DetikForum

DetikForum (http://forum.detik.com/index.php)
-   Sejarah (http://forum.detik.com/forumdisplay.php?f=191)
-   -   TAN MALAKA pahlawan yang terlupakan... (http://forum.detik.com/showthread.php?t=85783)

okok 10th February 2009 05:05

Quote:

Originally Posted by Kaisar-Selatan (Post 6520206)
itukan waktu orla, sekarang masih Pahlawan?

Iyalah gelar pahlawan Tan Malaka gak dicabut sama presiden di Orba, Orde Reformasi, dan presiden Kabinet bersatu.

Moga-moga ada sineas film Indonesia yang mau membikin film biografi tentang Tan Malaka.........sebab hidupnya Tan Malaka itu unik.

nando_gnd 10th February 2009 10:35

testamen politik 1 oktober 1945
 
setelah berdiskusi dengan tan malaka maka pada tanggal 1 oktober 1945 di buatlah suatu Testamen politik yang bermaksud sebagai estafet kepemimpinan bila terjadi sesuatu terhadap Presiden sukarno yang akan menyebabkan kosongnya kepemimpinan republik indonesia. pada awalnya sukarno merasa hanya tan malaka lah yang mempunyai kemampuan sebagai penerus untuk memimpin bangsa dalam suasana revolusi seperti saat itu. dinilai dari pengalaman dalam perjuangan revolusi.

Rencana Soekarno untuk menunjuk seorang pemegang mandat pemimpin bangsa itu tidak disetujui oleh Moh Hatta. Hatta hanya dapat menerima bila mandataris tersebut terdiri dari beberapa orang. Akhirnya disepakati oleh Soekarno dan Hatta orang-orang yang diberi kepercayaan tersebut adalah Tan Malaka, Iwa Koesoemasoemantri, Sjahrir dan Wongsonegoro. Testamen itu berbunyi sebagai berikut (disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan):

AMANAT KAMI

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu, adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Setelah kami menyatakan kemerdekaan Indonesia atas dasar kemauan rakyat Indonesia sendiri pada 17 Agusut 1945 bersandar pada Undang-Undang Dasar yang sesuai dengan hasrat rakyat untuk mendirikan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Maka negara Indonesia menghadapi bermacam-macam kesulitan dan rintangan yang hanya bisa diselesaikan oleh rakyat yang bersatu-padu serta gagah berani di bawah pimpinan yang cerdik, pandai, cakap dan tegap.
Sedangkan sejarah dunia membuktikan pula, bahwa pelaksanaan cita-cita kemerdekaan itu bergantung pada kesanggupan seluruh rakyat untuk memberi korban apa pun juga, seperti sudah dibuktkan oleh negara-negara atau bangsa-bangsa yang besar di Amerika Utara dan Selatan, di Eropa Barat, di Rusia, Mesir, Turki dan Tiongkok.
Syahdan datanglah saatnya buat menentukan ke tangan siapa akan ditaruhkan obor kemerdekaan, seandainya kami tiada berdaya lagi akan meneruskan perjuangan kita di tengah-tengah rakyat sendiri.
Perjuangan rakyat kita seterusnya menetapkan kemerdekaannya hendaklah tetap di atas dasar persatuan segala golongan rakyat dengan menjunjung tinggi Republik Indonesia, seperti yang tercantum pokok-pokoknya dalam Undang-Undang Dasar kita.
Bahwasanya setelah selesai kami pikirkan dengan saksama dan periksa dengan teliti, pula dengan persetujuan penuh dengan para pemimpin yang ikut serta bertanggung-jawab.
Maka kami putuskanlah, bahwa pimpinan perjuangan kemerdekaan kita akan diteruskan oleh saudara-saudara: Tan Malaka, Iwa Koesoemasoemantri, Sjahrir, Wongsonegoro.

Hidup Republik Indonesia!
Hidup Bangsa Indonesia!

Jakarta, 1 Oktober 1945
Sukarno
Moh. Hatta

maw_sendiri_dulu 10th February 2009 11:03

Quote:

Originally Posted by okok (Post 6522253)
Iyalah gelar pahlawan Tan Malaka gak dicabut sama presiden di Orba, Orde Reformasi, dan presiden Kabinet bersatu.

Moga-moga ada sineas film Indonesia yang mau membikin film biografi tentang Tan Malaka.........sebab hidupnya Tan Malaka itu unik.

:iagree::iagree:

nando_gnd 10th February 2009 11:05

Ada dua kesempatan emas untuk tampil di panggung politik yang di tolak oleh Tan Malaka. Tan Malaka menolak tawaran Soekarno untuk sebuah jabatan tak resmi di luar kabinet pertama yang telah dilantik pada 4 September 1945. Pertimbangannya, status pemerintahan Republik masih belum jelas, masih berkolaborasi dengan Jepang. Kedua, menurut versi Tan Malaka, ia menolak tawaran Sjahrir cum suis untuk menjadi Ketua Partai Sosialis dengan alasan ”tidak ingin menjadi teman separtai kaum sosialis, yang kebanyakan masih mau berkompromi dengan kapitalis-imperialis itu”. Ia pun mengatakan, ”Belum sampai waktunya saya untuk keluar berterang-terangan memimpin sesuatu partai pula.”

Pengalaman hidup puluhan tahun diburu agen rahasia negeri-negeri imperialis membuatnya Jadi orang yang selalu waspada dan tertutup . Dan ia lebih berhati-hati dalam bertindak untuk mewujudkan khayalan-khayalan tertentu dalam proses revolusi yang sedang berkembang itu.

Tan Malaka ”bergairah” kembali ketika menyaksikan heroisme para pemuda dalam pertempuran Surabaya. Semangat itulah yang dilihatnya sebagai modal untuk menjalankan revolusi total menuju kemerdekaan seratus persen dengan kekuatan aksi massa. Dalam brosur "Moeslihat" yang ditulis tiga minggu setelah pertempuran, ia mengajak semua pihak bersatu melawan serangan musuh dari luar, membentuk laskar rakyat, membagikan tanah kepada rakyat jelata, memperjuangkan hak buruh dalam mengontrol produksi, membuat rencana ekonomi perang, dan melucuti senjata Jepang. Kepemimpinan yang kuat dan organisasi perjuangan yang solid adalah dua hal yang, menurut dia, sangat dibutuhkan rakyat Indonesia.

Gagasan-gagasan Tan Malaka mengundang simpati beberapa kelompok dari berbagai aliran yang kecewa terhadap kinerja kabinet Sjahrir. Pada 3 Januari 1946, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Indonesia pada 1922, Tan Malaka menjadi pembicara utama dalam sebuah kongres besar Persatuan Perjuangan yang menaungi 141 organisasi perjuangan.Tan Malaka menyampaikan pidato tentang pentingnya persatuan untuk mencapai kemerdekaan 100 persen yang kemudian menjadi program pertama gerakan tersebut (“Berunding atas pengakuan Kemerdekaan 100 persen”)Melalui Persatuan Perjuangan, Tan Malaka berhasil menyatukan sejumlah besar golongan yang berbeda keyakinan, taktik, dan garis politik. Dalam waktu singkat, Persatuan Perjuangan berhasil menjadi kelompok oposisi terkuat. Dalam Persatuan Perjuangan antara lain duduk sebagai anggota sub-komite, Sudirman yang mewakili TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Program minimum yang dikemukakan Tan Malaka pada kongres pertama Persatuan Perjuangan mencakup tujuh inti pokok, antara lain berunding atas pengakuan kemerdekaan 100 persen, melucuti tentara Jepang, menyita aset perkebunan milik Belanda, dan menasionalisasi industri milik asing yang beroperasi di Indonesia. Tujuh inti pokok adalah respons Tan Malaka terhadap kinerja Sjahrir yang terkenal akomodatif terhadap keinginan Belanda.

Tan Malaka terombang-ambing di antara permainan politik penguasa dan oportunisme politik yang menghinggapi sebagian besar pengikut Persatuan Perjuangan. Ia tak sempat mendidik kader-kadernya sendiri untuk berkomitmen tinggi pada perjuangan sebagai akibat terlalu lama berada di pengasingan. Sekelompok kecil anak muda di sekelilingnya lebih cenderung menampakkan diri sebagai simpatisan daripada memenuhi syarat untuk disebut sebagai kader.

Ketika Sjahrir mengumumkan Lima Program Pokok, yang kemudian disebut sebagai Lima Pokok Soekarno (isinya antara lain mengakomodasi tujuh inti pokok), beberapa organisasi anggota Persatuan Perjuangan—antara lain Pemuda Sosialis Indonesia, Gerakan Rakyat Indonesia, Barisan Tani Indonesia, dan Partai Katolik—mulai berbalik mendukung Sjahrir. Masyumi, yang tergabung dalam Persatuan Perjuangan, pun menerima posisi Menteri Penerangan yang dijabat oleh M. Natsir pada kabinet Sjahrir II.

Intrik demi intrik disusun demi menjatuhkan Tan Malaka dari panggung politik yang baru dilakoninya. Atas tuduhan mengacau keadaan dan berbicara serta bertindak menggelisahkan, Tan Malaka ditangkap pada 17 Maret 1946. Selang empat bulan kemudian, beberapa gelintir anggota Persatuan Perjuangan juga ditangkap terkait dengan keterlibatan mereka dalam upaya kudeta yang gagal pada 3 Juli 1946. Insiden itu sekaligus menandai bubarnya Persatuan Perjuangan. Sjahrir menuduh Tan Malaka berada di balik aksi kudeta. Tapi, sampai pembebasannya dua tahun kemudian, tuduhan itu tak pernah bisa dibuktikan.

nando_gnd 10th February 2009 11:45

peristiwa 3 Juli 1946
 
Pada tanggal 17 Maret 1946 tokoh-tokoh Persatuan Perjuangan seperti M.Yamin ditangkap. Kemudian seorang perwira bernama Abdul Kadir Jusuf dengan sepengetahuan atasannya Mayor Jenderal Sudarsono menculik Perdana Menteri Sjahrir (27 Juni 1946) karena dianggap telah mengkhianati revolusi melalui perundingan dengan Belanda yang merugikan Indonesia.

Konflik antara kelompok Sjahrir dan kubu Tan Malaka semakin meruncing.
Kemudian pecah peristiwa 3 Juli 1946 yang menurut versi resmi pemerintah RI adalah usaha perebutan kekuasaan oleh kelompok Persatuan Perjuangan yang dipimpin oleh Tan Malaka.

ada versi yang mengatakan pada tanggal 2 Juli 1946, overste Soeharto ikut membebaskan tahanan politik di penjara Wirogunan, Yogyakarta, seperti M. Yamin, Iwa Kusumasoemantri dan Dr Sucipto dan membawanya ke markas resimen Wiyoro. Di sini sudah ada Mayjen Sudarsono. Di tempat inilah para pengikut Tan Malaka itu menyusun suatu maklumat politik yang isinya seolah-olah Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Tan Malaka (Tan Malaka sendiri itu waktu itu dipenjara dan tampaknya usaha ini tanpa sepengetahuannya). Kemudian tanggal 3 Juli, maklumat itu dibawa ke istana Sultan agar ditandatangani oleh Presiden Soekarno. Usaha itu gagal, kelompok ini berhasil ditangkap oleh pengawal Presiden

Usaha yang dimotori kelompok Tan Malaka ini maksudnya mendesak Presiden agar mau mengganti kabinet. Karena Kabinet Sjahrir dianggap terlalu banyak memberikan konsesi kepada Belanda. Apalagi setelah pidato Bung Hatta yang membocorkan bahwa akan diadakan perundingan baru dengan Belanda dimana antara lain akan dicapai kesepakatan wilayah Republik Indonesia akan meliputi sebatas Jawa dan Sumatera saja.

Bagi kelompok Tan Malaka yang menginginkan kemerdekaan 100 % atau tidak ada kompromi dengan pihak Imperialis dan Kolonialis itu, kebijaksanaan pemerintah yang dianggap mau menerima tekanan luar itu, harus dibereskan. Maka kaum militer bekerja sama dengan kaum politik untuk melakukan apa yang dinamakan "Peristiwa 3 Juli". Mereka menyerbu istana Yogya dan rumah Amir Syarifudin. Menteri pertahanan ini yang nyaris terbunuh ternyata selamat, tapi dua orang penjaga rumahnya ditembak mati. Buntutnya pemerintah bertindak tegas, semua jaringan peristiwa 3 Juli 1946 terbongkar, sejumlah orang sipil dan militer ditangkap. Untuk itu dibentuk Mahkamah Militer Luar Biasa. orang sipil yang ditangkap yaitu Mohammad Yamin, Adam Malik, Chaerul Saleh, Achmad Soebardjo dan masih banyak lagi.

nando_gnd 10th February 2009 11:55

Dalam bukunya “dari penjara ke penjara”, Tan bercerita tentang penderitaannya berkelana dari penjara ke penjara. Untuk pertama kali dirinya ditangkap di Madiun atas perintah Amir Syarifudin Menteri pertahanan RI. Ini terjadi pada tanggal 17 Maret 1946. Dia dibawa ke Tawang Mangu dan disana diberlakukan sebagai tahanan rumah selama 3 bulan lebih. Bersamanya adalah Abikusno Tjokrosuyoso, Soekarni dan Mohammad Yamin.

Saat terjadi peristiwa penculikan Perdana Menteri Syahrir pada tanggal 27 Juni 1946 maupun peristiwa 3 Juli 1946, Tan Malaka Cs berada di Tawang Mangu. Dan menurut pengakuannya dia tidak ada sangkut pautnya pada kedua peristiwa tersebut yang terkait pada nama-nama seperti Jenderal Mayor Soedarsono, Mr Budyarto, Mayor AK jusuf, Iwa Kusumasumantri, Mr Ahmad Soebardjo dan Dr Buntaran. Hubungannya Cuma sebatas sesama anggota Persatuan Perjuangan saja dengan mereka.

Persatuan Perjuangan (PP) adalah kelompok politik yang tidak sudi menerima perundingan Indonesia-Belanda yang merugikan Republik Indonesia. Persatuan perjuangan memiliki dasar perjuangan yaitu yang namanya "Minimum Program". Tapi Pemerintahan sayap kiri, tetap saja melakukan perjuangan diplomasi yang amat merugikan itu. Kalau dalam Linggajati (1947), Republik tinggal hanya terdiri dari Jawa, Madura dan Sumatra, maka dalam Renville (1948) lebih parah lagi. RI hanya sebagian kecil Jawa dan sebagian Sumatera. Untuk inilah PP berjuang agar RI tidak lebih terpuruk lagi, padahal Belanda sudah berhasil memunculkan negara Federal seperti halnya Negara Indonesia Timur.

PP berjuang dibidang politik untuk memprotes kebijaksanaan Pemerintah itu. Maka Pemerintah menjadi merasa dihalang-halangi PP. Tidak ayal lagi, Pemerintah merasa terganggu. Merasa bahwa gerakan melawan Pemerintah ini didalangi Tan Malaka, Pemerintah sayap kiri yang awalnya dipimpin Sjahrir kemudian Amir Sjarifudin, segera membuat pernyataan bahwa peristiwa 3 Juli yang tujuannya untuk merobohkan Pemerintah adalah sebuah gerakan yang dipimpin Tan Malaka. Pada tanggal 6 Juli 1946, Tan Cs dibawa dari tahanan rumah Tawang Mangu menuju banyak tempat. Mulai dari Solo, Yogyakarta, Mojokerto, Magelang, Ponorogo dan Madiun. Sidang perkara tuduhan makar pada komplotan ini, baru berlangsung pada bulan Februari 1948. Dan atas grasi Presiden, pada tanggal 17 Agustus 1948, semua tahanan di bebaskan.

Tan Malaka sendiri baru dibebaskan pada tanggal 16 September 1948 dari Penjara di Magelang. Tidak banyak yang terungkap peristiwa demi peristiwa yang terjadi atas dirinya sesudah tahun 1948. Kecuali nanti pada bulan Juli tahun 1949, muncul berita disurat khabar nasional maupun internasional bahwa Tan Malaka telah dieksekusi. Misalnya pada berita Majalah Times tertanggal 4 Juli 1949 muncul tulisan : "The Republicans dressed up their account of Tan's execution with details. Tan, they said, was executed by a firing squad April 9, near Blitar, in East Java. The Republicans also reported that they had executed three other Communist chieftains: former Premier Amir Sjarifoedin, R. M. Suripino, a former Republican diplomat, and a Communist Party secretary named Hadjono".

Kekuasaan apakah yang telah mengadilinya dan menghukum matinya itu ?. Kalau dilihat saat itu Pemerintah RI belum kembali ke Yogya. Dan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera yang berpusat di Bidar Alam, apa mungkin mampu melakukan Mahkamah Peradilan Luar Biasa bagi seorang pejuang setingkat Tan Malaka ?. Kalau saja Soekarno yang sedang di buang di bangka sampai Juli 1949, sudah kembali berkuasa, tentu eksekusi ditepi Kali Brantas tersebut tidak akan terjadi. Dia pasti membela orang yang dianggap gurunya tersebut. Jasadnya Tan Malaka tidak pernah dihargai sepantasnya dan tanpa nisan....:roses::roses::roses:

Kaisar-Selatan 10th February 2009 22:25

Quote:

Originally Posted by okok (Post 6522253)
Iyalah gelar pahlawan Tan Malaka gak dicabut sama presiden di Orba, Orde Reformasi, dan presiden Kabinet bersatu.

Moga-moga ada sineas film Indonesia yang mau membikin film biografi tentang Tan Malaka.........sebab hidupnya Tan Malaka itu unik.

thanks atas penjelasannya

aguzaa 10th February 2009 23:09

@nando_gnd masih ada lanjutannya ga..?? dah dibookmark neeh trit na...:thumbsup:

nando_gnd 13th February 2009 12:37

BAGI aktivis komunis 1920-an, Vladimir Lenin, Josep Stalin, dan Leon Trotsky bukanlah nama biasa. Mereka ”dewa” komunisme yang menggerakkan kaum revolusioner dunia dari Moskow. Tan Malaka beruntung bisa bertemu dengan mereka.

Komunis muda van Hindia ini tiba di Moskow pada Oktober 1922, dari Jerman. Dia sering mengunjungi pabrik, berkenalan dengan para buruh, dan cepat akrab dengan para Bolsyewik di Negeri Beruang Merah itu. Kamarnya, di salah satu bekas hotel di Moskow, menjadi tempat singgah para pemuda dan pelajar.

Ketika Komunis Internasional (Komintern) sibuk mempersiapkan kongres keempat, Tan—yang melapor sebagai wakil Indonesia—diajak ikut rapat-rapat persiapan. Tapi dia hadir sebagai penasihat, bukan anggota yang punya hak suara.

Kongres Komintern ke-4 akhirnya berlangsung pada 5 November-5 Desember 1922. Di sini Tan bertemu dengan para pemimpin revolusi Asia, termasuk Ho Chi Minh dari Vietnam.

Tan beruntung, semua wakil Asia mendapat kesempatan bicara lima menit. Giliran Tan jatuh pada hari ketujuh. Di sanalah, dalam bahasa Jerman patah-patah, dia menyampaikan gagasan revolusioner tentang kerja sama antara komunis dan Islam.

Kata Tan, komunis tak boleh mengabaikan kenyataan bahwa saat itu ada 250 juta muslim di dunia. Pan-Islamisme sedang berjuang melawan imperialisme—perjuangan yang sama dengan gerakan komunisme.

Menurut dia, gerakan itu perlu mereka dukung. Namun dia tahu keputusan ada di tangan petinggi partai, para Bolsyewik tua. Karena itu, di akhir pidato dia berkata, ”Maka dari itu saya bertanya sekali lagi, haruskah kita mendukung Pan-Islamisme?”

Tan berbicara lebih dari lima menit. Mungkin karena pidatonya yang membangkitkan semangat, diselingi sedikit humor, ketua sidang cuma mengingatkan dia sekali dan membiarkan dia terus berpidato.

”Kongres memberi tepuk tangan yang ramai pada Tan Malaka, seolah-olah telah memberi ovasi padanya,” tulis Gerard Vanter untuk harian De Tribune. ”Itu merupakan suatu pujian bagi kawan-kawan kita di Hindia yang harus melakukan perjuangan berat terhadap aksi kejam.”

Esoknya, giliran Lenin angkat bicara. Ruang pertemuan penuh sesak. Datang terlambat, Tan naik ke panggung dan duduk di tepinya, berharap bisa mendengarkan Lenin dari dekat. Tapi, sebelum Lenin tiba, panggung ”disterilkan”.

Seorang pengawal Lenin menarik tangan Tan sangat keras, sehingga ia terjerembap. Toh, menurut Harry Poeze, dalam bukunya, Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik jilid I, Tan tetap terkagum-kagum mengikuti pidato Lenin.

Gagasan Tan mendapat dukungan penuh delegasi Asia. Tapi kenyataan itu tak terlalu disukai oleh Karl Radek, pemimpin Komintern yang membawahkan urusan Asia.

Setelah Kongres usai dan para utusan kembali ke negeri masing-masing, Tan bingung harus ke mana. Dia tak ingin kembali ke Belanda. Balik ke Indonesia pun tak mungkin.

Tan sempat meminta Komintern menyekolahkan dia, tapi ditolak. ”Belum terbuka kursi profesor buat Saudara,” ujar seorang temannya, mengolok-olok.

Untuk mengisi waktu luang, Radek meminta dia menulis sebuah buku. Bahan-bahan untuk menulis dipesankan dari Belanda. Tan dibebaskan menulis apa saja, yang penting tentang Indonesia.

”Saya pusatkan saja isi dan corak buku itu kepada sejarah dan statistik,” tulis Tan dalam bukunya, Dari Penjara ke Penjara. Buku itu akhirnya terbit pada 1924, dengan judul Indonezija; ejo mesto na proboezdajoesjtsjemsja Vostoke atawa Indonesia dan Tempatnya di Timur yang Sedang Bangkit.

Pemerintah Rusia mencetak lagi buku itu sebanyak 5.000 eksemplar pada 1925. Tapi Tan tak sempat menunggu ”kelahiran” buku yang dia tulis dalam bahasa Rusia itu. Pada akhir 1923, dia sudah berada di Kanton, Cina, sebagai wakil Komintern untuk Asia Timur.

nando_gnd 13th February 2009 12:52

IBRAHIM Datuk Tan Malaka menjejak Tiongkok pada musim dingin 1923. Kala itu Dinasti Qing sudah lama terkubur. Kerajaan masih berdiri. Namun Puyi, The Last Emperor, praktis hanya ”boneka”. Negeri itu larut dalam tarik-menarik antara kekuatan Asing—terutama Inggris, Amerika, serta Jepang—dan para nasionalis yang menginginkan berdirinya Republik Cina merdeka.

Bujangan 26 tahun utusan Komintern di Moskow itu tinggal di Kanton, kini Guangzhou—kota di selatan Cina yang padat. Penduduknya dua juta. Toh, bagi Tan, Kanton tak pantas disebut kota besar. Cuma ada tiga jalan utama, satu kantor pos, perusahaan listrik, dan sebuah pabrik semen yang cerobongnya menjadi satu-satunya bangunan tinggi di sana. Namun Kanton istimewa karena menjadi pusat gerakan revolusi Cina. Sun Yat-sen atau Sun Man, pemimpin Kuomintang yang pada 1912 mendeklarasikan Republik Cina, tinggal di kota ini.

Tak lama setelah menetap, Tan mengunjungi dokter Sun, diantar ketua partai komunis setempat, Tang Ping-shan. Presiden Republik Cina Selatan itu tinggal di tepian Sungai Pearl yang membelah Kanton jadi dua. Di sana, Tan juga bertemu dengan anaknya, dokter Sun Po, dan rekan seperjuangannya, Wang Chin Way.

”Berjumpa orang revolusioner di Rusia adalah perkara biasa saja,” tulis Tan dalam memoarnya, Dari Penjara ke Penjara, mengenang pertemuan itu. ”Tapi berjumpakan revolusioner besar di Asia adalah perkara istimewa.” Dia begitu girang.

Mereka membicarakan banyak hal. Sun Man, misalnya, menyarankan agar Indonesia bekerja sama dengan Jepang melawan Belanda. Tapi Tan tak yakin pejuang Indonesia bisa bekerja sama dengan imperialis Jepang.

Demikianlah, setiap hari dia bepergian untuk membina hubungan dengan para tokoh Kuomintang dan orang-orang komunis di Kanton. Hingga pada Juni 1924 Tan mendapat perintah dari Moskow untuk hadir pada konferensi Serikat Buruh Merah Internasional di kota itu.

Dari Indonesia datang Alimin dan Budisutjitro. Konferensi enam hari ini hendak menggalang ”gerakan” para pelaut dan buruh pelabuhan di kawasan Pasifik. Tan memimpin rapat pada hari kedua. Seharusnya Sun Man memberikan pidato pembukaan, tapi batal.

Pada hari terakhir, Tan didaulat menjadi Ketua Organisasi Buruh Lalu Lintas Biro Kanton yang baru didirikan. Tugas pertamanya menerbitkan majalah ”merah” bagi para pelaut. Ini membuatnya pusing. Di samping sulit mencari percetakan yang memiliki koleksi lengkap huruf latin, Tan masih harus belajar bahasa Inggris.

Alhasil, The Dawn baru terbit beberapa bulan kemudian. Cetakannya sangat jelek. Karena kekurangan huruf, huruf kapital bisa muncul di mana saja. Kata ”Pacific”, misalnya, tercetak sebagai ”PacifiC”. Menyusul penerbitan majalah ini, Tan mencetak sebuah buku tipis berjudul Naar de Republiek Indonesia. Ini buku pertama yang menggagas sebuah negara merdeka bernama Republik Indonesia.

Kerja berat serta suhu Kanton yang teramat dingin membuat sakit paru Tan kambuh. Dia mengunjungi dokter Lee. Mengira Tan terkena tuberkulosis, dokter memberikan ”suntikan emas”— terapi paling modern saat itu. Tan malah pingsan. Untunglah, setelah diinjeksi penawar racun, ia segera sadar. ”Kami sangka Tuan sudah meninggal,” kata dokter itu.

Tan lalu menemui dokter Rummel, orang Jerman yang telah lama membuka praktek di Kanton. Kali ini diagnosisnya physical breakdown, kecapaian. ”Sebaiknyalah Tuan pergi tinggal di tropik, di negeri panas, beristirahat,” katanya.

Mendengar nasihat dokter, pikiran Tan langsung tertuju ke Jawa. Perasaan rindu Tanah Air pun muncul. Maka, pada 29 Agustus 1924, dia bersurat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dick Fock, minta izin pulang ke Jawa. Dia juga berkirim kabar ke Moskow dalam surat tertanggal 24 September. ”Mungkin beberapa hari mendatang saya akan ke berlibur seminggu ke Makau untuk kesehatan saya,” tulisnya dengan nama samaran Hassan.

Permohonannya ditolak Gubernur Jenderal Fock. Tapi ketika itu, dengan nama Elias Fuentes, Tan sudah menyusup ke Filipina untuk mendapatkan hawa yang lebih segar. Tak sampai dua tahun, dia ditangkap polisi Filipina yang berada di bawah ”genggaman” intel Amerika, Belanda, dan Inggris. Pada Agustus 1927, Tan kembali ke Tiongkok sebagai orang buangan.

Turun di Amoy, kini Xiemen, Tan berkelana ke tempat-tempat lain. Ketika angkatan bersenjata Kwangtung, Cap Kau Loo Kun atawa Tentara Ke-19, bentrok dengan tentara Jepang di Shanghai pada 1932, dia ada di sana. Sebenarnya pasukan ini datang untuk membebaskan Hu Han Min yang ditangkap Chiang Kai-shek. Dua orang penting Kuomintang ini bertikai sejak Sun Man meninggal pada 1925. Namun, ketika Tentara Ke-19 tiba, Hu sudah dibebaskan. Mereka pun menyerbu markas Jepang di Szu Chuan Road, Yang Tzepoo.

Shanghai kacau-balau. Menggunakan nama Ong Song Lee, Tan menyingkir ke Hong Kong. Kejadian di Filipina berulang, polisi Hong Kong menangkapnya. Untunglah Inspektur Murphy, pemimpin polisi Inggris di daerah koloni itu, tak mau menyerahkan Tan kepada polisi Belanda.

Setelah lebih dari dua bulan menahannya di penjara, Murphy memutuskan membuang Tan ke Shanghai. Tapi, di Pelabuhan Amoy, Tan berhasil mengecoh polisi Hong Kong yang diam-diam mengawalnya dan meloloskan diri ke darat.

Tinggal di kota pulau itu, penyakit Tan kambuh. Sinse Choa, tabib lokal di Desa Chia-be, memberinya dua jenis ramuan untuk dimasak bersama bebek dan penyu. Mula-mula Tan harus menghabiskan enam ekor bebek yang digodok dengan ramuan, seminggu satu. Setelah itu, makan satu-dua ekor penyu, juga digodok bersama ramuan. Ajaib, sakit yang 10 tahun terakhir merongrongnya perlahan-lahan hilang. ”Makanan mulai mudah dihancurkan dan tidur mulai nyenyak! Inilah rasanya pangkal kesehatan,” tulis Tan di buku Dari Penjara ke Penjara.

Sambil terus bersembunyi, Tan mendirikan Sekolah Bahasa Asing. Namun dia akhirnya harus meninggalkan Tiongkok untuk selamanya ketika Jepang menyerang Amoy pada 1937. Menggunakan nama Tan Min Siong, seorang Tionghoa terpelajar, dia berlayar menuju Rangoon, Burma.


All times are GMT +8. The time now is 09:21.


Powered by vBulletin
Copyright © 2000 - 2006, Jelsoft Enterprises Ltd.