View Single Post
Old 31st May 2020, 23:40
#5223  
MrRyanbandung
Mania Member
MrRyanbandung is offline

Join Date: Mar 2012
Posts: 5,144
MrRyanbandung is a new comer

Default CERITA DI BALIK BERITA: GAGASAN BESAR ITU DATANG SENDIRI

BERITA wafatnya Ibu Negara Tien Suharto, merebak pada Minggu, 28 April 1996 lalu, memang datang dengan tiba-tiba. Dan dengan tiba-tiba pula, program reguler dari enam saluran stasiun televisi yang ada, serentak berubah menjadi siaran langsung suasana perkabungan nasional dari rumah duka hingga ke pemakaman keluarga, Astana Giribangun, Surakarta.

Ini sebuah peristiwa besar yang patut dicatat dalam sejarah pertelevisian kita - terutama pada perkembangan teknisnya. Bayangkan, lima stasiun TV komersial Indonesia yang sama melakukan siaran secara nasional, harus "melupakan" persaingan di antara mereka, untuk sebuah tujuan mulia: "mengabarkan berita duka nasional secara luas ke seluruh rakyat Indonesia."

Keistimewaan lain mesti ditempatkan pada TVRI, yang selama itu - sesuai dengan SK Menpen No. 111 (tahun 1990) - menjadi penyelenggara siaran bagi semua acara kenegaraan dan dengan ketentuan "wajib relay" bagi stasiun TV lainnya, tidak lagi menjalankan posisi dan fungsi itu. Koordinasi siaran acara kenegaraan terbesar ini, sementara diambil alih oleh RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) dalam bentuk Pul-TV. Walau bagi Drs. Baruno Sudirman, kasubdit pemberitaan TVRI, hal itu lumrah saja. "Itu cuma masalah koordinasi saja," katanya.

Sesungguhnya, TVRI mendapat berita sejak pukul 06.30 WIB, dari kantor Menteri Sekretariat Negara RI lewat telepon. TVRI tidak bisa langsung bergerak saat itu juga. "Kami khan harus 'check and recheck' lebih dulu," ujar Drs. Yon Anwar, kasie reportase dan penerangan pada bagian pemberitaan TVRI, mencoba memberi/beralasan.

Selain itu, berita-berita yang sifatnya sensitif seperti itu, harus diperoleh lebih dulu pemberitahuan resminya, setidaknya lewat faksimili. Dan mereka baru bisa meyakini berita itu, saat Menteri Agama (Tarmizi Taher) mengumumkan berita duka tersebut di mesjid Istiqlal. Meskipun begitu, sikap kehati-hatian tersebut masih berlanjut saat pengumuman hari berkabung nasional dikeluarkan.

Terlihat ketika mereka harus reaktif terhadap berita duka tersebut, TVRI harus menghadapi kesulitan lain. Sebagian besar peralatan siaran mereka seperti OB Van berada di Yogyakarta dalam rangka mempersiapkan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 1996. Sedangkan satu OB Van lainnya berada di sekitar Istiqlal untuk siaran langsung Sholat Idul Adha - yang acaranya (waktu itu) sedang direlai oleh semua stasiun TV swasta.

Entah karena kendala tersebut atau karena sebab lain, yang jelas terlihat di lapangan TVRI, seakan kurang antisipatif dalam menghadapi peristiwa besar yang datang secara mendadak seperti itu. Sehingga ketika ada perintah untuk meliput secara langsung, mereka kalah cepat bergerak. Kru RCTI ternyata sudah berada di rumah Presiden (Suharto) di Jalan Cendana, siap dengan peralatan 'microwave'-nya.

Adalah Peter F Gontha, salah seorang pendiri PT Sindo-RCTI yang punya gagasan untuk meliput secara langsun gprosesi pemakaman agung ini. Tepatnya dimulai sejak Peter menelepon produser PT Sindo-RCTI, Edi Putra Dewa, tentang kemungkinan melaksanakan kerja besar mendadak itu.

Semula, Chrys Kelana, direktur utama PT Sindo, sama sekali tidak berpikir untuk melakukan siaran langsung. "Karena persoalan izin yang rumit," katanya. Namun karena pertimbangan kepentingan nasional, Peter Gontha mencari dan mendapatkan "jalan keluar" yang jitu untuk tetap melaksanakan gagasan besar itu.

Akhirnya, peralatan 'portable microwave' pun segera dipasang di rumah duka. Namun karena pancarannya terhalang gedung-gedung tinggi di Jalan Sudirman, maka diupayakan pemasangan peralatan serupa di pucuk gedung Bank Bumi Daya (BBD). Bahkan, "Peter pun ikut terjun langsung memasangnya di BBD itu," kata Chrys Kelana menceritakan kronologi kisah awal itu.

Dalam kesibukan tersebut, Peter berjumpa dengan direktur utama Indosiar, Angky Handoko. Pembicaraan singkat mereka menghasilkan kesepakatan Indosiar untuk bergabung. Sementara di pagi itu, kru berita SCTV (Surya Citra Televisi) juga punya niat untuk meliput berita yang mengejutkan itu. Tapi ketika mendengar rencana RCTI, "Kami minta bergabung saja," kata Edi Elisson, redaktur eksekutif Liputan 6 SCTV.

Setelah pimpinan yang mewakili ketiga stasiun TV swasta berunding, akhirnya diputuskan untuk memulai siaran liputan langsung pada pukul 11 siang. Masing-masing stasiun juga (waktu itu) akan merelai dengan menetapkan RCTI sebagai 'host'. Segala logo yang menunjukkan identitas stasiun TV juga dihilangkan dari layar. Mereka juga (kala itu) akan mengirim krunya baik ke Studio V RCTI sebagai "markas pusat" Pul-TV maupun di lapangan.

Beberapa saat kemudian, sekitar 13.30 WIB, datang permintaan dari TPI (Televisi Pendidikan Indonesia). Kemudian datang pula dari ANteve (Andalas Televisi). Terakhir kali baru: TVRI. Karena harus mengalami hambatan birokrasi dalam memutuskan kerja bareng itu.

Bergabungnya lima stasiun TV swasta dan satu TV pemerintah dalam satu pul siaran, kemudian secara otomatis membentuk sinergi tersendiri. Sementara peralatan Indosiar di Semarang dan TVRI di Yogyakarta, sedang bergerak menuju Solo, kru liputan RCTI di Jakarta secara spontan mendapat bantuan dari kru SCTV, TVRI, dan ANteve.

Tapi singkatnya, waktu dan rumitnya memindahkan peralatan 'mobile' ke Solo, menyebabkan tibanya pesawat Hercules AURI yang membawa jenazah tidak sempat ter-'cover'. Hubungan teresterial melalui Telkom langsung ke Studio V (RCTI) gagal menghasilkan audiovisual yang baik. Sehingga perlu dilakukan koordinasi dengan Indosat, dan itu memerlukan waktu yang cukup lama.

Untuk mengisi kekosongan gambar, suasana berkabung di Solo hanya bisa dilaporkan lewat hubungan telepon. Baru pada pukul 21.30 WIB, kiriman gambar hasil liputan dari Kalitan diterima. Setelah itu segala kesulitan teknis seakan sudah teratasi.

Kesan yang dengan kuat terambil dari proses kerja Pul-TV yang datang secara mendadak ini, telah menunjukkan spontanitas dan rasa kesetiakawanan yang tinggi. Untuk sementara para pengelola stasiun TV memang "melupakan" secara hitungan bisnis demi kepentingan nasional.

"Suatu kebanggaan bagi kita dengan adanya semangat kebersamaan ini," kata Aziz Husein, direktur TVRI. "Meskipun dalam bisnis kita mungkin ada persaingan, tapi kita bisa melihat masalahnya," sambung Santoso Tandio, 'external affair manager' Indosiar. "Untuk ke depan hal semacam ini bisa berlangsung otomatis," tambah Saiful Azwar, direktur operasi SCTV.

Meskipun ada kesan Pul-TV telah menabrak regulasi wajib relai ke TVRI, seorang pengamat yang dihubungi Vista-TV justru melihat dari positif sebaliknya. "Dengan 'host' dari stasiun TV swasta (RCTI), terlihat sebuah indikasi, almarhumah Ibu Tien memang milik kita semua," kata Novel Ali, pengamat masalah televisi asal Semarang. Begitu pun televisi, siapapun pemilik stasiunnya, pada dasarnya semua adalah milik kita.

Komentar Anda:

Elviera, ibu rumah tangga

"Meski baru pertama kali mendengar istilah Pul-TV di Indonesia, tapi cara kerja mereka sangat mengagumkan. Terutama dengan berhasilnya mereka menayangkan siaran langsung upacara meninggalnya Ibu Negara, Ibu Tien Suharto. Mulai dari rumah duka di Jl. Cendana sampai tempat peristirahatan terakhir di Giribangun, Karanganyar. Apalagi pembentukan Pul-TV ini terjadi spontanitas dari masing-masing stasiun TV.

Mereka juga tampaknya kompak dan saling bahu membahu. Terbukti, tidak ada reporter yang mengatasnamakan stasiun tertentu. Malah terus berusaha menayangkan gambar-gambar yang baik. Bahkan tidak sedikit berhasil mewawancarai pejabat-pejabat penting yang sangat dekat dengan Ibu Negara (Ibu Tien Suharto). Sehingga dari mereka banyak kita ketahui tentang pribadi Ibu Negara (Ibu Tien Suharto)."

Dok. Vista TV - No. 17/III/12-25 Mei 1996, dengan sedikit perubahan
Reply With Quote