View Single Post
Old 27th July 2013, 17:24
#850  
sieg
Groupie Member
Malesieg is offline

sieg's Avatar

Join Date: May 2013
Posts: 12,960
sieg Super Legendsieg Super Legendsieg Super Legendsieg Super Legendsieg Super Legendsieg Super Legendsieg Super Legendsieg Super Legendsieg Super Legendsieg Super Legendsieg Super Legend

Default

Quote:
Originally Posted by kyria View Post
maaf mgkn agak keluar topik ya.
Tapi kalo memang US sebegitu takutnya dengan perkembangan militer China, mengapa US tdk memperbolehkan saja Jepang membangun senjata nuklir dan mengubah tentaranya menjadi angkatan bersenjata reguler (bukan bela diri).
Hal ini menurut saya lebih efisien dan tentu US tdk akan sendirian dalam menahan kekuatan militer China dan tentunya membuat China berpikir banyak untuk mencoba "menguasai" Pasifik.CMIIW

Menurut saya mungkin kuncinya ada di perjanjian San Fransisco.

Perjanjian San Fransisco adalah perjanjian pasca PD2 yg salah satunya membatasi kewenangan militer Jepang dan pembagian teritori Jepang.

Perjanjian inilah yang saat ini merupakan pangkal kekusutan di Asia Pasifik saat ini.

Sengketa Rusia-Jepang tentang pulau Kuril, China-Jepang tentang senkaku, korea-Jepang tentang Dokdo, semuanya itu akibat pengakuan USA terhadap kepemilikan Jepang atas pulau2 itu yang diatur dalam SF treaty ini.

FYI, saat SF treaty itu ditandatangani, korut, China, dan China Republic (Taiwan) tidak diundang dalam perundingan dengan alasan perang saudara KMD vs GCD yang sedang trjadi di China.

Uni Soviet, walaupun diundang, seperti dikesampingkan dengan banyaknya nota protes UniSoviet yang diabaikan USA.

Tampak adanya scheme USA dalam mempersiapkan 'sayapnya' di Asia Pasifik melalui aliansi dengan Jepang pasca PD 2 ini. Mungkin PD2 dan serangan mendadak ke Pearl Harbour telah membuat USA belajar untuk harus mempunyai 'perpanjangan tangan' di wilayah Asia Pasifik untuk menjaga kepentingan negaranya khusunya dalam menghadapi Uni Soviet di kala itu.

Menurut saya, mungkin terjadi deal2 USA-Jepang dalam SF treaty ini. Di mana Jepang diberikan 'hadiah' pengakuan de jure atas pulau2 kontroversial dan USA mendapatkan 'kue' pangkalan okinawanya.

Jadi, terlihat di sini, di satu sisi USA menginginkan aliansi dengan Jepang, sedang di sisi lain USA ingin meletakkan Jepang tetap di bawah kontrolnya karena trauma masa lalu.

Nah, konteksnya dengan pertanyaan sis di atas, "mengapa USA tak membiarkan Jepang memiliki senjata nuklir saja?"

Saya mencoba berkaca pada SF treaty di atas bahwa USA melakukan detouring dalam menangani Jepang. Bagi USA, beraliansi dengan Jepang mungkin seperti memelihara seekor harimau, ampuh tapi juga berbahaya bila tak berhati2.

Maka itu USA tak membiarkan Jepang memiliki taring yang terlalu tajam seperti Nuklir, ICBM, atau senjata over invasif lainnya.

Bila pertanyaannya disesuaikan menjadi, "Mengapa saat ini USA tak membiarkan Jepang memiliki senjata nuklir saja?"

Menurut saya karena USA memandangnya masih belum perlu. Mungkin USA menilai bila betul nantinya perang pecah dan dibutuhkan dukungan nuklir dari Jepang. Jepang masih dapat membangun kekuatan senjata nuklirnya dalam waktu singkat dan tepat waktu.

Walau Jepang tak membangun senjata nuklir, tetapi teknologi nuklir mereka tak bisa disamakan dengan milik korut yang masih begitu rudimental.

Jepang telah memiliki pengalaman puluhan tahun memanfaatkan nuklir sipil sehingga sarana serta prasarana mereka sudah sangat mapan. Cadangan stok uranium dan plutonium mereka juga tidak diragukan. Bahkan kabar terakhir, Jepang sudah menerima kiriman jumlah besar MOX (bahan bakar campuran UO2 dan PuO2) dari Prancis.

Fasilitas pengayaan nuklir Jepang, Rokkasho, bahkan diperkirakan dapat memproduksi ribuan bom atom dalam waktu setahun. Sangat cukup untuk menghadapi perang.

Satu2nya kekurangan Jepang hanya pada teknologi ICBM mereka (yang agak tertinggal akibat pembatasan oleh SF treaty ini), tapi dengan bantuan USA dan teknologi rudal Jepang saat ini saya rasa itu bukan masalah besar.

Tambah lagi, Jepang tak memerlukan LRBM (Long Range BM) bila perang Asia Pasifik pecah. As we know, diperlukan waktu riset yang jauh lebih lama untuk membangun LRBM daripada untuk membangun SRBM/MRBM.

Jadi bila perang asia pasifik pecah, mereka tak membutuhkan waktu riset terlalu lama seperti halnya korut yang hencak membangun LRBM untuk menyerang USA. MRBM sudah lebih dari cukup untuk membabat urat nadi China yang hampir semua terletak di pesisir timur.

Dengan begitu USA cukup melepas 1 atau 2 gembok saja bila memang memerlukan bantuan nuklir dari harimau dalam kandang ini (Jepang). Sementara itu biarlah harimau ini tetap di kandangnya, kalau gak majikannya bisa ikut diterkam

Satu lagi, tampaknya dari pemerintah Jepang sendiri, atas suara rakyatnya, memang mayoritas menolak untuk memiliki senjata nuklir. Ada Undang-undang khusus yang mengatur pelarangan senjata nuklir ini oleh pemerintah Jepang sendiri (bukan dari USA).

Trauma Hiroshima dan Nagasaki masih tergurat basah di hati para warga Jepang.
Reply With Quote