![]() |
| |||||||
| Register | FAQ | Members List | Social Groups | Award | Calendar | Mark Forums Read | |
![]() |
| Thread Tools | Display Modes |
#1 | |||
| |||
| Keberadaan Arsenal Football School Di Tangerang dan Real Madrid Football School Rencana Di Pulau Bali tidak akan berbuat banyak untuk perkembangan sepakbola masa depan yang terpadu. Kedua Football School itu hanya pengembangan sayap bisnis mereka saja dan tidak ada hubungannya dengan pembangunan sepakbola Indonesia masa depan. Yang ada hanya pencetak pemain yang syukur-syukur digunakan oleh Arsenal dan Real Madrid. Secara teori, sistem pembinaan yang paling baik itu adalah Kompetisi. Sekarang coba kita liat, apakah ada kompetisi di Indonesia. Jika Indonesia terlalu besar, kita perkecil ke tingkat Provinsi atau Kabupaten/Kota. Apakah kita punya kompetisi yang permanen, lancar, kompetitif dan teratur? Belum lagi kalau ditanyakan apakah ada kompetisi dari kelompok umur paling bawah misalnya dari usia 12 tahun. Jawabannya adalah AMAT SANGAT TIDAK ADA!! Dengan jawaban itu kapan kita bisa berharap akan muncul sepakbola dan pemain sepakbola yang handal? Yang terlihat hanyalah sistem yang instant dan biaya besar seperti tim U17 di Uruguay sekarang, yang hanya mengulangi kesalahan dari PSSI Pratama, Garuda I, Garuda II, Primavera dan Baretti. Memang ada Danone dan lain-lain membuat turnamen kelompok umur, tapi itu sifatnya temporer dan hura-hura saja. Tidak ada kontribusinya untuk kemajuan sepakbola di Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan bahwa Danone sudah berkiprah dari tahun 2002, berarti sekarang sudah 6 tahun. Artinya juga, jika hasil Danone itu bagus, Tim Indonesia Usia 16 s/d 18 tidak akan jadi bulan-bulanan negara lain dalam turnamen resmi. Dengan tidak adanya kompetisi yang rutin, ketat dan teratur dari Umur 12 tahun, bagaimana kita bisa memberikan pengalaman tanding secara resmi kepada calon-calon pemain masa depan. Seorang pemain atau calon pemain masa depan itu punya standar minimal kuantitas mereka bertanding resmi secara teratur dan terjadwal. Contohnya, pertanyaan yang bisa dimunculkan adalah berapa kali Bambang Pamungkas bermain dalam pertandingan resmi dari usia 12 tahun. Belum lagi pertanyaannya berapa gol yang sudah diciptakan, asist yang pernah diberikan, kartu kuning atau kartu merah yang didapat. Dengan tidak ada data itu bagaimana kita bisa menjual pemain keluar negeri? Wajar sekali kalau pemain kita tidak punya nilai jual di luarnegeri, selain karena memang secara kualitas tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kesimpulan dari paparan diatas adalah : yang dibutuhkan saat ini adalah adanya Kompetisi kelompok umur dari 12 tahun sampai 18 tahun. Tidak perlu scopenya terlalu besar untuk seluruh Indonesia, dimulai dulu misalnya di DKI Jakarta atau Jabotabek. Dibuat Kompetisi antar SSB yang ada di Jabotabek dengan Kompetisi yang teratur, permanen dan jangka panjang. Bukan turnamen yang 15 hari habis, tapi betul-betul kompetisi yang selesai dalam 1 tahun. Kemudian dari kompetisi itu direkam database masing-masing anak-anak calon pemain masa depan itu. Sehingga waktu mereka sudah dewasa, mereka punya track record yang bisa digunakan secara profesional. Jika cara ini dilakukan akan mengatasi beberapa kendala selama ini ada yaitu : 1. Pemain Indonesia masa depan akan lahir dari kompetisi yang ketat, bukan pemain yang instant. 2. Pemilihan pemain nasional akan lebih fair karena dipilih dari hasil kompetisi dan publik melihatnya. Tidak asal comot berdasarkan rekomendasi dari sana-sini. 3. Pemain yg lahir akan merupakan pilihan terbaik termasuk dari segi mental dan kelakuan. Karena persaingan yang ketat, maka mereka tidak manja dan bertingkah yang aneh-aneh seperti sekarang. 4. Akan ada data pemain yang akurat yang ini bisa dimanfaatkan oleh klub-klub profesional untuk merekrut pemain dan juga berguna bagi jurnalist untuk memperkaya liputan. 5. Dengan kompetisi ini, selain melahirkan pemain, juga pendukung lainnya akan menjadi terasah kemampuannya, yakni para wasit dan pelatih. Wasit punya banyak jam terbang memimpin sehingga dari Kompetisi kelompok umur/usia muda ini akan muncul wasit-wasit yang baik untuk Liga profesional. Begitu juga dengan pelatih. Akan muncul pelatih yang berpengalaman bukan pelatih yang karbitan yang terpilih hanya karena kedekatan dengan Pengurus. 6. Keterlibatan sponsor akan lebih solit karena ada kepastian produk mereka akan sukses dengan mensponsori kompetisi. 7. Pemborosan dana yang dilakukan selama ini dengan mengirim tim keluar negeri dapat ditekan, dan uang yang beredar hanya di dalam negeri. Ini juga berguna untuk ketahanan perekonomian nasional. Untuk konsep Kompetisi ini sendiri sudah ada, dan terbuka untuk didiskusikan. Jika ada pencinta sepakbola yang peduli dengan sepakbola Indonesia masa depan, kita bisa memulainya, dan setelah 2 kali Olimpiade ke depan, kita sudah punya Timnas U23 yang bisa diandalkan yang pemainnya sudah ditempa selama lebih dari 8 tahun berkompetisi yang ketat. Jika ini tidak berhasil juga, berarti Teori yang mengatakan bahwa Kompetisi adalah sistem pembinaan yang paling sempurna, patut dipertanyakan. Dimintakan komentarnya untuk penyempurnaan konsep yang sedang dibangun. Thanks All. ainulridha.blogspot Last edited by bang-ridha; 2nd October 2008 at 15:28.. |
#2 | ||||
| ||||
| Kehidupan Sosial jangan lupa. masih kecil jago gede dikit ngerokok gede dikit lagi nyoba pil koplo pas gede beneran lupa maen bola, ingetnya seradak seruduk. walaupun gak semuanya.. hihi __________________ Liverpool Aing Kumaha Aing |
#3 | |||
| |||
| Quote:
itulah yang terjadi sekarang, karena tidak jelasnya arah pembinaan, makanya mereka frustasi. Tapi kalau ditata dengan rapi dan jelas kapan mereka bertanding dan mereka berkompetisi dengan baik, mereka akan lebih terkontrol. Kejadian sosial yang bung plenyut sampaikan itu karena mereka gak jelas kapan bertanding. mereka frustasi karena tidak terpilih dengan cara yang benar dan kompetitif. Hal ini yang harus kita kelola bersama. Sebelumnya trims atas tanggapannya. Salam |
#4 | ||||
| ||||
| Quote:
![]() __________________ |
#5 | |||
| |||
| Quote:
Memang benar kita punya diklat-diklat baik yang dikelola oleh Depdiknas maupun swasta. Jumlahnya kurang lebih ada 10 buah yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Diklat Ragunan dan Sawangan termasuk di dalamnya. Namun yang jadi pertanyaan, apakah sistem rekruitment kedalamnya sudah selektif dan kompetitif. Apakah anak-anak titipan dari luar bisa masuk atau tidak. kalau mereka rekruitmen, dari mana asalnya? apa hanya dari seleksi yang hanya beberapa hari atau bagaimana. Kalau sistem rekruitmennya tidak bagus, berarti yang akan masuk juga bibit yang tidak bagus. Bisa ditebak hasilnya juga seperti apa. Kemudian Diklat-diklat itu hanya bertanding resmi 1x dalam satu tahun dalam kejuaraan nasional. itu hanya kurang dari satu bulan. sementara hari-hari mereka habis dengan latihan melulu. Kapan mereka akan maju. Tentang kemana mereka? mereka tetap tersalur ke Liga Indonesia. kalau kualitas mereka bagus, pasti akan dipakai oleh tim Liga Indonesia baik yg namanya Super, Divisi Utama sampai kebawahnya. Dan juga bisa menggeser Pemain asing yang kualitasnya juga tidak terlalu jauh amat jika kita bisa membina pemain dari kecil. Tentang Liga dan Pengurus, ini lah saatnya kita mencoba membuka mata pengurus PSSI, bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah salah. Kita bisa mencari alternatif untuk memecahkan persoalan sepakbola masa depan. Nanti akan kelihatan yang mana yang baik dan mana yang buruk. Dan yang buruk akan punah terseleksi oleh alam. Sebelumnya terima kasih atas tanggapannya. Marilah kita berdiskusi dengan jernih tentang konsep ini. Mungkin sedikit banyak dapat membantu mengembangkan wacana membangun sepakbola masa depan. Ditunggu pendapat yg lainnya.. Salam, |
#6 | ||||
| ||||
| Quote:
kalo bisa di terima, dibuat Liga Sekolah. konsepnya masing2 kota/propinsi punya liga regional yang juaranya di temuin lagi di Liga Super Sekolah.. ![]() __________________ Liverpool Aing Kumaha Aing |
#7 | |||
| |||
| Quote:
Satu lagi, kalau yang dibuat liga sekolah, dikhawatirkan akan menghancurkan semangat masyarakat yang telah aktif untuk membuat Sekolah Sepakbola. Yang perlu sekarang adalah menata Sekolah Sepakbola yang telah ada. Untuk masing-masing kota/provinsi punya liga regional, memang harusnya seperti itu. Tapi alangkah lebih baik jika dimulai dalam scope yang kecil dulu sebagai pilot project. Intinya adalah yang diperlukan adalah betul-betul sebuah liga yang jangka panjang, bukan yang temporer apalagi turnamen yang dinamakan Liga. Sekali lagi terimakasih atas masukan dan sarannya. Salam |
#8 | ||||
| ||||
| Quote:
orang tua biasanya ragu untuk masukin anaknya ke SSB, ngeri sekolah formalnya keteteran, nah .. kalo di formalkan, di harapkan keraguan itu bisa luntur perlahan. bisa jadi gara2 ragu masukin ke SSB, anak yang berpotensi cuma jadi andalan di kampungnya tanpa terlihat oleh siapa2. nice discussion bro.. thanks.. ![]() __________________ Liverpool Aing Kumaha Aing |
#9 | |||
| |||
| Quote:
Saat ini orang tua ragu masukin anaknya ke SSB karena arah SSB itu tidak jelas. Makanya dibuat jelas dengan membuat liga. Sebenarnya, memasukkan anak ke SSB hampir sama memberikan aktifitas lain kepada ketimbang nongkrong tidak karuan. Sama halnya orang tua memasukkan anaknya les Piano, Gitar, Menari dll. Cuma bedanya, kalau yang tadi lebih banyak individual, kalau ke SSB mungkin lebih bersosialisasi. Dengan memperjelas arah SSB, maka diharapkan tidak ada lagi keraguan. Trims bro,.. diskusinya |
#10 | ||||
| ||||
| Quote:
kalo SSB itu dibuat semacem SMK Jur Sepak Bola, setuju gak bang..?? kalo gw perhatiin SSB yang ada cuma mengakomodir hobi anak2 di bidang sepak bola, kasih tempat buat latian dan tanding sepak bola aja. __________________ Liverpool Aing Kumaha Aing |