View Single Post
Old 3rd June 2020, 01:02
#5230  
MrRyanbandung
Mania Member
MrRyanbandung is offline

Join Date: Mar 2012
Posts: 5,144
MrRyanbandung is a new comer

Default PAK NOER MUNDUR DARI SCTV, BUNTUT PENAYANGAN DEADLY EXPOSURE?

KASUS penayangan film Deadly Exposure di SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) ternyata juga mendapat "reaksi keras" dari HM Noer, yang saat itu menjabat presiden komisaris SCTV. Sesepuh masyarakat Jatim itu dikabarkan mundur dari jabatannya sebagai tanda protes terhadap penayangan film yang tidak lolos sensor itu.

Sikap tegas Pak Noer ini merupakan yang kedua setelah tiga tahun sebelumnya (1991) dia juga mengundurkan diri sebagai protes atas penayangan serial Wonder Woman yang menggemparkan itu. Ketika itu, Pak Noer bersedia menarik pengunduran dirinya setelah dibujuk pemilik SCTV, Sudwikatmono.

Pengunduran Pak Noer kali ini ditegaskan langsung melalui surat yang ditulis dan ditujukan pada direktur utama SCTV, Slamet Supoyo. Surat yang tersebut tertanggal 24 Februari 1994 lalu.

Bisa jadi, surat ini merupakan tindak lanjut dari pemanggilan Pak Noer terhadap direksi SCTV, Kamis (24/2/94) lalu di rumahnya, Jalan Ir. Anwari, Surabaya, sekitar pukul 17.00 WIB. Namun sebelum itu, ia terlebih dahulu menelepon ke kantor SCTV dan berbicara dengan nada keras. Satu jam setelah itu, tiga orang dari SCTV, Drs. Slamet Supoyo, Ak. (dirut), Gina Supardi (humas), dan kepala komisi siaran datang menemui sekitar pukul 17.00 WIB.

Dalam kesempatan itu, Pak Noer marah besar pada mereka atas lolosnya kasus film Deadly Exposure (DE). Padahal, film itu jelas-jelas tidak lolos sensor. Informasi yang didapat Jawa Pos mengatakan bahwa ternyata bukan hanya DE yang ditolak BSF. Film Deadly Passion juga ditolak dan diberi label tidak lolos sensor.

Surat tidak lolos sensor yang langsung ditandatangani oleh ketua harian BSF, Sukanto tersebut tertanggal 10 Februari 1994 lalu. Namun, pada 12 Februari 1994, SCTV tetap saja menayangkan dan seolah tidak mengindahkan BSF. Karena pelanggaran itu, BSF mencak-mencak dan mengirimkan surat teguran keras terhadap SCTV, tertanggal 22 Februari 1994.

Kembalinya Pak Noer ke "pangkuan" SCTV pertama kali dulu, karena bujuk rayu dari Sudwikatmono, yang juga komisaris pada stasiun televisi tersebut. Sudwikatmono ketika itu langsung datang ke rumah Pak Noer bersama Peter Gontha.

Ketika itu, beberapa syarat telah diajukan. Salah satu di antaranya, adalah SCTV tidak lagi memutar film-film yang tidak mengumbar "sekwilda" (sekitar wilayah dada) semacam Wonder Woman. Selain itu, SCTV membatasi diri dengan tidak menayangkan sadisme, perkosaan, dan sebagainya.

Sementara itu, acara buka puasa bersama direksi SCTV dan pejabat Pemda Jatim serta tokoh masyarakat, 25 Februari 1994, ternyata dinyatakan tertutup oleh wartawan. Jawa Pos yang mencoba masuk ke acara itu, karena ingin minta konfirmasi atas mundurnya Pak Noer, tiba-tiba dicegat satpam. Dengan garang satpam di pos depan mengatakan, "Atas perintah Ibu Gina, wartawan dilarang masuk!," katanya.

Dok. Jawa Pos, 26 Februari 1994, dengan sedikit perubahan
Reply With Quote