View Single Post
Old 31st May 2020, 23:52
#5226  
MrRyanbandung
Mania Member
MrRyanbandung is offline

Join Date: Mar 2012
Posts: 5,144
MrRyanbandung is a new comer

Default CERITA DI BALIK BERITA: MOTIVASI MEMBUAT SEMUA BISA TERJADI

BAMBANG Wahyudi, koordinator transmisi RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) itu, tak bisa berlama-lama menikmati kebahagiaan Hari Raya Idul Adha 1996 lalu. Baru saja usai sholat Ied bersama keluarganya, mendadak ia menerima kabar duka itu. Kabar yang diterima bersamaan oleh ratusan juta rakyat negeri ini, tentunya.

Tapi, ada yang membedakan Bambang dengan Anda, pemirsa TV, tentunya. Lelaki mantan karyawan TVRI itu langsung bergegas menuju kantornya di kawasan Kebon Jeruk. Kenapa? "Saya merasa akan ada liputan khusus yang membutuhkan peran serta bagian transmisi," katanya.

Apa yang diucapkan dan dilakukan Bambang bisa dimaklumi, memang. Dan itu terbukti. Karenanya, Mukti K, salah seorang stafnya lalu ditugaskan menuju Cendana, rumah duka, dengan membawa peralatan pengirim dan penerima gelombang mikro ('portable microwave'). Semacam stasiun transmisi mini.

Tentu saja, bersama beberapa kameramen dan reporter Sindo yang berencana meliput. 15 menit kemudian, mereka pun menyatakan siap mengirim audio-video hasil liputan ke transmisi RCTI. Juga lewat perangkat 'portable microwave'.

Sayang, problem menghadang. Rupanya, audio-video yang bakal dikirim itu, membentur bangunan pencakar langit yang berjejer antara "jalur" Cendana-RCTI. Seperti sifat gelombang mikro sesungguhnya, yang akan beralih arah (memantul) bila membentur penghalang.

Apa akal? Untungnya, pada waktu bersamaan Bambang sudah menugaskan seorang staf lainnya, bernama Riyadi, untuk menyiapkan 'portable microwave' kedua di puncak Gedung Bank Bumi Daya, jalan Imam Bonjol.

Dari sinilah pengiriman audio-video ke transmisi RCTI baru bisa dilakukan. "Dari pengalaman kami, lokasi di gedung itu memang paling memungkinkan gelombang mikro tak mengalami hambatan. Soalnya, ia berada pada 'line off side', daerah bebas halangan untuk pancaran gelombang mikro," jelas Bambang.

Problem seperti ini dialami juga ketika harus meliput peristiwa itu dari Bandara Halim Perdana Kusuma. Karenanya, 'portable microwave' kedua harus juga dipasang di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, yang memang punya sudah berposisi 'line off side'.

"Kami tak mau mengambil risiko waktu terbang lebih lama karena harus survey. Padahal mungkin saja jalur Halim-RCTI sudah 'line off microwave' seperti ini dikenal dengan istilah 2 'hop'.

Transmisi RCTI pun lalu menerimanya. Setelah melewati ruang kontrol, audio video hasil liputan itu dikirim ke Studio 5. Di studio "milik" PT Sindo yang memproduksi siaran berita dan informasi RCTI, inilah sesungguhnya sebuah acara dinilai bermutu atau tidak, dipertaruhkan.

Soalnya, gambar dari kamera masa yang akan dimunculkan, menyisipkan film dokumentasi, pengisian teks, atau 'running text', sinkronisasi gambar dengan komentar reporter, dan lainnya dan diolah di sini.

Hasil olahan PT Sindo ini, lalu dikembalikan ke transmisi RCTI untuk kemudian dipancarkan ke rumah-rumah pemirsa. Untuk pemirsa di wilayah Jakarta dan sekitarnya dapat menangkap siaran lewat saluran teresterial dengan bantuan antena UHF dan VHF.

Sementara untuk nasional melalui Satelit Palapa C1 dengan teknik 'uplink' (mengirimkan siaran ke satelit tujuan yang bisa ditangkap dengan TVRO (parabola)). Singkatnya, Anda pun akhirnya menikmati tayangan itu dengan segala rasa duka, kehilangan, juga sedihnya masing-masing.

Tapi, bagaimana stasiun TV lain bisa merelai siaran RCTI? 'Uplink' ke satelit Palapa C1 itu, tepatnya ke transponder yang berada di posisi 3. Horizontal dan kanal 5, lalu diterima oleh fasilitas 'downlink' stasiun TV yang menghendaki merelay. Tentu saja, itu harus diikuti dengan penyesuaian kanal dan posisi transponder milik stasiun TV masing-masing.

Misalnya, TVRI yang berada di transponder 4 Horizontal dan kanal 7, SCTV (horizontal, kanal 13), TPI (10 Horizontal, kanal 19), ANteve (8 vertikal, kanal 16), serta Indosiar (9 vertikal, kanal 18). Jadilah semua stasiun TV sama-sama menyiarkannya dan bisa diterima oleh pemirsanya masing-masing. "Alur" inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai 'TV-Pool" atau Pul-TV.

Kesiapsiagaan kru dan karyawan RCTI, memang mau tak mau memberi kesan stasiun TV swasta tertua itu dominan dalam pelaksanaan Pul-TV ini. Dan perannya pada peristiwa bersejarah dan langka di atas ternyata tak berhenti, tak sampai di situ.

Ketika melakukan peliputan dari Solo, dari rumah duka di Kalitan dan dari kabupaten Karanganyar, RCTI juga mengambil inisiatif awal. Padahal, kendala teknis yang dihadapi tak juga berkurang. Fasilitas yang terbatas di Solo, RCTI hanya membawa 3 set 'portable microwave' dengan 3 orang teknisi, tak memungkinkan RCTI langsung mengirim hasil liputannya ke markasnya di Kebon Jeruk.

Karenanya, RCTI kemudian mengadakan kontak dengan Indosiar dan PT Telkom, Indosiar lalu mengirimkan OB Van-nya yang kebetulan sedang membuat paket acara Pesta di Semarang, untuk meliput suasana duka dari Karanganyar. Sementara satu OB Van lainnya yang sedang membuat rekaman Wayang di Solo, segera menuju Kalitan.

Siaran lalu dipancarkan ke Jakarta dengan memakai fasilitas teresterial PT Telkom. Hanya saja, fasilitas teresterial itu hanya bisa sampai ke kantor pusat PT Telkom sendiri di jalan Gatot Subroto karena tidak berada di jalur bebas hambatan ('line offside'). Makanya, dari Gatot Subroto, siaran dikirimkan lebih dahulu ke 'tower' TVRI agar bisa diterima oleh RCTI sebagai studio pusat siaran alias Pul-TV.

Lagi-lagi, sayang, kualitas penerimaan gambar dari TVRI ternyata tak sebagus yang diinginkan. Entah karena apa. Langkah lain pun kemudian diambil RCTI, menghubungi PT Indosat. Dengan harapan PT Indosat bisa mengaktifkan fasilitas 'microwave' atau 'fiber optic'-nya agar bisa diakses oleh fasilitas transmisi milik RCTI. Dan seperti disebut di atas, RCTI (waktu itu) bakal meng-'uplink' siarannya ke Satelit Palapa C1, untuk direlay stasiun TV lain.

Lain lagi ceritanya ketika Pul-TV menyiarkan prosesi pemakaman langsung dari Astana Giribangun, kali ini TVRI yang menjadi "komandan lapangan". Dengan bantuan fasilitas 'portable uplink' milik PT Telkom, siaran ternyata bisa langsung dikirim ke Satelit Palapa B2R, Pul-TV di RCTI pun tinggal menerimanya.

Hanya saja, karena seluruh stasiun TV nasional (waktu itu) berada di Satelit Palapa C1, bukan di Palapa B2R, RCTI lalu memindahkan hasil olahan acaranya ke Palapa. Jadilah, siaran oleh TV swasta ini menjadi fenomena televisi terbesar sepanjang sejarah TV di Indonesia.

Satu hal, sebenarnya apa kunci sukses RCTI ini? Hingga Menpen Harmoko pun memujinya dalam pertemuannya dengan seluruh pengelola stasiun TV di Departemen Penerangan, awal bulan Mei 1996 ini.

Selain inisiatif, barangkali kata kuncinya juga ada di sisi sumber daya manusianya (SDM) dan peralatan. Meski, seperti kata Bambang, SDM di bagian transmisi "cuma" lulusan STM atau Politeknik. Motivasi dan etos kerja yang tinggi telah membuat siapapun dapat mengatasi keterbatasan untuk menghasilkan karya besar. Karya yang bersejarah. Bagaimana?

Komentar Anda:

Rasman P, karyawan

"Pul-TV sebaiknya tidak hanya dilakukan pada upacara pemakaman kenegaraan seperti meninggalnya Ibu Tien Suharto baru lalu. Tapi bisa juga dilaksanakan pada kegiatan lain seperti acara olahraga atau peristiwa penting lainnya. Apalagi semua stasiun telah sepakat meliput semua peristiwa. Dengan begitu, sangat gampang bagi para pengelola stasiun TV memilih 'angle' yang akan ditayangkan.

Tapi sayang, hasil Pul-TV kemarin tampaknya belum maksimal benar, bahkan hanya Usi Karundeng saja yang cukup lancar. Yang lainnya masih gagap. Selain itu, tayangan gambar dari Jl. Cendana kurang variatif. Kamera kelihatan tidak berubah-ubah, monoton. Bahkan sedikit sekali menayangkan gambar dari dalam rumah, sehingga kita tidak tahu banyak apa-apa saja yang dilakukan di luarnya. Selain itu, tampak RCTI lebih dominan mengendalikan Pul-TV ini."

Dok. Vista TV - No. 17/III/12-25 Mei 1996, dengan sedikit perubahan
Reply With Quote