham masalah demokrasi. "FPI bisa tekan kepolisian mungkin karena Kapolri Timur Pradopo anak buahnya Nugroho Djajusman. Kalau tidak bisa mengatur FPI, polisi bubar saja, suruh FPI yang ngatur. Ini polisi banci. Polisi digaji dari uang rakyat," ungkap Ratna. Ratna menegaskan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebenarnya tidak membenarkan arogansi ini. Hanya saja, SBY tidak mempunyai nyali untuk mengatur. "SBY ke mana, tidak punya nyali mengatur. Jika jadi pemimpin seharusnya jujur, tidak boleh ada yang disembunyikan. Saya tidak tahu mengapa SBY tunduk kepada polisi," kata Ratna. Lebih jauh Ratna menyatakan, FPI di lapangan justru menyulitkan masyarakat. FPI bahkan mengambilalih kekuasaan. "Jika berpegang pada Pancasila, kelompok semacam FPI ini harus dibubarkan," pungkas Ratna. SUMBER |