View Single Post
Old 31st March 2011, 20:05
#6  
a215_tea
Addict Member
Malea215_tea is offline

a215_tea's Avatar

Join Date: Jul 2010
Location: Negeri Singa
Posts: 449
a215_tea is a star wannabea215_tea is a star wannabea215_tea is a star wannabe

Default

Episode 3

“Kau gila, hampir sebagian dari kita memang datang ke klub masih dengan pakaian rapi dan dasi langsung dari tempat kerja, tapi tidak ada yang datang kemari dengan tas bagasi, langsung dari London.” Theo, teman dekatku, orang yang pertama kali mengenalkanku dengan klub menyergah.

“Aku tidak punya pilihan, Theo. Jadwal konferensi itu sudah disusun sejak sebulan lalu, juga jadwal sialan ini. Aku harus menunaikan keduanya sekaligus.” Aku melepas kemeja dengan cepat, menarik sembarang kaos lengan pendek dari koper yang kubawa sejak keluar dari hotel konferensi.

“Kau sudah istirahat? Di pesawat misalnya.” Theo melemparkan sepasang sarung tinju.

Aku tertawa, “Bahkan di langit masih saja ada yang menggangguku, Theo. Ada wawancara. Dan sialan, seharusnya aku sudah sampai di sini dua jam lalu, tetapi petugas imigrasi bandara menahanku.”

“Petugas imigrasi?”

“Siapa lagi? Pemeriksaan rutin mereka bilang.”

“Mana ada pemeriksaan rutin untuk WNI, kecuali kau tersangkas kasus?”

“Mana aku tahu. Dua jam yang sia-sia.” Aku mendengus kesal.

Theo menggeleng prihatin, menatapku cemas, “Dengan semua kesibukan ini, kau tidak akan punya kesempatan, Thomas. Aku dengar, Rudi si penantang bahkan sengaja mengambil cuti tiga hari untuk menghadapi pertarungan ini. Tadi sempat kulihat wajahnya sangar, dan lihatlah kau, dengan wajah lelah, pupil mengecil. Kau bisa meminta penundaan waktu, itu hak yang ditantang.”

Aku menggeleng, tidak ada penundaan, semua anggota klub menunggu pertarungan ini. Bahkan ruangan pertarungan belum pernah dipenuhi oleh penonton seperti malam ini. Suara dan teriakan antusias mereka terdengar hingga ruang ganti tempatku sekarang bersiap-siap. Aku masih punya waktu setengah jam, di sana masih bertarung dua anggota klub lain, saling menjual pukulan.

“Selamat malam, Thomas.” Seseorang masuk ke ruang ganti, menepuk lemari baju, tertawa lebar.

Aku dan Theo menoleh.

“Kupikir kau tidak akan datang. Terlalu takut menghadapi penantang paling besarmu, mungkin.”

Aku tidak menjawab. Theo mengacungkan tangannya, “Kau tidak boleh berada di sini, Randy.”

“Ayolah, aku hanya menyapa salah-satu petarung terbaik klub.” Randy, salah-satu anggota senior klub masih tertawa lebar, “Beruntungnya malam ini aku tidak meletakkan uang taruhan pada kau, Thomas. Aku tidak punya ide akan bertahan berapa ronde kau dengan tampang kuyu seperti ini. Kau baru pulang dari London, bukan?”

Gerahamku mengeras, tidak balas berkomentar.

“Ngomong-ngomong, berapa lama kau tertahan di bandara? Dua jam?”

Gerakan tanganku yang memastikan sarung tinju telah terpasang sempurna terhenti, aku menoleh, berpikir cepat, berseru galak, “Dari mana kau tahu aku tertahan di sana dua jam?”

Randy terkekeh, “Seharusnya aku menahan kau lebih lama lagi, Sobat. Tiga-empat jam misalnya, tetapi kalah WO membuat uang taruhan batal, dan itu jelas tidak lebih seru dibandingkan melihat Thomas yang hebat tersungkur di lantai dengan wajah berdarah-darah.”

Aku melompat, tanganku bergerak cepat hendak memukul Randy—sekalian menguji apakah sarung tinjuku sudah sempurna mencengkeram, “Dasar *******, ternyata kau yang sengaja menghambatku di loket imigrasi.”

Theo lebih dulu menahanku, berbisik, “Simpan pukulan kau untuk Rudi. Jangan sia-siakan.”

Aku tersengal, berusaha mengendalikan diri, tentu saja urusan ini bisa dimengerti. Randy adalah pejabat tinggi di kantor imigrasi, dia punya kekuasaan untuk melakukannya.

“Kenapa kau harus marah, Thom. Semua sah dan boleh-boleh saja dalam pertarungan, bukan?”

“Tutup mulut kau.” Aku berseru marah.

Randy justeru kembali tertawa ringan.

Suara teriakan di ruangan pertarungan terdengar kencang hingga ruang ganti, sorakan-sorakan menyuruh bangkit kembali, sepertinya ada salah-satu petarung yang terkena pukulan telak.

Tiga tahun lalu, saat pertama kali Theo mengajakku pergi ke ‘klub’, aku hanya menggeleng malas. Itu bukan kebiasaanku, aku tidak suka menghabiskan waktu dengan nongkrong, minum, mendengar musik, melirik-lirik setelah pulang kerja. Theo santai mengangkat bahu, bilang itu juga bukan kebiasaannya. “Ini klub yang berbeda, Thom. Kau pasti suka.” Maka setengah terpaksa, daripada bosan menatap jalanan macet dari balik jendela tebal ruangan kantorku, aku ikut.

Menakjubkan, belasan tahun tinggal di Jakarta, aku tidak pernah tahu kalau kota ini ternyata punya ‘klub bertarung’ seperti yang kusaksikan di film terkenal itu. Theo mengajakku ke salah satu gedung perkantoran, di lantai enam, dengan akses lift private langsung ke sana, bukan partisi ruangan kantor, meja penerima tamu, dan sebagainya yang ketemukan, melainkan ruangan luas dengan lingkaran merah mencolok di tengahnya. Beberapa anggota klub sedang berseru-seru, menyemangati, wajah-wajah tegang, wajah-wajah semangat, menonton dua orang yang saling bertinju persis di lingkaran merah.

Aku menelan ludah, Theo benar, aku pasti suka. Ini sungguh keren, klub yang berbeda. Theo membiarkanku terpesona, dia sudah asyik menyapa anggota klub lain, sambil melambai memesan dua minuman ringan untuk kami.

“Ini klub tertutup dan rahasia, Thom. Tidak banyak yang tahu. Anggotanya hanya boleh mengajak teman yang dia percaya kemari. Dan kau beruntung punya teman Theo, salah-satu penggagas awal klub ini, nama kau bersih dan terjamin.” Itu penjelasan Randy—dulu dia masih ramah padaku. “Kami berkumpul tiap akhir minggu, dengan jadwal sama seperti malam ini, menonton pertarungan. Di luar latihan setiap hari buat siapa saja yang mau datang. Lumayanlah mengusir penat setelah pulang kerja, apalagi jika jadwal kau yang bertarung, itu sungguh refreshing yang hebat, Sobat.”

Aku mengangguk, bersepakat—dulu aku masih sering sependapat dengan Randy, melihat dua petarung saling pukul, menghindar, darah menetes dari luka di pelipis secara live sudah membakar seluruh penat, apalagi bertarung langsung, itu memicu adrenalin berkali-kali lipat.

“Tidak ada yang peduli latar belakang kau siapa, Thom. Itu aturan main klub.” Theo berbisik, kami sudah berdiri di pinggir lingkaran merah, bergabung dengan wajah-wajah penonton yang berteriak sampai serak menyemangati, “Randy bekerja di kantor imigrasi, kudengar dia baru mendapat promosi minggu lalu, jadi kepala imigrasi bandara. Erik, kau lihat di sana, dia manajer senior di bank besar.”

Aku mengumpat dalam hati, tentu saja aku kenal Erik, baru tadi pagi kami rapat bersama, bertengkar tentang ruang lingkup jasa konsultansi yang dibutuhkan corporate bank mereka.

“Rudi, nah, yang sedang sangar bertarung adalah petugas penyidik di kepolisian atau komisi apalah, aku tidak tahu persis, tidak ada yang peduli. Di sini ada eksekutif muda, karyawan, dokter, pesohor, penulis, orang-orang pemerintah, pengusaha, itu yang berdiri di pojok bersama teman-temannya, anak salah-satu petinggi partai. Di sini, berkumpul orang-orang yang menyukai tinju, di luar itu, pekerjaan, latar belakang, siapa kau, lupakan. Meski sebenarnya hampir seluruh anggota klub tahu satu sama lain.”

Aku masih sibuk menyapu wajah-wajah seluruh ruangan.

“Dulu kami hanya amatiran. Ada enam orang pencetus ide. Tanpa jadwal, anggota klub yang mau bertarung tinggal menuju lingkaran merah, menantang siapa saja yang habis dimarahi bos, atau kesal dengan bawahan, atau mobil mewahnya habis tersenggol. Meski amatiran, selalu seru, satu-dua pulang dengan wajah lebam, mereka terpaksa berbohong pada istri masing-masing, bilang terjatuhlah.” Theo tertawa, “Semakin kesini, kami membayar pelatih profesional, membuat jadwal, melengkapi ruang ganti, bartender, dan seluruh keperluan seperti sasana tinju. Dan anggota klub bertambah dengan caranya sendiri, hanya boleh mengajak orang yang paling dipercaya, serta direkomendasikan anggota lama, kupikir sekarang anggota klub sekitar tiga puluh orang. Cukup banyak untuk membuat kau menunggu dua bulan hingga jadwal bertarung kau tiba, tapi itu bukan masalah, lebih banyak yang menjadi anggota klub hanya untuk menonton pertarungan, bertaruh, bersenang-senang. Atau sekadar mencari tempat memukuli sansak, latihan.”

Ruangan klub dipenuhi tepuk-tangan, seruan-seruan salut, kemeja dan dasi penonton kusut karena kesenangan, di tengah lingkaran merah, Rudi baru saja membuat lawannya tersungkur. Aku menelan ludah. Theo ikut bertepuk tangan, berbisik, “Dia petarung nomor satu di klub. Jangan coba-coba menantanganya.”

Wajah sangar Rudi sepanjang pertarungan terlipat, dia sudah membantu lawannya berdiri, tertawa dengan lawannya, saling peluk. “Satu-dua pertarungan bisa sangat emosional, Thom. Tetapi ini adalah klub dengan respek di atas segalanya, kita hanya bermusuhan di dalam lingkaran merah, di luar itu semua anggota klub adalah teman baik. Semua aktivitas pertarungan dirahasiakan, bahkan besok lusa kalau kau bertemu dengan anggota klub di manalah, tidak akan ada yang membahas kejadian semalam.”

Aku mengangguk, masih tercengang dengan banyak hal. Saat Theo mengajakku pulang pukul dua belas malam, pertarungan terakhir sudah selesai, aku memutuskan menjadi anggota klub.

“Selamat bergabung, Thom. Kalau kau mau, minggu depan kami bisa menjadwalkan pertarungan eksebisi, kau mau?” Randy yang menerima kartu kredit pendaftaranku mengedipkan mata.

Aku bergegas menggeleng. Itu ide buruk.

“Baiklah, minggu depan, pertarungan kedua. Tiga ronde, masing-masing lima menit, melawan, eh, Erik. Ya, Erik, dia sudah sejak sebulan lalu menuntut jadwal bertarung. Nah, kau harus bersiap-siap.” Randy tidak peduli, dia tertawa lebar.

Milan Forever,
Reply With Quote