View Single Post
Old 31st March 2011, 20:08
#8  
a215_tea
Addict Member
Malea215_tea is offline

a215_tea's Avatar

Join Date: Jul 2010
Location: Negeri Singa
Posts: 449
a215_tea is a star wannabea215_tea is a star wannabea215_tea is a star wannabe

Default

Episode 4


Hampir pukul satu dinihari. Setelah mandi, berganti pakaian tidur, saatnya beristirahat.

Badanku remuk lepas pertarungan.

Sayangnya, suara dering menyebalkan telepon tiba-tiba memenuhi langit-langit kamar. Aku reflek menyambar bantal, menutup telinga sambil menyumpah, berusaha mengabaikan, melanjutkan tidur.

Tidak sesuai harapan, aku mendengus mengkal, si penelepon pasti tidak pernah mendapatkan pelajaran etiket, nada panggil sekian kali, itu artinya yang bersangkutan tidak mau menerima, sibuk, tidur, tidak ada di tempat atau alasan logis lain yang bisa diterima akal sehat ras manusia. Siapapun penunggu meja depan hotel mewah malam ini, besok-lusa akan menerima komplain tanpa ampun yang pernah ada.

Aku melempar bantal, bersungut-sungut, menyadari dua hal. Satu untuk telepon sialan ini tidak akan berhenti kalau aku tidak mengangkatnya, dua untuk bahkan menginap di kamar terbaik, hotel berbintang enam sekalipun, suara dering telepon di kamar selalu saja standar, mendengking-dengking berisik. Tidak adakah manajer keramah-tamahan kelas dunia punya ide mengganti nada dering dengan irama lagu jazz atau yang lebih ramah didengar, atau sekalian menyediakan opsi pengaturan dengan nada getar atau beep kecil. Mereka sepertinya lebih sibuk meletakkan bebek-bebekkan kuning di kamar mandi, buku petunjuk wisata kota penuh iklan atau ide sampah macam surat selamat datang yang ditandatangani massal. Atau salahku pula, mengapa tidak mencabut kabelnya sebelum tidur.

“Maaf, Pak—“

“Kau tahu ini pukul berapa, Shiong?” Sialan, aku mengenali suaranya.

“Eh? Pukul—“

“Ini lewat tengah malam, Shiong. Bukankah aku tadi berpesan tolak semua telepon ke kamarku.” Aku berseru marah.

“Maaf, Pak. Ini mendesak.”

“Persetan, bahkan besok dunia tenggelam oleh air bah Nabi Nuh.” Aku mengutuknya, bersiap menumpahkan kosa-kata makian beradab yang kumiliki, urung, terlanjur pintu kamarku diketuk.

Apalagi? Aku menoleh.

“Ada yang memaksa bertemu Bapak. Aku sudah bilang Bapak perlu istirahat, mereka memaksa naik ke atas. Aku tidak bisa menahannya, tidak ada petugas yang berani menahannya, Pak. Aku harus memberitahu Bapak, setidaknya sebelum mereka tiba.” Shiong bergegas menjelaskan, dengan intonasi hasil didikan keramah-tamahan kelas dunia belasan tahun.

Baiklah. Aku meletakkan gagang telepon. Beranjak menuju pintu kamar lebih karena ingin tahu siapa yang mendatangiku malam-malam.

“Selamat malam, Thomas.”

Hanya ada dua orang yang berdiri di depan pintu. Satu orang kukenali, satunya tidak.

“Kami sejak empat jam lalu mencari kau.” Tersenyum lelah, “Kebiasaan kau yang jarang tinggal di rumah, memilih menginap di hotel menyulitkan ka—”

“Langsung saja, apa keperluan kalian?” Aku tidak punya waktu mendengar basa-basi.

“Sudah tersambung, Pak.” Orang yang tidak kukenali berbisik, menyerahkan telepon genggam.

Orang yang kukenali mengangguk, menerima telepon genggam itu, lantas memberikannya padaku, “Ada seseorang yang ingin bicara dengan kau, Thomas. Situasinya genting sekali.”

Siapa? Aku ragu-ragu menerima telepon genggam itu.

“Hallo, Tommi.”

Suara tua, terdengar serak dan bergetar, suara yang justeru seketika membuat kemarahanku kembali memuncak.

“Jangan, jangan ditutup teleponnya dulu Tom.” Terbatuk sebentar, “Aku tahu kau masih membenciku. Tetapi aku tidak punya pilihan, Nak. Aku harus memberitahu kau.”

“Sungguh jangan tutup teleponnya dulu, Tommi. Aku tahu kau tidak peduli lagi denganku, kau juga tidak akan peduli kalau kuberitahu rumah orang tua ini sudah dikepung, satu peleton polisi berkumpul di halaman rumah, mereka seperti akan menangkap teroris saja. Tetapi, Tante kau, Tommi, kesehatannya memburuk sejak berita ini dimuat di koran-koran, dan empat jam lalu saat petugas berdatangan, memeriksa banyak hal, memasang barikade memastikan aku tidak lari, dia tidak kuat lagi, jatuh pingsan. Datanglah, Nak. Temui Tante kau, sebelum jatuh pingsan, dia berkali-kali menanyakan kau, menatap pigura foto saat kau masih kecil dan bersama keluarga besar kita.” Terbatuk sebentar.

“Maafkan orang tua ini yang mencarimu malam-malam, Nak. Semoga kau tidak semakin membenciku. Selamat malam.” Sambungan telepon telah dimatikan.

Lorong kamar hotel terasa lengang.

“Bagaimana?” Orang yang kukenali bertanya setelah aku hanya diam satu menit.

Aku meremas jemari. Mengembalikan telepon genggam.

“Seberapa serius?” Aku mengeluarkan suara.

“Yang mana? Situasi di rumah? Atau Keadaan Tante kau?” Orang yang kukenali tertawa prihatin.

“Dua-duanya.” Aku menghela nafas.

“Buruk. Dua-duanya buruk, Thom, apalagi situasi di rumah, kau pastilah tahu, hanya soal waktu wartawan mulai berdatangan, memastikan penangkapan besar. Mungkin lebih baik kita bicarakan di mobil, waktu kita amat terbatas. Sekali mereka memutuskan menahan Om kau, kacau balau semua urusan. Kau ikut dengan kami?”

Aku terdiam.

“Ayo, Thomas, putuskan.”

Aku akhirnya mengangguk, “Berikan waktu satu menit untuk berganti pakaian.”



***

Mobil melesat kencang. Jalanan Jakarta lengang, pukul dua dini hari, jika nekad kalian bisa memacu kecepatan hingga 120 km/jam di jalan protokolnya.

“Kau mengikuti berita-berita?”

Aku mengangguk. Duduk di kursi belakang, mendengarkan penjelasan.

“Maka lebih mudah menjelaskannya. Bagai raja catur yang dikepung banyak musuh, Om Liem terdesak. Seminggu lalu otoritas bank sentral sudah memberikan peringatan ketiga untuk bank miliknya, dan tadi siang, sialnya mereka mengumumkan kalau bank milik Om Liem tidak bisa menutup kliring antar bank. Itu membuat kepanikan, padahal kau tahu, hanya kurang lima milliar saja. Mereka umumkan atas nama transparansi. Kau tahu akibatnya, saham Bank Semesta dihentikan perdagangannya di bursa, suspended. Nasabah panik, antrian panjang terbentuk di setiap cabang tadi sore. Dan di tengah krisis dunia, sedikit saja informasi negatif, semua orang panas-dingin.” Orang yang duduk di sebelahku menghela nafas.

“Aku belum tahu soal kalah kliring.” Aku bergumam.

Sopir sepertinya tidak mengurangi kecepatan, mobil meliuk menaiki fly over.

“Tentu saja belum. Kau baru pulang dari London tadi sore bukan? Beruntung ini hari Jum’at, jadi kita semua punya waktu dua hari untuk menghadapi nasabah yang panik Senin lusa. Situasinya sudah kacau balau, Thom. Jika rush terjadi, semua nasabah berbondong-bondong menarik tabungannya, Bank Semesta pasti kolaps, bahkan seluruh aset dijual, seluruh harta Om Liem digadaikan, tetap tidak akan cukup. Come on, semua uang telah dipinjamkan ke pihak ketiga, bagaimana mungkin kau menarik uang dari mereka dengan cepat untuk mengembalikan tabungan nasabah. Dan situasi semakin rumit, karena kau pastilah sudah tahu dari berita-berita di media massa, penyidik kepolisian dibantu otoritas bank sentral sejak beberapa bulan memeriksa Bank Semesta. Urusan ini kapiran, seperti halnya kau membenci Om kau, aku juga tahu kalau terlalu banyak transaksi tidak bisa dijelaskan di bank itu. Enam tahun menguasai bank itu, Om Liem terlalu ambisius, tidak hati-hati, menggampangkan banyak hal, dan melanggar begitu banyak regulasi demi pertumbuhan bisninya.” Orang yang duduk di sebelahku itu kembali menghela nafas.

“Kita sungguh tidak punya waktu hingga Senin lusa menghadapi polisi yang mengepung rumah, Thom, bahkan hanya karena Tante kau masih pingsanlah, mereka menahan diri belum memborgol Om Liem. Cepat atau lambat, besok atau lusa, wajah Om Liem akan terpampang besar di surat kabar, menjadi headline. Pemilik bank besar dan imperium bisnis raksasa telah tumbang.”

Aku menelan ludah. Menatap deretan gedung tinggi dari atas jalan layang.

“Bukankah dia punya banyak kenalan orang penting dan berkuasa untuk menyelamatkan bank itu?” Akhirnya berkomentar.

Orang yang kukenali tertawa masam, “Dia punya lebih banyak lagi musuh dan orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari kolapsnya Bank Semesta, Thom. Berebut atas aset berharga yang dijual murah. Dia sudah terdesak. Kabar terakhir yang kuterima, tapi ini off the record, kepala kepolisian, jaksa agung serta gubernur bank sentral terlibat langsung atas penyidikan Bank Semesta. Semangat sekali mereka bekerja, seperti tidak ada kasus korup kroni-kroni mereka yang bisa diurus. Terlalu banyak misteri dalam kasus ini sejak peringatan pertama dari otoritas. Astaga, Thom, hanya kalah kliring lima milliar, rusuhnya sudah seperti kalah kliring lima trilliun. Buat apa coba?”

“Itu sudah tugas mereka. Pengawasan.” Aku menjawab pelan.

“Omong kosong, Thom. Puluhan tahun aku menjadi orang kepercayaan Om Liem, puluhan tahun mengendalikan bisnisnya, dalam beberapa hal, aku juga sepakat dengan kau, membenci cara dia berbisnis, tetapi kasus Bank Semesta ini terlalu banyak kepentingan, terlalu banyak misteri. Seolah ada hantu masa lalu yang memang sengaja mengambil alih seluruh keberuntungan Om Liem, membuat skenario, bersiap menusuk dari belakang. Dan itu benar, sekali Bank Semesta tidak terselamatkan, seluruh kekayaan keluarga Om Liem habis. Bukankah kau termasuk salah-satu ahli warisnya, Thom?”

“Aku tidak peduli urusan itu.”

“Tentu saja kau harus peduli, kau tidak sekadar mewarisi harta benda, Thom. Kau juga otomatis mewarisi hutang-hutang.” Orang di sebelahku tertawa prihatin, bergurau.

Aku tidak menjawab. Mobil yang kami tumpangi sudah berbelok tajam, menuju salah-satu area paling elit di Jakarta.

Milan Forever,
Reply With Quote