View Single Post
Old 15th November 2016, 01:33
#4300  
MrRyanbandung
Mania Member
MrRyanbandung is offline

Join Date: Mar 2012
Posts: 5,518
MrRyanbandung is a new comer

Default LIMA TEVE SWASTA BARU, BEREBUT IKLAN DAN KAVLING DI UDARA

SIAPA sangka, kawasan udara yang luasnya tak terbatas ini menyimpan "harta karun" yang luar biasa besar. Kalau ini hanya omong kosong, tentunya para pengusaha takkan berminat mendirikan stasiun-stasiun televisi swasta baru. Nyatanya, (waktu itu) lima pendatang baru sudah menyatakan ingin bermain di jalur UHF ('ultra high frequency') - gelombang yang belakangan dipakai stasiun televisi swasta.

Kalau tak ada aral melintang, mulai 12 Oktober 2001 yang saat itu akan datang, panggung pertelevisian nasional akan menjadi lebih seru lagi dengan hadirnya lima "pemain baru". Mereka adalah PT Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV milik Chaerul Tanjung), PT Duta Visual Nusantara (DVN TV/belakangan TV7 - H. Sukoyo), PT Global Informasi Bermutu (Global TV - Nasir Tamara dkk), PT Pasaraya Mediakarya (PRTV/belakangan Lativi - Abdul Latief), dan PT Media Televisi Indonesia (Metro TV - Surya Paloh).

Izin siaran - meski ini mungkin tidak ada artinya, karena Departemen Penerangan dibubarkan - telah mereka kantongi dengan keluarnya surat keputusan No. 286/SK/Menpen/1999 tentang Penetapan Hasil Seleksi Permohonan Izin Pendirian Televisi Swasta 12 Oktober 1999 lalu.

Menurut Ishadi SK, di Jakarta saat itu sudah ada tujuh saluran UHF yang lima di antaranya telah dipakai TPI (Televisi Pendidikan Indonesia), Indosiar, RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), SCTV (Surya Citra Televisi), dan ANteve (Andalas Televisi). "Dua sisanya dipegang TVRI (Programa 1 dan 2). Lewat negosiasi panjang, TVRI akhirnya melepaskan satu gelombang UHF-nya (yang dipakai Programa 2) untuk kepentingan Global TV," kata mantan Dirjen RTF Deppen RI dan direktur TVRI ini.

Namun, kendala teknologi ini bisa dicari pemecahannya, misalnya dengan cara mengefektifkan kembali gelombang-gelombang UHF lain yang tersedia di kawasan Cilegon yang selama itu 'idle' (tak terpakai). Yang pasti, usai memenuhi kewajibannya harus menyetor uang jaminan semilyar rupiah kepada pemerintah c.q. Deppen RI, selanjutnya inilah hari-hari sibuk bagi para pengusaha nasional yang telah menanamkan sedikitnya Rp 200 milyar dalam proyek televisi swasta baru (waktu itu) ini.

KEPENTINGAN bisnis menjadi pertimbangan utama dan pertama para pengusaha "pemain baru" pertelevisian ini. Menurut kalangan ini, kondisi periklanan 1999 ini mulai menggeliat lagi. Para "pemain baru" itu umumnya optimis terhadap prospek bisnis di masa (yang saat itu) akan datang.

Prakiraan direktur RCTI, Nenny Soemawinata, pertumbuhan iklan nasional tahun 2000 sebesar 20%, sehingga memang tak ada alasan bagi para pemain baru menyetop proyek ambisius mereka. "Kalau dari 20% porsi iklan itu saja tersedia sedikitnya 5% untuk televisi, saya pikir angka itu sudah bagus," kata Chrys Kelana, yang (waktu itu) akan menjadi motor PRTV (belakangan Lativi).

Padahal, ungkap sejumlah praktisi pertelevisian, dalam sebulan perusahaan-perusahaan televisi swasta yang sudah ada itu bisa meraup keuntungan bersih sedikitnya Rp 20 milyar. "Bahkan ketika Indonesia belum didera krisis, perolehan keuntungan kami bisa mencapai angka di atas Rp 30 milyar lebih setiap bulannya," ungkap mereka.

Bahkan majalah periklanan Media Scene edisi tahun 1998-1999 memberitakan, porsi kue iklan yang bisa diserap jaringan televisi swasta dari tahun ke tahun jumlahnya semakin membengkak. Dari proyeksi porsi perolehan iklan sebesar Rp 4.668 milyar tahun 1999 ini, jatah yang bisa diterima lima televisi swasta (RCTI, TPI, SCTV, Indosiar, dan ANteve), kurang lebih sebesar Rp 2.820 milyar (60,4%).

Dengan proyeksi tingkat kenaikan iklan sebesar 20%/tahun, maka kelima televisi swasta itu (waktu itu) akan memperebutkan duit sebesar Rp 5.640 milyar. Itu berarti ketika jatah iklan televisi sudah mencapai angka Rp 11.280 milyar, tahun 2001 yang kala itu akan datang, mau tak mau lima stasiun televisi swasta itu harus rela "berbagi rejeki" dengan kelima kolega baru.

Angka itu tentunya lebih besar dibanding misalnya, biaya operasional yang harus mereka keluarkan setiap bulan. Sebagai gambaran, ungkap Soraya Perucha, ANteve biasa mengeluarkan sedikitnya Rp 16 juta untuk setiap jam siarannya. Angka ini memang belum termasuk 'capital expenses' untuk alat-alat.

Andaikan jumlah jam siaran setiap harinya berdurasi sedikitnya 10 jam, jumlah pengeluaran per bulan bisa mencapai sedikitnya 480 juta rupiah. Angka ini tentu jauh lebih rendah dibanding dengan besarnya 'output' yang bisa diraup oleh setiap stasiun televisi dari perolehan iklannya. Harus diakui, perolehan iklan yang bisa diterima masing-masing stasiun televisi swasta itu, besarnya bervariasi alias tak sama.

Yang pasti, proyek membangun jaringan stasiun televisi jelas bukan soal perkara hitung-menghitung 'fee' iklan semata. Jauh lebih mendesak bagi kelima "pemain baru" 1999 ini, adalah keharusan menyiapkan seluruh infrastruktur fisik dan para personil yang akan menangani semua peralatan siaran itu.

Ishadi dari Trans TV memproyeksikan, sedikitnya uang sebanyak Rp 60-70 milyar (waktu itu) akan diinvestasikan untuk membangun gedung dan stasiun pemancar. "Angka itu belum termasuk investasi untuk membeli peralatan siaran," ungkapnya.

Secara teknis, membangun stasiun televisi baru tak terlalu sulit, apalagi 1999, era teknologi digital sudah mulai mengglobal. Secara finansial pun, tambahnya, sistem digital juga jauh lebih murah - selain kualitas gambar dan suaranya lebih jelas dan jernih - dibanding sistem analog. "Kami memang belum punya teknologi itu, namun akan membeli perangkat itu di pasar Konvensi National Association of Broadcasting di Los Angeles (AS) April tahun depan (2000)," jelas Ishadi (waktu itu).

Di luar masalah-masalah teknis, yang paling memusingkan mereka adalah peluang mendapatkan tenaga-tenaga terampil yang diharapkan bisa mengoperasikan jaringan stasiun televisi baru. Baik Sumita Tobing dari Global TV, Ishadi, dan Chrys Kelana melihat, masalah ini sebagai hal paling krusial dan penting. Tak seperti kaum awam di luar kalangan televisi, mereka optimis menghadapi tantangan ini. Satu hal mereka "sepakat", dalam proses 'recruitment' nantinya, sebisa mungkin takkan melakukan aksi "bajak-membajak" tenaga-tenaga terampil yang (waktu itu) masih bekerja di stasiun televisi swasta atau TVRI.

Selain lebih cenderung menerima tenaga-tenaga baru (waktu itu) yang akan di-'drill' secara intensif, membuka pintu lebar bagi para mantan karyawan 'production house' yang saat itu tengah didera krisis menjadi salah satu alternatif yang mereka pikirkan. "Kami bisa pula mendatangkan tenaga-tenaga asing dari luar negeri untuk mengisi pos-pos strategis yang belum bisa bditangani orang-orang Indonesia," ungkap Ishadi, yang juga dikatakan secara terpisah oleh Chrys Kelana dan Sumita.

BERBAGAI macam reaksi bermunculan menyikapi berita akan hadirnya lima stasiun televisi swasta baru. Umumnya, kalangan praktisi televisi menyambut gembira, karena hadirnya lima stasiun televisi swasta baru (waktu itu) itu akan sudah barang tentu, akan memompa kinerja mereka untuk menjadi lebih kreatif dalam mengemas acara dan berita.

Mendapat tantangan baru adalah jawaban mereka setiap kali ditanyai soal itu, sekadar tak mau menyebut lima calon stasiun televisi swasta baru itu sebagai "saingan baru" yang potensial. "Bagaimanapun kami ikut tertantang untuk bisa menampilkan program yang lebih baik dan menarik lagi," kata mereka.

Para pemain baru (waktu itu) pun mempersepsi serupa. "Mereka lebih dulua da sebelum kami. Mau tak mau kami harus berpikir keras untuk bisa menghasilkan produk siaran yang lebih baik dibanding yang sekarang (1999) ini ada dan tersedia," ungkap Ishadi.

Sebagai konsumen, masyarakat (waktu itu) akan diuntungkan dengan tambahnya lima stasiun televisi baru (waktu itu) ini, karena punya peluang memilih program tayangan yang disukai. Kalau mulai 12 Oktober 2001 yang saat itu akan datang, akan terjadi "perang program" di udara antara ke-10 stasiun televisi di satu pihak dan dengan TVRI di pihak lain, orang tak perlu bereaksi cemas. Sebaliknya, kita harus senang menyaksikan berbagai pilihan program tayangan yang bisa kita pilih sesuka hati.

Dok. Kompas, 14 November 1999, dengan sedikit perubahan
Reply With Quote