View Single Post
Old 31st March 2011, 19:51
#2  
a215_tea
Addict Member
Malea215_tea is offline

a215_tea's Avatar

Join Date: Jul 2010
Location: Negeri Singa
Posts: 449
a215_tea is a star wannabea215_tea is a star wannabea215_tea is a star wannabe

Default

Episode 1

Pesawat badan besar yang kutumpangi melaju cepat meninggalkan London.

Penerbangan tanpa-berhenti menuju Singapura.

Gadis dengan rambut dikuncir, ipad di tangan, berisi corat-coret daftar pertanyaan, tersenyum gugup di kursi berlapis kulit asli sebelahku. Aku sedang tidak berselera untuk tersenyum, cukup menyeringai, menatapnya datar. Silahkan.

“Maaf kalau wawancara ini berkali-kali, berkali-kali ditunda. Kami sudah berusaha untuk menyesuaikan jadwal. Tapi begitulah, tidak mudah.” Sedikit percaya diri nampaknya, senyumnya lebih baik.

Aku mengangguk, aku tahu, tidak perlu dijelaskan. Janji pertama bertemu di Jakarta kemarin pagi, batal, aku sudah berangkat menghadiri konferensi. Editor senior majalah mingguan itu spesial meneleponku, minta maaf, bilang wawancara ini amat penting, waktunya mendesak, pembaca setia mereka ingin tahu bagaimana cara terbaik menyikapi turbulensi ekonomi dunia saat ini. Apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan materi wawancara, termasuk menyusul ke London. Baiklah, aku memberikan waktu satu jam selepas konferensi. Lagi-lagi wartawan mereka datang terlambat di gedung konferensi, aku sudah menumpang taksi bergegas menuju bandara. Editor itu kembali terburu-buru menelepon, bilang mereka sudah berusaha mengirimkan wartawan terbaik mengejarku ke Eropa, tetapi jadwalku terlalu padat untuk diikuti, tertawa bergurau, “Kau tahu, Thom. Bahkan jadwalmu lebih padat dibanding Presiden.” Demi sopan-santun, aku ikut tertawa, lantas berkata pendek, kita lakukan saja sekarang di atas langit atau lupakan sama sekali.

“Seperti yang mungkin sudah disebutkan dalam email, ini akan menjadi judul di halaman depan.” Gadis dengan blouse putih dan rok hitam konservatif selutut itu masih dengan kalimat pembukanya, “Kau tahu, terus-terang aku sedikit gugup. Bukan untuk wawancaranya, tetapi karena antusias, ya Tuhan, aku baru pertama kali menumpang pesawat besar. Ini mengagumkan. Lebih besar dibandingkan foto-foto rilis pertamanya, berapa ukurannya, paling besar di dunia? Tiga kali pesawat biasa. Dan aku menumpang di kelas eksekutif, teman-teman wartawan pasti iri kalau tahu redaksi kami menghabiskan banyak uang untuk membelikan selembar tiket agar satu pesawat denganmu.”

Aku mengangguk, lebih asyik mengamati penampilan ‘kami akan mengirimkan wartawan terbaik’ di sebelahku itu. Bergumam, semoga isi kepalanya secantik penampilannya, ia lebih cocok menjadi pembawa acara kesayangan Anda di layar televisi dibandingkan kuli tinta, bergenit ria dengan dandanan dan kalimat, padahal kosong. Apa tadi kualifikasinya? Lulusan terbaik sekolah bisnis? Ada ribuan orang yang memiliki predikat itu—aku bahkan punya dua.

“Sejak kapan kau menjadi wartawan?”

Senyum riang gadis itu terlipat, meski ekspresi wajah terbaiknya tetap menggantung.

“Aku?”

“Ya, sejak kapan kau menjadi wartawan?”

“Dua tahun.” Ia menjawab ragu-ragu.

“Berapa usia kau sekarang?”

“Usia? Eh, dua puluh lima.”

“Ada berapa wartawan di kantormu?”

“Eh?”

“Ya, anggap saja aku yang sedang mewawancarai kau.” Aku menatapnya tipis, mengabaikan pramugari yang penuh sopan-santun berlalu-lalang menawarkan kaviar serta anggur terbaik.

“Hampir tiga puluh.”

“Menarik.” Aku menjentikkan telunjuk, “Dari tiga puluh wartawan di kantor review ekonomi mingguan yang mengklaim terbesar di Asia Tenggara, pemimpin redaksi kalian ternyata memutuskan mengirimkan juniornya yang berusia dua puluh lima dan baru bekerja dua tahun, melakukan wawancara yang katanya paling penting, topik paling aktual, yang judulnya akan diletakkan di halaman depan edisi breaking news. Amat menarik, bukan?”

Wajah gadis itu memerah. Sepertinya aku berhasil menyinggung harga dirinya. Ia terdiam sejenak, meremas jemari, nafasnya tersengal. Boleh jadi, kalau tidak sedang di atas pesawat, dia sudah bergegas meninggalkanku, lupakan wawancara sialan ini. Boleh jadi pula, kalau aku bukan narasumbernya, bukan siapa-siapa, sudah dilemparnya dengan ipad atau sepatu, ia sepertinya belum pernah dipermalukan seperti ini.

Aku mengembangkan senyum, santai melambaikan tangan, “Tentu saja aku begurau. Kau pastilah yang terbaik. Lagipula, aku hanya ingin membuktikan, apakah dugaanku saat bertemu di atas pesawat ini benar, ternyata kau memang jauh lebih cantik saat marah. Namamu, Julia bukan? Mari kita mulai wawancaranya.”

***
Aku tidak terlalu suka bicara di depan ratusan orang—yang satupun tidak kukenal. Berada di tengah pakar, akademisi, penerima hadiah nobel ekonomi, birokrat, atau apalah yang mentereng sekali menyebut latar belakang masing-masing, mulai dari kartu nama hingga basa-basi moderator memperkenalkan, sebenarnya membuatku muak.

Ruangan dipenuhi praktisi keuangan dunia. Pialang, petinggi sekuritas, direktur perusahaan raksasa, CFO, CEO, dan berbagai strata manajerial kunci. Mereka sejatinya adalah srigala berbalut jas, dasi mahal, sepatu mengkilat tidak tersentuh debu, dan diantar dengan mobil mewah yang harganya ratusan kali gaji karyawan hirarki terendah mereka. Buncah bicara tentang regulasi, tata kelola yang baik, tetapi mereka sendiri yang tidak mau diatur dan dikendalikan. Sepakat tentang penyelamatan dan bantuan global, namun sibuk mengais keuntungan di tengah situasi kacau-balau.

Hanya satu alasan kenapa aku menghadiri konferensi ini, meluangkan satu jam menjadi pembicara, bayarannya mahal. Alasan paling masuk akal bagi seluruh umat manusia.

“Si Om Teroris ini, maaf, aku bosan menyebutnya dengan krisis ekonomi global, subprime mortgage, atau apalah nama binatang itu, terlalu panjang dan mual mendengarnya, setiap hari ada di televisi, koran, radio, internet, bahkan sopir taksi tidak ketinggalan. Aku akan menyebutnya dengan Om Teroris saja. Ada yang keberatan?” Aku memulai sesi pagi dengan santai, bertopang dagu.

Peserta konferensi antar bangsa tertawa.

“Ya, ya, aku tahu di pojok sana keberatan.” Aku pura-pura memasang wajah serius, “Tetapi di dunia dengan sistem ekonomi saling bertaut, tidak ada batas pasar modal dan pasar uang, krisis seperti ini lebih menakutkan dibanding teror dari ekstrem kanan atau ekstrem kiri. Kita tidak pernah melihat indeks saham terjun bebas seperti hari ini ketika dulu menara WTC dihancurkan, bukan? Bahkan indeks tidak berkedut ketika kapal selam nuklir Soviet memasuki perairan Amerika di era perang dingin. Hari ini, semua orang panik, satu per-satu seperti anak kecil menunggu jatah permen, perusahaan raksasa mendaftar perlindungan kebangkrutan, dan harga surat berharga menjadi sampah, tidak lebih dari harga selembar kertas folio kosong.”

Aku ekspresif menjentik selembar kertas, membiarkannya jatuh dari atas meja.

“Orang-orang kehilangan dana pensiun, jaminan kesehatan menguap, tabungan puluhan tahun, rencana pendidikan. Kita amat tahu, untuk orang-orang seperti kita, inilah teror sebenarnya. Rasa cemas atas masa depan, detak jantung mengeras setiap melihat tukikan grafik harga, potensi kehilangan kekayaan, tidak bisa tidur, bahkan satu-dua eksekutif puncak memilih bunuh diri.”

Peserta konferensi antar bangsa takjim mendengarkan. Aku diam sebentar, meraih gelas air mineral, senang memperhatikan wajah-wajah menunggu mereka.

“Sayangnya,” Aku meremas rambutku, menghela nafas, “Om Teroris yang satu ini tidak bisa ditusuk dengan pisau. Presiden kalian, maksud aku Presiden di meja pojok sana bisa dengan mudah mengirim ribuan tentara, pesawat tempur, tank bahkan kapal induk untuk memburu satu orang teroris. Khotbah tentang preventif strike, memberikan rasa aman bagi segenap rakyat, mencegah teror meluas. Sial, Om Teroris yang satu ini bahkan tidak bisa dipegang batang lehernya.”

“Bukan karena dia tidak bisa dilihat, tentu saja muasal kekacauan pasar modal dan pasar uang kita amat terlihat, tidak susah mengurai benang kusutnya. Kita tidak bisa menusuknya, karena kalau itu dilakukan, kita semua di sinilah yang pertama kali tertikam. Kitalah yang terlalu serakah dan kreatif menciptakan pola transaksi keuangan, membiarkan bahkan membuat nilai asset menggelembung tidak terkendali, mengabaikan resiko sebesar Gunung Everest di depan hidung, peduli setan? Sepanjang bonus tahunan terus membumbung, semua fasilitas pesawat jet perusahaan, hotel terbaik, liburan berkelas. Temuan audit dibungkus sebaik mungkin, peringatan awal dianggap angin lalu, dan mulailah kita terbiasa mematut informasi, pabrikasi kemasan, lupa semua ada batasnya. Ketika nilai surat berharga semakin lama semakin menggelembung, harga selembar kertas bisa setara berkilo-kilo emas, padahal sejatinya dia tetap selembar kertas.”

“Kaboom!” Aku mengetuk mik dengan jari—membuat hadirin sedikit tersentak kaget, “Semua meledak, ekonomi dunia remuk, krisis ekonomi global pecah, dalam sekejap menjalar kemana-mana. Bursa New York tumbang, memangkas kapitalisasi dunia milyaran dollar, disusul London, Frankurt, Amsterdam, Paris. Dan hanya butuh sedetik berita mengerikan itu tiba di Bangkok, Singapura, Jakarta, Dubai, Sao Paolo, Sydney bahkan Johannesburg. Semua orang panik, kontrak future harga minyak dan komoditas turun, perdagangan dunia terkulai, perekonomian melambat, banyak negara menyatakan resesi. Bahkan ada yang bergegas menyatakan bangkrut, meminta pertolongan.”

“Hari ini kita sibuk berdiskusi sana-sini, menganalisis, berandai-andai, andai itu tidak dilakukan, andai ada regulasi yang mengatur, tetapi lebih banyak yang berandai-andai, andai lebih dulu menjual lantas memasang transaksi short-selling, andai uang tunai di tangan siap sedia, andai dalam posisi transaksi sebaliknya. Itu akan jadi berkah tidak terkira, berpesta-pora di tengah kerugian massal.”

“Tuan, maaf menyela.” Seorang peserta konferensi tidak sabaran, dengan bahasa Inggris sengau khas Asia Timur, membuat ruangan tertoleh padanya.

“Sesi tanya jawab tersedia di lima belas menit terakhir.” Bergegas moderator, salah-seorang profesor sekolah bisnis ternama, mengingatkan.

“Tidak mengapa. Silahkan.” Aku tidak keberatan, mengangguk.

Milan Forever,
Reply With Quote