Tekad Indonesia Bebas Narkoba 2015, Sekedar Slogan?
Quote:
Bebas Narkoba 2015 Hanya Untuk Slogan
JAKARTA (Pos Kota) – Tekad menjadikan Indonesia bebas narkoba pada 2015 agaknya jauh panggang dari api. Tahun ini saja, peredaran narkoba kian sulit dikendalikan. Melalui udara dan jalan darat, barang haram ini gencar diselundupkan. Setahun, nilai transaksi mencapai 17 triliun.
Maraknya peredaran narkoba membuat mereka yang bekerja dengan berisiko tinggi tak luput dari cengkeraman. Hanya saja, dua pilot Lion Air yang terbukti menggunakan narkoba, SS dan HA, dikirim Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk menjalani rehabilitasi. Keduanya dianggap sebagai pengguna shabu, yang berarti korban narkoba. “Mereka kami kirim ke Lido untuk rehabilitasi,” kata Direktur Tindak Kejar Deputi Pemberantasan BNN, Brigjen Benny J Mamoto, Rabu (8/2).
Diakui, pada awalnya petugas mengamankan pilot tersebut dengan alasan pekerjaan mereka langsung berhubungan dengan masyarakat. Saat disergap di satu hotel di Surabaya, Sabtu (4/2), tiga jam lagi SS akan menerbangkan pesawat ke Kalimantan. “Kini kami mengejar penjual shabu itu ke para pilot,” kata Benny Mamoto.
SS mengaku mendapatkan shabu dari penjual gelap yang link-nya telah dikenal. Mamoto mengungkapkan, pemeriksaan awal SS mengaku mengkonsumsi shabu sebagai bagian dari gaya hidup. “Padahal, pekerjaannya yang mengakut penumpang sangat berisiko tinggi,” ujar Benny usai penyergapan SS.
Gaya hidup pula yang membuat Afriyani Susanti mengkonsumsi esktasi Minggu (22/1) dinihari di Diskotek Sta Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Beberapa jam kemudian, ia mengendarai mobil. Saat melintas di Jl. Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat, gadis itu merasa tertidur lalu kendaraan pun menyeruduk 13 pejalan kaki. Sembilan di antaranya tewas. Afriyani mengaku membelinya dari seorang tukang parkir di depan diskotek.
Maraknya peredaran narkoba di Indonesia menunjukkan angka konsumen yang tinggi. Harga barang haram itu juga lebih tinggi hingga pemasok berlomba-lomba memasarkannya di negeri ini. Upaya petugas menghalangi pasokan di bandar udara semisal Soekarno Hatta relatif memberi hasil baik. Tercatat sepanjang 2011, Bea Cukai Bandara Internasional Soekarno-Hatta menggagalkan 51 kasus penyelundupan narkotika senilai Rp Rp144,284 miliar. Pada Januari tahun ini lima kasus penyelundupan narkoba senilai Rp2,613 miliar.
JALUR LAUT
Bisnis haram inik menggiurkan. Pemasok masih melihat banyaknya jalur terbuka yang bisa ditembus. Dicegat di udara, pemasok memilih jalur laut. Pada 3 Januari lalu, 26,8 Kg shabu senilai Rp50 miliar yang dibawa dua kurir disita Polres Pelabuhan Tanjung Priok. Keduanya masuk melalui Pelabuhan Kijang di Bintan, Kep. Riau, yang tak dilengkapi alat pendeteksian.
Bahkan, Samudra Hindia yang terkenal dengan ombak yang tinggi, juga ditembus. Tercatat, dua warga Somalia tewas diterjang ombak yang menghantam sekoci mereka. Seorang warga Iran yang selamat dan lima penjemput yang berasal dari negara yang sama dibekuk. Dari keterangan mereka diketahui upaya penyeludupan oleh empat warga Iran pada 19 Januari. Tembak-menembak tak terhindarkan dalam penyergapan yang mengakibatkan tiga warga Iran tewas dan satu lainnya terluka. Dari sekoci yang turun dari kapal pesiar di tengah laut itu, petugas menyita 50 Kg shabu. Kapal pesiar yang dipandu mafia internasional itu melanjutkan perjalanan ke Australia.
Jalur tikus lainnya ditempuh pengedar dengan menyewa perahu kayu layaknya nelayan. Di antaranya melalui jalur Johor, Malaysia, menuju Aceh, seperti yang dilakukan sindikat yang dibekuk pada 26 Januari untuk mengangkut narkoba senilai Rp126 miliar.
Bareskrim Mabes Polri mencatat, dalam setahun, transaksi narkoba di Indonesia mencapai Rp 17 triliun. Khusus di Jakarta, dengan jumlah pemakai mencapai 900 ribu orang, transaksi sehari sebesar Rp 6 miliar. “ Kami tidak berhenti memerangi narkoba. Tugas kami membongkar dan memutuskan mata rantai sindikat, “ kata Kanit II Narkotika Mabes Polri Kombes Siswandi, Rabu ( 8/2) malam.
HANYA SLOGAN
Dalam pandangan Reza Indragiri, psikolog forensik, target 2015 bebas dari narkoba yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanya omong kosong. “Semua hanya slogan,” ujarnya. Alasannya, jumlah penduduk yang banyak dengan angka usia produktifr yang tinggi membuat pada bandar menjadikan Indonesia sebagai pasar yang menjanjikan.
“Belum lagi lokasi Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau dengan jalur masuk yang tak semua bisa terpantau. Ini membuat posisi Indonesia sangat terbuka, misalnya dari Malaysia, Singapura, Filipina juga Australia,” katanya.
Menurutnya, tiga tahun belum cukup bagi polisi Indonesia menutup segala kekurangan itu. Soalnya , dibutuhkan perangkat yang lebih dari memadai untuk menutup jalur yang terbuka.
Meski terus digempur dengan pasokan narkotika dari berbagai penjuru, BNN terus mencari cara untuk melawan. Kepala BNN, Komjen Gorries Mere, membuka pertemuan khusus membahas peningkatan ancaman kejahatan narkoba internasional yang digelar seluruh Liaison Officer Polri dan Kedutaan Besar Republik Indonesia, Rabu (8/2) di Gedung BNN.
Kepala Humas BNN, Kombes Sumirat, mengatakan BNN tak akan mukndur dengan terus menggalang kerja sama dengan pemberantasan narkoba dari hulu sampai ke hilir. “Seluruh elemen masyarakat di dalam dan di luar negri akan dilibatkan,” ujarnya. (ifand/adin/b)
Gw pesimis alias nga yakin, kalo lihat kondisi sekarang banyak bandar atau pengedar yg masih bisa menjalankan bisnis narkoba. Penjara nga bikin dia jera. Kalau hukuman mati diterapkan menurut gw masih ada harapan.
Tapi mudah2an kita mampu.
Gw pesimis alias nga yakin, kalo lihat kondisi sekarang banyak bandar atau pengedar yg masih bisa menjalankan bisnis narkoba. Penjara nga bikin dia jera. Kalau hukuman mati diterapkan menurut gw masih ada harapan.
Tapi mudah2an kita mampu.
manusia kok gampang banget pesimis optimis dong
sekarang kan masih 2012
Berantas sumbernya TEMAT PRODUKSI, LADANG GANJA, OPIUM dan sbgainya. Berants spai akar. Wlaupun seperti mimpi n sulit terwujud. tapi terus berusaha memberantas, itu yg terbaik. Dari pada tdk melakukan apa2.